"Lepas, lepas, lepas!" Kirana setengah berteriak karena Rangga masih mencengkram kuat pergelangan tangannya sepanjang jalan menuju area gedung parkir.
"Jangan berteriak dan ikut saja. Apa kamu mau membuatku seolah menjadi seorang penculik," ucap Rangga.
"Lepas! Tanganmu terlalu kuat dan membuatku kesakitan! Kalau tindakanmu seperti ini, jelas Anda memang seorang penculik!" Kirana masih terus mengoceh sambil memukul tangan Rangga yang tak kunjung melepaskan cengkramannya.
"Sudah diam saja kalau tidak aku akan memegangnya lebih erat. Pilihan ada ditanganmu sekarang." Rangga berkata tanpa beban.
Akhirnya demi menghemat energinya Kirana tidak berontak lagi, dia berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Rangga yang cukup lebar.
"Masuk ke dalam!" Rangga menyuruhnya duduk di bangku belakang. Kirana yang kesal masih bisa menuruti Rangga, dia hanya berpikir saat Rangga berjalan ke pintu depan dia akan dengan sigap membuka pintu dan kabur, sayangnya hal itu tidak bisa terjadi karena pintu tersebut terkunci dan tidak bisa dibuka dari dalam, child lock mode.
"Lupakan keinginanmu untuk kabur." Rangga berkata santai sambil mengenakan sabuk pengamannya.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan? Tunangan? Apa Anda sudah gila? Apa Anda pikir aku akan menyetujuinya?" Kirana terus mencecar Rangga.
"Berhenti menyebutku dengan kata-kata Anda, apa kamu tidak bisa bersikap lebih ramah sedikit? Aku juga bukan atasanmu lagi, kan?"
"Bisa kamu berbicara dengan nada perlahan? Kita diskusi di tempat yang nyaman saja, sekarang pikirkan kata-kata yang masuk akal untuk minta maaf padaku karena telah mempermainkanku selama sepuluh bulan ini." Rangga terus berkata santai padanya, tapi Kirana jelas mengartikan berbeda.
"Kamu bilang apa? Mempermainkanmu? Barusan juga apa kamu cukup sadar sudah mempermainkanku, mengatakan kalau aku tunanganmu, apa kamu ini benar-benar membenciku sampai harus mempermalukanku di depan rekan kerjaku?" Kirana berkata setengah berteriak.
"Apa aku ini sangat memalukan sampai kamu menolak untuk menjadi tunanganku?" Rangga berkata sambil tersenyum simpul.
"Kamu ... apa maksudmu? Kamu benar-benar sudah hilang akal Rangga!" Pertama kalinya Kirana menyebut nama Rangga tanpa embel-embel di depannya.
"Baru saja menjadi tunanganku, bahkan Kirana sudah sangat berani menyebut namaku dengan lantang. Sudah kamu diam dulu biar kupikirkan kemana aku akan membawamu untuk bicara dengan tenang."
"Jangan macam-macam! Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup jika berpikir hal yang tidak masuk akal." Kirana kembali memulai perdebatan, tapi entah setan darimana merasuki Kirana sampai akhirnya wanita ini berusaha mencekik Rangga dari belakang.
"Kirana lepas! Kita bisa celaka kalau kamu kayak gini!" Rangga berkata dengan susah payah karena perbuatan Kirana ini, dia juga harus konsentrasi dengan jalan yang ada di hadapannya.
"Cepat pinggirkan kendaraanmu, atau kita bisa mati sama-sama disini!" Teriak Kirana lagi.
"Lepas dulu! Ak ... khu ... akan me ...."
"Argh!" Kirana terpelanting ke bagian kiri karena Rangga berusaha menghindari mobil dengan muatan besar yang ada di hadapan mereka.
Mendengar teriakan Kirana, pria ini langsung mencari tempat aman untuk memarkirkan kendaraannya di bahu jalan.
"Kirana, apa kamu tidak apa-apa?" Rangga bertanya dengan suara yang khawatir.
"Sengaja, kan?!" Kirana berteriak sambil memegang kepalanya.
"Aku menghindari mobil truk itu dan —"
"Kamu selalu mencari alasan! Kamu memuakkan! Aku akan turun disini!" Kirana makin histeris.
Rangga menjadi panik karena reaksi wanita ini dinilainya sangat berlebihan
"Tidak bisa turun disini, ini jalan tol dan ... sudahlah aku minta maaf, kita bicara dengan tenang nanti. Duduklah dulu, aku minta maaf okay?" Rangga berkata dengan suara lembut, pertama kalinya Kirana mendengarkan ucapan Rangga yang seperti itu.
"Ini, kamu minumlah dulu." Rangga mengambil air minum yang ada di dalam laci dashboard mobilnya dan memberikan pada Kirana.
Ragu Kirana menerimanya, karena Rangga bersikap lembut seperti ini menjadi sedikit asing untuknya.
"Tenang saja, air mineral ini masih tersegel dan tanpa racun. Ini ambil dulu, jika kamu kurang terbiasa, anggap saja aku dewa perang seperti yang kamu kenal sebelumnya." Rangga kemudian membalikkan badannya menghadap ke depan dan kembali melajukan kendaraannya.
Sepanjang perjalanan sisanya Kirana hanya diam, tapi dalam otaknya begitu banyak hal yang ingin dia ungkapkan meskipun dia tahu apa yang ada dalam pikirannya jelas sangat susah untuk keluar dari mulutnya.
***
Beberapa jam sebelum kejadian ini,
Ryan yang memberikan data tentang Dewi Matahari Terbit pada Rangga membuat Rangga berpikir keras dia tidak boleh lengah dengan orang yang mempermainkannya, dia kemudian mencoba untuk mengingat semua karyawannya dan gandget yang mereka miliki.
Ada beberapa yang dicurigai oleh Rangga, lalu diapun mendatangi karyawan tersebut, berpura-pura bertanya tentang pekerjaan, berdasarlan pengamatannya tidak ada yang dicurigai, sampai kemudian satu orang lagi yang perlu dia konfirmasikan kebenarannya, sayangnya orang itu sedang tidak ada ditempat.
Dia tidak kehabisan akal, dia yakin bahwa orang terakhir adalah orang yang dia cari, dia kemudian mengirim pesan pada si Dewi Matahari Terbit untuk bertanya akun sosialnya dan benar saja setelah dia stalking akun itu sampai ke bawah Rangga mendapati petunjuk nyata bahwa pemilik akun ini mungkin secara tidak sengaja mengambil foto mug desain kucing yang disebelahnya terdapat cermin yang menampakkan posisi duduknya.
Untuk lebih memastikannya lagi, Rangga kembali ke meja Kirana dan melihat mug bergambar kucing yang sama persis dan juga melihat cermin disebelahnya dengan frame awan bewarna merah muda.
"Benar dia rupanya." Rangga berkata dalam hati.
Untuk sesaat Rangga sedikit terkejut mendapati kenyataan sebenarnya, tapi dia berusaha menetralisir hatinya, dia tidak menyangka kenapa harus Kirana?
Baru saja ingin berbalik ke ruangannya, Rangga melihat Kirana yang sedang jalan menuju mejanya.
"Darimana saja kamu?" tanya Rangga.
"Itu tadi saya dari kamar kecil, perut saya terasa sakit." Jawab Kirana, Rangga melihat wanita itu sedikit gugup, mungkin dia sudah tahu kalau penyamarannya akan segera terbongkar.
Lalu, Rangga menyuruh Kirana untuk ke ruangannya segera, wanita itu mengikutinya dari belakang.
Sampai di ruangannya Rangga akhirnya harus benar-benar mengakhiri penderitaan Kirana yang bekerja tidak sesuai dengan kemampuannya dan berdasarkan penilaian sejak awal Kirana tidak bisa bertahan lama di kantor ini, dia harusnya bekerja dibidang yang dia kuasai, yaitu sebagai penulis naskah drama ataupun seorang novelis tapi sayang sekali niatnya ini malah diartikan hal yang negatif oleh Kirana, wanita ini terus saja menentangnya.
Entah kenapa Rangga juga tidak paham bagaimana kata-kata yang keluar dari mulutnya juga bertentangan dengan hatinya, dia mengeluarkan kata yang kasar tapi setelahnya dia merasa menyesal.
Setelah Kirana keluar dari ruangannya dengan membanting pintu, rasanya ada bagian yang turut sakit menyaksikan wanita itu berbalik badan dan melawannya.
"Apa aku keterlaluan?" tanya Rangga pada dirinya sendiri.
Yang jelas saat ini Rangga hanya bingung dengan perasaannya, dia memang membenci Kirana yang masuk dengan rekomendasi Neneknya, tapi disisi lain Rangga melihat potensi besar pada wanita itu dibidang lain, dia tahu bahwa Kirana masih terus bekerja di perusahaannya untuk bertahan hidup. Namun, Rangga tidak bisa melihat orang lain bekerja yang mana bukan bidangnya, karena ini akan benar sangat menyiksa.
"Aku ... apa aku sudah berlebihan?" Rangga kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Handphonenya berbunyi, disana tertulis nama Yumi.
"Kenapa?"
"Kakak aku sudah mendapatkan informasinya." Suara Yumi yang riang diseberang sana membuat Rangga sadar kalau dirinya tidak boleh mengingkari komitmen yang dia buat dengan adiknya ini.
"Katakan saja padaku siapa orangnya, dan kamu harus melakukan validasi terdahap kebenarannya. Jika informasi yang diberikan ini tidak akurat maka aku akan —"
"Stop! Cerewet sekali sih! Wanita itu bernama Mia, salah satu keluarganya bekerja diperusahaanmu namanya Kirana dan —"
"Baiklah berhenti bicara, aku akan berinvestasi pada dramamu itu, tapi dengan satu syarat." Rangga mengeluarkan jurus negosiasinya, Yumi sebenarnya sedikit takjub ini kali pertama Rangga menyetujui permintaannya yang lumayan bernilai besar hanya dengan melalui telpon tanpa perlu membuat proposal lagi.
"Katakan syaratnya dan harus masuk akal."
"Penulis naskahnya harus orang yang aku rekomendasikan." Syarat ini membuat Yumi sedikit heran, selama ini Rangga tidak pernah menyinggung masalah penulisnya, paling juga dia memikirkan bagaimana mendapatkan banyak iklan produknya dalam scene drama pendek yang dia buat, jangan-jangan nantinya si penulis yang dimaksud oleh Rangga akan membuat lebih banyak lagi iklan produk yang tidak masuk akal.
"Kamu ... tidak ada hubungannya dengan iklan produk perusahaanmu, kan?" Yumi tidak bisa membendung penasarannya, lebih baik bertanya daripada ujungnya nanti membuat diri sendiri rugi.
"Iklan? Aku akan pikirkan lagi nanti, tapi kamu harus setuju dulu dengan syarat utamanya."
"Baiklah asal penulis ini tidak menempatkan banyak produkmu yang tidak masuk akal," ucap Yumi menegaskan.
"Sudah kukatakan, setujui dulu syarat yang kumaksud, kalo kamu setuju, kirimkan draft kerjasamanya padaku." Ucapan Rangga barusan membuat Yumi terheran-heran. Apa mungkin dia salah dengar?
"Draf perjanjiannya aku yang buat?" ulang Yumi lagi untuk memastikan.
"Ya kali ini kamu saja yang buat, poin lainnya aku akan sesuaikan tapi poin utamanya jangan dilupakan. Sudah dulu aku sedang sibuk, aku akan kirimkan padamu kontak penulisnya dan segera hubungi dia secepatnya dalam waktu satu atau dua hari ini eh, tidak lebuh baik sekarang saja saat kamu sempat," ucap Rangga.
"Tunggu ... tunggu dulu jangan diputuskan sambungannya, untuk pembayaran naskah itu apa boleh kamu saja yang membayarnya diluar dari investasimu dalam produksi pembuatan drama pendekku ini?" Yumi bertanya dengan penuh harap, karena dari gelagat Rangga yang dia pahami, kalau benar Rangga bersedia artinya dia akan mendapatkan keuntungan besar.
"Baiklah, dan satu hal lagi, saat menghubunginya jangan sekalipun menyebut namaku. Lakukan secara profesional saja, katakan kalau kamu benar-benar menginginkannya untuk menuliskan cerita dalam dramamu itu," ucap Rangga lagi.
"Baiklah, deal!" Yumi berkata cepat dan mematikan sambungan telponnya. Dalam perjalanan hidupnya Yumi paham sekali dengan pola pikir kakaknya yang satu ini, dia bisa menebak kalau saat ini kakaknya sedang menyukai seseorang.
Setelah telpon dimatikan oleh Yumi, Rangga kembali berpikir tentang hubungan Kirana dan kakek neneknya, apa mungkin mereka berkaitan? Hal yang paling benar menyelesaikan masalah ini adalah membuat Kirana menjadi pasangannya. Yeah, Rangga sudah memutuskannya, dia harus membuat Kirana menjadi tunangannya, sebelum Kirana benar-benar meninggalkan kantornya, dia lalu menyusul Kirana ke meja kerjanya.