Bab 6. Permintaan Rangga

1409 Words
Rangga memarkirkan kendaraannya di depan lobby hotel bintang lima membuat Kirana sedikit bingung. "Apa maksudnya bicara dengan tenang itu di dalam kamar hotel? Apa Rangga segila itu?' Kirana bertanya dalam hati. "Ayo turun." Rangga berkata sesaat setelah membukakan pintu mobil untuk Kirana, tapi wanita ini masih diam dan bengong. "Apa yang ada dalam pikiranmu?" Rangga mencoba untuk menebak isi kepala Kirana. "Kita ... maksudku apa gak salah ngajak bicara dengan tenang di sini?" tunjuk Kirana sambil mengerenyitkan keningnya. "Otakmu berpikir terlalu sempit. Aku akan reservasi di restoran, jam seperti ini setidaknya tidak banyak orang yang datang. Apa kamu berpikir lebih baik kita membuka kamar saja?" Rangga berkata santai, untuk pertama kalinya bibirnya tersenyum pada Kirana sambil menggelengkan kepalanya. "Sebentar ... apa barusan kamu tersenyum?" Kirana membulatkan matanya melihat ke arah Rangga. "Lalu, apa sudah setuju menjadi tunanganku?" Rangga membalasnya. "Ayo turun, apa tidak mau turun?" Rangga kembali berkata pada Kirana yang terluhat bengong. "Ah ... baiklah," Kirana keluar dari dalam mobil dan berjalan mengekori Rangga. Banyak hal yang membuat Kirana bingung entah dia salah menilai tentang pria itu atau tidak, tapi sejak kurang lebih dua jam yang lalu saat Rangga menyadari kalau dia pasangan onlinenya sikap Rangga padanya seperti seratus delapan puluh derajat berbeda, lebih terlihat manusiawi dan bersikap melindungi. "Ayo duduk sini." "Ah ... iya." Kirana tersadar dari pikiran gilanya lalu menepuk kepalanya sendiri, mungkin dia terlalu sering melihat drama seri, dia berpikiran bahwa Rangga akan menarikan kursi untuk dia duduki. "Kenapa? Apalagi yang ada dalam otakmu?" Rangga memerhatikan raut wajah Kirana yang mulai memerah. "Ah ... itu aku hanya ...." kelu, lidah Kirana tiba-tiba tidak bisa bicara. Rangga menunggu Kirana menyelesaikan kalimatnya, tapi wanita itu malah memegang menu dan melihatnya dengan konsentrasi penuh, kembali Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pesananku disamakan saja." Ucap Kirana akhirnya menyerah karena melihat menunya cukup membuatnya bingung. "Apa yakin?" tanya Rangga sambil memandang lekat pada wajah Kirana yang duduk berseberangan dengannya. Ragu, Kirana jika sedang gugup terlalu kelihatan. "Ya ... pesan saja sesuai yang ingin kamu pesan." "Yakin ingin pesan double shots espreso juga?" Rangga berkata sambil memamerkan senyumya, sengaja menggoda wanita yang ada dihadapannya. "Ah?" Entahlah belum sampai beberapa jam si Dewa Perang ini berhasil mengacak sistem pemikiran yang ada di dalam otak Kirana. "Mbak, espreso double shots satu, greentea milk dinginnya satu." Kirana tak percaya bahwa Rangga tahu minuman yang sering dipesannya saat di kantor, apa selama ini dia diam-diam memperhatikannya? Ah, entah setan apa yang sedang membisikinya, Kirana untuk sesaat merasa sangat senang. "Kirana, kamu mau makan apa?" Rangga berkata sambil mengetukkan tangannya ke meja. "Oh, aku ... aku pesan ...." Kirana kembali gelagapan, perlakuan ini membuatnya salah tingkah. "Aku pesan apa saja, lagipula kita kemari bukan untuk menikmati makanan, kan?" Kirana mencoba bersikap netral, sayangnya Rangga bukan orang yang mudah dimanipulasi. "Itu saja dulu mbak, nanti saya order lagi kalau ada yang mau ditambahkan," ucap Rangga pada waitress itu dengan ramah. Yeah, sebenarnya Rangga memang orang yang ramah, sering bercanda dan juga baik dengan orang lain, tapi tidak kepada Kirana, pria ini sejak awal tidak menyukai keberadaanya karena koneksi. Ini pertama kalinya hubungan Rangga dan Kirana terlihat sangat baik. "Ada hal yang ingin kukatakan dengan jelas." Mereka mengatakannya secara bersamaan. "Kamu saja yang duluan." Rangga dengan cepat mempersilakan Kirana mengatakannya lebih dulu, sedangkan di dalam pikiran Kirana sekarang, dia sangat heran kalimat sepanjang itu bisa sama persis mereka sebutkan, apa ini benar-benar jodoh? "Ki-ra-na." Rangga memanggil Kirana sambil mengetuk meja tepat di depan Kirana yang terlihat sedang bengong. "Ah, iya ... aku mau bilang ...." tiba-tiba apa yang ingin dia sampaikan buyar seketika saat mata mereka bertemu. "Kenapa? Ada apa? Bukankah tadi cukup berani bicara padaku?" Rangga berkata tanpa mengalihkan pandangannya terhadap wanita yang ada di hadapanya. "Kamu ... kenapa kamu memesan greentea milk?" tanya Kirana cepat, padahal itu bukan hal penting yang ingin dia katakan, tapi mulutnya terlalu cepat memberikan respon. "Bukankah kamu sendiri pernah bilang padaku saat pertama kali kita chat di aplikasi?" Jawaban Rangga sebenarnya membuat Kirana sedikit kecewa, dia salah kalau berpikir Rangga diam-diam memperhatikannya di kantor. "Iya juga ya ... kamu benar." Suara Kirana terdengar lemah. "Kenapa lagi? Apa moodmu ini cukup sering berubah?" "Bukan ... lalu, apa yang ingin kamu katakan padaku?" Kirana langsung meluruskan topik pembicaraan mereka. "Apa kamu sengaja mempermainkanku di aplikasi ini? Kamu tahu siapa aku tapi tidak ingin menyampaikan —" "Ti-ti-tidak seperti itu, aku tidak mempermainkanmu," potong Kirana cepat. "Aku hanya menyadari banyak hal yang kebetulan mirip, lalu aku memastikannya lima bulan yang lalu dan—" "Apa? Lima bulan? Kamu sudah tau itu aku selama lima bulan terakhir?" Rangga berkata dengan ekspresi wajah tak percaya, mengangkat sebelah alisnya dan menatap Kirana dengan tajam. "Kalau mau marah, tunggu aku selesai menjelaskan," ucap Kirana dengan sedikit panik. "Apa kamu harus sekali memperlihatkan wajah tidak ramahmu itu padaku? Lagipula kamu selama ini mempersulit urusanku selama di kantor dan —" Kirana lalu menarik nafas dengan berat. "Sudah, sudah, sudah, kenapa jadi malah mengeluarkan nada nyaring? Lanjutkan ceritamu sebelumnya." Rangga menyadari kesalahannya barusan. "Ah ... iya, aku menyadarinya saat kamu berkata tentang perusahaanmu sekilas, kemudian saat kamu menghubungiku ketika aku lembur di kantor, kamu juga mengatakan kalau merasa sangat puas karena sudah berhasil mengerjai karyawanmu yang tidak kompeten dibidangnya. Lalu, aku merasa aneh dan banyak sekali kemiripan situasi itu kamu juga mengirim gambar tumpukan dokumen yang ada di atas meja —" "Dokumen di atas meja?" Rangga nampak berpikir. Kirana mengangguk cepat. "Ya dokumen yang ada label kucingnya, awalnya aku merasa tidak mungkin, tapi setelah kuingat lagi terlalu banyak kebetulan yang sama persis, jadi aku ...." Kirana menelan air ludahnya sendiri, kerongkongannya terasa sangat kering saat ini. "Lanjutkan, aku tidak akan memakanmu, aku juga tidak akan membencimu." Rangga berkata lembut, entah kenapa Kirana merasa bahwa yang saat ini berada di depannya adalah sosok Dewa Perang sang kekasih hatinya, bukan seorang Rangga, bos yang sangat menyebalkan itu. "Aku coba lagi memastikannya, kamu selalu ingin mengajakku bertemu, kan? Untuk lebih meyakinkan lagi dan melihat kesungguhanmu, aku berencana memanfaatkan momen kantor untuk bertemu denganmu." Kirana berkata sambil menghembuskan nafas beratnya, seolah beban berat yang ada di pundaknya sudah hilang. "Momen kantor?" Rangga berusaha mengingatnya. "Apa itu ke Jepara?" Rangga menebak. Kirana menganggukkan kepalanya, sambil memerhatikan reaksi yang diberikan oleh Rangga. "Maaf aku tidak bermaksud untuk ...." "Lalu, waktu itu kamu sengaja tidak memberitahuku kalau kamu tidak jadi ke Jepara kenapa?" tanya Rangga lagi, dia mengabaikan permintaan maaf Kirana barusan. "Ya, pikir saja sendiri. Bisa dibayangkan betapa senangnya aku saat mendapatkan tugas ke sana tapi tiba-tiba atasan menyebalkan itu merubahnya dan menyuruhku berakhir pekan dengan menganalisa data." Kirana menampakkan wajah kesalnya. "Oh, begitu ya." Rangga lalu sedikit terkekeh. "Kenapa tertawa?" Kirana mengerutkan keningnya heran. "Jadi, saat itu kamu menghukumku karena tidak mengajakmu ke sana? Lalu, kalau memang saat itu kamu masih turut dalam romobongan, apa yang akan kamu lakukan saat bertemu denganku?" Kali ini Rangga sangat serius dengan pertanyaannya. "Apa kamu masih akan menghindar? Apa kamu langsung mengatakan bahwa kamu adalah Dewi Matahari Terbit?" "Itulah kenapa aku meminta syarat biar bisa jaga-jaga." Kirana memajukan bibirnya terlihat kesal, membuat Rangga menyadari bahwa pegawainya yang sangat dia benci ternyata cukup lucu, lebih membuatnya menarik karena dia adalah Dewi Matahari Terbitnya. Rangga tak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia akan menghadapi orang yang dia benci dan sangat sukai dalam waktu bersamaan. "Maaf," kata ini keluar dari mulut Rangga sambil melihat lawan bicaranya. "Kamu itu minta maaf pada Dewi Matahari Terbit atau dengan Kirana?" Tatapan Kirana seolah memancing keributan, tapi tidak disangka Rangga malah memamerkan senyumnya yang membuatnya luluh. "Bukankah itu orang yang sama? Baiklah aku minta maaf pada Dewiku dan juga pada Kirana sebagai tunanganku." "Tunangan apanya?" Kirana berdecih, ternyata Rangga juga sama seperti pria buaya pada umumnya, pandai merangkai kata bualan. Pembicaraan mereka terjeda saat pelayan mengantarkan pesanan mereka di meja. "Kirana." Rangga berkata dengan lembut, setidaknya itu yang didengar oleh Kirana sekarang. "Ikutlah denganku ke menemui kakek dan nenekku sebagai tunanganku." Rangga berkata dengan suara tegas. "Apa?" Mata kirana membulat tidak percaya, ditambah lagi Rangga mengeluarkan kotak perhiasan ke atas meja yang didalamnya ada sebuah cincin. "Ikutlah denganku sebagai calon Nyonya Rangga." Ucap Rangga dengan sungguh-sungguh. "Tunggu ini untuk siapa? Dewi Matahari Terbit atau Kirana?" "Sudah kukatakan pada Dewi Matahari Terbit, aku menerima semua syarat dan berjanji tidak membencimu. Aku melakukan ini untuk orang yang sama, entah itu Kirana atau Dewi Matahari Terbit, Aku menerima semua identitasmu dan dari hati yang terdalam aku minta maaf untuk Kirana." Kirana menelan air liurnya sekadar membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD