Leon akan melakukan perlahan bisnis seperti yang bosnya perintahkan. Dia akan berada di Bali selama tiga hari dua malam. Setelah itu, Leon akan kembali dan beristirahat di rumah selama dua hari lagi.
Malam itu, Leon mengajak Irvan untuk berbicara di ruang keluarga. Sengaja dia menyalakan televisi untuk mengusir kecanggungan yang ada, karena masalah beberapa hari yang lalu. Mereka duduk saling bersisian, terpaku pada tayangan di layar tipis tepat dihadapan keduanya.
“Aku ingin minta tolong padamu," ujarnya membuka percakapan di antara mereka berdua.
Irvan berdehem karena suaranya sesak, kemudian menjawab dengan nada santai, “Minta tolong apa, Kak?"
Helaan nafas panjang keluar dari hidung pria itu. Seperti berat untuk pergi, namun juga senang karena ada seseorang yang sangat dia rindukan, akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu.
“Aku kan akan melakukan perjalanan bisnis, kamu sudah tahu?"
“Loh, kapan?" tanyanya pura-pura terkejut.
“Sekitar tiga atau dua hari lagi."
“Oh, begitu. Jadi ini ada hubungannya dengan perjalanan bisnis, Kakak?"
“Aku ingin titip istriku padamu. Jaga dia baik-baik selama aku tidak ada ya," ucapny kemudian.
Irvan jelas syok dengan hal itu. Berarti, Leon selama ini memang belum curiga akan perasaannya kepada Cheryl? Atau dia hanya ingin mengetes saja? Irvan dibuat pusing olehnya.
Sementara itu, Leon merasa bahwa permintaannya pada Irvan sangat tidak masuk akal dan konyol. Bagaimana bisa dia menyuruh pria yang yang sangat tidak peduli dengan wanita ini, untuk menjaga kakak iparnya? Tapi, justru hal itulah yang membuat Leon mempercayai Irvan. Adiknya itu tidak tertarik pada wanita, apalagi istrinya. Semua kecurigaan yang dia miliki, sampai kini tidak terbukti. Jadi, hal ini dirasa aman-aman saja oleh Leon.
“Kenapa diam saja? Kamu tidak apa-apa kan kalau aku titip istriku?"
“Hah? Iya. Aku tidak apa-apa sih. Tapi, ini agak …."
“Hahaha. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Pasti nantinya akan canggung. Aku hanya pergi sebentar kok. Hanya beberapa hari saja. Kamu jagalah dia baik-baik."
“Iya, aku mengerti kak."
Leon mengirimkan sejumlah uang pada Irvan. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, Irvan dapat langsung menggunakannya tanpa mengganggu Leon yang sedang bekerja di Bali.
Leon akhirnya keluar dari ruang keluarga. Dia kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.
Dia sama sekali tidak tahu, bahwa Irvan sejak tadi sedang menahan rasa bahagianya. Bukan takut canggung, tapi lebih berfokus pada pikirannya, mengenai apa yang harus dia lakukan ketika hanya berdua saja dengan Cherly di rumah itu.
“Bagus, Leon. Akan lebih bagus kalau mau menitipkan dia selamanya padaku. Aku sama sekali tidak masalah!" gumam Irvan.
Di dalam kamarnya, dia senyum-senyum sendiri layaknya pemuda yang tengah kasmaran. Hatinya terasa panas memikirkan wajah kakak iparnya yang cantik dan manis.
“Lebih dekat, kita selangkah lebih dekat. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!"
***
Tiba di keesokan harinya, hanya Irvan yang akan pergi ke kantor. Leon memanggil adiknya itu ketika hampir pergi luar.
“Hei, Irvan, tunggu sebentar."
“Kenapa, Kak?"
“Aku hari ini tidak pergi ke kantor. Bisa minta tolong untuk ambilkan berkas di dalam map merah? Ada di ruangan pribadi ku."
“Tapi, map merah kan banyak."
“Yang mana?"
“Ini." Memperlihatkan map merah, dengan tulisan angka 1 di depannya, menggunakan stiker kantor.
“Oh, itu. Iya aku akan ambilkan."
“Terimakasih, ya."
“Sama-sama, Kak."
Ketika sampai di kantor, langsung saja Irvan pergi ke ruangan Leon. Tadi kakaknya itu sudah membelikan dia password untuk masuk ke dalam, karena butuh kata sandi untuk membuka pintu ruangannya.
Setelah masuk ke dalam, Irvan tertegun dengan suasana ruangan itu. Terasa nyaman, luas, dan sangat bersih.
“Wah, pasti senang sekali kalau setiap hari kerja di ruangan ini. Bisa leluasa tidak sempit. Juga tidak terganggu dengan karyawan yang lain. Aku jadi iri sialan!"
Tumpukan berkas di meja kerja Leon sangat banyak. Irvan mengambil sebuah berkas yang dilapisi oleh map merah, seperti yang diperintahkan oleh Leon.
“Sudah dapat istri cantik dan baik, jabatan di kantor bagus. Entah apa kurangnya hidup pria itu, heran. Sangat sempurna dan bikin iri."
Pena milik Irvan terjatuh ke lantai. Segera dia mengambilnya. Namun, matanya tertuju pada laci meja yang agak terbuka. Tampak sedikit, ada sebuah foto cetak yang terbalik. Irvan sangat penasaran. Baru saja akan dia ambil foto itu, Medina dari arah luar memanggilnya untuk segera mendiskusikan masalah pekerjaan yang dibebankan pada mereka berdua kemarin.
“Iya, sabar. Diamkan mulutmu itu, jangan berceloteh terus-menerus. Muak aku mendengarnya," kata Irvan pedas.
Medina sendiri hanya bisa melogok tidak percaya. “Masa penyakitnya yang kemarin itu belum sembuh sih? Masih suka marah-marah begini?" ungkapnya dalam hati.
Keduanya jalan beriringan ke sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk berdiskusi antar tim kerja saja.
Medina sengaja memakai rok yang lebih pendek dari biasanya. Selain itu, ada sedikit sobekan di pinggir, yang memperlihatkan kaki jenjangnya dengan jelas. Bajunya juga agak ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Dengan anggun dia duduk di kursi busa merah, sambil menyilangkan kakinya. Bajunya dia tarik perlahan ke bawah.
“Jadi, kita akan mulai bahas mengenai …" Menoleh pada Medina yang wajahnya sangat menor. Lipstik yang dia kenakan merah darah, tidak senada dengan warna riasannya yang lain.
“Ya, apa yang kamu katakan tadi? Coba ulangi, aku tidak dengar," berkata dengan nada menggoda.
“Kamu niat kerja atau tidak sih? Kalau cuma mau main-main saja, aku bisa minta bos untuk carikan partner baru."
“Duh, kamu bicara seakan-akan seperti suami yang ingin selingkuh saja. Cari ‘partner' baru?"
“Sudahlah. Kesabaran yang aku punya benar-benar sudah terkuras habis." Kakinya melangkah cepat ke keluar. Namun berhasil dihadang oleh Medina. Wanita itu merentangkan tangannya, dan hendak memeluk Irvan.
Tiga kali pukulan keras di kepala oleh Irvan, menggunakan kertas tebal di tangannya mendarat begitu saja.
“Jangan macam-macam. Aku tidak suka punya masalah, apalagi yang berkaitan dengan scandal seperti ini."
“Tidak, Irvan. Ini bukan scandal kok. Ini namanya cinta. Kamu benar tidak mau memeluk aku? Hanya sebentar saja. Cctv nya mati, tidak ada orang lain juga kok. Yakin tidak mau?"
“Tidak!" jawab Irvan tegas.
“Medina, aku hanya ingin memberitahukan satu hal padamu.
“Apa itu?" Menatap Irvan dengan penuh harap dan semangat.
“Kamu, mau terus-terusan menjalani hidup seperti itu?"
“Hah, maksud kamu apa?"
“Pikirkanlah baik-baik, Medina. Tidak selamanya bos yang sekarang akan menjabat sebagai pimpinan perusahaan ini."
“Iya, aku juga tahu itu. Jadi, kenapa?"
“Jangan hidup dengan cara menjilat orang lain terus-terusan. Tidak akan berguna pada semua orang, Medina. Siapa yang tahu, pengganti bos adalah orang yang perfeksionis dalam masalah pekerjaan. Orang-orang sepertimu ini, akan mudah sekali tersingkir."