Bu Sarah menatap kagum Viona yang sudah menggunakan gaun pemberian Galih, anak gadisnya terlihat cantik dan anggun. Dalam hati Bu Sarah berdoa, semoga kebahagiaan selalu bersama Viona.
"Bu, apa make up nya ketebalan?" Tanya Viona, karena dulu pernah bekerja di salon jadi Viona bisa make up walaupun hanya sedikit. Dengan alat make up seadanya, Viona memoles wajah cantiknya.
Make up natural, sangat cocok untuk Viona. Bu Sarah tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati anaknya.
"Enggak, kamu udah cantik." Wajah Viona bersemu, apa nanti Galih juga akan berkata seperti itu? Mengingat Galih, bahkan sampai saat ini laki laki belum ada kabar sama sekali. Tentu saja membuat dirinya khawatir, kenapa Galih tidak menghubunginya lagi padahal tadi pagi sempat menghubungi Fanika.
Melihat wajah murung anaknya, Bu Sarah tahu apa yang penyebabnya.
"Galih pasti sibuk." Ucap Bu Sarah menenangkan Viona, apa benar laki laki itu sedang sibuk? Lalu, apa mereka tetap berangkat. Viona tidak keberatan jika tidak jadi pergi, karena lebih baik dirinya di rumah saja.
"Dari pagi mas Galih belum ada kabar bu, aku khawatir." Viona berdiri, lalu duduk di pinggir ranjang.
"Jangan terlalu khawatir, pasti Galih datang. Sabar nak, mungkin Galih lagi di jalan."
"Tapi ponselnya enggak aktif." Kecemasan Viona bertambah saat ponsel Galih tidak bisa di hubungi, tidak biasanya Galih melakukan hal ini padanya. Sesibuk apapun laki laki itu, pasti masih sempat memberikannya kabar.
"Tunggu aja di depan, ayok ibu temani." Ajak Bu Sarah, lalu keduanya keluar dari kamar. Mereka berdua menunggu Galih di ruang tamu, kasihan juga melihat Viona cemas seperti sekarang.
--
"Masuk." Suara dingin pak Haris selalu menjadi hal yang tidak Galih sukai, bagaimana bisa seorang ayah begitu tega pada anaknya sendiri tapi bersikap lembut dengan anak orang lain.
Malam ini, Galih sudah bersiap akan datang ke pernikahan Frans. Rencananya gagal, orang tuanya memaksa dirinya untuk datang bersama Felly. Padahal, Galih sudah mengatakan jika sekarang Viona pasti sudah menunggunya. Namun, apa yang Galih katakan tidak pernah di dengar pak Haris dan Bu Farah mengabaikan ucapan anaknya.
"Aku bisa masuk sendiri." Saat keluar dari kamar, sampai menuju mobil Galih di kawal beberapa bodyguard. Dan sialnya, bodyguard itu juga akan masuk kedalam mobil. Tidak hanya itu, mereka akan mengawal Galih menjemput Felly, dan memastikan mereka berdua benar benar sampai di acara Frans tepat waktu.
Sementara itu, pak Haris dan Bu Farah mengikuti mereka dari belakang. Mereka dan para bodyguardnya, sengaja melakukan itu agar Galih tidak bisa kabur. Sekarang, yang ada di pikiran Galih hanya Viona. Pasti gadisnya sudah menunggunya sejak tadi, jangankan untuk pergi menjemput Viona untuk keluar dari mobil ini saja Galih tidak bisa.
Galih tau, pasti Viona akan marah karena dirinya sudah mengingkari janjinya. Tapi mau bagaimana lagi, ini bukan kemauannya sendiri. Ini paksaan dari orang tuanya, Galih sudah tidak punya hak untuk melawan.
"Bagus, jika kamu berusaha kabur. Papa pastikan, kamu enggak akan pernah bisa ketemu Viona." Ancam pak Haris, sekarang laki laki paruh baya itu selalu menggunakan Viona sebagai alat untuk mengancam Galih. Karena pak Haris tau, Viona adalah kelemahan anaknya.
Saat sang Ayah ingin melukai Viona, ingin sekali Galih memeluk dan melindungi gadis itu sekarang. Namun, tidak mungkin. Dengan terpaksa, Galih masuk kedalam mobil.
Mobil Galih berjalan dengan kecepatan sedang, jika tidak salah ini adalah jalan menuju rumah Felly. Sepanjang perjalanan, Galih hanya diam. Diam diam, ingin menghajar para bodyguard yang duduk di sampingnya. Kenapa mereka begitu tenang, sementara Galih kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk kabur.
"Di bayar berapa kalian?" Tanya Galih, pandangannya tetap ke depan tanpa perlu menoleh pada bodyguardnya.
Salah satu bodyguardnya menoleh, sedikit canggung mendengar pertanyaan itu. Apalagi, nada bicara Galih yang tidak bersahabat. Jika bukan karena uang, mereka juta tidak mau melakukan ini semua. Mereka juga memiliki perasaan, melihat perjuangan Galih untuk menemui kekasihnya cukup membuat mereka terkesan. Galih tidak tanggung tanggung dalam memperjuangkan cintanya, padahal mereka juga tahu gadis yang saat ini di jodohkan dengannya adalah seorang dokter dan berasal dari keluarga berada. Namun, Galih sama sekali tidak goyah. Mereka tidak tega sebenarnya, tapi karena mereka juga membutuhkan uang. Mereka tidak boleh merasa kasihan dengan Galih.
"Lima belas juta."
Galih tidak heran, jika sang Ayah berani membayar mahal setiap bulannya. Pak Haris, akan mengeluarkan banyak uang dengan percuma. Karena pada akhirnya, Galih tidak mau menikah dengan gadis itu.
"Kalian sudah berkeluarga?"
Keduanya mengangguk, " kami semua sudah memiliki anak, malam ini kami tidak pulang. Padahal, saya udah janji akan mengajaknya bermain setelah pulang bekerja." Menikah dan memiliki anak, adalah gambaran keluarga yang sempurna.
Walaupun mereka hidup sederhana, tapi mereka bahagia karena menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang mereka inginkan bukan karena paksaan.
"Maaf, gara gara saya kamu gagal bertemu keluarga." Sesal Galih, dirinitu tidak menyesal karena sudah menolak bertemu Viona tapi menyesal karena membuat para ayah tidak bertemu anak anaknya. Pasti gadisnya anak anak itu sedang menunggunya di rumah, berharap ayahnya cepat datang dan mereka akan bermain bersama. Ah, tiba tiba Galih malah teringat Viona.
"Boleh pinjam ponsel kamu sebentar?" Dirinya ingin mengirim pesan pada Viona, bahwa dirinya tidak bisa menjemput karena ada beberapa kendala.
Kedua bodyguardnya menggeleng, sudah menjadi kesepakatan bersama pak Haris tidak ada yang boleh meminjamkan ponselnya pada Galih.
"Maaf tuan, tapi kami tidak di perbolehkan meminjamkan ponsel." Jawab bodyguard itu tidak enak hati, takut jika Galih akan marah.
Pak Haris memang begitu teliti dalam menjaga anaknya, Galih hanya bisa mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Kepalanya terasa begitu berat, entah apa yang akan terjadi malam ini. Galih sudah cukup lelah, tanpa sadar Galih terlelap dalam tidurnya. Para bodyguard, menatap Galih iba. Kasihan sekali Galih, hidupnya memang serba kecukupan tapi juga penuh dengan tekanan. Selama perjalanan, mereka membiarkan Galih tetap tidur. Lebih baik begitu daripada Galih terus melawan.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah. Para bodyguard keluar dari mobil dan mempersilahkan Felly untuk masuk kedalam mobil, jangan tanya dimana Galih karena laki laki itu masih tetap terlelap.
Felly tersenyum tipis melihat Galih tertidur, gadis itu merubah posisi Galih menjadi bersandar di bahunya. Aroma parfum Galih membuatnya tenang, andai saja Galih sudah bisa menerima perjodohan ini pasti dirinya akan bertambah bahagia. Felly yang sejak awal sempat ragu untuk menerima perjodohan ini, akhirnya memutuskan untuk menjalani semua. Gadis cantik itu terpikat melihat Galih pertama kali, sikap dinginnya Galih menandakan bahwa laki laki itu pasti setia pada Viona. Mungkin, Felly akan merasa kesulitan untuk membuat Galih mencintainya tapi secara perlahan mereka akan saling mencintai.
"Pantas saja Viona enggak mau jauh dari kamu," batin Felly. Gadis itu tengah mengagumi ketampanan calon suaminya, dalam keadaan terlelap Galih masih tetap terlihat tampan.
Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti, acaranya mungkin sebentar lagi akan di mulai.
Felly mengusap lembut wajah Galih, " mas udah sampai, ayo turun." Ajak Felly, bukannya bangun Galih malah memeluk erat tubuhnya. Felly tau, pasti Galih mengira dirinya adalah Viona. Tidak masalah, yang penting Galih sudah pernah memeluknya.
--
Viona berpamitan pada ibunya, tiba saja Galih mengirimkan pesan jika mobilnya mogok. Tidak jauh dari rumah Viona, tapi Galih memintanya untuk datang menghampiri laki laki itu. Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun, Viona membawa tas dan ponselnya menghampiri Galih. Awalnya, Bu Sarah tidak mengizinkan dan ingin ikut menemani Viona tapi gadis itu menyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Galih sudah menunggunya, Viona harus cepat.
"Ibu masuk aja, ini mas Galih udah nunggu aku. Enggak jauh kok, enggak akan terjadi apa-apa. Nanti, kalau aku telat pulang berarti aku jadi berangkat nya bu. Semoga aja mobilnya cepat jadi, aku kasihan bu kalau mas Galih sendirian."
"Kenapa Galih enggak kesini aja, masa kamu yang harus kesana." Menurut Bu Sarah ini sangat aneh, tidak biasanya Galih hanya mengirimkan pesan di saat keadaannya mendesak.
Viona masih berusaha meyakinkan ibunya, mungkin saja Galih sudah terlanjur bingung makanya Viona yang harus datang menghampiri laki laki itu.
"Nanti aku tanya mas Galih ya Bu."
Bu Sarah tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, " tapi perasaan ibu enggak enak Vi, ibu takut terjadi apa apa sama kalian." Wajar jika Bu Sarah mengatakan hal itu, karena ini sudah jam delapan. Meskipun belum terlalu malam, tapi perasaan seorang ibu tidak pernah salah.
Viona memeluk tubuh ibunya, "Viona bakal baik baik aja Bu, berangkat ya. Assalamualaikum." Pamit Viona, lalu berangkat menuju alamat yang Galih kirimkan. Tidak jauh dari rumahnya, tapi jika berjalan kaki mungkin membutuhkan waktu sepuluh menit.
Dari kejauhan, Viona bisa melihat sebuah mobil berwarna hitam. Mungkin itu mobil Galih, karena tidak ada mobil lain disini. Plat nomor mobilnya juga sama, berarti benar itu mobil Galih. Ada seorang laki-laki di dalam mobil, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi Hoodie, dari postur tubuhnya Viona sedikit asing. Namun, Viona tetap mendekati mobil itu lalu memanggil Galih pelan.
"Mas, udah panggil montir kesini belum."
Selang beberapa detik, Viona di merasa kegelapan menghampiri dirinya. Setelah itu, Viona tidak sadarkan diri. Yang Viona dengar, hanya suara tertawa orang asing dan jelas itu bukan suara Galih.
Viona benar benar tidak sadarkan diri, mereka membawa masuk Viona kedalam mobil. Memang benar, ini adalah mobil Galih dan orang orang itu adalah bodyguard pak Haris yang di tugaskan untuk mengurus Viona.
Mereka membawa Viona ke suatu tempat yang cukup jauh, Galih sendiri mungkin tidak akan menemukan keberadaan Viona. Mereka sampai di sebuah rumah tua yang lama tidak terpakai, banyak debu di rumah itu. Dan Viona di ikat di sebuah kursi, mata gadis itu sengaja di tutup menggunakan kain. Mereka tidak akan membangunkan Viona, tapi mereka akan menunggu gadis itu sadar dengan sendirinya.
Cukup lama, dua jam berlalu. Sampai akhirnya, Viona mencoba menggerakkan kakinya. Kakinya di ikat dan tangannya juga di ikat di belakang, awalnya saat Viona mencoba membuka matanya ia pikir gelap karena listriknya padam. Namun, Viona baru teringat jika dirinya tadi datang menemui Galih.
"Mas Galih, kamu dimana? Aku takut mas." Ucap Viona, gadis itu berharap jika Galih ada disini dan berusaha menolong dirinya.
Suara derap langkah terdengar, ada orang yang datang dan berdiri tepat di hadapan Viona. Bukannya menolong Viona, orang itu malah mengusap wajah cantiknya dengan benda keras dan dingin. Ya, Viona tau benda apa itu.
"Kamu siapa? Dimana masa Galih?" Suara Viona khawatir, takut benda tajam itu melukai wajahnya.
Orang itu kembali menempelkan benda itu pada wajah Viona, benda yang banyak kita temui di dapur. Pisau.
"Sstt, jangan berisik cantik. Tidak ada Galih disini, hanya ada kamu dan kematian." Bisik laki laki itu dengan pelan, Viona sudah ketakutan. Jika penutup matanya di buka, pasti orang yang ada di hadapannya itu sudah melihatnya menangis.
"Tolong, tolong jangan lakukan itu." Lirih Viona, sekarang dirinya tidak bisa berharap pada siapapun.
Laki laki itu terkekeh pelan. "Kenapa? Bukankah menyenangkan sedikit bermain dengan pisau ini? Wajahmu terlalu cantik, hampir sempurna. Sepertinya, akan lebih menyenangkan jika jika sedikit bermain main dengan pisau ini." Ucap laki laki asing itu, dari suaranya Viona tidak bisa mengenalinya sama sekali.
Ya Tuhan, Viona hanya berharap ada seseorang yang datang untuk menolongnya. Dirinya ingin bertemu Galih, dimana Galih sekarang?
"Ja-jangan."
"Kenapa? Kamu takut?"
Viona mengangguk, membuat laki laki itu tertawa keras. Lalu menendang kursi yang ada di sebelah Viona dengan keras, sehingga membuat gadis itu terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Viona, air matanya sudah mengalir sejak tadi. Andai saja tadi dirinya mendengar ucapan sang ibu, mungkin sekarang dirinya tidak ada disini.
"Sedikit bermain main, kamu tahu. Pisau ini sangat tajam, sudah lama tidak mendapatkan darah segar." Seperti psikopat, suara laki laki itu benar-benar membuatnya merinding. Sungguh, Viona ketakutan tidak ada yang bisa menolongnya sekarang.
"Jangan menangis cantik, saya tidak suka wanita lemah." Ucap laki laki itu, tanpa mau berfikir jika tindakannya berhasil membuat Viona ketakutan.
"Kamu jahat."
BRAKK
Laki laki itu menggebrak meja di depan Viona, tidak suka jika ada yang mengatakan dirinya jahat walaupun memang kelakuannya jauh dari kata manusiawi.
"Hiks, tolong lepasin aku hiks." Pinta Viona, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Tiba tiba, penutup matanya di buka. Viona mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan ini.
Seorang laki laki mengunakan baju dan masker hitam, membuat Viona semakin sulit mengenali siapa orang ini. Dan memang benar, Viona belum pernah bertemu sebelumnya.
"Jangan menangis, karena akan ada kejutan untuk kamu cantik. Jangan sia siakan air matamu, maaf aku sudah membuatmu takut." Tiba tiba laki laki itu tertawa melihat penampilan Viona, menggunakan gaun dan sekarang make up Viona berantakan.
"Mau kemana? Galih tidak akan pernah datang."