Tatapan Cacingan

1077 Words
Edwin semakin bingung saat mobilnya terjebak di sebuah jalanan yang sepi. Apalagi genangan air yang cukup tinggi. Rasanya percuma saja jika ia keluar dari dalam mobil untuk mencari bantuan. Sebenarnya pemukiman warga tidak jauh di depan gang yang ada di depan sana, tapi tetap saja, jika ia berjalan kaki ke arah pemukiman, akan memakan waktu yang lama. Belum lagi suara bising dari arah wanita yang duduk di sampingnya itu membuat ia pusing tujuh keliling. Lily terus mengeluh takut di dalam mobil. Takut terjadi banjir besar dan mereka akan terseret arus. Seperti berita yang Lily tonton di Lambe Nyinyir. "Apa kau tidak bisa diam?" Tanya Edwin yang sudah mulai kesal mendengar keluhan dari wanita itu. "Om, emang om gak baca berita terkini ya?" Bukannya menjawab, Lily justru bertanya balik dengan raut wajah yang dibuat seserius mungkin, hingga akhirnya mampu membuat Edwin penasaran. "Berita? Berita apa?" Edwin bertanya dengan penuh selidik. Sepertinya pria itu memang sedikit polos. Polos karena tidak tahu menahu mengenai ibu kota yang rawan banjir. "Hadeeh ... Om kudet ya. Itu loh om, berita dokter muda yang terbawa arus banjir sampe jarak seratus meter dari tempat kejadian. Apa Om tau nasib dokter muda itu?" Tanya Lily yang dijawab gelengan kepala oleh Edwin. Lily bercerita dengan mendramatisir hingga Edwin benar-benar mendengarkan dengan seksama. "Dokter muda itu meninggal di dalam mobil setelah di evakuasi. Hiih, ngeri banget. Makanya aku takut, om." Lily terus berceloteh sambil mendalami perannya. Sedangkan Edwin, sudah menelan ludahnya kasar setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Lily. Tiba-tiba saja ia jadi merinding sendiri dan ikut berpikir aneh-aneh. "Li, di sana kayaknya ada kios kosong. Kita mampir di sana dulu," ucap Edwin sambil menunjuk arah di mana gedung kosong itu berada. "Tapi sekarang hujannya deras banget Om. Kita pasti basah. Apalagi genangan air yang cukup tinggi." Kali ini Lily memang ada benarnya. Dan sayangnya ia tidak membawa payung. Edwin benar-benar ceroboh. "Sudah, kita turun saja, daripada ada banjir yang menyeret kita. Kamu pakai jas saya, biar gak terlalu basah," tutur Edwin seraya melepaskan jas ia kenakan untuk Lily. Pria itu tidak melihat tatapan Lily yang sudah berbinar karena senang. Apakah Om dokter yang keriput satu biji itu mulai menyukainya? Jika memang benar, maka ia siap menerima kekeriputannya. "Kenapa kau diam saja?" Tanya Edwin saat tak mendengar apapun dari sosok wanita yang ada di sampingnya. Justru ia heran dengan tatapan Lily yang seperti cacingan. "Makasih Om." Lily berterima kasih lebih dulu sebelum akhirnya ia menerima jas yang Edwin berikan. Semoga saja utangnya diikhlaskan. Lily terkekeh sendiri saat menyadari pikirannya yang nakal. Akhirnya mereka berdua segera turun dan berjalan di bawah guyuran hujan, menuju gedung kosong di sebrang jalan. "Hah, akhirnya kita sudah sampai. Untung gedung ini sedikit tinggi, jadi kita bisa duduk dengan nyaman," ucap Lily setelah mereka sampai di gedung tersebut. Tubuhnya tidak terlalu basah, karena memakai jas Edwin untuk menutupi kepalanya. "Ini cukup kotor," keluh Edwin sambil menggesek kedua telapak tangannya. Pria itu sedikit menggigil dengan pakaian yang sudah basah kuyup. "Astaga Om! Om basah banget. Om pasti kedinginan sampe menggigil begini," pekik Lily setelah sekian lama, akhirnya menyadari bahwa Edwin tengah kedinginan. Wanita itu segera membawa Edwin agar duduk di pojokan dinding. Beruntung ada ada beberapa potongan kardus yang bisa ia gunakan untuk alas duduk. Edwin tetap patuh, karena ia juga tidak bisa menolak. Edwin benar-benar menggigil. "Jangan sentuh saya!" Sentak Edwin saat tangan Lily menyentuh bahunya. Ia benar-benar membenci orang yang suka menyentuh dirinya dengan sembarangan. "Om lepas dulu bajunya." Lily benar-benar membuat Edwin merasa kesal. Wanita itu sudah dicap jelek oleh dokter kutub tersebut. "Apa kau tidak mendengarkan aku?! Jangan sentuh aku, jallang!" Bentak Edwin murka, sambil mendorong tubuh Lily dengan keras. Ia benar-benar jijik jika bertemu dengan w**************n seperti Lily. Dan apa tadi? Wanita itu meminta ia melepaskan pakaiannya? Yang benar saja. Dikasih hati malah minta jantung, mungkin ini pepatah yang cocok untuk Lily di mata Edwin. Wanita itu bisa bersikap tak sopan setelah ia berbaik hati menolongnya. "Om, apa maksud om. Aku hanya tidak ingin om masuk angin kalo pake baju itu. Om tega banget nuduh aku kayak gitu," ringis Lily sambil membenarkan duduknya setelah didorong oleh Edwin. Ia tidak menyangka jika dokter kutub itu punya silet. Silet lidah, eh iya kan? Lily benar-benar sakit hati atas ucapan Edwin, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan pria itu. Karena bagaimana pun, ini salah dirinya yang menerima tawaran Edwin untuk mengantarkannya pulang. "Kau harus bisa menjaga ucapan mu," desis pria itu yang masih menggigil. Lily tidak peduli dengan apa yang akan Edwin ucapkan tentang dirinya, yang penting sekarang ia bisa menolong Edwin. Seperti pria itu menolong dirinya. Lily menyentuh dahi Edwin yang menghangat. Sepertinya pria itu tidak terbiasa dengan air hujan. "Om, lepaskan aja bajunya. Aku tidak akan berbuat apa-apa kok. Om jangan kepedean ya, aku cuma gak mau rawat om." Baru saja Lily berkata demikian, Edwin sudah melepaskan pakaiannya yang basah. Eh tunggu, kenapa jadi begini. Mata Lily membulat dengan sempurna, tatkala merasakan otot kekar milik Edwin menyentuh tubuhnya. Bahkan Lily sudah mengerjapkan matanya berulang kali saat pria itu memeluknya dengan erat. Ia harusnya senang, tapi tidak untuk sekarang. Jantungnya berdebar kencang seolah ingin keluar dari tempatnya. Apakah begini rasanya dipeluk pria tampan. "O-om, apa yang sedang om lakukan? Om bilang, jika kita tidak boleh berdeka--." "Saya kedinginan. Diam dan patuh lah," ucap Edwin menyela dengan lirih. Pria itu bahkan seolah menegaskan bahwa ia tidak bisa menolak hal itu. "Makanya om, kalo aku bilang buka ya buka. Jangan bandel. Aku gak mau ya, kalo ngurus om kalo sakit. Aku gak punya biaya, om." Lily terus saja mengomel seolah ia selalu benar dalam menasehati. Sedangkan Edwin hanya diam dan tak menanggapi apapun ucapan Lily. Lily kembali dikejutkan dengan kelakuan Edwin yang bertindak seenak jidat. Bagaimana bisa, pria itu mengangkat tubuhnya agar terduduk di kedua pahanya. Tentu saja Lily protes dan ingin bangkit dari pangkuan Edwin yang sangat nyaman dan hangat. Apalagi melihat roti sobek yang ada ada di perut Edwin, membuat ia ingin mengelusnya. "Om, jangan seperti ini. Saya tidak nyaman," ucap Lily sambil berusaha turun dari pangkuan Edwin, tetapi pria itu selalu menahan tubuh Lily agar tetap duduk di pangkuannya. "Tetap begini. Nama mu, Lily kan?" Astaga naga bonar jadi dua ... Lily benar-benar tidak habis pikir dengan pria itu. Bagaimana bisa, namanya yang begitu indah tidak diingat sama sekali. "Iya om," jawab Lily dengan gugup. "Lepaskan pakaian mu," bisik Edwin tepat di telinga Lily dengan nada yang berat. Pria sudah memeluk Lily dan menopang kepalanya di bahu wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD