Cheryl duduk dan bergabung bersama mereka, meskipun dia tidak nyaman dengan bisikan-bisikan dan cemoohan semuanya.
“Eh, Cheryl, aku kira kamu bakal tambah kaya deh. Bukannya dulu pas SMA jadi murid teladan kebanggan guru? Sering juga juara olimpiade kan?" tanya salah satu temannya dengan tatapan merendahkan.
Cheryl hanya membalasnya dengan senyuman manis penuh arti.
Yang lain ikut menyahut. “Eh iya benar tuh. Aku kira kamu bakal sukses sih. You nyatanya? Sekarang paham deh, juara dan menang olimpiade gak menentukan nasib baik yah," ejeknya.
“Iya tuh. Padahal, aku sempat mau insekyur sama kamu Cheryl. Tapi ternyata tidak ada apa-apanya. Aku saja datang kesini pakai mobil Alphard, pakai jam tangan rolex, tas juga dari channel, baju dari Dior. Duh, tidak jadi insekyur deh," ujarnya dengan bahasa Inggris yang asal-asalan.
“Haduh. Kalian kan cuma lihat dari luarnya saja. Sudah lihat dari dalamnya belum?" tantang Cheryl. Semuanya membalas dengan tatapan melongo tajam. Bagaimana bisa Cheryl berkata seperti itu? Sementara dirinya lebih mirip gembel daripada manusia, itulah anggapan teman-teman SMA nya.
“Memangnya, kamu yang seperti ini punya apa sih? Aku jadi penasaran deh."
“Tuh kan, kebiasaan, hanya melihat dari luarnya saja," ucap Cheryl, seraya tertawa kecil, menertawakan kebodohan teman-teman.
Tiba-tiba, pintu cafe terbuka lebar. Tampak ada seorang wanita cantik, memakai baju mahal dan kacamata hitam mendekat ke arah mereka. Dia ditemani oleh dua orang bodyguard, yang bertugas untuk membukakan pintu, dan menjaganya dari fans yang tidak tahu diri. Dia adalah Sarah, artis papan atas yang sering membintangi film bioskop, artis pendatang baru yang sudah menerima beberapa penghargaan berkelas.
Dia duduk dengan arogan, sambil membuka kacamatanya, hingga nampak wajah yang indah cantik.
“Panas sekali. Maaf ya, aku telat teman-teman. Maklumlah, jadwalku sangat padat. Begini saja, aku takut fans ku menguntit."
Mulutnya sibuk menyeruput kopi yang sudah dipesan, padahal itu milik temannya yang lain.
“Wah, kamu seperti biasa yah. Masih tetap cantik sekali," puji temannya.
Sarah tersenyum menang. Dia dan Cheryl dulunya memang saingan untuk menjadi primadona sekolah, meskipun Cherly tidak pernah menganggapnya. Wajah Sarah memang cantik, tapi dia buruk dalam akademik. Masuk sebagai artis juga atas bantuan ayahnya yang punya banyak koneksi di dunia hiburan. Sedangkan Cheryl, dia naik ke atas dengan kemampuannya sendiri.
“Loh, Cheryl, kamu tidak tambah miskin setelah kita tidak bertemu lama kan?" tanya Sarah.
”Hahaha. Tidak kok, aku baik-baik saja."
“Ya ampun, padahal aku sekali membintangi iklan saja, dapat sampai beratus-ratus juta loh," bualnya.
Seketika, yang lain langsung menjilat dan memperlakukannya seperti tuan putri.
Cherly semakin tidak nyaman karena disudutkan. Dia beranjak dan berdalih, bahwa, “Aku masih punya banyak pekerjaan di rumah. Tidak bisa lama-lama, aku pamit dulu."
Tangannya dicekal oleh Sarah. “Loh kenapa? Kan baru saja disini. Kamu masih muda, kok kamu dijadikan babu sih sama suamimu sendiri? Mana dulu Cherly yang pintar dan disukai banyak orang?" tangannya meraih satu gelas jus alpukat yang ada di meja, lalu melemparkannya tepat ke arah wajah Cheryl.
“Hahahaha. Tuh kan tambah jelek saya!" Cafe itu seketika dipenuhi oleh suara tawa yang menyesakkan d**a. Cherly hampir saja menangis, hingga tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menariknya ke dalam pelukan hangat. Leon menutupi badan Cherly yang basah dengan jasnya. Dia menatap nyalang pada Sarah. Kebetulan, Leon sedang ada pertemuan dengan salah satu kolega bisnis. Bos mempercayainya untuk menemui utusan bisnis dari perusahan besar di Indonesia. Tanpa sengaja, dia melihat itu semua ketiga dia hendak menemui rekan bisnisnya. Leon akan bertemu dengan mereka di cafe yang sama.
Semua orang terdiam ketika melihat ketampanan Leon.
“Kalian akan mendapatkan pembalasan setimpal!" ancamnya.
Cheryl digiring ke mobil, dan dia antarkan pulang.
“Loh, pekerjaan kamu bagaimana?"
“Jangan khawatirkan masalah itu. Kamu lebih penting."
Ucapan Leon sukses membuat Cheryl menangis deras.
“Maaf, aku buat kamu malu tadi."
“Yang harus minta maaf itu mereka, bukan kamu. Sudahlah, jangan buang-buang air mata untuk orang-orang jahat seperti itu."
“Iya …"
Sesampainya di rumah, Leon langsung mengantarkan Cheryl ke kamar mereka di lantai dua. Dia mengambilkan handuk dan satu stel pakaian untuk ganti.
“Bersihkan diri kamu."
Cheryl mengangguk, dia melangkah pelan ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Ponsel Leon berdering nyaring. Sang bos menelpon nya.
“Iya, bos? Oh, maaf. Saya sudah bertemu dengan mereka. Tapi, ada sedikit masalah. Saya akan kesana lagi dalam waktu dekat."
“Baiklah. Aku pegang kata-katamu itu," jawab bos melalui sambungan telepon.
Leon mengetuk pintu kamar mandi.
“Aku mau pergi bertemu dengan kolega bisnis sebentar. Kamu tidak apa-apa? Tapi, aku janji bakal pulang lebih awal malam ini."
“Iya, pergi saja. Aku tidak apa-apa kok," jawabnya pilu.
Meski berat, Leon pergi lagi ke cafe. Sekalian menandai wajah-wajah perundung istrinya.
***
Di malam hari, ketika itu jam dinding sudah menunjukan pukul 8:09 malam. Segera Leon membereskan barang-barangnya dan hendak pulang. Dia menawari Irvan untuk pulang bersamanya.
“Kamu mau pulang sama-sama? Atau tidak?"
“Hah? Oh iya. Aku akan ikut dengan kakak."
Keduanya langsung duduk di sofa setelah sampai.
Tatapan mata Leon berubah serius, Irvan merasakannya.
“Kamu tidak sengaja untuk mengabaikan panggilan telepon dari aku kan?" tanya Leon tanpa berbasa basi.
Irvan terdiam, karena serangan pertanyaan yang mendadak itu. Dia bahkan belum mempersiapkan jawaban apapun karena mengira masalahnya sudah selesai.
“Loh, kenapa kakak bertanya seperti itu lagi? Aku kan sudah menjelaskannya saat tadi malam."
“Tapi, Medina bilang kamu dengar kok, malah sengaja untuk mengabaikannya. Kamu bilang itu panggilan tidak penting dari pinjaman online dan sejenisnya," desak Leon.
'Medina sialan! Memang tidak bisa diandalkan sama sekali. Apa susahnya berbohong demi aku sih? Katanya cinta, tapi masih takut jabatannya tersebut karena berbohong. Wanita manapun sekarang tidak bisa dipercaya.'
“Kenapa kamu diam saja? Jawab dengan jujur!"
“Itu, aku memang tidak dengar kok!"
“Masih tidak mau mengaku!? Jadi maksud kamu, Medina berbohong begitu!?" Nada bicara Leon naik beberapa oktaf.
Irvan menatap Leon dengan penuh emosi. Kecurigaannya terhadap Irvan semakin bertambah besar. Apalagi, Irvan sekarang tampak sedang mencari-cari alasan yang tepat.
“Lagi-lagi kamu diam! Punya mulut tidak sih, untuk menjawab? Atau jangan-jangan kamu mendadak bisu?"
“Kakak kenapa sih? Aku kan hanya ingin menikmati waktu kencan dengan Medina tanpa gangguan apapun. Waktu aku tidak kenal wanita, kakak selalu mengejek. Sekarang sudah kenal, apa lagi masalahnya?" balas Irvan tak kalah emosi, namun akhirnya dia mendapatkan alasan yang cukup bagus.
“Aku bukan anak kecil lagi yang harus diatur-atur. Kakak harusnya paham, sampai batas mana bisa masuk dalam kehidupanku!" lanjutnya.
Leon terdiam, karena yang dikatakan oleh Irvan ada benarnya. Dia terlalu ikut campur untuk urusan pribadi Irvan.
“Tunggu! Aku masih punya satu pertanyaan lagi!" ucapnya ketika Irvan hendak melarikan diri ke kamar.
“Oh, aku tahu apa yang mau kakak tanyakan. Untuk masalah itu, aku menang sengaja menjawab karena takut di semprot oleh kakak ipar. Sudahlah, aku mau istirahat saja. Tolong jangan ganggu aku malam ini."
“Kamu ini bagaimana sih, seharusnya kalau tidak mau diganggu, kasih pesan yang jelas. Biar kami tidak telepon terus-menerus. Begitukan lebih mudah!" Leon masih belum bisa menerima sepenuhnya alasan dari Irvan. Baginya, semua itu tidak masuk akal. Merasa bahwa adik sepupunya ini punya hal yang disembunyikan rapat-rapat.
“Aku tidak kepikiran itu."
“Kamu?" perdebatan itu dihentikan oleh Cherly yang terganggu dengan suara bising dari bawah. Dia memang sengaja tidur lebih awal karena lelah atas kejadian tadi pagi.
“Kenapa lagi ini? Leon, sudahlah. Jangan diperbesar lagi. Kalian sudah makan malam atau belum? Aku masak walau tidak banyak."
Diantara keduanya tidak ada yang berkata-kata lagi. Langsung masuk ke dalam kamar masing-masing, tanpa mau meluruskan masalah itu.
Irvan sendiri jadi tidak betah tinggal disana. Jika bukan karena Cherly, sudah dari kemarin dia mencari kos-kosan murah.
“Loh, malah pergi dua-duanya. Aku diabaikan nih?" Cheryl menatap bingung.
“Semoga saja makananya tidak basi sampai nanti pagi." Dia menghangatkan sebentar sayur sop daging sapi, dan dendeng balado.
Di tengah malam, Irvan yang merasa bahwa masalah itu semakin rumit, mendatangi kamar kakaknya. Dia mengetuk pintu kamar dengan sopan, dan berniat untuk meluruskan.
Alangkah terkejutnya Irvan, ketika melihat yang membukakan pintu adalah Cheryl. Si terbengong beberapa saat. Hingga akhirnya lamunanya itu dirusak oleh Cheryl.
“Loh, kamu belum tidur semalam ini? Kenapa?" tanyanya perhatian.
“Kakak sendiri kenapa belum tidur?" Irvan bertanya balik.
“Oh, aku sedang mengobrol dengan Leon, ada sedikit masalah tadi pagi."
“Masalah apa?"
“Kamu mau masuk atau hanya diam dan berbincang dengan Cheryl di depan pintu?" Leon menginterupsi.
“Oh iya."
Irvan jarang masuk ke kamar Leon sejak dia menikah dengan Cheryl. Tampak asing namun menenangkan. Dia dipersilahkan oleh Leon untuk duduk di sofa, tepat di hadapannya. Sedangkan dirinya duduk berdua dengan Cheryl.
”Aku mau minta maaf soal yang tadi. Aku hanya emosi sesaat. Tapi masalah ini tolong jangan diperpanjang."
“Ya, aku juga minta maaf karena terlalu kasar. Tapi lain kali, cobalah untuk memberikan pesan walaupun singkat. Jadinya orang rumah tidak perlu khawatir."
“Iya, kak aku mengerti."
“Ya sudah. Pergilah tidur. Besok kamu harus kerja lembur kan?"
“Iya … aku pergi dulu."
Sementara itu, Cheryl masih belum menerima alasan dari Irvan. Dia curiga dan ayah bergidik ngeri, saat Irvan menatapnya dengan pandangan penuh arti barusan.
“Kamu kenapa? Tidak apa-apa kan?"
“Hah? Tidak kok. Aku baik-baik saja. Ayo tidur."
“Tapi cerita yang tadi belum selesaikan?"
“Aku takut kamu telat ke kantor besok. Bagaimana?"
“Jangan remehkan orang yang suka begadang dan lembur. Aku masih bisa bangun tepat waktu kok. Harusnya aku yang bertanya seperti itu kan!"
“Hahah. Iya juga. Ya sudah, ayo lanjut mengobrol."
“Tapi, kenapa kamu tidak melawan sih? Teman-teman SMA mu itu sebegitu irinya dengan kamu?"
“Entahlah. Tapi, bagaimana mau melawan, mereka itu banyakan. Yang ada, aku akan disudutkan oleh geng Sarah. Dia itu artis terkenal, banyak uang dan koneksi dimana-mana. Dibanding dengannya, aku bukan apa-apa kan?"
“Jangan merendahkan diri kamu sendiri. Aku tidak suka mendengarnya," ungkap Leon. Dia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat, dan mengusap-usap lembut punggungnya.
“Kalau mereka berani macam-macam lagi, aku akan melakukan sesuatu biar supaya mereka jera. Kamu jangan takut."
“Iya deh. Aku hanya tidak mau masalahnya tambah runyam. Nanti merembet kemana-mana."
“Iya juga sih. Jadi bingung, bagaimana caranya menghadapi orang-orang yang punya kuasa seperti itu ya? Salah-salah aku tidak kuliah di jurusan hukum dulu." Leon memperlihatkan wajah kecewanya, padahal dia sudah mencintai pekerjaannya sekarang.
“Hahaha. Apasih. Memangnya kalau kamu jadi jaksa, bisa meringkus mereka ke penjara begitu? Duh, percaya diri sekali deh, Suamiku ini," goda Cheryl.
Leon mematikan lampu kamar, namun tetap membiarkan lampu belajar menyala. Cheryl tidak suka kegelapan, namun juga tidak suka terlalu terang. Keduanya pun terlelap dalam mimpi indah masing-masing.
Berbeda dengan Irvan. Di dalam kamarnya, pria itu masih sibuk memikirkan cara untuk membalas dendam pada Medina.
“Sepertinya, mengabaikan dirimu saja akan cukup. Mana aku berurusan lagi dengan tukang mengadu sepertimu."
Pesan teks yang dikirimkan oleh Medina tidak dia jawab sama sekali.
***
Keesokan harinya di kantor. Medina baru saja selesai membeli kopi mahal di sebuah cafe, yang tidak jauh dari kantor. Dia memberikan satu pada Irvan dan menaruhnya di meja kerja pria itu.
“Ini untuk kamu. Bisa lebih semangat kalau minum kopi kan?" Bicara dan berperilaku seolah-olah tidak ada masalah apapun yang dia timbulkan. Wajah tanpa dosanya itu, Irvan benar-benar muak ketika melihatnya.
Irvan beranjak dari tempat duduknya. Medina sempat berbunga-bunga Karena pria itu mengambil cup kopi yang dia berikan. Pikirnya, Irvan akan meminum kpi itu.
Namun … “Loh, kok kamu buang ke tong sampah sih? Aku sudah mengantri buat itu loh."
“Ada yang suruh?"
“Hah?"
“Ada yang suruh kamu membelikan kopi ini?"
“Tidak ada sih, tapi kan …"
“Ya sudah. Mulai sekarang, tidak usah bersusah payah untuk mencari perhatian lagi. Aku benci!"
“Kamu kenapa sih? Padahal kemarin kita sempat kencan, kenapa lagi sekarang? Aku buat kesalahan apa?" Matanya mulai berkaca-kaca, dan hendak akting menangis.
“Bicara seolah-olah gadis polos yang tanpa dosa. Kamu kira aku tidak tahu? Kemarin kamu mengadu pada kak Leon kan? Untuk mempertahankan posisi sendiri. Sudahlah, aku paling anti bicara dengan manusia manipulatif sepertimu. Cepat pergi!" usir Irvan.
Karyawan-karyawan lain, terlebih para gadis menertawakan Medina, dan membuat dia sangat malu. Segera dirinya naik ke lantai dua, namun semoga tersandung kaki kursi, dan jatuh terjerembab.
Semuanya tertawa terbahak-bahak.
“Sialan! Aku akan adukan kalian semua ke bos!" Barulah mereka semua terdiam. Takut jika dipecat tiba-tiba karena ulah Medina yang pandai menggoda bos.
Dia pergi ke ruangan bos untuk langsung mengadu. Sifatnya itu memang tidak pernah hilang sejak dulu.
“Loh, Medina? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang mengganggu kamu?"
“Hiks, mereka menertawakan saya. Mereka menuduh saya yang tidak-tidak," bohongnya.
Bos langsung menatap penuh amarah, “Apa!? Siapa yang lancang melakukan hal itu?"
Tentu dia marah, karena bos diam-diam sering menyewa hotel dan bermalam bersama Medina.
“Kamu tenang saja. Mereka pasti akan menerima semua akibatnya!"