Viona menatap nanar sebuah foto yang ada di ponsel laki laki asing itu, hampir satu jam Viona di sekap. Tidak ada seorang pun yang mau datang menolongnya, atau lebih tepatnya tidak ada yang tau jika dirinya berada di rumah tua ini. Tidak ada air mata yang menetes, tapi hatinya begitu sakit. Dirinya sejak tadi menunggu Galih dan datang, tapi yang di lakukan laki laki itu tidak seperti yang Viona harapkan. Galih terlelap dalam pelukan Felly, mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai.
Selama ini, Galih terlalu pandai menutupi perasaannya pada Felly. Galih terlalu pandai berbohong, sampai Viona tidak bisa melihat dimana kebohongan ini berasal.
"Dia sudah bahagia, berhenti menjadi wanita bodoh."
Kini laki laki itu melakukan panggilan video dengan temannya, tapi layar ponselnya tetap di arahkan pada Viona.
"Lihat, siapa yang ada disana."
Galih dan Felly terlihat memakai baju yang serasi, Viona ingat jika gaun itu yang tadi siang di ambil dari butik tempatnya bekerja. Disana tidak hanya ada mereka berdua, tapi cukup ramai. Mungkin Felly memesan gaun untuk di pakai ke acara rekan bisnis Galih, dan akhirnya Viona terlupakan.
Pak Haris membuat para tamu undangan terdiam, sebelumnya ayah dari Galih itu memang sudah meminta izin untuk menyampaikan hal penting malam ini.
"Selamat malam, saya ucapkan terimakasih karena sudah mengundang kami sekeluarga untuk datang ke acara pernikahan Frans. Dan malam ini, saya juga akan menyampaikan kabar gembira untuk kita semua." Pak Haris tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya.
"Seperti yang sudah kalian ketahui, saya hanya memiliki seorang anak laki laki. Anak laki laki yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga kami, malam ini saya mengundang bapak ibu semua untuk hadir di acara pertunangan Galih dan Felly besok malam."
Deg
Tidak ada yang lebih mengejutkan dari pertunangan Galih dan Felly, besok malam semuanya akan berakhir. Laki laki yang menemaninya beberapa tahun terakhir, akan menjadi milik dokter cantik itu. Entah siapa yang memulai, mereka berdua malah bergandengan tangan. Galih juga terlihat tersenyum mendengar ucapan pak Haris, baru kali ini Viona tidak menyukai senyuman laki laki itu. Mungkin karena bukan Viona yang menjadi alasan senyuman itu.
"Ini anak saya, dan perempuan cantik di sebelahnya bernama Felly. Seorang dokter muda, saat ini bekerja di rumah sakit milik keluarganya." Viona tersenyum pahit, banyak sekali yang bisa di banggakan dari Felly.
Panggilan video terhenti, laki laki asing itu mengambil ponselnya.
"Lepaskan Galih, keadaan berulang kali sudah mengingatkan kamu. Kalian tidak akan pernah bisa bersama, jangan pernah melawan Restu. Karena Galih tidak akan pernah menjadi milik gadis miskin."
Viona mengabaikan ucapan ucapan yang semakin menyakiti hatinya, gadis itu masih tidak menyangka jika Galih mau menerima perjodohan itu. Dimana Galih yang selalu ingin bersamanya? Sehari tidak ada kabar, ternyata Galih sibuk menyiapkan acara pertunangannya.
Miris, jika saja Galih mengatakan semuanya. Viona tidak perlu memakai gaun mahal ini, dan dirinya juga tidak perlu menunggu Galih selama berjam-jam dan berakhir di rumah tua.
"Mas Galih emang pantas bahagia," lirih Viona tapi masih bisa di dengar laki laki asing itu.
"Mau bermain main lagi?"
Kali ini Viona tidak menunjukkan ketakutannya melihat pisau, jika tidak teringat sang ibu yang menunggunya di rumah Viona akan menyerahkan diri dengan suka rela untuk di habisi. Namun, jika dirinya mati karena di bunuh bagaimana nasib ibunya?
"Kalau saja aku sekarang hidup sendiri, mungkin aku rela di bunuh malam ini. Tapi sayang, hidupku bukan hanya perihal mencintai mas Galih. Ada seorang ibu yang sedang menunggu anaknya pulang," ucap Viona.
Gadis itu tidak mau terlalu memikirkan Galih, jika memang laki laki itu lebih memilih Felly dirinya tidak bisa apa-apa.
Tanpa mengatakan apapun, laki laki suruhan pak Haris yang sejak tadi menyekap Viona melepaskan satu persatu ikatan pada tubuh gadis itu.
"Jangan menjadi bodoh karena cinta, Galih sudah bahagia bersama perempuan lain. Cari kebahagiaanmu sendiri, yang pasti bukan dengan Galih."
Viona mengangguk, kekecewaan malam ini sungguh membuatnya sadar. Sedalam apapun cintanya untuk Galih, laki laki itu tidak akan pernah menjadi miliknya.
--
Jika Viona melihat Galih bahagia saat sang Ayah mengumumkan tanggal pertunangannya, itu tidak benar. Galih memang menggenggam tangan Felly, tapi hatinya masih di genggam erat oleh Viona. Galih melakukan itu semua bukan tanpa alasan, pak Haris menunjukkan sebuah video dimana Viona tengah di sekap oleh orang suruhannya. Sang ayah sudah tahu apa kelemahannya, menggunakan Viona sebagai alat untuk mengancam Galih dan membuatnya tunduk dengan mudah.
Mendapatkan perlakuan manis di depan umum, Felly di buat salah tingkah oleh perbuatan manis Galih. Gadis itu tidak tahu, jika ada nyawa seorang gadis yang di pertaruhkan hanya untuk membuat semuanya terlihat baik baik saja.
"Maksud kamu tadi apa?" Tanya Felly, mereka sekarang berada di dalam mobil.
Galih menoleh, menghela nafas pelan. Sudah menduga, jika Felly akan berfikir macam macam.
"Jangan terlalu menaruh banyak harapan, kalau kamu tidak ingin kecewa."
"Aku enggak berharap, tapi kamu yang jelas jelas kasih kau harapan." Bantah Felly, sikap Galih sepanjang acara menunjukkan jika laki laki itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi lihat sekarang, sikap dinginnya sudah kembali. Dan Felly sangat tidak menyukai Galih yang bersikap dingin seperti ini.
"Semua itu hanya terjadi sekali, tidak akan pernah terulang." Pikiran Galih begitu kacau, ingatannya kembali pada saat melihat video di ponsel ayahnya. Viona di sekap, dan gadis itu ketakutan melihat pisau yang menempel di wajahnya.
"Kalau kamu enggak mau aku berharap, jangan memberikan harapan." Ocehan Felly hanya di anggap angin lalu, sekarang Galih hanya ingin bertemu Viona.
Malam ini, Galih harus berhasil kabur lagi. Apapun caranya, hanya untuk memastikan bahwa gadisnya sudah kembali ke rumah dengan selamat.
"Aku cuma perempuan biasa, aku gampang baper kalau kamu bersikap manis. Tapi sayang, semuanya palsu."
Tidak ada respon apapun dari Galih, membuat Felly kesal setengah mati. Apa yang di pikirkan calon tunangannya, pasti tidak jauh dari Viona. Gadis itu seharusnya segera di singkirkan dari kehidupan Galih, jika tidak akan menjadi penghalang terbesar dalam hidupnya.
"Kenapa diam? Kamu pasti sibuk mikirin Viona."
"CUKUP FELLY!" bentak Galih, dirinya sedang mengalami banyak masalah. Tapi apa yang di lakukan Felly sangat tidak membantunya, tidak pernahkah Felly mengalami masalah dalam hidupnya? Sepertinya tidak, karena Felly adalah sumber masalah bagi orang lain.
"Saya sudah cukup sabar menghadapi kamu sejak tadi, jangan pernah sebut nama Viona. Karena kamu tidak tau apa apa soal kami, kamu tidak akan pernah mengerti!" Tekan Galih, jika bukan demi menyelamatkan Viona dirinya juga tidak sudi bersikap baik pada gadis itu.
Felly tanpa sadar meneteskan air matanya, dirinya tidak suka jika ada yang berperilaku kasar padanya.
"Hiks, kamu jahat."
Galih menoleh, mendapati gadis itu sedang menangis. Astaga! Ini akan menimbulkan masalah baru. Dengan cepat, Galih menarik tubuh ramping Felly kedalam pelukannya. Semua itu dilakukan demi Viona, Galih takut jika perempuan itu mengadu pada orang tuanya dan berakhir pada nyawa Viona yang kembali terancam.
"Maaf, saya tidak sengaja bentak kamu. Saya, sedang banyak pikiran." Sesal Galih, seharusnya demi Viona dirinya harus menambah kesabarannya saat menghadapi Felly.
Tangan Galih terulur mengusap wajah Felly, mengusap air mata gadis itu. Ternyata memang benar gadis itu menangis, kenapa cengeng sekali? Padahal Viona sering mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya, tapi Viona tidak pernah menangis.
Galih mengagumi semua yang ada dalam diri Viona, apapun itu. Dan sekarang, apa yang di lakukan hanya demi Viona. Jujur, Galih belum siap untuk bercerita tentang pertunangannya dengan Felly pada Viona.
Felly membalas pelukan Galih, sungguh nyaman. "Jangan di ulang, aku enggak suka di bentak. Kamu harus terbiasa menghadapi aku mas, aku emang manja. Rasanya enggak salah, kalau aku manja sama calon suamiku sendiri."
Gila, mereka belum resmi bertunangan tapi Felly sudah mengklaim dirinya sebagai calon suami. Ya Tuhan, rasanya Galih ingin sekali kabur dari rumah karena acara pertunangannya akan dilakukan besok malam. Terlalu mendadak, hingga Galih belum menyiapkan rencana untuk kabur.
"Hm, saya masih berusaha." Usaha yang Galih maksud adalah berusaha untuk kabur, mana mau Galih mengorbankan cintanya?
Felly mengangguk dalam pelukannya, terlalu nyaman hingga gadis itu merasa mengantuk.
"Mas."
"Kenapa?" Sudah sering, Galih menolak di panggil mas oleh Felly. Karena bagi Galih, hanya Viona yang boleh memanggilnya mas.
"Aku ngantuk." Ucap Felly manja, semua itu di lakukan demi mendapatkan perhatian dari Galih.
Dalam hatinya, Galih berulang kali mengucapkan kata sabar. Semoga kesabarannya bertambah, dan bisa menghadapi Felly yang selalu ingin di perhatikan.
"Tidur, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan."
Gadis itu menurut, tidak mau membuat Galih marah karena dirinya terlalu banyak menuntut. Beberapa menit kemudian, Galih melihat Felly sudah terlelap. Andai saja ini Viona, Galih pasti merasa tenang.
Pikirannya tidak bisa tenang, bagaimana sebuah pernikahan bisa berjalan dengan semestinya jika tidak berlandaskan cinta? Galih menggeleng, pernikahan mereka tidak akan terjadi. Janjinya pada Viona harus di tepati, janji untuk mendapatkan restu dan mereka akan hidup bersama. Selama janur kuning belum melengkung, kemungkinan besar Galih dan Viona masih bisa bersatu.
Mobilnya berhenti di depan rumah Felly, karena gadis itu masih terlelap dalam tidurnya dengan terpaksa Galih mengendongnya masuk ke dalam rumah.
"Loh Felly kenapa nak?" Tanya ibu Felly panik, tadi sebelum berangkat anak gadisnya masih baik baik saja.
Sedikit tersenyum, Galih menjelaskan bahwa Felly hanya tidur.
"Sepertinya kecapekan Tan, makanya ketiduran."
"Syukurlah, Tante kira pingsan. Yasudah, kamu antar Felly ke kamarnya ya. Di lantai dua, pintu berwarna putih."
Galih mengangguk, lebih cepat lebih baik. Dirinya harus segera sampai di rumah, ada banyak hal yang harus di urus. Setelah menyelimuti tubuh Felly, Galih langsung keluar dari kamar gadis itu. Tidak lupa, Galih juga menutup pintu kamarnya.
"Nak Galih, boleh kita bicara sebentar?"
Galih mengangguk, walaupun keberatan tapi tidak sopan jika menolak tawaran ibu Felly.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu, hanya ada ibu Felly dan Galih. Mungkin suaminya sedang tidak ada di rumah, Galih juga tidak mau bertanya apapun tentang keluarga ini.
"Ini menyangkut pertunangan kalian, tadi orang tua kamu memberi kabar jika besok malam pertunangan kalian akan di lakukan."
Galih masih menunggu pembicaraan ini selesai, jika di lihat sepertinya ada banyak keraguan di dalam diri ibu Felly.
"Apa kamu benar-benar mau bertunangan dengan Felly karena rasa suka, atau karena paksaan kedua orang tua kamu?" Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, karena semua orang sudah tahu jika dirinya terpaksa menerima perjodohan ini. Jika bukan karena nyawa Viona, mana mau Galih bersikap manis pada Felly.
"Saya tidak suka basa basi Tan, saya memang melakukan ini semua karena orang tua saya."
"Jadi?"
"Saya sudah berusaha menolak, tapi mereka menghalalkan segala cara untuk membuat saya tunduk. Salah satunya, mengunakan orang yang saya cintai, untuk membuat semua orang percaya jika saya mencintai Felly." Jawab Galih jujur, tidak ada yang perlu di tutup tutupi. Mungkin jika ada orang yang mau mendengarkannya, masalahnya akan sedikit berkurang.
"Apa kamu sudah punya pacar?" Dengan cepat Galih mengangguk, bahkan Viona sudah di anggap sebagai calon istri.
"Hubungan kami sudah berjalan bertahun tahun, kami sudah sama sama siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun, orang tua saya tidak kunjung memberi restu. Dan lebih parahnya, mereka malah menyiapkan pertunangan saya dengan perempuan lain. Berulang kali saya menolak, tapi mereka tidak pernah mau mendengarkan. Saya tidak yakin, jika pernikahan saya dengan Felly akan berhasil. Apa mungkin, saya mampu mencintai dua perempuan sekaligus?"
Katanya, seseorang akan mudah jatuh cinta jika keduanya sering bertemu dan saling terbuka. Tapi hal itu tidak berlaku untuk mereka, Galih sangat mencintai Viona sampai kapanpun hanya Viona yang ingin Galih nikahi.
"Lalu kenapa kamu tidak mencoba menjelaskan jika kamu tidak menyukai Felly? Apa kamu berniat memberi Felly harapan?"
"Semuanya sudah saya jelaskan, dan Felly juga sudah tahu kalau saya masih mencintai perempuan lain. Tapi Felly tetap kekeh ingin melanjutkan perjodohan ini, lalu apa yang harus saya lakukan? Meninggalkan orang yang sudah lama bersama saya tidak mudah, dan saya tidak mudah membuka hati untuk orang baru. Apa Tante rela, liat saya menikah dengan Felly tapi hati saya milik perempuan lain? Ini salah, tapi saya tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Kalau tante ingin saya menikah dengan Felly mungkin itu akan terjadi, tapi kalau tante meminta saya untuk mencintai Felly. Maaf, itu enggak akan pernah bisa."
Semua orang berhak memperjuangkan cintanya, termasuk Galih. Dan benar apa yang di katakan Galih, mungkin mereka bisa memaksanya untuk menikah dengan Felly. Namun, untuk mencintai Felly tidak ada seorangpun yang bisa memaksa Galih melakukan itu. Cinta tidak bisa dipaksakan, dan apa jadinya jika mereka menikah tapi cinta Galih masih di miliki perempuan lain.
"Tante, akan bantu kamu. Terimakasih sudah membuat Felly bahagia malam ini."