Kini Lily mulai merasa resah dan gelisah, saat pak RT meminta ia dan Om Dokter keriput satu bijinya harus menikah, atau jika tidak, mereka akan diarak mengelilingi kampung oleh warga setempat. Enak saja, mereka ingin arak-arakan dengan Lily sebagai badutnya. Tentu saja Lily tidak akan terima. Tentu ia lebih baik dinikahi oleh dokter tampan, dan dingin seperti lava gunung Merapi itu. Hitung-hitung memperbaiki keturunan, omong-omong.
Sedangkan Edwin, pria itu hanya diam tak bersuara sejak memutuskan keputusan yang mereka ambil. Ya, keputusan untuk menikah meski hatinya menolak dengan sangat keras. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan selain menikah, daripada diarak keliling kampung. Sebenarnya ia tidak begitu mengerti dengan istilah arak-arakan, tapi beruntung Lily memberitahunya sambil bisik-bisik tetangga.
"Om, apa om yakin mau menikahi aku?" Tanya Lily cemas setelah menghubungi keluarganya di kampung. Ibu dan bapak Lily langsung murka saat mendengar berita jika putri sulungnya mau menikah karena dipergoki oleh warga, ketika sedang anu-anuan gratis.
"Apa kau pikir, aku sudi menikah dengan mu?" Bukannya menjawab, pria kutub itu justru melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada yang sangat dingin, hingga membuat Lily ikut ragu. Ragu akan masa depan dan kebahagiaan yang menjadi mimpinya sejak dulu. Sejak dulu ia selalu bermimpi untuk menjadi orang kaya, agar bisa menaikkan derajat kedua orangtuanya, dan ia berharap sepasang suami istri paruh baya itu tidak bekerja diusianya yang sudah renta. Bukankah itu keinginan yang mulia.
"Om, jika om masih ragu, sebaiknya kita batalkan aja. Aku gak mau om nyesel." Lily berkata seolah dirinya rela kehilangan kesempatan untuk menikahi dokter tampan tersebut. Padahal hatinya menggebu-gebu dengan riang gembira saat Edwin memilih untuk menikah dengannya.
"Ucapan mu seolah kau rela, tidak menikah dengan ku. Aku tau apa yang kau pikirkan, jadi jangan munafik di hadapan ku." Pria itu berkata semakin tajam dengan bahasa bakunya, sehingga Lily tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun lagi di dekat pria kejam itu.
*
Hari sudah semakin sore, pernikahan dadakan pun telah terjadi sesaat setelah kedatangan kedua orang tua Lily dari kampung. Pak Erik dan Bu Lina datang tergesa-gesa setelah menerima kabar jika putri mereka akan dinikahkan oleh warga. Mereka sempat murka, karena mengira jika putrinya telah berbuat macam-macam dengan seorang berandal. Bukan tanpa alasan, pak Erik dan Bu Lina berburuk sangka, karena mereka tahu, jika putrinya itu belum pernah pacaran dan masih labil jika mengenai hal percintaan.
Namun, setelah mendengarkan kejadian yang sebenarnya, mereka lebih memilih percaya pada putri mereka. Apalagi saat mendengar penjelasan yang logis dari pria yang telah menjadi menantunya.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Kalian bebas kalo mau anu-anuan di mana pun asal tempat tertutup. Jadi, kalian tidak akan mengalami kejadian memalukan lagi. Setelah ini, kalian udah boleh pulang." Pak RT berbicara seolah tanpa beban sambil tersenyum lebar, selebar perut tetangga.
"Nak, ibu harap kamu jadi istri yang baik dan patuhi suami mu, tapi kalo keterlaluan tendang aja gak apa-apa," bisik bu Lina kemudian, tepat di telinga sang putri. Lily hanya menganggukkan kepalanya saja meskipun ia sendiri pasti bisa menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.
"Nak, bapak harap kamu bisa menjaga dan membahagiakan Lily. Bapak tidak akan banyak menuntut, tapi satu hal yang perlu kamu tau. Kalo kamu udah gak mau lagi sama putri bapak, pulangkan aja ya. Kalo kamu gak sanggup menjaga dan membahagiakan dia, lepaskan aja. Meskipun bapak juga belum tentu bisa bahagiakan Lily, setidaknya biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Apa kamu paham?" Tanya pak Erik dengan serius sambil menatap wajah menantunya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Pria paruh baya itu belum sepenuhnya percaya pada Edwin, karena ia dapat melihat di matanya, jika tidak ada sedikit pun cinta untuk Lily.
"Saya tidak akan mengecewakan bapak," ucap Edwin dengan singkat tetapi sangat tegas. Hingga membuat pak Erik tersenyum saat mendengarnya.
"Saya akan menyiapkan kamar hotel untuk kalian bermalam, karena apartemen saya tidak cukup untuk banyak orang. Semoga kalian tidak keberatan." Lagi dan lagi, Edwin terlalu kaku seperti kulit trenggiling yang kokoh.
"Kami tidak keberatan dengan apa yang kamu pilihkan, nak. Panggil kami seperti Lily aja, karena bagaimana pun, kamu udah menjadi bagian keluarga kami. Kami udah anggap kamu seperti anak sendiri," ungkap pak Erik sambil tersenyum lembut.
*
Tak butuh waktu lama, kini Edwin maupun Lily sudah ada di apartemen milik pria tersebut. Mereka sampai di apartemen setelah gelapnya malam menyelimuti sebagian dunia, karena mengantarkan orang tua Lily ke hotel yang tidak jauh dari apartemen mereka. Jangan tanya bagaimana mereka pulang, karena sudah pasti sebelum pernikahan dimulai, Edwin memanggil montir agar datang mengambil mobilnya di tempat kejadian semalam. Benar-benar kejadian yang menyebalkan baginya.
"Saya mau mandi dulu, kamu jangan menyentuh barang-barang saya sedikit pun!" Ucap Edwin memberikan titah. Memang lumayan pelit.
"Enggak bakalan kok, om. Paling juga kalo ada yang ilang, berarti aku jual." Edwin langsung menatap tajam ke arah Lily, setelah mendengar penuturan yang keluar dari mulut wanita itu. Ia bisa gila jika benar-benar hidup berdampingan dengan orang gila seperti Lily, dan ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana pun caranya, ia akan mencari cara agar wanita itu tidak betah bersamanya, lalu meminta cerai tanpa ia yang harus disalahkan.
"Jika memang benar seperti itu, kau akan aku jual sebagai ganti ruginya." Lihat, pria itu kembali perhitungan tentang untung dan rugi. Eh, jika sudah begini, apakah hutangnya pada Edwin akan lunas secara otomatis. Secara, dia kan sudah menikah. Lily kembali pusing saat memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan. Memang suka sekali wanita itu mencari masalah, dan biang keringat. Eh, biang penyakit maksudnya.
"Dasar pelit!" Geram Lily setelah Edwin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hanya butuh beberapa menit saja Edwin membersihkan diri, akhirnya pria itu selesai dan segera keluar dengan mengenakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat Lily tertidur dengan iler yang membanjiri bantalnya.
Ia yang selalu menjaga kebersihan merasa sangat jijik melihatnya, dan tidak akan pernah membiarkan Lily mengotori apapun di apartemennya.
"Hei, bangun!" Seru Edwin sambil menggoyangkan tubuh Lily dengan kasar, tapi wanita itu masih tidur pulas seperti mayat hidup. Geram, itulah yang Edwin rasakan saat ini. Dengan ide licik yang ada di otaknya, pria itu mulai mendekati Lily.
"Kebakaran!!" Teriak Edwin tepat di telinga wanita yang tengah terlelap dalam tidurnya. Lily yang mendengar kode bahaya langsung terkejut dan bangkit sambil berteriak, hingga menabrak tubuh Edwin, yang membuat pria itu ikut kaget dan terjatuh.
Tunggu! Sepertinya ada yang aneh. Lily mulai mengerjapkan matanya saat wajah cantik itu tersungkur di tempat berbulu. Ini seperti kebun dinosaurus. Lebat dan belum terjamah oleh paparan sinar matahari.
"Aaaarrgghh!!"" Lily maupun Edwin berteriak bersamaan karena kaget dengan apa yang telah terjadi pada mereka. Ternyata Lily jatuh tepat di tempat ular cobra milik Edwin, yang handuknya tidak sengaja ia tarik saat jatuh.