Edwin yang sudah selesai makan pun merasa heran, karena wanita yang bersamanya itu belum kunjung kembali juga. Pria itu sesekali melirik ke arah jam tangan miliknya, dan sesekali melirik ke arah lorong menuju kamar mandi. Pria itu semakin kesal karena hari sudah semakin sore, bahkan mulai gelap.
"Gadis itu benar-benar menyebalkan." Edwin menggerutu lalu bangkit dari duduknya untuk mencari gadis yang tidak ia ingat namanya. Hah, kok bisa. Jangan sampai Lily tahu, kalau namanya tidak diingat oleh dokter bermulut pedas level seratus itu.
"Permisi, apakah anda melihat gadis pendek yang berseragam putih di sini?" Tanya Edwin pada salah satu karyawan yang ada di lorong tersebut.
"Gadis berseragam putih? Tadi saya melihat wanita itu sudah keluar, pak. Permisi." Edwin mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Bagaimana bisa, wanita itu pergi tanpa memberitahu lebih dahulu padanya. Kali ini ia benar-benar dibuat kesal oleh wanita pecicilan dan tidak pantas ada di dekatnya. Ia sendiri lebih menyukai wanita lemah lembut untuk berada di sisinya, daripada wanita yang sering membuat kepala pusing tujuh keliling. Terbukti jika wanita itu sering membuat masalah saat bersamanya.
"Oh shitt! Apakah wanita itu benar-benar seorang perawat. Membuat ku kesal saja. Wanita tidak tau diuntung!" Dengan berbagai opini buruk terhadap Lily, akhirnya Edwin pergi meninggalkan restoran tersebut.
Tak ingin membuang banyak waktu, Edwin segera kembali ke rumah sakit. Meski sebenarnya ia sudah bisa pulang. Akan tetapi, ia ingin memberi pelajaran untuk wanita yang tidak tahu aturan itu. Entahlah, saat ini ia benar-benar kesal saat ditinggalkan Lily tanpa ada penjelasan apapun. Lily jangan terlalu percaya diri, Edwin hanya kesal dan merasa harga dirinya ternodai saat diperlakukan seperti itu oleh wanita.
Sesaat setelah sampai di rumah sakit, hari pun sudah gelap. Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Edwin segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung besar bernuansa putih tersebut. Matanya mulai mengelilingi seluruh penjuru, sambil melewati beberapa ruangan. Bahkan, ia sudah di depan kantin. Tempat pertama kali ia bertemu dengan gadis tengil peninggi tensi darah.
Tidak ada siapa pun! Ke mana perginya wanita itu. Edwin terus menerus mencari keberadaan Lily yang tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, hingga seorang wanita datang menghampiri. Wanita yang tadi siang mengantar makanan ke ruangannya, dan sekarang perasaannya jadi tak enak.
"Selamat malam, pak. Pesanan tadi siang belum dibayar." Benar saja, perasaan Edwin menduga dengan tepat. Memang benar, dekat dengan Lily membawa nasib buruk baginya.
"Ini, ambil saja kembaliannya." Edwin memberikan beberapa lembar uang berwarna merah yang masih baru. Jika dipegang masih bunyi kresek-kresek dan baunya sangat harum khas uang baru. Wanita itu segera mengambilnya dengan cepat sambil tersenyum yang membuat Edwin tergelitik geli. Apakah penghuni rumah sakit ini punya kelainan semua. Sungguh Edwin tak habis pikir.
"Terima kasih, pak dokter ganteng. Kalo gitu saya permisi dulu."
"Tunggu!" Waduh, waduh ... Sekali lagi Edwin membuat wanita itu tersenyum tipis penuh percaya diri. Ia kira, Edwin akan menahannya dan menyatakan cinta seperti di drama-drama di TV.
"Apa pak dokter mau menyatakan cinta pada saya?" Edwin mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti, saat mendengar pertanyaan dari mulut wanita yang ada di hadapannya. Menyatakan cinta? Yang benar saja.
"Tidak, saya hanya ingin bertanya. Apakah kau melihat perawat yang tadi siang di ruangan saya?" Tanya Edwin dengan raut wajah datar. Sebuah kekecewaan terlihat jelas di wajah wanita penjaga kantin tersebut.
"Tidak, pak." Jawabnya singkat, lalu bergegas pergi setelah melihat isyarat dari Edwin.
"Sebenarnya ke mana gadis itu. Eh, lagi pula untuk apa aku mencarinya. Dia bukan urusan ku." Dengan santainya Edwin keluar dari rumah sakit dan segera pulang menuju apartemennya. Eh tidak. Sebelum itu, Edwin mencari bar terdekat untuk minum dan menenangkan pikirannya.
*
Suara musik menggema dan aroma alkohol mulai menyeruak dalam indera penciuman. Ya, kini Edwin sudah duduk di sebuah sofa dengan menyandarkan punggungnya dan ditemani sebotol minuman.
"Halo, apa boleh saya temani anda di sini?" Seorang wanita seksi datang menghampiri Edwin yang tengah memejamkan matanya, hingga pria itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Edwin hanya diam dan kembali dengan dunianya sendiri.
"Sepertinya anda sedang ada masalah. Saya bisa bantu anda untuk menenangkan diri, kok." Wanita itu mulai berani menyentuh paha Edwin, dan terus mendekatkan diri sambil menggesekkan dua bukit Himalaya nya yang besar dan sintal pada lengan Edwin.
"Menjauh dariku!" Titah Edwin dengan suara serak, tanpa membuka matanya sedikit pun. Ia terlalu lelah untuk sekedar menyapa wanita itu. Tidak, bukan. Bahkan ia malas setiap melihat wanita yang ada di dekatnya.
"Pria tampan jangan galak-galak, nanti wanita cantik di luar sana tidak ada yang tertarik loh." Wanita itu terus menggoda Edwin, tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Akhh! Lepas! Lepaskan aku! To-tolong!" Ringis wanita tersebut saat Edwin menegakkan tubuhnya dan mencekik leher wanita yang sejak tadi mengusiknya.
"Sudah aku peringatkan padamu untuk menjauh, dan ini akibat dari membantah ucapan ku." Wanita itu benar-benar ketakutan dan segera menjauh setelah Edwin melepaskan lehernya. Jika tahu begini, ia tidak akan berani mendekati pria berbulu domba itu. Hah, pria berbulu domba.
*
Bukannya merasa tenang, kini pikiran Edwin justru bertambah kalut. Malam semakin larut, dan jalanan mulai sepi, tapi entah kenapa ia mulai memikirkan Lily yang pergi entah ke mana saat bersamanya. Apalagi saat ini ia melewati restoran yang tadi siang ia kunjungi bersama wanita itu, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Seperti sesuatu yang tidak dapat ia artikan.
Di sisi lain, seorang wanita sudah melemah dengan tubuh pucat dan menggigil. Bahkan suaranya sudah serak dan tatapan matanya mulai sayu. Wanita yang sejak tadi siang terkunci di dalam toilet ujung dan belum ada pertolongan dari siapa pun.
"As-ta-ga na-ga, apakah aku akan bertemu dengan dengan malaikat maut. Padahal aku belum nikah sama Om Dokter yang keriput satu biji itu. Semoga ada yang tau, jika ada bidadari yang terkurung di sini. Aku juga lupa, belum bayar makanan di kantin. Semoga Yuni ikhlas deh, dengan utang ku, kalo tau aku mati." Ternyata Lily masih terkurung di dalam toilet tanpa ada yang mengetahuinya satu orang pun. Hebatnya, gadis itu masih banyak bicara setelah tenggorokannya merasa sakit. Jujur saja, Lily merasa takut dengan kegelapan, dan bahkan ia menangis sejadi-jadinya. Namun, wanita itu sadar, jika tidak akan ada orang yang menolongnya dan berhenti menangis.
"Om dokter tega banget sih ninggalin aku sendirian di sini. Ah ya, kenapa aku berharap jika dokter mulut pedas level seratus itu mau mencari ku. Aku tau, pasti Om dokter lagi seneng karena aku hilang." Lily menggerutu karena kesal dan mulai meringkuk kembali.