Edwin menghela napasnya panjang, saat melihat jatah makan miliknya hanya tersisa piring kosong dengan sisa remahan. Ia baru saja selesai mengecek laporan pasien yang akan ia operasi dan yang sudah ia operasi.
Tentu saja Edwin merasa sangat lapar, dan berniat untuk mengisi perutnya yang sudah berdemo meminta keadilan yang telah dimakan tikus negara. Lily maksudnya.
"Saya lapar." Dua kata yang keluar dari mulut Edwin, mampu membuat Lily gemetar ketakutan. Pasalnya ia telah memakan semuanya tanpa sadar. Lebih tepatnya, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit di perut.
"A-anu Om, saya pesankan lagi ya makanannya. Tapi yang ini, Om yang bayar. Saya bayar dua. Ini adalah suatu keadilan kan, Om?" Lily bertanya penuh harap, agar dokter yang ada dihadapan luluh sedikit saja. Jujur, dokter tampan dan dingin itu semakin menyeramkan jika diam tanpa suara. Apalagi tatapannya itu tajam bagai panah Rama yang menembus hati Sinta. Eh! Sadar Lily.
"Saya tidak mau." Astaga naga bonar jadi dua ... Kalau sudah begini, bisa-bisa Lily mati berdiri. Dokter itu tidak memberikan belas kasih sedikit pun. Huhu ... Bagaimana ini. Bagaimana jika kesempatannya untuk mendapatkan hati Edwin gugur di tengah jalan. Haisss! Lily pusing tujuh keliling hingga memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa kau memukul kepalamu sendiri?" Tanya Edwin yang heran saat melihat Lily bersikap aneh di dekatnya. Edwin merasa sangat pusing, jika terus berada di sisi wanita yang tidak ada anggunnya sedikit pun.
"E-eh! Enggak Om. Saya gak apa-apa kok. Om gak usah khawatir." Lily menjawab dengan penuh percaya diri, sambil tersenyum lebar, selebar dunia ini. Eh, kok!
"Saya tidak khawatir. Hanya takut kamu tiba-tiba gila, dan saya tidak ingin kamu berkeliaran bebas." Astaga naga bonar jadi dua, Lily merutuki pria yang ada di hadapannya dengan sumpah serapah dan seisi kebun binatang ia sebutkan satu persatu. Bagaimana bisa ia yang imut, lembut dan rajin menabung itu bekerja sama, dengan pria yang bermulut pedas level seratus.
"Astaga, Om gak boleh gitu ya lain kali. Entar kena karma gimana?" Eh tunggu! Kenapa pria itu keluar dari ruangan tanpa berbicara apapun padanya. Bahkan pertanyaannya diacuhkan seperti debu yang menari-nari di udara. Dengan secepat kilat, akhirnya Lily mengejar Edwin dari belakang. Ia akan menjadi suster yang bertanggung jawab atas Edwin. Ini kan perintah pak Usman. Semoga dapat tunjangan lebih besar, karena ia ditempatkan bekerja dengan pria yang lebih berbahaya daripada anak kucing. Eh! Bisa saja ia jantungan karena sering senam jantung di dekat Edwin.
"Om dokter! Tunggu saya!" Teriak Lily saat di parkiran. Wanita itu berlari kecil dengan napas yang memburu saat mengejar Edwin yang keluar tanpa permisi. Dan yang lebih buruknya, pria itu hanya menoleh tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Apa! Edwin sudah masuk ke dalam mobil dan hendak meninggalkannya. Demi Neptunus, Lily tidak akan membiarkan Edwin lolos begitu saja. Lily langsung masuk ke dalam mobil Edwin yang tidak dikunci oleh pemiliknya. Lily tahu, pria itu tidak benar-benar meninggalkannya.
"Hhh ... Hhh, hom, kenapa Ninggalin saya gitu aja sih?" Tanya Lily kesal. Napasnya yang memburu dengan wajah yang memerah membuat wanita itu seperti sudah matang dimasak terik matahari.
"Bukan urusan kamu." Edwin menjawab singkat, padat, dan pedas. Namun, kini AC mobil terasa lebih dingin dan pria itu memberikan satu box tissue pada Lily. Lagi dan lagi, Lily tersipu dengan apa yang Edwin lakukan.
"Jangan tersenyum seperti itu, dan jangan percaya diri. Saya jijik melihat wanita berkeringat seperti kamu." Rasanya hati Lily patah sebelum berkembang. Lily semakin penasaran dengan kehidupan dokter galak yang keriput satu biji itu.
"Om jangan galak-galak! Sesekali bersikap lembut sama wanita. Nanti kena karma baru tau rasa," cibir Lily dengan percaya diri, sambil membersihkan setiap tubuh yang berkeringat. Di area wajah dan leher, omong-omong.
"Tau apa kamu tentang karma?" Eh, Lily tidak percaya, jika pria itu mau menanggapi ucapannya yang asal saja. Entah kenapa, pria itu bisa berubah-ubah suasana hatinya, dalam waktu yang dekat. Lily melirik ke arah Edwin yang pandangannya masih fokus ke jalan. Akan tetapi, aura dingin ini seperti berbeda setiap kali dalam beberapa topik terakhir.
"Ma-maksud saya, kena karma dengan wanita. Buktinya om masih sendiri sampe sekarang, kan?" Edwin kini melirik ke arah Lily dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Astaga! Apakah ia sudah salah bicara? Tapi ia kan hanya memberi peringatan saja. Bukan sedang mendoakan.
"Saya masih sendiri itu ada alasannya. Sebaiknya kamu diam dan jangan banyak bicara. Banyak bicara bisa memperpendek usiamu." Eh! Lily langsung menelan ludahnya kasar, sambil memegangi lehernya dengan cepat. Dokter itu kenapa sih sensitif sekali. Lily hanya menduga-duga apa yang terjadi, karena takut usianya pendek sesuai ucapan Edwin. Pendek karena jantungan.
*
Kini, Edwin maupun Lily tengah duduk di sebuah meja restoran kecil, karena lebih dekat dengan rumah sakit, di mana mereka bekerja.
"Pesanlah makanan yang kau inginkan!" Titah Edwin saat dirinya memesan makanan. Lily sempat khawatir karena jiwa pelitnya meronta-ronta. Namun, Edwin menegaskan jika ia yang akan membayar makanannya. Tunggu! Ini bukan kencan dadakan kan? Aarrggh! Lily sadar, mana mungkin pria itu suka dengan wanita aneh bin ajaib seperti kamu.
Lily juga tahu diri, wanita itu memesan makanan yang lebih murah daripada Edwin. Itu etika saat ditraktir orang lain.
"Om, terima kasih makanannya, tapi lain kali traktir lagi ya." Eh, gak jadi beretika ya gaes ya. Nyatanya, Lily memang ngeselin.
"Kau mau ke mana?" Tanya Edwin saat melihat Lily bangkit dari duduknya.
"Mau ke toilet, Om." Jangan berharap pria itu akan memberikan perhatian lebih, karena kenyataannya Edwin hanya mengangguk singkat dan tidak mengatakan apapun lagi.
*
Sesampainya di lorong toilet, Lily menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok wanita yang tidak pernah ingin ia lihat lagi di dunia ini.
"Eh, Lily! Tumben kamu makan di restoran? Baru beberapa bulan jadi perawat udah sok kayak," cibir sosok wanita yang ada di hadapannya, Dina. Wanita yang pernah menjadi sahabat Lily saat di bangku SMA. Akan tetapi, semuanya hancur setelah Riko menyatakan cinta padanya. Pria yang Dina cintai.
"Oh, tentu dong. Mending ke restoran pake duit sendiri, daripada pake duit sugar Daddy yang tuanya lebih dari bapakku." Lily tak ingin kalah mencibir wanita itu. Meskipun dirinya sendiri juga pakai uang Edwin, setidaknya Edwin pria tampan paripurna bak pangeran dari kerajaan.
"Lily! Awas aja, nanti kamu juga bakal ngerasain apa yang aku rasain!" Dina semakin geram, saat Lily mengacuhkan dirinya dan masuk ke dalam toilet. Sehingga sebuah ide terbesit dalam pikirannya.
"Huh! Rasain kamu Li. Suruh siapa beruntung sejak dulu." Setelah mengunci Lily dari arah luar dan memberikan label TOILET RUSAK, Dina meninggalkan Lily yang dikunci di dalam sambil tersenyum puas.
"Eh, kok susah sih? Tolong! Apa ada orang di luar?!"