Jalan raya di pagi hari memang tidak sepadat saat siang. Polusinya juga sedikitnya berkurang. Hanya ada sedikit truk, kendaraan roda empat seperti mobil, dan sedikit motor yang melintas lalu-lalu lalang. Lampu lalu lintas berubah merah. Medina berhenti menyetir sejenak.
“Aku mau tanya… boleh kan?"
“Hummm."
“Tipe wanita seperti apa yang kamu suka? Idealnya seperti apa? Apa dia harus cantik atau apa?" Jika masalahnya adalah wajah, Medina tidak perlu khawatir. Dia memiliki wajah putih bersih turunan keluarga ayahnya, rambut hitam pekat milik sang ibu.
Cheryl… yang seperti itu yang aku suka… gumam Irvan.
“Yah, aku tidak menekankan pada wajah yang cantik. Asal bisa membuat aku nyaman, itu cukup," jawabnya asal.
“Jadi, kamu nyaman atau tidak dengan perilaku aku selama ini?" Tatapan matanya menatap lekat pada manik mata Irvan.
“Lampunya sudah hijau kembali…." Dia terbebas dari pertanyaan itu. Bukan karena Irvan sulit menjawab. Dia ingin wanita itu segera sadar diri. Bahwa perilakunya selama ini sukses membuat Irvan bergidik ngeri, dan kadang jijik. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari dia memberikan cup kopi dengan tanda hati. Menanyakan hal-hal pribadinya pada Leon. Juga tidak jarang memanggilnya keruangan untuk membicarakan hal tidak penting. Sengaja menggodanya dengan berpakaian seksi…
Deru mesin mobil membuat Medina tidak mendengar perkataan Irvan, “Sadar dirilah perempuan bodoh. Kau itu sering membuat aku jijik."
Alasan lain mengapa dia tiba-tiba menyetujui kencan itu, agar supaya Leon tidak curiga bahwa dia tertarik pada kakak iparnya sendiri. Bisa berabe masalahnya nanti. Tidak mungkin Irvan mau tinggal di jalanan karena diusir nantinya.
Sebuah bangunan besar, nampak berdiri kokoh di lahan luas. Di Depannya, banyak kendaraan yang berjejer rapi, dengan tukang parkir yang sibuk bekerja. Bangunan itu dilapisi oleh kaca bening yang transparan di bagian atas, dapat melihat pemandangan yang indah saat malam hari. Terdapat nama diri mall itu di bagian atas depan bangunan. Keduanya harus menunjukan kartu identitas dulu untuk masuk. Disebabkan mall itu adalah mall eksklusif. Hanya orang-orang tertentu dan pejabat kaya-raya yang bisa masuk ke dalam sana. Di lantai teratas, tempat ruang-ruang kasino berada, atau apapun yang berkaitan dengan judi dan bir. Bos-bos bandar n*****a, dan pejabat-pejabat nakal sering pergi ke sana. Sekedar cuci muka melihat wanita penghibur dan DJ seksi nan cantik.
“Aku tidak tahu kalau mall ini sangat besar."
“Loh, Irvan jangan bilang kalau kamu sebelumnya tidak pernah kesini?"
“Tidak, aku sibuk bekerja. Hanya pernah melihat sekilas saat melewati tempat ini," dalihnya.
“Ya susah. Sekarang, kamu puas-puaskan saja dirimu. Besok-besok, belum tentu bisa main seperti ini lagi kan?" Medina memperlihatkan sisi baiknya pada Irvan.
Ayah Medina adalah orang tua yang otoriter. Apapun yang dia perintah, harus gadis itu lakukan, tanpa mau tahu keadaannya. Seperti ketika memaksa Medina untuk pindah jurusan kuliah secara mendadak, karena dirasa jurusan pilihan Medina tidak menguntungkannya.
Cafe di lantai dua menjadi tujuan pertama mereka. Banyak sekali ikan-ikan cantik di aquarium. Cafenya memang bertema pemandangan bawah laut. Meja kaca transparan, di dalamnya sengaja diisi oleh ikan-ikan hias berwarna-warni.
“Wah, cantiknya. Kenapa aku baru datang ke tempat ini ya? Agak menyesal," ucap Irvan di dalam hati.
“Kamu suka tempat ini? Sejak tadi aku perhatikan, sibuk melihat sana-sini."
“Yah, untuk apa pergi ke sini kalau tidak dinikmati. Sayang sana, ini tempat mahal."
”Hahaha kau benar."
Cheryl… Medina berubah menjadi Cheryl sepenglihatan Irvan. Wanita dihadapannya memakai gaun putih dengan hiasan bunga lili yang tersebar di semua bagian gaun. Wajahnya berseri-seri manis… Irvan sampai salah tingkah.
“Hei? Kamu kenapa?" Dia melambaikan kedua tangannya di hadapan wajah Irvan.
Senyuman di waja Irvan tentu membuat Medina heran, bukannya senang. Pria sedingin Irvan.
Barulah dia sadar saat suara benturan piring dengan meja terdengar.
“Ini adalah makanan pembuka yang disediakan gratis untuk setiap pelanggan. Anda bisa menyediakan dessert ini dulu, sambil menunggu pesanan datang." Memberikan buku menu pada Irvan dan Medina.
“Aku pesan ini…"
“Aku yang ini…" untuk Irvan.
Sang pelayan mengangguk paham. Dia segera pergi ke dapur dan mengatakan pesanan pelanggan pada sang koki.
“Padahal, aku mau mencoba menu eksotis disini, ikan buntal."
“Lalu kenapa tidak pesan saja?"
“Aku takut keracunan. Bisa mati mendadak kalau terkena racunnya." Tertawa terbahak-bahak tanpa tahu bahwa Irvan berpikir lain.
‘Padahal, lebih bagus kalau kamu makan saja ikan itu dan keracunan. Hidupku Setidaknya bisa lebih tenang.'
“Kenapa harus takut? Bukannya koki disini sudah berpengalaman semuanya? Inikan bukan warung makan yang di pinggir jalan."
“Iya sih. Tapi tetap saja aku takut."
“Ya, terserah," jawabnya malas.
Beberapa saat kemudian, pesanan sudah datang. Mereka makan dengan lahap, merasakan sensasi mewah dan lezat dari makanan itu. Apalagi ketika menggigit caviar, langsung pecah di mulut.
“Setelah ini, mau pergi ke lantai paling atas?"
“Memangnya ada apa disana?"
“Oh, cuma bar sih. Dengan tempat untuk judi."
“Mau mengajak aku mabuk-mabukan?"
“Loh, kenapa? Tidak suka ya?"
“Aku benci bau alkohol."
“Hah? Oh…" Sedih hati Medina ketika mendengar hal itu. Padahal, dia sendiri sering mabuk-mabukan. Atau paling tidak, minum beberapa gelas untuk menghangatkan badan.
Tempat selanjutnya yang mereka tuju, adalah lantai tiga. Disana menyediakan pemandangan indah dengan berbagai musim. Seperti musim semi, salju, gugur, hujan, dan banyak lainnya. Setting tempatnya memukau, memanjakan mata setiap pengunjung yang datang. Selain itu, ada wahana bermain anak-anak, tsunami buatan dan perosotan yang langsung terhubung dengan lantai pertama.
“Ayo pergi ke sana," ajak Medina. Tangannya menarik paksa baju Irvan.
Musim salju tempat yang Medina pilih. Ada orang-orangan salju yang lucu. Bunga sakura imitasi yang nampak asli.
“Cheryl… aku jadi ingin kencan bersamanya. Tapi bagaimana? Apa harus menyingkirkan… Leon!?"
“Irvan, Agi berfoto disini," ajak Medina. Terpaksa dia lakukan hal itu. Sebentar lagi, akan mengeluarkan jurusnya…
Di Cafe lain, mereka istirahat dulu sejenak. Memesan makanan berat sebagai makan siang.
“Sepatuku sudah rusak ya…"
“Ah, aku baru sadar. Sejak tadi sibuk melihat wajah tampannya yang menggoda," pikir Medina. “Kasihan sih, aku belikan saja atau bagaimana?" Masih sibuk berpikir.
“Kenapa melihat seperti itu? Aku bukannya tidak mau membeli yang baru. Ini terlihat menyedihkan, tapi sebenarnya, aku tidak suka membuang-buang uangku," ujarnya meyakinkan.
“Aku punya kenalan seorang desainer di mall ini. Mungkin saja bisa membantu memilihkan model yang cocok…"
“Aku tidak–"
Deringan ponselnya berbunyi nyaring. Terlihat nama kontak ‘Leon' yang melakukan panggilan padanya. Namun, dia abaikan saja karena merasa tidak penting.
“Kenapa kamu tidak akan teleponnya? Kalau ada yang penting bagaimana?"
“Lupakan saja. Itu nomor tidak dikenal. Paling-paling, hanya tukang pinjaman online dan sejenisnya."