“Masuk dulu, Mbak,” sila Sarah pada Kiana yang tampak diam di depan pintu apartemen saja. Kiana tercenung pelan. Perempuan itu mengangkat kepala dan menatap Sarah dari balik masker dan topi yang ia gunakan. Ingatannya terbawa pada sebuah kejadian yang baru saja terjadi dengan cepat. Namun, kejadian itu justru terasa sangat lengket di kepalanya, hingga Kiana sendiri merasa dirinya malu. Ah, bagaimana tidak? Jika kalian menjadi Kiana, pasti kalian jika akan merasakan hal yang serupa. Dipergoki orang dalam kondisi tak bagus adalah bencana, sungguh. “Mbak Kiana? Kok diem aja?” tanya Sarah. Keempat perempuan—Kiana, Sarah, dan dua asisten rumah tangga—itu kini sudah masuk ke dalam apartemen Kiana yang luasnya tak terlalu besar. Meski tak terlalu besar, ruangan itu tampak hommy untuk ditemp

