Bab 4. Tunangan

1220 Words
"Ma ... ta ... hari terbit?" Kirana mengulang dua kata terakhir yang diucapkan oleh Rangga barusan dengan suara gemetar. "Kenapa? kamu bingung? Gak ngerti maksudnya? Atau mau mengaku saja?" Kirana lalu menelan air liurnya dengan penuh tekanan dan mengatur nafasnya agar bisa tenang. "Masih tidak mau mengaku juga?" Wajah Rangga benar-benar berada tepat di depan Kirana. "Maksud Bapak apa? Saya tidak ... tidak mengerti." Kirana berusaha berbohong, dia tahu pasti ini sangat terlihat jelas sedang menutupi sesuatu. Rangga lalu mengeluarkan handphonenya melakukan panggilan dari aplikasi benang merah, dengan segera handphone milik Kirana berbunyi, Rangga kemudian merogoh kantong blazer milik Kirana dan mengambil handphone Kirana, sedangkan wanita ini hanya diam terpaku karena terkejut, dia tidak menyangka kalau Rangga benar-benar akan seberani itu padanya, rasanya dia ingin henti nafas sekarang juga. "Masih ingin mengelak padahal bukti sudah di depan mata?" Rangga lalu memperlihatkan kedua benda kecil yang saling terhubung itu ke wajah Kirana. "Itu ... aku ...." Kirana kehabisan kata-kata dia tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. "Mau berencana sampai kapan mempermainkanku?" Suara Rangga terdengar datar tapi Kirana masih mewaspadainya. "Aku ... maksudnya saya ... ah, maafkan saya, Pak, saya juga tidak tahu kalau itu ternyata Pak Rangga ... saya ... saya benar-benar tidak menyangka, saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Anda tapi ...." kalimat Kirana benar-benar berantakan, dia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini. "Sudahlah, serahkan surat pengunduran dirimu besok. Berhentilah dari tempat ini dan —" "Bilang apa barusan? Benar-benar tidak disangka ternyata Rangga Adiacipta seorang yang semena-mena. Kamu menyuruhku berhenti karena ini? Sangat tidak profesional sekali." Suara Kirana bergetar karena marah tangannya terkepal keras. "Baru mengungkapkan jati dirimu saja, seorang Kirana sudah berani mengucapkan namaku dengan keras seakan seperti kucing yang punya banyak nyawa cadangan." Rangga berkata santai, tetapi tidak seperti yang Kirana dengar. "Keterlaluan sekali! Tidak profesional dan pria terjahat dimuka bumi ini! Tidak perlu menunggu surat pengunduran diriku karena aku tidak akan membuatnya!" Kirana bersikeras tidak akan melakukannya. "Baik kalau tidak mau melakukannya, gak masalah aku yang akan memaksamu." Rangga lalu berjalan menuju meja kerjanya menekan nomor ekstensi pada telpon internal. "Pak Rosyid, buatkan surat pemutusan hubungan kerja untuk Ibu Kirana bagian pemasaran sekarang juga, lakukan sesuai dengan aturan berlaku masalah kompensasi yang harus dia terima." Rangga berkata tegas. "Tapi, Pak, kita bahkan tidak pernah membuat surat peringatan padanya, bagaimana mungkin untuk langsung memutuskan begitu saja." Suara diseberang sana terdengar jelas oleh Kirana, karena Rangga melakun panggilan ini menggunakan mode handsfree. "Buatkan peringatan satu dua tiga dengan tanggal mundur." Rangga mengatakannya dengan sangat enteng, membuat Kirana yang masih mematung itu sangat marah. "Tapi Pak, kesalahannya—" "Pak Rosyid lakukan saja seperti yang saya perintahkan, dia sudah banyak melakukan kesalahan fatal, pertama sering datang terlambat, kedua nyaris menghilangkan dokumen penting perusahaan, ketiga kinerjanya tidak cukup baik, keempat targetnya dalam dua bulan terakhir tidak tercapai. Alasan ini apa tidak cukup untuk menghentikannya?" "Baik, Pak." Sambungan dimatikan Rangga. Ucapan Rangga benar-benar membuat Kirana sangat ingin membunuh pria itu sekarang juga, dia bahkan tidak mampu berkata-kata lagi, ternyata benar kata orang harta dan jabatan akan bisa mempermainkan orang lain. "Bereskan barang-barangmu, tempat ini benar-benar tidak cocok untukmu, lingkungan ini tidak bersahabat dengan kemampuan yang kamu punya." Rangga berkata santai sambil memasukkan tangannya ke saku celana. "Ya, aku memang sering terlambat, itu juga karena habis menyelesaikan apa yang diperintahkan padaku, aku tidak pernah minta dibayar lembur atas tugas tambahan yang sering kali diluar tanggungjawabku, nyaris menghilangkan dokumen perusahaan itu juga karena Anda yang tidak mau menghubungiku dimana aku meletakkannya jadi itu murni kesalahan Anda kenapa harus aku yang bertanggungjawab? Lalu, keempat tentang target, aku selama ini sering melampaui target, baru dua bulan ini kinerja penjualanku menurun karena aku harus riset data yang diperintahkan, lantas kenapa semuanya melimpahkan kesalahan padaku?" Kirana berkata nyaris setengah berteriak meluapkan kekesalannya. "Sudah bicaranya? Kamu ternyata sangat keras kepala, pekerjaan ini tidak cocok untukmu, kamu bisa bekerja di tempat lain yang sesuai dengan kemampuanmu. Apa kamu tidak percaya dengan kehebatanku menganalisa nilai jual seseorang?" Rangga benar-benar bicara dengan nada yang santai, tapi ucapan Rangga jelas membuat Kirana merasa terhina. "Nilai jual? Apa Anda pikir aku akan menjual diriku? Apa Anda gila?! Kamu benar-benar keterlaluan Rangga Adiacipta!" Kirana berkata sambil mengepalkan tangannya. Rangga menyadari bahwa lawan bicaranya kali ini sebentar lagi akan berubah menjadi monster, dia lalu mengambil gelas diatas mejanya dan berjalan mendekati Kirana. "Ini diminum saja dulu, biar bisa menetralisir ucapanku barusan. Aku hanya memberimu masukan kalau kamu itu—" Belum selesai Rangga bicara Kirana menepis gelas yang akan diberikan padanya sehingga gelas tersebut jatuh ke lantai dan airnya sebagian membasahi pakaian yang digunakan oleh Rangga. "Tidak usah sok baik padaku. Baiklah aku akan mengajukan pengunduran diri! Aku tidak butuh kompensasimu itu!" Kirana lalu membuka pintu dan membantingnya dengan sangat keras. Suara barusan membuat pekerja yang berada di lantai ini terkejut, mereka saling pandang, siapa tahu ada yang bisa menjelaskan kejadian mengerikan apa di dalam, apalagi saat melihat wajah Kirana merah padam, ini kali pertama mereka melihat Kirana dengan tampang sekarang, sangat buas dan tidak bisa dijinakkan. Kirana duduk di kursinya dengan perasaan kesal, temannya juga tidak ada yang berani bertanya termasuk Ardi yang cukup dekat dengannya. Dia menghembuskan nafas dengan kasar lalu mengetikkan sesuatu di komputernya. 25 menit setelah kejadian itu, Rangga keluar dari dalam ruangannya berjalan ke arah Kirana dengan cepat. "Kirana kita belum selesai bicara," ucap Rangga. "Kebetulan Bapak datang ke meja saya, ini surat pengunduran diri saya, dan saya tidak butuh belas kasihan dari Anda!" Kirana berdiri dan memberikan surat pengunduran dirinya dengan kasar pada Rangga, lalu melepaskan kartu pengenal karyawannya ke atas meja. Suasana kembali hening, kejadian ini menjadi tontonan karyawan yang saling lempar pandang tidak mengerti masalah apa yang terjadi diantara keduanya. Mereka dalam hati tidak menyangka kalau akhirnya Kirana bisa melawan bosnya sendiri. Benar memang, jika selama ini Kirana sering ditindas oleh Rangga, pria itu juga memperlakukan Kirana dengan sedikit tidak adil, padahal Rangga bisa bersenda gurau dengan bawahannya yang lain dan mengabaikan status 'bos' yang melekat pada dirinya, tapi tidak dengan Kirana. "Benar-benar keras kepala sekali," desis Rangga. "Terserah!" Kirana lalu melewati Rangga dengan kesal. "Kirana, berhenti!" Rangga mengeluarkan kalimat perintahnya. Kirana sudah tidak peduli, dengan terpaksa Rangga menyusulnya dengan langkah cepat dan menarik tangan wanita itu. "Apa begitu perlakuanmu sebagai tunanganku?" Ucapan Rangga membuat Kirana terpaksa berhenti dan membalikkan badannya. Keningnya berkerut dan matanya membesar. "Apa yang Anda bilang barusan?" Kirana hanya takut dia salah dengar. "Aku bilang apa? Semua yang kukatakan itu adalah kenyataannya dan bagian mana yang salah?" Rangga berkata dengan tanpa beban. "Sejak kapan aku setuju menjadi tunanganmu, heh?" Kirana berdesis dengan penuh penekanan sambil bola matanya mengawasi pandangan orang yang ada disana. "Sejak kamu lari dari kenyataan." Rangga menjawab Rangga tanpa melepaskan cengkraman tangannya. "Kamu ...." Kirana tak mampu meneruskan kalimatnya, dia tidak bisa berkata-kata, otaknya buntu untuk perang kalimat, dia juga tidak mengerti dengan ucapan Rangga yang sangat tiba-tiba seperti ini. "Ikut denganku sekarang!" ucap Rangga dengan tegas dan tatapan mata yang tidak bisa dibantah. "Marly, katakan pada HRD aku cuti hari ini, semua tugas serahkan pada Tegar, jika hal yang penting dengan klien dan harus berhubungan denganku kau atur ulang jadwalnya, tapi sebisa mungkin serahkan pada Tegar. Aku harus mengurus tunanganku yang keras kepala ini." Ucap Rangga pada sekretarisnya yang juga ada disana menyaksikan adegan gila Rangga. "Ba ... ik Pak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD