Part 3

1156 Words
Omar membawa Maita menuju rumah makan yang menyediakan sate payau di kota Samarinda. Namun setelah sampai di kota tujuan ternyata rumah makan tersebut tutup. “Tutup,” ujar Maita dengan raut wajah yang penuh kekecewaan. Meski begitu dia sadar di sini dia tidak boleh terlalu menyusahkan orang lain. Apalagi dia sendiri belum begitu mengenal Omar yang notabenenya siapa dan diapun siapa. Maita harus mengubur kekecewaan yang mendalam saat ini. Dia kembali teringat soal Jackson yang tiba-tiba menghilang ketika dia sangat membutuhkannya. Maita mengusap perutnya yang masih rata sembari memejamkan kedua matanya. “Eit ... tenang, ada yang lain kok. Kita ke rumah makan yang lain, kayaknya masih ada satu lagi di sekitar sini deh. Jangan murung begitu dong. Bumil nggak boleh stres, kamu wanita hebat okey Carrol,” kata Omar dengan senyuman lebarnya. Omar tahu apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh wanita di sampingnya itu. “Maaf ya ... aku malah jadi ngerepotin kamu begini,” lirih Maita. Jujur jika memang Omar adalah orang yang dikirim tuhan untuk menolongnya, Maita harus berterimakasih kepada Tuhan yang masih perduli dan menyayanginya. “Sudah aku bilang kan, aku nggak apa-apa. Aku ikhlas nolong kamu. Sekarang kamu jangan murung lagi, oh ... iya kalo butuh apapun kamu jangan sungkan ya, anggap aja aku Om Jin yang bisa mengabulkan permintaanmu, kapan saja. Tapi ingat jangan minta dibelikan helikopter atau kapal pesiar ya ... tabunganku nggak cukup,” kelakar Omar yang mencoba menghibur Maita di kala sedih. Namun bukannya tertawa Maita malah menitihkan air matanya. “Nah ... kan nangis lagi, aku harus gimana ya Tuhan ...,” ujar Omar yang sedikit bingung dengan keadaan. Padahal Omar tahu, jika wanita hamil akan memiliki perubahan hormon sehingga bisa memicu perubahan mood yang naik turun. “Hiks, maaf aku terharu ...,” lirih Maita. “Bisakah kamu berjanji kepadaku?” tanya Omar dengan raut wajah serius kali ini. “Apa?” jawab Maita dengan suara paraunya. “Berjanjilah jangan bersedih di hadapanku lagi, jujur aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini. Hatiku sangat sakit Caroll,” jelas Omar. “Maafkan aku, sudah merepotkanmu. Aku akan berusaha, tapi mungkin akan butuh waktu yang tidak sebentar. Mengingat luka di hatiku yang begitu dalam ini,” jelas Maita. “I see, maafkan aku terlalu menuntutmu, tapi berusahalah menjadi wanita kuat. Karena kamu tidak sendirian, ada anak yang harus kamu perjuangkan di dalam perutmu. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Yah ... mungkin kamu menganggap aku ini pembual nomor satu di Samarinda. Apalagi kita baru saja bertemu. Pasti kamu masih meragukan aku, bukan? Tapi, ini lah kenyataannya. Aku memang hanya hidup sendiri tanpa memiliki keluarga lain di sini, yah maksudku saudara. Jadi karena aku bertemu denganmu aku berharap kamu yang bisa menjadi saudara angkatku. Melihatmu saat ini aku menjadi teringat kembali dengan adikku yang telah lama pergi,” ujar Omar. “Maaf jadi mengorek luka lamamu. Terimakasih ya, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalani kehidupanku kedepannya. Aku juga akan berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih kuat.” Kruuuk! Suara perut Maita menghancurkan percakapan mereka berdua. Mereka tertawa bersama-sama ketika perut Omar juga ikut berbunyi. “Sepertinya cacing di dalam perut kita sudah tidak kuat menahan kerasnya rasa lapar,” kata Omar sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kamu benar.” “Ya sudah kita lanjut cari makan yuk. Oh iya, besok aku akan mengantar kamu ke kantor inigrasi, mengurus pembuatan paspor kita. Aku sudah menghubungi temanku yang bekerja di sana,” jelas Omar. Maita hanya mengangguk menandakan dia faham. Omar segera memutar balik kendaraannya menuju ke tempat di mana ada penjual sate payau lainnya. Hanya butuh beberapa menit Omar dsn Maita sudah berada di sebuah warung makan di kota Samarinda. “Ayo, kamu pesan aja semua yang kamu mau,” kata Omar. “Iya,” Maita nampak melihat ke sana dan kemari seolah takut jika dirinya dilihat oleh seseorang. “Kamu tunggu di mobil saja ya, setelah memsan makananmu. Kita makan di rumah saja,” kata Omar. Seolah pria itu mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh wanita muda ini. “Nggak apa-apa kok, kita makan di sini,” sanggah Maita. “Nggak, kita pulang saja. Kamu sepertinya lelah. jadi kita makan di rumah saja.” Tidak mau berdebat terlalu lama Maita segera menuruti perkataan Omar. Ketika sudah memasuki mobil, Maita melihat sosok sang Ayah yang tidak disengaja lewat di samping mobilnya. Dengan cepat dia bersembunyi di belakang dashboard mobil Omar. “Kamu ngapain di situ, sakit?” tanya Omar yang ternyata sudah berada di sampingnya kali ini. ”Eh ... enggak tadi kayak ada semut gigit kakiku,” kata Maita mencari alasan. “Ya sudah kita lanjut jalan lagi. Kamu mau makan apa lagi?” tanya Omar. “Udah itu aja dulu.” “Oke.” Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, Maita melihat penjual martabak manis. Tiba-tiba dia sangat menginginkan makanan manis itu. Namun dia tidak berani mengatakannya kepada Omar kali ini. Omar yang menyadari jika Maita selalu melirik ke arah jendela ketika ada penjual martabak manis, segera menghentikan mobilnya. “Ayo!” ajak Omar. “Kemana?” tanya Maita yang terlihat bingung. “Aku tiba-tiba pengen makan martabak manis,” jelas Omar. Padahal dia hanya menuruti kemauan Maita yang tidak berani diutarakan. Mereka akhirnya turun dan segera memesan martabak yang dia mau. “Mau Boba juga?” tanya Omar. Maita mengangguk. Omar segera memesankan dua porsi untung dibungkus di bawa pulang. “Duh ... aku kayaknya harus nge-gym tiap hari nih,” kata Omar di dalam hatinya. Apalagi jika dia makan sebanyak ini setiap harinya. Bisa melar dan ngambang nanti pipinya. Bisa hancur dong nanti reputasinya di rumah sakit, apalagi dia selalu dipuji menjadi dokter ganteng di sana. Aduh ... emang dasar Omar paling pede di antara yang lainnya. Setelah mendapatkan pesanannya, mereka segera pulang. Hanya dalam sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah Omar lagi. “Ayo makan Carol!” ajalah Omar yang sudah bersiap dengan makanan yang disajikannya. “Terimakasih ya,” jawab Maita. “Aku sambil tanya-tanya boleh kan?” tanya Omar ragu. Maita mengangguk. “Kamu beneran baru lulus?” tanya Omar. “Iya, aku baru saja lulus. Rencananya aku ingin meminta pertanggung jawaban dari kekasihku. Tapi ternyata dia sudah pergi meninggalkan aku terlebih dahulu,” lirih Maita yang diakhiri dengan isakan. “Maaf lagi-lagi aku malah mengorek luka lama mu, aku akan segera mengurus dokuman dan berkas yang kita perlukan secepatnya. Apakah kamu tidak apa-apa jika kita harus pindah ke luar negri?” tanya Omar mengulang untung memastikan kembali. “Iya ... aku sudah siap. Aku akan berusaha melupakan dan melepaskan semua beban yang aku rasakan.” Di tengah makan mereka, tiba-tiba ponsel Omar berbunyi. “Sebentar ya, aku angkat telfon dulu,” jelas Omar lalu segera meninggalkan Maita dan memasuki kamarnya. Tidak lupa dia juga menguncinya dari dalam kamarnya. “Ya halo,” sapa Omar. “Apa kamu sudah melaksanakan tugas yang ku berikan Omar?” tanya Orang yang ada di sebrang teleponnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD