Anu-anuan gratis

1091 Words
Wajah Lily memerah tatkala mendengar bisikan Edwin tepat di telinganya. Dan apa tadi, membuka pakaian? Astaga, Lily langsung menepis pikiran kotornya jauh-jauh agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Atau mungkin ia yang terlalu percaya diri. "Pa-pakaian? Om ngajak aku di tempat terbuka?" Tanya Lily dengan polos, sambil menatap wajah tampan Edwin tepat di hadapannya. Bahkan jarak diantara mereka kian menipis, saat Edwin mendekatkan wajahnya ke arah Lily. "Memang apa yang kau pikirkan, hm? Skin to skin, agar suhu tubuhku tidak tinggi. Aku takut demam di tempat kotor seperti ini. Kau jangan terlalu percaya diri." Ah ya, ternyata itu hanya pikiran kotor Lily saja. Edwin memang benar, tidak seharusnya ia terlalu percaya diri dan mengharapkan pria kaku nan lembut seperti Landak itu. "Eh, i-iya Om." Tanpa banyak bertanya lagi, akhirnya Lily membuka pakaian atasnya, hingga menyisakan pakaian dalam saja (Tank top) yang berwarna merah merona. Melihat Lily yang sudah melepaskan pakaiannya yang sedikit basah, Edwin langsung memeluk Lily dengan sangat erat. Tubuh mereka sudah menempel satu sama lain, hingga kulit mereka bersentuhan hingga terasa hangat. Ada sebuah kehangatan yang Lily rasakan saat tubuh Edwin memeluknya dengan erat. Bahkan jantungnya berdegup dengan kencang, sekencang angin topan yang semlehoy. Bukan hanya itu, perasaannya mulai menghangat, bagai kopi tubruk di warung Bi Nongki. Ah, apakah ini tanda-tanda akhir bulan? Eh, tanda-tanda jatuh cinta. Jatuhnya iya, cintanya kagak. "Kenapa jantung mu berdebar kencang?" Tanya Edwin tanpa melepaskan dekapannya. Kini wajahnya sudah menelusup di ceruk leher milik Lily, dan ternyata pria itu merasakan d**a Lily yang berdebar bagai dentuman bas tepat di d**a bidangnya. Tentu saja Lily tidak bisa menjawab dengan jujur, karena merasa sangat malu. Bahkan jika Edwin melihat wajah Lily saat ini, sudah dipastikan warnanya bagai udang rebus. "A-aku hanya kedinginan." Lily menjawab dengan gugup. Seperti bukan Lily yang biasanya. Edwin tidak menanggapi apapun lagi, tapi dapat Lily rasakan jika pria itu semakin erat lagi mendekapnya. Sehingga akhirnya mereka tertidur dalam kehangatan dan kenyamanan satu sama lain. * Matahari mulai memancarkan sinarnya, akan tetapi bukan itu yang membuat dua insan yang tengah tertidur pulas mulai terusik, melainkan suara kericuhan yang ada di sekitar mereka. Tidak, bukan hanya di sekitar, tepatnya di hadapan mereka. Samar-samar mereka mendengar suara u*****n, hingga mereka mengerjapkan matanya berulang kali. Terkejut bukan main, saat mereka berdua melihat banyak orang yang tengah mengelilinginya. "Dasar gak tau malu! Kita gak boleh membiarkan mereka lolos gitu aja. Jangan sampe generasi ini rusak, gara-gara mencontoh perilaku asusila seperti yang ada di hadapan kita semua!" Seru seorang pria tua dengan berapi-api. "Bener, Kita harus lapor pak RT, biar mereka dapat hukuman karena sudah melakukan hal asusila. Apalagi mereka secara terang-terangan di tempat terbuka. Pasangan murahan!" Timpal yang lain tak kalah memanas untuk membakar keadaan agar lebih membara. Tunggu! Lily maupun Edwin yang baru saja bangun, langsung membulatkan matanya saat mendengar suara u*****n berujung ancaman tersebut. Memang apa yang terjadi? Entah, mungkin hanya si Budi yang tahu. "Maaf, kalian lagi demo apa ya?" Lily bertanya begitu polosnya, sambil menampilkan raut wajah penasaran. Tentu saja pertanyaan itu membuat beberapa orang yang ada di sana langsung mendelik tak habis pikir dengan apa yang Lily tanyakan. "Dasar anak jaman sekarang, udah salah masih gak sadar. Liat apa yang kalian lakukan di sini! Kalian udah mencoreng warga di sini dan jadi aib. Kalian harus dikasih hukuman!" Hah, hukuman? Memang apa kesalahannya. Lily kemudian melirik ke arah Edwin yang sudah memucat karena gugup. Astaga! Lily segera turun dari pangkuan Edwin yang masih terdiam. Sekarang ia tahu apa yang telah membuat orang-orang yang ada di hadapannya murka. Mereka salah paham dengan apa yang mereka lihat. "Tunggu, ini gak seperti yang kalian pikirkan, kami gak ngelakuin anu-anuan kok. Kalian salah paham!" Seru Lily membela diri. Wanita itu mulai menggoyangkan lengan Edwin agar pria itu ikut menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Halaaah ... Mana ada maling yang mau ngaku!" "Ada kok, kalo malingnya udah ketangkap polisi. Pasti mereka ngaku." Bisa-bisanya Lily masih mau menjawab kiasan yang salah satu orang lontarkan, hingga para warga semakin murka. "Eh, apa yang kalian lakukan? Lepaskan saya!" Kini Edwin memberontak saat tubuhnya di angkat oleh beberapa bapak berkumis tebal. "Kalian akan kami arak ke seluruh kampung biar tau malu!" Mata Lily sudah membola dengan sempurna, tatkala mendengar penuturan orang tersebut. Apa tadi? Di arak. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana pun ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. "Eh, eh, eh! Ada apa ini? Siapa yang udah bikin keributan di wilayah saya?" Tanya sosok pria paruh baya yang baru datang. Bisa Lily tebak, pasti itu pak RT, karena mempunyai kumis tebal seperti bulu domba, dan pakaian cukup rapih diantara yang lain. "Ini pak RT, ada anak muda yang udah berbuat asusila di wilayah kampung kita. Mereka memanfaatkan ruko kosong buat anu-anuan gratis," jawab seorang pria yang masih memegangi lengan Edwin. Anak muda? Rasanya Lily ingin tertawa saat panggilan itu disematkan juga untuk Edwin, karena dilihat dari segi manapun, wajah Edwin sudah terlihat dewasa seperti usianya. "Kalian jangan main hakim sendiri dan malah bikin kerusuhan. Kita bisa mengatasi ini seperti biasanya. Bawa mereka berdua ke rumah saya!" Titah pak RT berusaha bijak, dengan kumis yang menyembul-nyembul saat bicara. * Kini Lily dan Edwin sudah duduk di sebuah ruang tamu, tepatnya di rumah pak RT. Mereka berdua duduk seperti tersangka yang sedang diinterogasi. Lily hanya menunduk karena malu, sedangkan Edwin terdiam sambil menahan kekesalan di hatinya. Kali ini mereka berdua tidak bisa berkutik sama sekali. "Kalian tau kesalahan kalian, kan? Sepertinya saya tidak perlu menjelaskannya lagi, karena para warga saya juga menyaksikan secara langsung perbuatan asusila kalian. Saya harap kalian bisa introspeksi diri dan menyes--." "Pak RT, kami gak ngelakuin anu-anuan, suer deh. Pak RT harus percaya sama kami berdua." Lily kembali membuka suaranya untuk membela diri. Ia tidak terima jika dituduh tapi tidak melakukan hal tersebut. Eh, apa jangan-jangan Lily benar-benar lagi berharap. "Kalian tidak bisa mengelak lagi. Apa tubuh kalian gak cukup buat bukti? Kalian berdua hampir melucuti seluruh pakaian kalian di tempat terbuka, sambil pelukan!" Lily tidak bisa mengelak terhadap tuduhan pak RT, karena mereka berdua memang melepaskan pakaian masing-masing, tapi itu bukan berarti mereka berdua telah melakukan hal asusila, kan. "Katakan saja apa hukuman untuk kami berdua. Saya sibuk, dan hari ini saya rugi karena tidak masuk kerja." Edwin mengeluarkan kalimat yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Enteng sekali pria itu meminta hukumannya. "Karena kalian maupun warga tidak ada bukti untuk membuktikannya. Maka kalian harus menikah, agar aturan di kampung kami tidak diremehkan oleh anak muda di sini. Hubungi pihak keluarga kalian, karena hari ini kalian akan dinikahkan. Tetap di sini sampai pernikahan selesai." "Apa! Menikah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD