Sebelas

1047 Words
Terdengar suara pengumuman dari ruangan bos, yang menyuruh semua karyawan untuk masuk ke ruang rapat dan melakukan inspeksi dadakan. Bos memang memiliki kebiasaan buruk, membawa dan mencampurkan masalah pribadinya dengan masalah pekerjaan. Rumor buruk mengenai sang bos sudah lama menyebar di seluruh kalangan karyawan, namun semuanya memilih untuk diam saja karena tidak mau dipecat. Gadis cantik seperti Medina adalah incarannya, selain memang karena gadis itu memiliki inisiatif menggoda bos demi keuntungan pribadi. Terdengar kasak-kusuk dari karyawan ketika mereka mulai memenuhi ruangan rapat dan lumayan luas. Disana, Bos duduk di kursi kebesarannya, dengan tatapan arogan dan menyudutkan. Kemudian, dia mengetuk-ngetuk meja, tanda semuanya harus berfokus pada dirinya saja dan mendengarkan semua ocehan tidak penting yang akan disampaikan kali ini. Meski ini bukan kali pertama dia bersikap seperti itu. “Saya tidak suka jika antar karyawan terdapat persaingan yang tidak sehat. Seharusnya, kalian tidak boleh menyudutkan satu pihak demi terlihat bagus dimata orang lain,"ujarnya sok bijak, menjilat ludahnya sendiri. Yang lain mulai saling senggol dan memberikan kode, untuk menertawakan kebodohan si bos yang berlagak benar. “Seharusnya, kalaupun mau bersaing, lakukan dengan sportif. Kalian tidak kasihan pada teman kalian ini!?" bentaknya kemudian. Seketika seisi ruangan mendadak diam, begitu hening dan sunyi. Hanya Medina yang berani cengengesan dan menertawakan yang lain, sementara dirinya mendapatkan tatapan sinis seperti, “Awas kamu nanti, kalau di luar kantor, akan aku pukul sampai mati!" Leon sendiri hanya bisa menarik nafas panjang dan berat. Mau bagaimana lagi? Dia hanya bisa terpaksa menerima semuanya, jika tidak mau gajinya dipotong lagi karena alasan yang tidak jelas. Sampai, ketika sang bos berkata, “Sebagai pelajaran, gaji kalian akan saya potong. Hanya gaji Medina yang saya naikkan beberapa kali lipat," ucapnya. “Tidak ada bonus dari raya Imlek lagi," lanjutnya. Kebetulan, sang bos memang memiliki darah Tionghoa yang masih sangat kental. “Bos–" Irvan akhirnya membuka mulut. “Kenapa bonus kami dihilangkan? Anda hanya menerima keluhan dari satu orang karyawan saja, dan tidak membiarkan yang lainnya memiliki hak suara. Ada baiknya anda memberikan kesempatan bagi yang lain, untuk memberikan keluhan mereka juga," saran Irvan dengan tegas, hal itu mendapat senyuman apresiasi dari Leon dan semuanya, kecuali Medina yang mulai khawatir. Meski hanya karyawan biasa, Irvan bekerja dengan sangat baik. Dia ulet dan rajin, tidak pernah membebankan pekerjaannya kepala karyawan baru, cepat selesai dalam tugasnya. Akan sangat disayangkan jika sang bos membaurkan Irvan resign karena perlakuannya membela Medina, yang hanya menumpang nama di kantor, padahal kerjaan utamanya tidak lebih dari sekedar bersolek di depan bos. Kening bos berkerut, sama seperti Medina. Dia sedang memikirkan, lebih baik melepaskan karyawan yang bagus kerjanya, atau melepaskan yang modelan seperti Medina? “Begini saja, karena Medina sudah menyampaikan keluhannya kepada saya atas sikap kalian, maka kalian juga boleh mengeluarkan keluhan kalian terdapat perilaku karyawan manapun yang dirasa tidak menyenangkan." Suara bisik-bisik itu mulai terdengar lagi. Hingga akhirnya, ada banyak tangan terangkat untuk membicarakan keluhan mereka. Meski begitu, satu karyawan yang sangat membenci kelakuan Medina menjadi perwakilan semuanya. “Begini pak …," Dia membeberkan semua perilaku Medina yang tidak menyenangkan. Mulai dari sering mengadu yang tidak-tidak, meminjam barang seenaknya, bahkan jarang dikembalikan, dan pura-pura lupa ketika hutangnya ditagih. Selain itu, pekerjaan tim seringkali tersendat karena menunggu tugas Medina selesai, dimana dia sudah telat mengerjakan beberapa hari, dan memberikannya asal jadi saja. Setelah mendengarkan hal itu, bos terpaksa memberikan keputusan yang tidak menguntungkan bagi Medina. Dia akan dikenakan sanksi di kantor, dan berbagai hukuman yang lain. Rapat dadakan itu akhirnya dibubarkan. Medina segera keluar dari sana dengan wajah masam dan kesal. Semua itu karena Irvan. Tiba-tiba, dia merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang, itu adalah Irvan. “Oh iya. Aku lupa bilang, kalau sekali dingin, aku juga tidak suka membiarkan orang yang sudah menjerumuskan aku ke dalam masalah hidup tenang. Itu sudah sifatku sejak dulu. Ini baru permulaan saja, silahkan tunggu yang selanjutnya …" Tercipta senyuman miring di bibir pria itu. Yang lagi-lagi, dibalas wajah masam dan cibiran dari Medina. Salah-salah dia kagum dan menyukai Irvan yang tampan, kalau akhirnya berakhir kacau seperti ini. Ketika jam pulang kantor, Irvan menggunakan taxi karena Leon ada urusan dengan para petinggi perusahaan. Hatinya sangat senang, karena kali ini, tidak ada yang akan mengganggunya mendekati Cheryl. Di dapur, Cherly sedang menyiapkan makan malam. Dia juga sedang menunggu kue buatannya masak di dalam oven. “Aduh, ini gosong atau bagaimana sih? Kok warnanya agak hitam-hitam begitu?" Irvan menyentuh pundak Cherly tiba-tiba, membuat wanita itu bergidik takut. Dia berbalik arah, hingga dapat menatap wajah tampan Irvan dengan leluasa. Jujur saja, Cheryl merasa bahwa wajah Irvan lebih tampan berkali-kali lipat dari Leon. Ada setitik gejolak di hatinya, yang menyuruh gadis itu untuk berkhianat dari Leon. Beruntung, iman Cheryl masih kuat. Tidak mungkin dia mengkhianati Leon yang sudah memberikan dia kenyamanan, bukan perkara wajah tampan saja. “Kenapa? Tolong jangan sentuh tiba-tiba seperti itu. Kita ini hanya sebatas kakak dan adik ipar. Aku tidak mau menciptakan kecurigaan pada Leon." ”Memangnya, apa yang sudah aku lakukan?" Kakinya melangkah lebih dekat ke arah Cheryl. Memojokan gadis itu sampai ke tembok dapur dekat kulkas. “Ma-mau apa kamu? Jangan macam-macam. Aku bisa laporkan semua ini pada Leon!" ancamnya. Irvan cengengesan melihat wajah lucu Cherly ketika takut. Semakin manis dan menggemaskan. Ternyata, pria itu sedang mengambil sendok di rak bagian atas, dan sengaja mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan kakak iparnya. “Oh, aku kira kamu mau apa," ucapnya canggung. “Aku masih waras," jawab Irvan berbohong. Padahal, di dalam hatinya, pria itu sedang bersorak-sorai gembira. Langsung saja dia jingkrak-jingkrak kesenangan, saat nafas Cheryl dapat dia rasakan berhembus di wajahnya. “Aku tidak akan melupakan sensasi itu …" Cherly sendiri diam terpaku. Kali ini, Irvan sangat menggoda baginya. Senyumannya yang manis, semakin membuat tampan wajah Irvan. “Gila! Kalau begini caranya, bisa-bisa aku yang tergoda! Tidak! Tidak boleh begitu Cheryl. Kamu masih punya yang namanya harga diri!" Berkata sambil menepuk-nepuk pipinya, yang memerah, dadanya memanas. “Duh, aku bisa canggung kalau begini …" Pelukan hangat tiba-tiba dia rasakan di pinggang. Pipinya juga mendapatkan kecupan hangat dari Leon yang baru saja pulang. “Sedang memikirkan apa? Aku ketuk pintu tadi. Aku kira rumah kosong loh." Kembali dia memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Irvan yang melihat hal itu sangat iri. Dia benci saat dadanya terasa sakit, pikirannya kalut jika kembali teringat, bahwa Cheryl sudah bersuamikan kakaknya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD