Menyadari apa yang telah terjadi, Edwin segera menyingkirkan Lily dari atas burung perkutut nya. Pria itu langsung bangkit dan kembali ke kamar mandi setelah mengambil pakaiannya dari lemari, untuk mengenakan pakaian di dalam sana. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut pria itu. Bahkan Edwin terlihat sangat dingin seolah tidak peduli dengan Lily yang masih gugup.
"Astaga, ini berkah malam pertama, sepertinya. Tapi Om dokter makin dingin. Apa dia marah," gumam Lily sambil bertanya dalam benaknya sendiri. Ia semakin takut dan tidak berani jika sudah melihat Edwin bersikap dingin dan asing baginya.
"Om, aku tau om gak pernah cinta, apalagi ingin nikah sama aku, tapi aku janji akan dapatin hati om. Ah ya, sifat pemurung ini bukanlah sifat ku seperti biasanya. Aku pasti bisa. Aku gak mau jadi janda di usia muda." Lily sudah bertekad untuk menggapai cinta Edwin apapun yang terjadi, demi mengubah keturunan. Eh, maksudnya demi tidak jadi janda. Ralat, demi cinta yang sudah tumbuh dalam hatinya.
Ya, pria itu sudah mampu menyihir perasaanya saat pertama kali pertemuan mereka. Terdengar gila memang, tapi itulah yang terjadi. Ia tidak bisa menepis perasaannya pada sosok pria yang kini telah menjadi suaminya. Bahkan hampir seluruh gadis yang ada di rumah sakit Bhakti berlomba-lomba mencari perhatian dokter tampan itu. Caper istilah jaman sekarang, omong-omong.
"Cepat mandi, kau sudah bau seperti kambing!" Tiba-tiba saja suara bariton terdengar memberikan perintah, dengan alasan yang membuat harga diri Lily tercabik-cabik bagai telur orak-arik. Apa yang dia bilang? Bau seperti kambing?! Astaga naga bonar jadi dua ... Bisa-bisanya pria bermulut pedas level seratus itu menyamakan dirinya dengan kambing. Padahal memang sedikit asem sih. Lily terkekeh geli dalam hati saat membayangkan dirinya jadi kambing cantik. Tak butuh waktu lama, Lily langsung masuk ke dalam kamar mandi, karena memang ia merasa sangat gerah dan sudah lengket.
*
Beberapa waktu kemudian, Lily tak kunjung keluar dari dalam sana, entah apa yang terjadi karena Edwin pun tidak peduli. Hingga akhirnya terlihat kepala seorang wanita yang menyembul dari balik pintu, seraya memanggil Edwin dengan lirih.
"Om! Om lihat ke sini!" Panggil Lily berhati-hati, karena ia sudah melihat Edwin yang sedang berkutat dengan laptop yang ada di pangkuannya. Jujur saja, Lily tidak berani mengganggu kesibukan orang lain, karena ia sadar diri jika melelahkan kalau ada yang mengganggu saat sedang sibuk.
"Hm, kenapa kau masih di sana?" Tanya Edwin dengan tatapan datar, cenderung heran dengan apa yang sedang Lily lakukan.
"Om, aku belum ada ganti baju. Om tau sendiri, kalo aku belum ambil baju di apartemen ku. Bajuku yang ini udah lengket." Lily menjawab seraya menampilkan senyum kikuk karena malu. Apalagi Edwin hanya diam dan tidak bereaksi sama sekali.
Tunggu! Kenapa pria itu mengabaikannya, dan justru kembali berkutat dengan laptop yang ada di pangkuannya saat ini. Dasar tidak punya hati! Lily terus menggerutu dalam hati, tapi sedikit berharap jika pria itu mau meminjamkan sepotong pakaian untuknya malam ini.
"Om, aku dingin!" Lily kembali memanggil Edwin dengan berharap pria itu akan menggubrisnya. Tetapi tetap saja pria itu hanya diam bagai patung hidup.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Edwin dengan menampilkan raut wajah tanpa dosa, hingga membuat Lily tercengang dengan jawaban pria kutub tersebut. Apa Edwin tidak mengerti maksud dari ucapan Lily, sampai-sampai bertanya apa yang harus dia lakukan. Sungguh teganya, teganya, teganya. Rasanya Lily ingin menangis karena kesal, biasanya ia yang membuat orang lain kesal.
"Om, boleh pinjam baju om dulu ya. Aku beneran kedinginan, om. Aku janji, nanti di cuci sampe ke akar dosanya juga. Eh, maksudnya sampe nodanya hilang. Boleh ya, om," pinta Lily dengan memelas.
"Ini, cepat pakai! Aku menunggumu." Edwin segera memberikan sepotong kemeja yang berukuran king size di tubuh Lily, hingga wanita itu terlihat seperti kurcaci. Tunggu! Apa maksud dari ucapan Edwin yang 'MENUNGGU'. Apakah pria itu mau melakukan malam pertama dengannya? Entah kenapa wajah dan telinga Lily menjadi merah bagai udang rebus, sambil menatap punggung Edwin yang pergi meninggalkannya.
*
"Om, aku udah siap," ucap Lily setelah menghampiri Edwin yang ada di atas tempat tidur. Wanita itu berjalan dengan malu-malu, sampai-sampai tak berani menatap Edwin secara langsung. Inikah yang dinamakan pernikahan? Ah rasanya Lily senang jika Edwin akan menerima dirinya.
"Siap apa? Jangan berpikir macam-macam, karena sampai kapan pun aku tidak akan Sudi menerima kamu sebagai Istriku. Jangan bermimpi kalau kita akan melakukan hubungan suami istri seperti pasangan pada umumnya. Aku tidak menyukai wanita sepertimu. Berandal dan menjijikkan. Satu hal yang perlu kamu ingat, jangan berharap lebih pada pernikahan ini. Kita akan bercerai setelah waktunya tiba." Edwin berkata dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun. Apa benar pria itu tidak menyukai dirinya. Ah tidak, bahkan bukan hanya tidak menyukai, tapi justru membencinya.
Lily membeku setelah mendengar penuturan sekaligus penilaian pria itu. Bunganya yang baru tumbuh layu sebelum mekar. Kecewa? Tentu saja. Memang benar adanya, jika semua ini adalah mutlak kesalahannya sendiri yang sudah berani mencintai pria yang baru hadir dalam hidupnya.
"Ce-cerai?" Tanya Lily dengan gugup, hanya untuk memastikan, jika telinganya tidak salah dengar.
"Iya, memang kenapa? Jangan bilang kau kecewa dengan keputusan ku. Aku tidak akan tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada perasaan mu, karena sejak awal aku selalu memperingatkan siapa pun agar tidak terlena saat berada di dekat ku." Lagi dan lagi, Lily harus mendengar jawaban menyakitkan dari mulut Edwin. Pria itu benar-benar pandai menyakiti dengan ucapannya sendiri. Benar kata pepatah, lidah lebih tajam daripada pedang.
"A-aku mengerti." Lily menjawab dengan singkat. Ia tidak ingin banyak bicara lagi jika di hadapan Edwin. Bahkan pria itu menilainya sebagai berandal dan menjijikkan.
"Duduklah, aku ingin menjelaskan semuanya agar pernikahan kita tidak diketahui oleh orang lain. Dengan kata lain, ini pernikahan rahasia, agar waktu perceraian nanti tidak ada yang tau juga. Aku melakukan ini demi kebaikan kita bersama, agar kau tidak kesulitan untuk mendapatkan pria baru. Aku tau, tidak banyak pria yang mampu menerima wanita yang pernah berkeluarga." Pria itu terdiam sesaat sambil melihat berkas baru, yang ada di tangannya. Edwin benar-benar tidak sadar, jika wajah Lily sudah merah.
Tidak, kali ini bukan karena malu, melainkan karena ingin menangis. Dan apa tadi, demi kebaikan bersama? Ia merasa itu hanya untuk kebaikan dirinya sendiri, karena bagi Lily, perceraian adalah hal terburuk dalam hidupnya. Sekarang ia hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi janda. Janda doang, bukan janda pirang.
"Ini, tanda tangan di sini. Kita akan bercerai sesuai kontrak pernikahan setelah satu tahun, agar orang tuamu tidak curiga." Lily gemetar saat melihat surat kontrak pernikahan yang ada di tangannya.
"Apa maksud dari poin pertama?"