Tujuh

1049 Words
Di pagi hari, ketika Irvan baru saja terbangun dari mimpi indahnya yang panjang, dia melihat ada pesan masuk di ponselnya. Berisi pesan panjang, lalu di bagian bawah, ada emoticon love yang sangat banyak. Dia kemudian melihat ke arah kontak nama. Itu adalah asisten manajer, Medina. “Aduh, pagi-pagi begini sedang apa sih? Kenapa harus pesan aneh dan menjijikan begitu. Dasar!" gerutunya kesal. Kepalanya pusing sekali akibat memikirkan hal itu. Dia bukan tipe pria yang suka terjerat dengan masalah semav scandal berpacaran dengan atasan. Mana mau dia seperti itu, apalagi jika orangnya adalah Medina. Dimana wanita itu kerap Ki menggoda sang bos, untuk mendapatkan gaji yang lebih besar, dan tambahan bonus juga. Dia perlahan berubah ketika mengenal seorang Irvan. Pria itu terlalu tampan, hingga sukses membuat wanita mana saja jatuh hati, begitupun Medina. Dia sampai rela membayar seseorang untuk menguntit Irvan, dan memotret semua kegiatan pria itu. “Ini, aku sudah membawakan kamu foto-fotonya. Bagaimana, kamu puas kan dengan hasilnya?" tanya seorang pria yang memakai baju hitam dan masker. “Iya, aku akan bayar sebentar lagi sekalian pergi ke kantor. Oh iya, pastikan kalau semua ini tidak bocor pada siapapun ya. Terlihat pada Irvan. Kau mengerti?" “Aku mengerti. Aku akan pergi…" Medina kembali masuk ke dalam rumahnya. Pria tadi memang berjanji akan mengantarkan foto-foto itu di depan rumah Medina. Di dalam kamarnya, nampak sekali wajahnya yang sumringah. Mencium foto Irvan berkali-kali. Medina sudah terobsesi dengan Irvan. Tidak tahu bahwa pria itu menyukai gadis yang sudah bersuami. Dia melirik ke arah ponselnya. Mengetikan sebuah pesan pada Irvan. Dengan hati berbunga-bunga, dia ajak pria itu untuk pergi kencan lagi. Kebetulan, di kantor, bos mengatakan bahwa hampir semua ruangan akan dipakai untuk kepentingan lain. Karyawan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Irvan mengetikan pesan balasannya. “Tidak bisa mengajak aku pergi ke tempat lain? Mungkin yang lebih…" Cepat Medina menjawab. “Kita pergi saja ke mall mahal, bagaimana? Kamu bisa minta apa saja." Mata Irvan tertuju pada sepatu bututnya yang teronggok di pojok kamar. “Apa aku minta saja padanya ya? Dia bilang boleh meminta apapun bukan? Iya, aku hanya akan memanfaatkan wanita bodoh yang tergila-gila padaku." Menelpon Medina… “Halo, anda sedang apa?" “Wah, tumben kamu tidak dingin. Badanmu sudah kamu panaskan?" tanyanya bercanda. Sangat tumben sekali Irvan seperti itu pada seorang wanita. Apalagi, dia ini Medina. “Jangan pikirkan yang aneh-aneh. Saya hanya sedang bosan. Terlalu lama menjalani hidup monoton, sebatas rumah dan kantor. Anda mengerti maksud saya bukan?" “Oh, iya. Kamu pasti butuh hiburan Karena jenuh ya? Baiklah…kalau begitu, kamu punya tempat yang mau kamu tuju?" “Aku mau ke…" memberitahukan nama sebuah mall terkenal, yang terdapat banyak sekali merek-merek branded. Irvan bergumam sambil tertawa cengengesan. “Kalau ada yang seperti ini, lebih baik aku pergunakan sebaik mungkin. Selama ini, gadis-gadis yang mengaku suka atau cinta, hanya modal omongan saja. Mungkin, Clara agak modal sedikit. Tapi, gaji Medina lebih besar darinya. Jelas Medina yang lebih menguntungkan." “Halo, kamu kenapa? Tidak bicara sejak tadi…" Suara Medina membuyarkan lamunan Irvan. “Oh, tidak apa-apa kok. Tapi, kapan kita akan kesana? Dan sampai jam berapa?" Sebuah pesan teks masuk, “Dari pulang kantor, sampai malam…" Percakapan mereka terhenti begitu saja. Ketika Medina memutuskannya secara sepihak. Ada tukang paket yang memaksa untuk membukakan pintu rumahnya. “Bisa sabar tidak sih? Kamu pikir, aku sedang tidak repot hah?" “Iya, Mbak. Saya minta maaf. Lagian, dari tadi saya coba mengetuk baik-baik. Malah tidak ada jawaban sama sekali." “Alasan saja! Entah kenapa orang-orang seperti kamu diterima kerja." Memberikan bayaran dan tip 200.000 untuk tukang paket. Sang kurir melengos pergi dari sana dengan wajah masam. Sering dia mendapatkan customer yang banyak maunya, namun mereka yang salah. Tapi yang ini, terasa lebih menjengkelkan dari pada yang lalu-lalu. Itu adalah satu paket perias kecantikan, dan krim pemutih wajah. Sengaja dia membelinya untuk menarik perhatian Irvan. “Jika aku pakai ini, pasti dia langsung suka…" Mulai merias dirinya dengan apik. Di kantor, semua karyawan sudah datang dan lagi-lagi duduk mengerjakan tugas mereka. Medina datang terlambat, tapi tidak menyesal sama sekali. “Cih, bisa-bisanya. Kenapa dia malah tebar pesona saat telat sih?" sungut Mia kesal. Clara menyahut, “Iya benar. Bagaimana mau menjadi contoh yang baik untuk karyawan yang lain… hadeh…" “Bodo amat dengan semua nyinyiran tukang iri. Selamanya tidak akan mencapai puncak keberhasilan," jawabnya ketus, dengan suara agak kecil seperti berbisik, tapi cukup di dengar semuanya. Kakinya melangkah ke lantai tiga, untuk bertemu sang bos. Acara gosip itu berlanjut dengan panas. Karyawan wanita, saling mendekat dan membuat sebuah lingkaran besar. “Dia berbicara seakan-akan dirinya benar. Berlagak seperti bos besar, padahal cuma asisten manajer saja. Gayanya selangit." “Iya, pak Leon kerjanya bagus. Berbanding terbalik 180 derajat dengan Medina," sahut yang lain. Kerumunan itu cepat-cepat kembali pada posisi mereka masing-masing, saat melihat batang hidung bos sudah muncul. Bos berdiri di depan semuanya, untuk mengumumkan hal penting. “Kantor ini akan dialih fungsikan sebentar. Kalian boleh pulang sekarang juga." Semuanya saling pandang. Masih terlalu pagi untuk pulang. “Aduh, kalau begini caranya, kenapa tidak dia liburkan saja sih!?" bisik Clara pada teman di sampingnya. “Iya. Buang-buang waktu kan? Kita bahkan belum mengerjakan apa-apa. Aneh…" Terpaksa semuanya membereskan barang-barang mereka. Medina dan Irvan menunggu semuanya sampai sepi. Keduanya menggunakan mobil yang sama–milik Medina. Wanita itu tancap gas menuju mall. “Kamu punya kekasih?" tanya Medina penasaran. “Menurut anda?" dengan suara dingin bak es di kutub Utara. “Oh, eh. Sepertinya, tidak ya?" “Sudah tahu jawabannya kan?" “Hah? Iya… " Dia jadi canggung kalau mendapat perlakuan dingin terus. ”Makanan apa yang paling kamu suka?" “Entahlah… mungkin semuanya, kecuali yang berhubungan dengan kacang tanah." “Oh, aku baru tahu kamu suka itu…" Irvan diam tidak menanggapi. “Kenapa tidak cari pacar? Bukannya banyak yang menyukai kamu?" “Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak mau, itu saja." “Oh, begitu. Atau ada seseorang yang kamu suka?" Ingin sekali Irvan menjawab ‘ya' namun dia masih sadar sepenuhnya untuk tidak gegabah. “Yang suka pada saya banyak, sejak dulu. Tapi, semuanya hanya melihat dari luar saja. Saya ragu mereka mau menerima kekurangan dan bagian dalam saya yang buruk…" Medina terdiam. Ucapan itu sangat dalam, menusuk dinding pertahanan hatinya. Ada setitik rasa tidak pantas yang tiba-tiba saja memenuhi setiap rongga di hati Medina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD