Sembilan

2136 Words
Jam di dinding kamar Leon sudah menunjukan pukul 15:00. Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda Irvan akan menelepon balik, atau sekedar memberikan pesan singkat, dan memberitahukan keadaannya pada Leon. Wajar jika dia khawatir pada adiknya itu. Irvan sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Cheryl yang melihat kegelisahan Leon mendekat ke arah suaminya. Dia memeluk Leon dari belakang dan mengusap-usap tangan suaminya agar tenang. “Sudahlah. Mungkin dia sibuk atau bagaimana. Nanti kita coba telepon lagi. Kamu jangan pikir yang macam-macam," nasihatnya pada Leon. Suaminya itu berbalik arah dan segera memeluk istrinya. “Iya, semoga saja memang begitu. Padahal, dulu kalau mau keluar lama, dia suka kasih pesan atau apa biar aku tidak khawatir. Tapi sekarang? Apa efek karena dia sudah dewasa ya? Jadi tidak mau diatur-atur hidupnya," ujar Leon. “Iya. Dia kan sudah besar. Pasti sudah punya pikiran dan pilihannya sendiri. Mungkin ponselnya juga lowbat atau bagaimana, kita kan tidak tahu." “Hahaha iya juga. Ya sudah, aku mau kerja dulu yah." “Iya, kamu mau kopi?" “Boleh deh. Kopi hitam ya, aku mau begadang nih." “Boleh. Tapi jangan terlalu kecapean ya." “Iya, Sayang." Leon pergi ke ruang kerjanya di lantai bawah. Sedangkan Cheryl sibuk di dapur untuk membuatkan camilan dan kopi hitam pesanan Leon. Dia juga sekalian memasak untuk makan malam. Sementara itu di tempat lain, kini Irvan dan Medina tengah berjalan-jalan di sekitar taman. Nantinya, akan ada pasar malam yang lumayan besar dan ramai dengan anak-anak kecil. “Kira-kira, nanti mau pulang jam berapa?" tanya Irvan. Ponselnya sejak tadi tidak berhenti berdering. Dia melihat sederetan nama Leon di panggilan tak terjawab. Ada setitik rasa takut dihatinya. “Kamu sendiri mau pulang jam berapa? Aku sih ikut-ikut saja. Tapi kalau bisa, kita pulang tengah malam bagaimana? Banyak tempat bagus yang belum kamu kunjungi deh." “Iya, juga sih. Banyak …" Akan jadi hal yang lebih baik kalau aku jalan-jalan dan menikmati hari bersama dia … Cheryl, pikir Irvan. “Sejak tadi kamu melamun. Ada apa sih sebenarnya? Sedang memikirkan masalah apa?" tanya Medina penasaran. Dia merasa diabaikan oleh Irvan sejak tadi. Meskipun keduanya sedang bersama, Medina merasa jiwa Irvan sedang bersama orang lain. “Bukan apa-apa," jawabnya dingin. “Kalau begitu, mau pergi ke toko sepatu sekarang?" “Ya, boleh," jawabnya bersemangat. Lumayan jika bisa dapat sepatu gratis. “Tapi, kita beli di tempat lain saja. Tidak kalau bagus kok. Sama-sama toko terkenal." “Loh, kenapa?" “Temanku katanya sedang sibuk urus baju pengantin artis terkenal. Maklumlah, dia desainer yang sudah punya nama. Bakal sulit untuk bertemu walaupun sudah berteman sejak lama kan?" “Iya juga." Semoga saja bukan sepatu butut dan murahan yang dia belikan, Irvan bergumam. Tidak jauh dari sana, tampak sebuah toko besar, dan didepannya terdapat plang yang jelas tertampang, menyebutkan nama brand toko tersebut. Bukan hanya sepatu, disana menyediakan banyak sekali barang-barang berkelas yang langsung diimpor dari luar negeri. Sebagiannya juga ada dari merek terkenal seperti channel, Dior, dan masih banyak lainnya. Medina mengajak Irvan menuju deretan sepatu-sepatu mahal khusus pria. Ada seorang penjaga toko yang memperkenalkan barang-barang atau merek datang mereka pada Irvan dan Medina. “Kalau anda suka yang sedang trendi sekarang ini, maka sepatu ini akan jadi pilihan yang tepat." Dia memperlihatkan sebuah sepatu kulit berwarna coklat. Memang sedang booming karena dipakai oleh artis papan atas terkenal. “Kamu mau yang itu?" tanya Medina. Irvan menggeleng. Dia bukan tipe pria yang suka ikut-ikutan orang lain. Dia berjalan ke jejeran sepatu lain. Akhirnya menemukan sepatu yang cocok. “Aku pilih yang ini." Medina hampir saja mengangguk, namun saat melihat struk harga yang terpampang, dia mengurungkan niatnya. “Eh, hahaha. Kamu tidak kepikiran untuk coba yang lain? Kayaknya, sepatu itu berat banget deh," ucap Medina. Dia memperlihatkan pada Irvan satu pasang sepatu yang lebih murah. “Ya sudah kalau kamu tidak mau belikan–" “Tidak! Aku belikan kok! Kamu tenang saja!" jawab Medina cepat, ketika melihat raut wajah Irvan yang berubah masam. Sudah bagus akhirnya wanita itu bisa kencan dengan Irvan … keluar modal sedikit saja tidak apa-apa lah. Di kediaman Leon. Ketikan jarinya di komputer semakin melambat, seiring dengan penuhnya pikiran Leon. Bagaimana tidak? Ponselnya sama sekali tidak menunjukan pesan balasan apapun dari Irvan. Leon sendiri tidak bisa berfokus pada pekerjaannya. Dia pergi ke dapur untuk menemui Cheryl. “Kira-kira, anak itu sedang apa sih? Sekarang sudah jam 8:20 malam loh." “Kamu susah coba telpon dia lagi? Jangan marah dulu. Tenangkan pikiran kamu." “Iya …" Dia kembali lagi ke ruang kerjanya. Mengambil ponselnya yang sedang mengisi daya, lalu menelpon Irvan. “Apa-apaan sih? Seakan-akan aku ini anak kecil. Sialan!" Irvan membiarkan saja ponselnya berdering. Dia sengaja mengecilkan volume ponselnya agar tidak mengganggu. “Ah, sial. Anak ini bagaimana sih!? Maunya apa!?" kesal Leon. “Bagaimana, dia mau jawab tidak?" tanya Cheryl. “Tidak. Coba kamu saja yang telepon dia." “Ya sudah. Sebentar ya." Irvan yang terganggu dengan suara deringan itu ingin langsung mematikan ponselnya. Namun, niatnya terhenti, tatkala melihat nama Cheryl-lah yang sedang melakukan panggilan telepon. Segera dia angkat panggilan itu. “Ya, halo?" jawabnya cepat. “Oh, akhirnya kamu angkat juga. Kenapa dari tadi tidak diangkat?" “Itu–" sebelum selesai Irvan menjawab, Ponsel Cheryl sudah dirampas oleh Leon yang kesal. “Cepat pulang sekarang juga. Aku mau bicara!" jelasnya. “Baiklah." Suara Irvan agak bergetar. Permintaan Leon sudah pasti tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Aku harus pulang sekarang." “Loh, kenapa? Sepatunya bagaimana?" “Lain kali saja. Aku pergi dulu!" ujar Irvan sambil berlari tergesa-gesa. Dia memesan taxi untuk pulang ke rumah. Dalam perjalan, pikirannya begitu kalut. Takut jika mandi dimarahi habis-habisan oleh Leon. Padahal, dia sudah dewasa. Sesampainya di kediaman Leon. Irvan melangkah pelan-pelan dan hendak langsung ke kamar. Dia takut berhadapan dengan … “Kakak?" Leon tiba-tiba berdiri di depannya. Dia bahkan tidak sadar sejak kapan Leon ada disana. “Sudah selesai bersenang-senang nya?" Leon bertanya sinis. “Kenapa memangnya? Aku cuma keluar sebentar dengan Medina kok." “Jelaskan saja di dalam." Leon mengajak Irvan masuk ke ruang kerjanya. Disana, hawa ruangan menjadi sangat berat. Jangankan untuk berusaha, bernapas saja Irvan sudah. Leon melihat Irvan yang menahan rasa gugupnya sendiri. Sebenarnya, daripada mempertanyakan kenapa Irvan pulang malam-malam, ada hal lain yang sangat mengganggu pikirkan Leon. Kakinya melangkah maju ke depan. Dia memojokan Irvan sampai di tembok ruangan. Setelah itu, mulailah dia berbicara dengan serius. “Kenapa kamu tidak angkat telepon dariku? Tapi saya Cheryl yang menelpon, kamu langsung angkat dengan cepat. Padahal, dia baru menelpon satu kali. Kenapa?" Leon merasa ada yang aneh karena saat dia menghubungi Irvan, irvan justru mengabaikannya. Sementara saat Cheryl yang menghubunginya, dengan cepat dia menerima panggilan itu. Pertanyaan itu terus saja ada di benak Leon, hingga dia memutuskan untuk mempertanyakannya. Irvan gugup sekali. Tanpa dia sadari, bahwa sedari tadi, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan kini mulai turun membasahi bajunya. Irvan terlihat bingung, tapi dengan sangat pintar dia membohongi Leon dan mengatakan sedang jalan dengan medina, jadi dia tidak dengar. “Aku, aku kan sedang jalan dengan Medina. Jadi tidak dengar panggilan telepon dari Kakak. Maaf kalau terkesan mengabaikan." “Lalu, telepon dari Cherly kamu dengar begitu?" “Itu …" Dia menelan salivanya dengan susah payah. Lalu melanjutkan, “Aku dan Medina akan pulang. Jadi saat di dalam mobil, kakak ipar menelpon. Makanya aku bisa dengar." Leon tidak bisa percaya begitu saja. Namun, dia juga tidak sanggup membebani pikirannya dengan hal-hal negatif. Walaupun kini, ada satu pertanyaan pasti yang sedang dia cari tahu jawabnya, “Apakah jangan-jangan, diam-diam Irvan tertarik pada kakak iparnya sendiri?" begitu kira-kira yang Leon pertanyakan di kepalanya. Pintu ruangan tempat keduanya berada, tiba-tiba diketuk lembut oleh Cherly. Dia melipat kedua tangannya didepan d**a. Memang bermaksud untuk menengahi perdebatan antara dua bersaudara ini. “Makan malam sudah siap. Kalian berdua harus makan dulu sebelum tidur. Itu aturannya, baru saja aku buat tadi." “Tapi, aku masih kenyang sama kopi dan camilan yang kamu kasih. Harus ikut makan juga?" tanya Leon polos. “Wajib. Sudahkah, cepat ke ruang makan!" titah Cheryl. Saat akan beranjak ke sana, Leon sesaat memberikan tatapan tajam pad Irvan. Seakan-akan sedang berkata, “Urusan kita belum selesai." Karena memang jawaban Irvan tidak memuaskan dirinya. Makan malam kali itu terasa dingin dan kaku. Percuma saja Cheryl mencoba untuk mencairkan suasana, tetap saja Leon dan Irvan saling diam. Keduanya tampak tidak berselera sama sekali. “Percuma saja. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa membuat keadaannya tidak berat lagi. Aduh. Pusing sekali …" omel Cheryl di dalam hati. *** Pagi hari kembali datang. Leon juga sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Kali ini, dia harus membawa banyak sekali tumpukan berkas di map, yang selama dikerjakannya sembari tidak fokus. Leon sendiri tidak yakin hasilnya akan bagus seperti yang bos harapkan. “Semoga saja tidak ada kesalahan apapun deh. Aku lelah sekali kalau harus merevisi semuanya." Hembusan nafas berat dan panjang berhasil keluar dari hidungnya. “Malas sekali kalau kena semprot pagi-pagi. Mataku saya sudah menghitam bagian bawahnya. Kantung mata juga melebar." Cheryl ikut membantu suaminya untuk membawakan printer yang lumayan berat. “Eh, harusnya kamu simpan saja deh. Jangan bantuin. Kan berat." “Tidak apa-apa kok. Aku memang sengaja melakukannya. Kamu kan sudah lelah sekali semalaman bekerja dan tidak tidur dengan baik. Ini hanya bantuan kecil saja." “Hah. Ya sudah. Aku tidak bisa menolak permintaan istriku." Kejadian semalam membuat Irvan semakin tidak menyukai Leon. Apalagi pemandangan pagi ini, malah membuat hatinya terasa nyeri. “Susahnya jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya pasangan ya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau hanya saja yang bisa membuat aku tertarik, aku bisa apa?" gumam Irvan. Go-car pesanan Irvan sudah datang. Leon dan Cherly melongo kaget. “Loh, kenapa kamu pesan mobil? Bukannya berangkat berdua dengan Leon?" “Iya, jangan kenakan-kanakan Irvan. Buang-buang uang demi amarah yang tadi malam. Sudahlah, kita naik saja mobil bersama," Ajak Leon. Irvan menggeleng dan segera menolak. “Bukan begitu. Aku tahu kakak cuma khawatir saja. Aku mau pergi ke rumah teman dulu sebelum berangkat ke kantor. Arahnya beda dengan jalur ke kantor, makanya aku pesan mobil." Irvan malas satu mobil dengan Leon. Dia merasa Leon itu punya dua sisi yang sangat berlainan. Baru semalam dia bersikap galak. Sekarang, malah seperti tidak terjadi apapun. Menyebalkan! “Ya sudah. Tapi, jangan sampai telat ke kantor. Tidak ada namanya nepotisme kalah dengan aku." “Aku juga tahu kak." Irvan berpamitan pada Cheryl dan Leon. “Kamu tidak merasa dia aneh, Sayang?" tanya Leon. “Hah? Oh enggak kok. Mungkin memang benar mau pergi ke rumah temannya." “Begitu ya …" “Iya." “Kalau begitu, aku juga mau berangkat ya." “Iya. Hati-hati. Bekalnya jangan lupa dimakan. Jangan beli yang aneh-aneh juga. Kamu itu gampang sakit, ingat itu ya!" “Hahaha iya. Kamu galak deh." Berpelukan erat sebelum keduanya berpisah. Ponsel milik Cheryl berdering. Ada teman SMA nya yang menelpon. “Hei, kamu jadi kesini untuk ikut reuni kan?" “Iya, jadi kok," jawab Cherly. Tidak ada niat dia untuk kesana, karena reuni hanyalah ajang pamer keberhasilan. Pastikan di sana menjadi tempat gosip, Cheryl tidak suka itu. “Yah, daripada di cap sombong. Lebih baik pergi saja deh." Di kantor, Leon mempertanyakan hal yang mengganggu pikirannya kepada medina. Dia masih saja tidak percaya kepada adik sepupunya itu. “Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Silahkan duduk." Menunjuk pada sebuah kursi sofa di hadapannya. Medina mengangguk. Merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Lalu kenapa dia tiba-tiba dipanggil sepagi ini? “Boleh saja. Bapak mau menanyakan apa pada saya?" “Itu … kemarin kamu jalan dengan Irvan kan?" “Ummm. Iya. Benar. Kenapa Pak? Apa ada masalah?" “Kemarin saya sudah coba telepon Irvan berkali-kali. Tapi tidak mau dia angkat sama sekali. Dia bilang tidak dengar. Apa itu benar?" “Loh, saya kira bukan Anda yang menelpon kemarin. Soalnya, dia bilang bahwa yang menelepon hanya sekedar pinjaman online atau panggilan yang tidak penting begitu. Saya sudah suruh dia untuk menjawab teleponnya kok." Dahi Leon mengerut sempurna. “Yang benar? Masa dia berbohong pada saya." “Saya tidak tahu masalah dia berbohong atau tidak. Tapi seperti itulah, saya berkata jujur. Dia mendengarkan panggilan itu, tapi mengabaikannya begitu saja." Leon merasa murka, dan ingin kembali mempertanyakan hal itu kepada Irvan setelah mereka kembali dari kantor. Medina yang sadar akan situasi segera pamit undur diri. Mana mau dia ikut campur lebih dalam untuk hal pribadi seperti itu. “Irvan sialan. Kau berani membohongi aku hah? Awas saja nanti kalau sudah pulang ke rumah. Kamu tidak akan bisa mengelak lagi, dan harus menjawab jujur!" Sementara itu di tempat lain, teman-teman Cheryl sudah berada di sebuah cafe eksklusif. Mereka memakai pakaian mahal merek terkenal, juga membawa kendaraan super mewah yang diimpor langsung dari Jerman. Tatapan sinis langsung mengarah pada Cheryl, karena penampilannya yang sangat sederhana. Mulai terdengar kasak-kusuk dan bisikan pedih dari mereka. “Hei yang benar saja. Masa gembel ini mau gabung dengan kita?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD