Pagi hari ini, Edwin berangkat ke rumah sakit seperti biasa. Meskipun ia merasa sedikit pusing akibat minum semalam, tapi ia harus bisa bersikap profesional. Ia berniat minum obat di rumah sakit, dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan penatnya sebelum melakukan operasi pada pasiennya.
Namun, pada saat melewati restoran yang kemarin ia kunjungi bersama dengan wanita yang selalu bersamanya itu ada keramaian. Ya, seperti sebuah kecelakaan, tapi Edwin tidak ingin tahu dan tidak peduli sama sekali. Sekarang pekerjaannya jauh lebih berharga daripada hal yang tidak jelas.
Beberapa saat kemudian, suara decitan rem terdengar sangat jelas. Edwin tiba-tiba saja menginjak rem mobilnya saat melihat sosok wanita yang ia kenal. Ralat, wanita yang kemarin bersama. Lily. Wanita itu tengah di bopong beberapa orang keluar dari restoran itu dengan kondisi lemah.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Shitt! Dia benar-benar pembawa bencana. Bahkan untuk dirinya sendiri." Edwin mengumpat karena kesal jadwalnya akan terganggu. Untung saja jadwal operasi yang akan ia lakukan dimulai satu jam lagi. Dengan secepat kilat, akhirnya Edwin memutar balik arah menuju di mana Lily berada.
"Maaf pak, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Edwin yang sudah tiba ditempat Lily berada. Pria dingin itu masih tidak terlihat peduli. Mungkin hanya karena sebagai rasa kemanusiaannya saja.
"Begini pak, ada gadis yang terkurung di dalam toilet. Diperkirakan sudah semalaman dan gadis ini sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri," jawab salah satu orang yang ada di sana.
Edwin segera menyentuh dahi Lily. Ternyata gadis itu mengalami demam. Sebelumya, dia memastikan jika wanita tengil itu masih hidup. Sebenarnya ia tidak peduli meskipun mati, tapi tetap saja, citranya sebagai dokter tidak boleh tercoreng.
"Pak, tolong bawa ke mobil saya. Biar saya yang bawa ke rumah sakit!" Titah pria itu dengan tegas dan segera bergegas menuju mobilnya.
Dalam perjalanan, ia selalu melirik ke arah belakang untuk memastikan wanita itu tidak terjatuh. Akan tetapi, pikirannya selalu bertanya, tentang apa yang telah ia lakukan terhadap wanita itu.
"Ya, aku melakukan ini karena rasa kemanusiaan ku. Masa lalu itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku sudah memutuskan jalan hidupku sendiri." Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri, agar tidak terpengaruh oleh rasa takut serta kecewa yang telah ia alami selama ini.
*
Sesampainya di rumah sakit, Edwin segera meminta perawat lain, agar dokter umum segera memeriksa kondisi Lily yang sudah seperti mayat hidup.
"Sus, tolong panggilkan dokter untuk merawat dia!" Titahnya pada suster yang baru saja menghampirinya.
"Astaga, Lily! Apa yang terjadi?!" Ternyata wanita itu adalah Karin, sahabat Lily. Terlihat jelas keterkejutan wanita itu saat melihat sahabatnya terbaring lemah. Meskipun Lily sifatnya menjengkelkan seperti bocah lato-lato jaman kini, tapi ia begitu menyayangi Lily seperti saudara sendiri.
"Jangan banyak tanya, cepat periksa dia. Saya akan urus administrasi dulu." Edwin memberikan perintah dan segera bergegas pergi dari sana. Sedangkan Karin, wanita itu patuh untuk membawa Lily ke ruang pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian, Lily sudah selesai diperiksa dan akan dirawat beberapa hari ke depan, karena kondisinya yang cukup serius. Gadis malang yang tengil seperti bocil kematian itu mengalami dehidrasi dan demam yang cukup tinggi, tapi tidak setinggi harapan orang tua, kok.
"Apa kondisinya baik-baik saja?" Tanya Edwin yang sudah selesai mengurus administrasi beberapa waktu lalu. Bahkan pria itu sudah meminum obat karena rasa pusingnya tak kunjung reda.
"Sudah pak, seharusnya dua jam lagi dia sadar, tapi reaksi obat yang lambat akan membuat tidur lebih lama," jawab Karin seadanya. Tadi Edwin sudah menjelaskan segala apa yang telah terjadi sebelumnya, omong-omong.
"Apa maksudmu?" Tanya Edwin penuh selidik. Apa maksudnya tidur lebih lama, mati? Itu lebih baik bagi Edwin.
"Bukan mati, pak! Bapak selalu buruk sangka aja ya." Karin menyangkal segala pendapat buruk yang ia tangkap dari penyelidikan Edwin.
"Saya tidak mengatakan hal itu. Kamu sendiri yang mengatakannya." Karin membeku saat mendengar penuturan dokter tampan di hadapannya. Selain pedas, Karin juga merasa kalau Edwin adalah orang yang manipulatif.
"Ah iya pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Karin benar-benar salut pada sahabatnya yang sedang sakit, karena sudah berani menjadi partner dokter tampan tapi galak tersebut.
"Tunggu! Saya titip dia, ya. Saya ada jadwal pagi hari ini. Pastikan kondisinya benar-benar pulih." Hah, apa dokter Edwin sedang ikut demam juga, hingga mencemaskan Lily yang sedang sakit.
"Si-siap, pak!" Baru saja Edwin melangkahkan kakinya pergi, pria itu berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya.
"Jangan berpikir macam-macam! Saya hanya tidak ingin, dia menuntut saya ke meja hijau, akibat ikut bersama saya kemarin." Benar saja, pria itu tidak sesuai dengan tampangnya yang tampan nan rupawan, tetapi mulutnya setajam silet.
"Baik, siap pak!"
*
Dua jam kemudian ...
Seperti biasa, tangan ajaibnya selalu berhasil saat di meja operasi. Bahkan Edwin disebut penyihir meja operasi. Pria itu baru saja keluar dengan raut wajah yang sama seperti yang ia perlihatkan di depan umum. Sangat datar. Edwin terlihat sedikit ramah pada beberapa orang, tapi tidak menghilangkan wajah kakunya.
Terdengar helaan napas panjang dari arah sosok pria yang kini sudah membersihkan diri, dan kini sudah berganti pakaiannya kembali. Kali ini Edwin duduk sejenak untuk menetralkan rasa lelah sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan, hingga ia terkejut dan kembali bersikap seolah tak terjadi apapun. "Masuk!" Sahutnya setelah mendengar ketukan pintu beberapa kali.
"Maaf pak, saya mau memberikan laporan ini pada bapak." Edwin mengangguk paham dan segera memberikan isyarat agar perawat itu pergi.
Namun, bukannya memeriksa laporan yang ada, pria itu justru bangkit dan segera keluar dari ruangannya. Satu tujuannya saat ini, yaitu Lily. Dengan perlahan, Edwin membuka pintu ruangan tersebut dan melihat sosok wanita yang masih terbaring di atas ranjang Rumah sakit.
Baru saja Edwin masuk, tiba-tiba seorang perawat masuk juga ke dalam sana untuk memeriksa keadaan Lily. Ya, wanita itu diperiksa setiap beberapa jam kemudian.
"Bagaimana kondisinya?" Sebuah pertanyaan kembali terdengar dari mulut Edwin si kanebo kering keriput satu biji. Itu menurut Lily.
"Kondisi pasien sudah membaik, Pak. Beberapa waktu lagi pasti sadar."
"Hmm, ya sudah. Pergilah!"
"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi."
Setelah kepergian perawat tersebut, akhirnya Edwin mendekati ranjang Lily dan menyentuh dahi wanita tengil itu. Benar saja, Lily mulai sadarkan diri, karena terdengar suara lenguhan dari mulutnya. Dengan cepat, Edwin segera mengangkat tangannya kembali agar Lily tidak berpikiran yang tidak-tidak.
"Apa aku sudah mati. Apakah pria ini malaikat maut?" Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Lily membuat Edwin mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti.
"Kamu belum mati, dan jaga bicaramu." Jawaban Edwin membuat Lily terkekeh, lalu terdiam cenderung murung.
"Kenapa. Apa ada yang sakit?" Edwin kembali bertanya penuh selidik.
"Saya belum bayar utang kemarin, pak." Benar, tak sepatutnya Edwin bertanya seperti pada orang normal lainnya, karena Lily adalah makhluk spesies langka di muka bumi ini.