Tibalah hari keberangkatan Leon ke Bali. Cheryl sangat sibuk sekali. Selain harus menyiapkan makanan untuk di perjalanan, dia juga harus bolak balik ke warung untuk membeli obat. Kemarin, Cheryl lupa akan hal itu, jadilah dia membelinya sekarang.
“Makan dulu yang banyak. Aku tidak mau saat kamu pulang nanti malah sakit. Ayo makan!" tegasnya. Dia mengambilkan sarapan pagi Leon dengan porsi yang sangat banyak.
“Kalau mau tambah bilang yah. Aku bisa gorengkan lauk lagi untuk kamu."
“Aduh, ini saja kebanyakan, Sayang. Aku tidak tahu ini akan habis atau tidak. Bagaimana?"
“Ah, sudah makan saja. Jangan terlalu banyak mengeluh. Harus punya stamina yang bagus kan? Disana bukan untuk liburan. Tapi untuk kerja, tunjukan performa yang baik pada klien nanti," ujar nya, masih dengan nada yang tegas.
“Iya, deh. Aku makan sampai habis," ucapnya pasrah, seraya memeluk istrinya, lalu mulai makan.
“Aku bakal merindukan kamu deh, selama di Bali nanti." Terbit seringai jahat–bagi Irvan yang dirasanya sangat aneh. Sebelumnya, tidak pernah dia melihat yang demikian dari Leon, namun sepertinya Cherly tidak sadar karena sedang menunduk, mengambil sendok yang jatuh.
“Iya, kamu kan pergi bukannya satu tahun. Hanya dua malam tiga hari saja. Makanya, jangan mau sakit ya. Tidak ada yang bisa mengurus kamu di sana." Tampak wajah khawatir Cherly.
Leon semakin lengket padanya. “Iya, aku janji tidak akan pulang sakit deh. Jangan marah-marah terus, ya, Sayang."
“Apanya, padahal aku hanya mencoba untuk bersikap tegas kok."
“Hehe iya."
Irvan sendiri mendelik malas, membuang tatapannya ke arah lain.
“Tidak, apa-apa. Mesra-mesraan saja dulu. Untuk nanti, aku yang akan merebut tempatmu, Leon," ungkapnya dalam hati. Meskipun demikian, bohong jika hatinya tidak sakit melihat hal itu. Terasa perih seperti teriris sembilu. Luka yang tidak berdarah, tidak tampak, namun sukses membuatnya sangat kesakitan.
“Irvan, kamu akan pergi bersama Leon? Kenapa dari kemarin, aku tidak melihat kamu menyiapkan pakaian?"
“Hah? Tidak kok. Aku tidak ikut dengan, Kakak. Lagipula, bos menyuruh aku untuk mengurus pekerjaan lain bersama asisten manajer."
“Oh, begitu ya."
‘Eh, sebentar, kalau begitu, nanti aku akan berduaan saja di rumah bersama Irvan begitu? Ya ampun.'
“Kenapa Kakak melamun?"
“Oh? Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu …"
Cheryl hanya mengantarkan Leon sampai ke depan pintu rumah saja, begitu pula dengan Irvan. Leon beralasan, bahwa untuk pergi ke bandara, akan dilakukan bersama tim nya, yang sama-sama diutus oleh bos untuk pergi ke Bali.
“Hati-hati di jalan ya. Ingat, jangan sakit, jangan lupa jaga kesehatan. Minum obat kalau dirasa tidak enak badan, atau yang lainnya. Mengerti kan?"
“Iya, Sayang. Kamu jangan khawatir sama sekali."
Leon memberikan pelukan dan ciuman hangat di kening, sebelum akhirnya pergi dengan taxi. Mobilnya dia tinggalkan, dan mengizinkan Irvan untuk memakainya selama dia tidak ada.
Tinggallah mereka berdua. Kebetulan, Irvan ada jadwal di kantor siang hari. Kecanggungan yang terjadi diantara keduanya sangat terasa. Berada dalam satu atap, dan hanya berdua saja, membuat Irvan gembira sekaligus kikuk.
“Kamu …"
“Ya, Kak?"
“... tidak pergi ke kantor?"
“Oh. Aku akan pergi siang nanti. Mungkin sekitar jam dua …" Berbicara seperti itu dengan wanita yang dia cintai, hati Irvan jadi berbunga-bunga. Seperti ada ribuan bunga mawar dan lili putih yang sedang mekar di hatinya. Wajahnya juga memerah karena malu. Segera dia beranjak pergi ke kamar, untuk menyamarkan rasa canggung itu.
Saat jam di dinding mencapai angka 1:30, Irvan sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Namun, dia kesulitan untuk memakai dasi, karena biasanya memakai dasi yang sudah jadi. Sayangnya, dasi-dasi itu belum dicuci dan masih setia bertengger di mesin cuci, di dalam kamar mandi.
Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekatkan diri dengan kakak ipar tercintanya.
“Kak, aku boleh minta tolong?"
“Ya, mau minta tolong apa?" Cheryl saat itu sedang membersihkan laci-laci kecil di dapur dengan kemocengnya.
“Ini, aku tidak bisa pakai dasi. Biasanya sering pakai yang sudah jadi. Bisa bantu pasangkan?"
“Eh, oke …"
“Iya, ini hanya bantu memasangkan saja. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Cherly. Dia adalah adikmu!" katanya dalam hati.
Irvan maju perlahan, mendekat ke arah Cheryl.
Karena terlalu tinggi, wanita itu harus berdiri di atas bangku kecil.
Ada keheningan sesaat yang terjadi di antara keduanya. Ingin sekali Irvan melakukan sesuatu yang lebih. Apalagi jarak yang mereka miliki, nyaris tidak ada.
“Sudah, sudah aku pasangkan."
“Eh, iya. Terimakasih kak," jawab Irvan. Padahal dirinya belum puas memandang wajah Cherly.
“Iya, sama-sama. Kenapa tidak cari pasangan saja sih? Kan nanti mudah untuk hal seperti ini. Hahaha." Tertawa dengan canggung dan terbata-bata.
“Aku tidak tertarik pada wanita manapun. Selain …"
“Ya? Siapa?"
Netra keduanya kembali bertemu. Lagi-lagi ditemani oleh keheningan.
“Ah, sudahlah. Cepat pergi kerja sana," titah Cherly.
“Iya. Aku akan pulang cepat."
***
Di kantor, senyuman yang terbit di wajah Irvan tidak pernah luntur. Sekalipun ada seseorang yang dengan sengaja menjatuhkan Kopi hitam panas ke bajunya. Hal itu dilakukan karena merasa iri, Irvan menjadi incaran para wanita termasuk Medina, dan mendapatkan project dari bos.
Bukannya marah, dia malah berkata, “Lain kali hati-hati. Nanti bisa terluka," ucapnya bernada manis.
Staf lain segera memberikan tatapan aneh. “Kemarin-kemarin, dia marah-marah tidak jelas dan sibuk mengomel sana sini. Sekarang, malah menjelma menjadi malaikat baik hati yang tidak akan pernah marah. Apa-apa dia gangguan jiwa karena tekanan pekerjaan?" Begitu pikir semuanya.
***
Tiba di malam hari, ketika malam malam. Tidak ada yang membuka percakapan, baik Irvan maupun Cherly. Keduanya hanya sibuk makan. Dentingan suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring, itulah yang mengisi kesunyian, selain deru nafas masing-masing, dan detakan jarum jam.
Seusai makan, Cherly hendak membereskan piring-piring kotor.
Namun, Irvan melarangnya.
“Biar aku saja yang melakukannya. Aku juga akan mencuci piring-piring kotor."
“Loh, tidak usah. Kamu pasti lelah bekerja kan? Pergi istirahat saja di kamar."
“Kakak sudah capek-capek memasak. Jadi, biarkan aku membantu sedikit."
Cherly tertegun dengan sikap Irvan. Leon biasanya hanya akan naik ke lantai dua dan tidur di kamar setelah makan malam. Dia tahu bahwa suaminya itu memang lelah, tapi tidak memungkiri bahwa dirinya ingin sekali dibantu untuk masalah pekerjaan rumah.
Cherly memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
“Terima kasih atas bantuannya ya."
“Iya."
Di tengah malam, gadis itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Tidak terbiasa tidur tanpa Leon. Kerongkongannya sangat kering, tersiksa dengan rasa haus. Dia pergi ke bawah untuk mengambil minum, karena teko air di dalam kamarnya kosong.