Poligami?

2372 Words
Bu Sarah terkejut melihat keadaan anaknya yang pulang tengah malam dengan mata sembab, Viona berjalan kaki dan masih menggunakan gaun yang sama. Apa yang sudah terjadi? Viona terdiam sejak tadi, Bu Sarah yang tidak tenang karena anaknya tidak mau menjawab pertanyaannya. Untuk itu, Bu Sarah membantu Viona berganti pakaian. Tidak ada yang aneh selain kedua mata Viona yang sembab, pasti ini ulah Galih. Siapa lagi memang, tadi Viona berpamitan padanya ingin menemui laki laki itu karena mobilnya mogok tapi sampai tengah malam Viona baru kembali ke rumah dengan keadaan yang mengenaskan. "Kamu kenapa Vi? ayo ngomong sama ibu." Tidak ada jawaban, Viona hanya menitikkan air mata sebagai jawaban. Membuat Bu Sarah semakin khawatir, tidak biasanya sang anak seperti ini. "Mana Galih? Kenapa kamu pulang sendiri?" Tidak perlu di ragukan lagi, ini pasti ada hubungannya dengan Galih. Viona masih diam, membuat ibunya benar benar geram. Merasa berbicara dengan patung. "Kalau kamu tetap diam, ibu akan pergi ke rumah Galih sekarang!" Akhirnya Viona mendongak menatap ibunya, gadis itu langsung menggeleng. Sang ibu tidak boleh kemana mana, di luar terlalu banyak bahaya. Viona takut jika terjadi apa-apa dengan sang ibu, diamnya Viona karena masih trauma. "Ibu ayo tidur, aku takut." Bu Sarah mengernyit heran, apa yang perlu di takutkan? Apa ada yang berniat melukai Viona? Tapi siapa? Kali ini, tidak mungkin jika Galih yang ingin menyakiti anaknya. Karena kondisi Viona begitu menghawatirkan, Bu Sarah mengangguk. Lebih baik sekarang Viona istirahat dulu, besok pagi di saat anaknya sudah tenang Bu Sarah akan bertanya lagi. Malam ini, Viona tidur di kamarnya. Agar Viona lebih tenang. "Ayo tidur Vi, besok jangan kerja dulu ya. Kamu perlu istirahat." Tidak ada jawaban, tapi Viona mengangguk. Kedua perempuan itu memejamkan matanya, untuk menenangkan Viona Bu Sarah memeluk anak gadisnya. Lalu keduanya sama sama terlelap. -- Galih baru saja masuk ke dalam rumah, melihat sang Ayah yang duduk menghadap laptop. Mengurungkan niatnya ke kamar, Galih menghampiri ayahnya. "Dimana Papa sekap Viona?" Pertanyaan yang sejak tadi Galih tahan, kini sudah tidak bisa di pendam lagi. Pak Haris mendongak, menatap Galih sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. "Pa, dimana kalian sembunyikan Viona?" Galih dengan sabar kembali mengulang pertanyaannya, apa susahnya memberi tahu dimana Viona dan bagaimana keadaannya? "Sudah pulang kamu? Kenapa masih menanyakan Viona? Lebih baik kamu tidur." Jawab pak Haris, Galih mengepalkan tangannya. Dirinya sudah seperti boneka hidup yang harus menuruti keinginan orang tuanya tapi mereka tidak pernah mau mendengarkan Galih. Galih tidak menyangka, jika ingin mendapatkan restu akan serumit ini. Ketika membangun sebuah hubungan dengan seseorang, apalagi untuk hubungan yang serius yakni pernikahan, dipastikan bahwa semua orang berharap ingin membangun hubungan dengan kemantapan hati yang sungguh-sungguh. Harapannya, hubungan ini tak hanya menjadi hubungan yang serius antara dua orang saja yakni kamu dan pasangan tetapi juga keluarga kamu dan keluarga pasangan. Sadar atau tidak, hubungan yang bahagia adalah suatu hubungan yang mendapatkan restu tak hanya dari penguasa alam semesta melainkan juga restu orang tua. Tanpa adanya restu orang tua dalam sebuah hubungan, satu atau dua hal dalam hubungan tersebut pasti tak akan terasa nyaman, bahagia dan tenteram. Jangan salah, ketidaknyamanan tersebut bisa saja terjadi karena Tuhan belum memberikan restunya untuk sebuah hubungan yang sedang berjalan karena Tuhan belum melihat adanya restu dari orang tua pasangan. Perbedaan status sosial, harta, jabatan, Orang tuanya punya kriteria calon menantu yang bertolak belakang dengan kriteria pendamping hidup yang diinginkan Galih. "Kenapa Papa lakuin ini sama Galih?" Tanya Galih, dirinya sudah lelah menghadapi sikap orang tuanya sendiri. Meski kelihatannya alasan orangtuanya tidak memberikan restu sangat berbelit dan sulit diterima oleh Galih, namun di balik semua alasan itu, orangtua hanya menginginkan yang terbaik untuk pendamping hidupnya. Semua orangtua pastinya ingin sang anak hidup bahagia dengan pendamping hidupnya kelak, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya hidup menderita setelah menikah. Restu orangtua menjadi hal penting sebelum seseorang memutuskan untuk menikah. Walau begitu, memang ada beberapa pasangan yang menikah tanpa restu. Tidak adanya restu orangtua bisa mendatangkan masalah, khususnya terhadap hubungan antara orangtua dengan anak. Galih pernah mempunyai pemikiran, jika dirinya menikah tanpa dihadiri orangtua atau wali mungkin tidak berpengaruh pada sahnya pernikahan. Namun demikian, akan lebih terasa khusyuk dan jika orangtua memberikan restunya. Namun, Galih yakin Viona tidak akan pernah setuju dengan pilihannya. "Karena Papa muak melihat kamu selalu membela Viona di depan kami, kamu terlalu bangga mengenal Viona." Hanya itu? "Tapi ini udah keterlaluan Pa, seharusnya kalian enggak perlu menyekap Viona seperti ini. Gimana kalau Viona trauma bertemu orang asing? Mental orang itu beda beda." Galih yakin pasti sekarang Viona mengalami trauma, dan lebih parahnya lagi Galih tidak bisa berbuat apa-apa. "Papa enggak peduli, lebih baik menyiapkan semua keperluan pertunangan kalian. Kami melakukan perjodohan ini demi kebahagiaan kamu Galih, kamu harus terima dengan ikhlas." Ujar pak Haris dengan gampang. Kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Pun, ada banyak cara bertemu pasangan hidup. Salah satunya, melalui perjodohan oleh orang tua. Sayangnya, tak sedikit yang pesimistis dengan cara ini karena seringkali calon pasangan yang dijodohkan tak sesuai kriteria. Ada juga yang berpikiran, gengsi. Di zaman serba modern masih ada perjodohan layaknya era Siti Nurbaya. Dan Galih, tidak menyukai perjodohan karena dirinya sendiri sudah memiliki kekasih. Setiap orangtua tentu menginginkan masa depan yang baik dan terbaik untuk anaknya, tak terkecuali untuk masalah pasangan hidup. Sayangnya, tidak sedikit yang kemudian memutuskan memilih pasangan untuk anaknya. Alhasil, pernikahan dijodohkan pun kerap terjadi. Namun, perjodohan ini terjadi karena harta dan saham. Galih seperti di jual untuk kepentingan mereka sendiri. Pernikahan merupakan momen sakral yang diidamkan banyak orang. Proses menuju tahap pernikahan pun tidak asal, melainkan penuh pertimbangan. Namun, terkadang seseorang terjebak dalam keadaan keterpaksaan, tentu dengan berbagai alasan. Pernikahan merupakan perjalanan panjang, maka dari itu Galih hanya ingin menikah dengan Viona. Bagi Galih, menikah karena terpaksa dan dalam perjalanannya sulit menyesuaikan hingga sering terjadi ketidaksesuaian, hari-hari akan terasa lambat dan penuh beban. Rasanya tak sedetik pun ada celah kebahagiaan karena dirundung kecemasan. "Kenapa Papa begitu yakin, kalau Galih akan bahagia dengan perjodohan ini? Perlu berapa kali, Galih katakan. Galih hanya ingin menikah dengan Viona." Keputusan menikah dengan penuh keterpaksaan juga akan menimbulkan rasa bersalah yang berkepanjangan. Rasa bersalah ini bukan hanya kepada diri sendiri, namun juga kepada keluarga apabila pasangan setelah menikah memiliki sikap atau tindakan tidak sesuai dengan yang diharapkan keluarga Felly. Bisa jadi keluarga Felly bisa memaklumi, namun rasa menyesal dalam hati selalu menghantui. Menikah dianggap sebagai formalitas yang memberatkan dan membuat hidup manusia justru menjadi banyak masalah. Padahal sejatinya menikah adalah melengkapi kebahagiaan hidup. Pastinya menikah tanpa ada rasa cinta akan membawa dampak buruk maupun kerugian. Apalagi, Galih akan menjalani pernikahan yang terjadi karena perjodohan, apa Galih mampu menjadi suami dan kepala keluarga yang baik? Sementara hatinya masih bertaut pada Viona. Bukankah itu akan menyakiti Felly dan keluarganya? Pekerjaan pak Haris sudah selesai, kini laki laki paruh baya itu menatap Galih. "Kamu tetap ingin menikah dengan Viona? Mungkin kami akan mengizinkan kamu menikah dengan gadis itu, tapi kalian hanya menikah secara agama. Karena istri yang akan kami akui sebagai menantu hanyalah Felly," Tunggu dulu, ini maksudnya Galih harus melakukan poligami? Tidak, Galih tidak setuju jika harus menjadikan Viona sebagai istri kedua. Laki laki itu hanya ingin Viona menjadi yang pertama dan satu-satunya. "Sampai kapanpun, aku enggak mau menikah dua kali." Tegas Galih. Selain tidak mau menjadikan Viona sebagai istri kedua, dirinya sudah pasti tidak bisa berperilaku adil. Galih akan lebih sering bersama Viona, karena sejak awal tidak ada cinta di antara dirinya dan Felly. Menikah itu bukan hanya antara satu pria dengan satu wanita. Akan tetapi dengan keluarganya juga, baik keluarga inti. Orang tua memang sudah makan asam garam dalam hidup ini, tapi tetap kita juga yang menjalani pernikahan nantinya. Apabila orang tua menolak calon pasangan hidup kita, didengarkan dulu, tapi jangan ditelan bulat-bulat. Semua orang tentunya ingin pasangan diterima oleh seluruh anggota keluarga. Lebih baik lagi jika pasangan bisa menjadi bagian keluarga layaknya anak sendiri. Namun hal seperti ini tak selalu bisa terjadi. Seringnya menantu atau calon menantu justru tak akrab dengan mertua. Ketidaksetujuan orangtua bisa menjadi faktor eksternal yang sanggup mengguncang sebuah hubungan. Dalam banyak kasus, pasangan memutuskan untuk berpisah karena tak adanya restu dari orangtua. Para orangtua bisa menunjukkan ketidaksukaan terhadap calon pilihan sang anak secara halus maupun terang-terangan. Sementara kita tidak ingin merasa seperti dipaksa untuk memilih satu di antara dua pihak yang sama-sama penting. "Berarti kamu siap menikah dengan Felly, gadis pilihan kami." Jodoh memang di tangan tuhan, tetapi terkadang orang tua punya pilihan pendamping untuk kebahagian sang anak. Padahal tidak semua orang akan menerima perjodohan yang dipilih orang tuanya. Karena, mungkin mereka sudah mempunyai pilihan kepada siapa Ia memberikan hatinya yang tepat. Dan itu yang sekarang di alami oleh Galih. orang tua memang tidak selalu benar, tapi satu hal yang bisa dipastikan, setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka tidak memberi restu bukan tanpa alasan, hal-hal yang membuat mereka tidak menyukai pilihan Galih salah satunya karena Viona tidak berasal dari keluarga berada. Itu poin yang utama, dan selanjutnya karena gadis itu tidak berpendidikan. Menurut pak Haris, tidak ada yang bisa di banggakan dari Viona. "Galih hanya akan menikah dengan Viona, sampai kapanpun perjodohan ini tidak akan sampai pernikahan." Setiap orang pasti memiliki impian untuk menikah dengan orang yang mencintai dan dicintainya. Tentu menyenangkan menua bersama dengan orang yang memiliki perasaan yang sama dengan kita. Tapi adakalanya hidup tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana. Orang yang kita cintai belum tentu akan dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Bisa jadi orang yang menikah dengan kita adalah orang yang hadir dengan proses perjodohan orangtua. Haruskah Galih menolak perjodohan? Keputusan menikah merupakan keputusan besar yang diambil oleh seseorang, karena mereka yang menikah berarti telah mempersiapkan dirinya untuk hidup bersama bersama pasangannya dengan tabiat dan sifat yang berbeda, selain itu menikah juga berarti harus benar-benar siap untuk berfikir secara mandiri dalam kehidupan "Dasar keras kepala, Viona hanya ingin harta kamu. Sementara Felly, dia sudah punya segalanya. Pilihan kami jauh lebih baik, daripada pilihan kamu sendiri. Viona tidak cukup baik untuk di jadikan istri, berhenti menyebutkan nama gadis itu karena besok malam kamu akan bertunangan dengan Felly." Ucap pak Haris tidak menerima bantahan lagi, terlalu lelah jika harus bertengkar karena Viona. Selama janur kuning belum melengkung, Galih masih bebas menentukan pilihannya. Yang jelas, bukan Felly yang akan menjadi istrinya kelak. Segala cara akan Galih lakukan demi mendapatkan restu. "Aku enggak mau menikah karena terpaksa, perjodohan ini tidak menjanjikan kebahagiaan. Kalian terlalu terobsesi dengan harta, padahal kalian cukup mampu bertahan hidup tanpa menjadi besan keluarga Felly." "Ini bukan hanya soal harta, tapi tentang nama baik keluarga dan martabat keluarga kita." Demi nama baik keluarga, pak Haris tidak mau merestui hubungan mereka. Tidak semua orang bisa menemukan jodohnya dengan mudah. Kadang seseorang harus melewati beberapa kali kegagalan. Hatinya mungkin sudah cinta, tapi ada penghalang yang memberatkan. Entah itu datang dari keluarga atau pihak luar. Sulit rasanya membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius. Boleh jadi, segala hambatan itu menunjukkan kalau dia bukan jodohmu. Tapi ketika jodohmu ketemu, lihat saja, segala prosesnya akan mudah dan lancar. Tidak ada kesulitan untuk mendapat restu orangtua dan tidak juga berat membahas soal pernikahan. Sebab sifat jodoh itu mudah dan meyakinkan. Hanya saja, menemukan jodoh itulah yang mungkin perlu waktu lebih panjang bagi sebagian orang. Mengapa jodoh sering diibaratkan cerimanan diri? Alasannya sangat logis, sebab kamu bakal lebih sering bertemu dengan orang-orang di mana kamu berkecimpung. Lingkar sosial itulah yang akhirnya mempertemukanmu dengan jodoh. Dia yang punya "dunia", kegemaran, dan tujuan hidup yang selaras denganmu. Sejauh mana kamu memperbaiki diri, sebenarnya bukan hanya demi mendapatkan jodoh terbaik, tapi demi kemajuan hidupmu sendiri. Tingkatkan kualitasmu, maka dia yang berkualitas juga bakal menghampirimu. Jodoh adalah rahasia Tuhan layaknya kematian yang nggak bisa dipertanyakan. Kamu hanya bisa mencari, lalu menyerahkan keputusan jodoh pada takdir. Gantungkan harapanmu dalam doa-doa, dan yakinlah Tuhan akan memberimu jodoh terbaik. "Apa artinya menjaga nama baik jika keadaan keluarga kita tidak baik? Apa Galih harus mengorbankan kebahagiaan Galih sendiri untuk menjaga martabat keluarga kita?" Dampak positif yang terjadi adalah terciptanya keharmonisan terhadap rumah tangga, dan dampak negatif ialah perceraian yang disebabkan karena kurangnya penyesuaian kedua belah pihak. Mengenai perjodohan, sebenarnya ini bukan suatu hal yang menakutkan. Sebaiknya, selama kita ikhlas dan menerima dengan baik jodoh yang dikenalkan ke kita, kita pun bisa hidup sangat bahagia. Melalui perjodohan, tidak sedikit pasangan yang akhirnya mendapatkan cinta terbaik mereka. Mengenal pasangan setelah menikah akan terasa unik dan menarik. Ketika saling mengenal dan mengetahui sifat-sifat satu sama lain, ini menjadi pengalaman baru baru kalian. Perkenalan setelah pernikahan juga mengajarkanmu untuk menjadi pribadi yang lebih sabar. "Kamu akan bahagia jika kamu bisa menerima Felly dengan baik." Banyak pasangan kekasih yang akhirnya memutuskan hubungan mereka di tengah jalan. Saat perasaan cinta di hati keduanya sedang besar-besarnya, keduanya bisa saja dengan sekejab merasa sakit hati, kecewa dan terluka secara berlebihan ketika hubungannya harus putus dan gagal menikah. Sedangkan untuk mereka yang dijodohkan, mereka bisa meminimalisir rasa sakit hati berlebihan karena sebelum menikah umumnya keduanya belum memiliki cinta yang sangat mendalam antara satu dengan lainnya. Saat orangtua, saudara atau sahabat mencoba menjodohkan kita dengan seseorang, sudah pasti orang yang akan dijohkan tersebut bukan sembarang orang. Orangtua pasti telah memilihkan jodoh yang terbaiknya buat kita. Terbaik tersebut bisa dari segi agama, finansial, pekerjaan juga budi pekertinya. Lewat perjodohan, sangat memungkinkan bagi kita mendapatkan jodoh terbaik. Ketika dijodohkan dan ternyata kita belum menemukan kecocokan, kita bisa mengutarakan hal tersebut. Saat kita mengutarakan isi hati kita, semua orang yang terlibat dalam perjodohan ini tentunya sudah sama-sama siap menerima penerimaan pun penolakan. Kalau pun ada penolakan, sakit hati yang dirasa tidak terlalu berlebihan. Karena cinta tak bisa dipaksakan, perjodohan yang nantinya melibatkan cinta juga tak bisa dipaksakan. Perjodohan bisa datang dari mana saja, namun kebanyakan perjodohan dilangsungkan berkat kesepakatan keluarga. Misalnya, rekan orangtua, teman om, tante, kakak, adik dan urutan keluarga kamu lainnya. Jalinan perjodohan ini biasanya lebih mendapat respons yang lebih cepat dan cenderung pasti. Ya, pasti direstui. Karena kedua belah pihak merasa sudah mengenal satu sama lain, sehingga tidak ada kata ragu untuk melangsungkan perjodohan kamu dan si calon pasangan pilihan. Saat dijodohkan, pihak ketiga pasti mencarikan calon pasangan yang setara dengan kriteria yang kamu inginkan. Misalnya, penampilan, pekerjaan, hobi, pendidikan sampai status. Banyaknya kesamaan dianggap mempercepat perjodohan. Orangtua juga memiliki insting lebih kuat terkait kebahagiaan anaknya dan inilah yang sedang di alami oleh Galih. "Apapun yang terjadi nanti, Galih hanya akan menikah dengan Viona."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD