Keesokan paginya, Kirana sudah tampak sibuk di kubikel tempatnya bekerja hingga membuat Ardy — rekan kerjanya merasa heran.
"Tumben masih pagi gini udah betah di depan komputer, apa pekerjaanmu kemarin masih ada yang belum selesai?" Ardi bertanya dengan ramah pada Kirana.
"Kau tahu sendiri, walau sudah aku selesaikan pasti ada saja yang membuatnya salah. Coba bantuin lihat dengan teliti, apa ada yang salah dalam penempatan tanda baca atau salah huruf?" Kirana menarik Ardi untuk membaca pekerjaannya.
Ardi dengan senang hati membantu Kirana karena jelas pekerjaan Kirana menyangkut masa depan perusahaan. 15 menit yang dibutuhkan Ardi untuk mengoreksi tanda baca dan kesalahan penulisan, tidak ada yang cacat, semua sempurna.
"Tidak ada yang salah, semuanya bagus dan tulisannya juga tidak ada yang salah, baik huruf besar dan kecilnya. Kupikir kali ini bos tidak akan memarahimu," ucap Ardi dengan semangat.
Seperti biasa, dua jam sebelumnya file itu harus diserahkan pada Rangga untuk kembali dilihatnya. Semua tahu kalau Rangga adalah bos yang sangat menginginkan hal sempurna.
Kirana masuk ke ruangan Rangga dengan membawa beberapa file di tangannya.
"Pak Rangga, file presentasinya sudah saya kirim lewat email, ini dokumen yang Pak Rangga berikan kemarin pada saya, semuanya saya beri tanda dan hasil rangkumannya juga sudah saya kirim ke email, Bapak coba cek dulu, nanti kalau ada yang—"
"Kau keluar sekarang!" potong Rangga lalu membalikkan kursinya.
"A-apa Pak?" Kirana tidak percaya kalau dirinya diusir begitu saja.
"Kau tuli? Keluar sekarang juga!" bentaknya.
"Ba-baik, Pak." Dengan cepat Kirana keluar dari ruangan itu setelah meletakkan dokumen yang dibawanya ke atas meja Rangga.
Rangga membentak Kirana bukan tanpa alasan, dia hanya sedang kesal karena Ryan telah memberikan data pemilik akun Dewi Matahari Terbit itu padanya. Posisi pengguna itu berada dalam gedung kantornya sekarang, artinya ada orang yang dengan sengaja mempermainkannya.
"Masih pagi sudah membuat hariku menjadi buruk, ditambah lagi wanita bodoh itu muncul dihadapanku dengan tampang sok pintar." Rangga mengepalkan tangannya. Suasana hatinya sangat tidak baik-baik saja sekarang ini.
Rangga pun kembali melihat data yang diberikan oleh Ryan. Mulai dari tipe handphone yang dia gunakan dan sudah selama apa dia menjadi member aplikasi itu, hal yang membuatnya tidak marah berlebihan adalah wanita pemilik akun "Dewi Matahari Terbit" hanya berkenalan dengannya dan tidak ada pria lain. Dengan fakta itu, setidaknya orang yang diajaknya berkencan, masih memiliki hati nurani untuk tidak mempermainkannya lebih jauh.
Sesaat setelah keluar dari ruangan Rangga, Kirana yang sangat syok tampak tidak bisa berkata-kata, tampangnya memperlihatkan bahwa dirinya sedang dalam keadaan tidak baik.
"Hei Non, kau kenapa?" Ardi mendekatinya sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Kirana, sedangkan Kirana hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya.
"Hei Non! Kau jangan membuatku cemas, cepat ceritakan ada apa? Kena marah lagi? Kali ini apa lagi yang salah?" Ardi mendesaknya.
"Aku …." Mata Kirana nampak berkaca-kaca. Wanita itu masih tampak berusaha mengatur laju napasnya agar bisa mengendalikan emosi.
"Sudah jangan terlalu diambil hati, lagian sudah biasa juga dia marah-marah, kan?"
"Ah sudahlah, seperti yang kau bilang, dia juga sudah biasa marah padaku. Jadi, apa gunanya dimasukkan ke hati. Aku harus bisa menghilangkan aura negatif ini ... marah ... marah ... pergilah!" Kirana berkata seperti merapal mantra.
"Kau benar-benar aneh." Ardi lalu kembali ke kubikelnya dan tidak mengambil pusing dengan tingkah Kirana barusan.
Memang benar jika Rangga sering memarahinya, bahkan di depan rekan kerjanya Rangga tanpa rasa tega berani memarahinya habis-habisan, tetapi tadi berbeda, dia merasakan atmosfer mengerikan itu berada mengelilinginya seolah akan membunuh.
Pesan masuk ke dalam handphone milik Kirana, dia langsung membukanya dan melihat pesan dari aplikasi benang merah, siapa lagi kalau bukan dari Rangga.
Dewa Perang: Dewi Matahari Terbit, apa kau mengenalku dengan jelas?
Kirana mengerutkan dahinya saat membacanya. "Maksudnya mengenal jelas?" Kirana bertanya dalam hati, tiba-tiba dia menjadi sedikit cemas.
Dewa Perang: Apa aku boleh menebak, kenapa kau tidak mau bertemu denganku?
Pesan kedua kembali masuk, tanpa Kirana sempat membalas pesan pertama.
Dewa Perang: Kau berbohong tentang dirimu dan pekerjaanmu? Katakan padaku sejujurnya sebelum aku mengetahuinya sendiri.
Kalimat yang dibaca Kirana benar-benar sama dengan gaya bahasa Rangga padanya. Kirana cemas sekali, dia masih tidak ingin hubungan dunia maya dengan pria yang telah berhasil membuatnya nyaman itu berakhir. Andai, pria itu bukanlah Rangga, pasti tidak akan rumit seperti sekarang ini.
Dewa Perang: Baiklah, kalau kau memang tidak bersedia bertemu denganku, maka kita tidak perlu bertemu lagi. Aku yang terlalu berharap kalau di dunia ini setidaknya masih ada orang yang jujur.
Entah kenapa saat membacanya Kirana merasakan hatinya sakit seperti tercubit, dia sedih, tetapi tidak bisa menangis dan untuk menetralisir suasana hatinya, Kirana dengan cepat pergi ke kamar kecil, mana boleh wajahnya terlihat murung di depan teman-teman kantornya.
"Kirana, sabar, sabar, kau pasti bisa melewatinya." Wanita itu tampak mengatur napasnya. "Anggap saja ini sebagai cobaan hidup untukmu menjadi orang baik, sabar Kirana." Dia berjalan cepat sambil komat-kamit mengucap kata-kata. Berharap dengan begitu, hatinya bisa merasa jauh lebih tenang.
Di sanalah sekarang Kirana berada, duduk di atas kloset dengan pikiran kacau, yang awalnya hanya bahan candaan pengisi waktu luang sekarang malah tidak rela kalau mainannya akan menghilang. Lima menit termenung duduk di sana, akhirnya dia mulai mengetik jawaban untuk pacar online-nya.
Dewi Matahari Terbit: Kau sepertinya berada dalam suasana hati yang tidak baik, apa pekerja d***u itu membuatmu kesal lagi? Aku tidak berbohong tentang pekerjaanku, aku memang seorang penulis cerita. Kalau aku bertemu denganmu, apa kau bisa menjamin tidak membenciku?
Dewa Perang: Kirimkan akun media sosialmu, jika kau memang seorang penulis yang kau maksud setidaknya kau punya penggemar, kan?
"Manusia ini benar-benar …." Kirana ingin mengumpat, tapi kata-k********r itu tidak bisa keluar dari mulutnya.
Dewi Matahari terbit: Dewi Matahari.
Kirana lalu mengirim pesan singkat nama penggunanya di akun media sosial.
Dewa Perang: Aku bisa memberikan jaminan kalau aku tidak akan membencimu, setidaknya itu kompensasi atas sepuluh bulan waktu yang kita lalui bersama. Baiklah aku akan melihat akun media sosialmu, akhir pekan ini kita bertemu. Jika kau tetap tidak mau, aku akan melakukan berbagai cara untuk menemuimu.
Mata Kirana terbelalak membacanya.
"Ya Tuhan ... sebenarnya dosa apa yang kuperbuat di masa lalu sampai harus terlibat masalah seperti ini?" Kirana merengek dalam ruangan kecil itu hingga akhirnya bunyi handphone mengejutkannya.
"Kirana kamu di mana? Dicari Pak Rangga, dia sepertinya benar-benar akan menghabisimu sekarang." Ucapan Ardi itu semakin membuat Kirana lemas.
"Hei, Kirana kau dengar aku tidak?" Ardi berkata lagi membuat Kirana mau tidak mau harus menyadarkan dirinya.
"Ah ... iya, iya, aku segera kembali." Dengan langkah cepat Kirana kembali ke tempatnya.
Baru saja sampai di ruangan, Kirana merasakan bahwa AC ruangan mereka sangat dingin, apalagi saat mata Rangga menatapnya dengan tatapan tajam seolah akan membunuhnya.
"Kau dari mana saja?" Suara Rangga yang terdengar tenang, tapi mematikan itu membuat semua orang di ruangan menjadi tertunduk dan melirik ke arah Kirana.
"Itu … tadi saya dari toilet, ehm … sakit perut," jawab Kirana berbohong.
"Ikut ke ruangan sekarang!" Rangga membalikkan tubuh, melangkah begitu saja menuju ruang kerjanya. Membuat Kirana bingung dan melihat Ardi bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi pria itu hanya menggeleng pelan dan menaikkan kedua bahunya.
Setelah berada di ruangan Rangga, Kirana merasakan atmosfernya terasa sangat dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.
"Tutup pintunya!" perintah Rangga.
Kirana terkejut, selama yang dia tahu nyaris dua tahun bekerja Rangga tidak pernah mengijinkan siapa pun saat masuk ke ruangannya menutup pintu. Biasanya jika sampai Rangga menutup pintu akan ada pembicaraan serius dengan klien.
Setelah Kirana menutup pintu, dia memutar tubuhnya, lalu kembali melihat Rangga dan bicara, "Maaf, Pak, apa saya membuat kesalahan lagi?" Kirana bertanya dengan suara pasrah. Jika saja hari ini dia dipecat karena kesalahannya, dia harus melawan.
"Kau pikirkan apa kesalahanmu?" Suara Rangga terdengar tenang, tetapi bagi Kirana itu benar-benar seperti sebuah ancaman.
"Pak, saya tahu saya masuk melalui koneksi, saya mengerti bahwa saya juga tidak cukup pintar untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar Anda, saya juga paham Anda selalu mengatakan kalau saya ini pekerja yang d***u, tapi kali ini yang membuat saya bingung kenapa Anda selalu memojokkan saya? Kenapa Anda sering mempersulit keadaan saya? Kenapa Anda membuat saya seperti seorang pecundang? Apa di mata Anda saya benar-benar bodoh dan tidak pantas berada di sini?" Kirana berkata dengan cepat dan meluapkan emosinya, dia hanya bisa pasrah jika karena hal ini sampai membuatnya kehilangan pekerjaan.
Rangga hanya diam. Melihat lekat Kirana yang masih berdiri tepat di depan pintu. Beberapa perkataan yang diucapkan Kirana sangat pas seperti dugaannya, tentang pekerja d***u, hanya dia yang tahu dengan siapa pernah mengatakannya.
"Ji-jika saja Anda menyuruh saya berhenti saat ini, saya tidak akan melakukannya karena Anda harus memberikan saya banyak kompensasi, kalau tidak saya akan lapor ke Dinas Tenaga Kerja." Kirana berkata lagi dengan suara menantang, biarlah lagi pula semut jika dalam keadaan terpaksa juga akan menggigit gajah besar sebelum dia benar-benar mati terinjak, anggap saja itu adalah perlawanan terakhir melawan raja monster.
Rangga lalu berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Kirana. Membuat wanita itu semakin panik karena baginya Rangga benar-benar akan melumatnya habis karena kata-katanya barusan.
"Baiklah kalau kau masih ingin bertahan di sini, kita lihat saja sejauh apa kemampuanmu Dewi Matahari Terbit." Ucapan Rangga barusan membuat Kirana membesarkan kedua bola matanya.