"Mama udah telvon Felly, nanti malam temenin kamu datang ke pernikahan Frans." Ucap Bu Farah di saat Galih baru saja duduk untuk sarapan, ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Lagipula, kenapa orang tuanya suka sekali mencari masalah di pagi hari? Dan satu hal lagi, siapa yang akan datang bersama Felly?
"Aku enggak datang." Sahut Galih, malas berdebat. Lebih baik diam, dan nanti malam datang bersama Viona.
Pak Farhan tau alasan Galih tidak mau datang, karena pasangannya bukan Viona. Ck, lagi lagi gadis itu menjadi penghalang kebahagiaan keluarganya.
"Lalu, kamu akan datang jika bersama Viona? Ingat Galih, Frans adalah anak tunggal rekan bisnis kita. Dan kamu liat kan kemarin? Calon istri Frans seorang model, cantik dan berpendidikan. Apa kamu tidak malu, mengajak Viona yang tidak mempunyai prestasi apapun untuk di banggakan?"
Dari mana ayahnya tau jika Galih akan mengajak Viona? Sabar, setidaknya Galih tidak boleh menyulut emosi kedua orang tuanya. Jika Galih sampai tidak sengaja marah pada mereka, hubungan dengan Viona akan semakin sulit. Orang tuanya memiliki uang, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau. Termasuk menjauhkan Viona dari kehidupannya, dan itu tidak pernah bisa Galih terima.
"Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan Viona punya cara untuk menutupi kekurangan-kekurangan Galih. Bukan selalu tentang harta, tapi Viona bisa melakukan apa yang enggak bisa Felly lakukan."
"Apa yang Viona bisa tapi Felly enggak? Felly bisa semuanya,"
Galih sudah menyelesaikan sarapannya, hanya sedikit. "Felly, enggak akan pernah bisa ambil hati Galih sampai kapanpun." Jelas Galih, lalu pergi meninggalkan orang tuanya yang masih berada di meja makan.
Melihat sang anak pergi begitu saja, pak Haris merasa tingkah laku Galih semakin hari semakin bertambah tidak sopan. Mereka yakin, ini karena Viona. Gadis itu benar benar membawa pengaruh buruk bagi Galih. Dan kebodohan yang Galih lakukan adalah selalu membela Viona di depan orang tuanya.
"Makin hari makin melawan, sopan santunnya makin berkurang." Keluh pak Haris, kepalanya terasa pusing melihat sang anak.
"Makanya Mama enggak pernah suka sama Viona, pasti anak itu udah pengaruhi Galih yang enggak baik." Tanpa tau fakta yang sebenarnya, Bu Farah terus menjelekkan nama baik Viona. Padahal, jika bertemu Viona ingin sekali berbicara walaupun hanya sebentar tapi Bu Farah tidak pernah mau. Alasannya, mereka berdua berbeda.
"Malam ini, Galih harus mengenalkan Felly sebagai calon istrinya. Jangan sampai malah Viona yang di ajak ke pernikahan Frans, kita harus cepat bertindak. Pertunangan mereka tinggal menunggu hari, jangan sampai Felly merasa kecewa dengan kita. Masa depan Galih akan lebih baik lagi jika menikah dengan Felly, kita akan tenang jika Galih sudah menikah dengan Felly." Ucap pak Haris, para orang tua memang sudah menentukan tanggal pertunangan Galih dan Felly tapi ibu gadis itu masih terlihat keberatan. Semua itu karena sikap yang Galih tunjukan selama ini.
--
"Vi, coba kamu coba gaun yang ini." Fanika menyerahkan sebuah gaun kepada Viona, semalam Galih menelvonnya untuk memberikan Viona sebuah gaun untuk acara pernikahan rekan bisnisnya.
Viona nampak bingung, kenapa tiba-tiba sekali Fanika memintanya mencoba gaun yang ada di butiknya. Sebelum bertanya lebih lanjut, gadis itu melihat harga gaun yang di berikan Fanika.
Viona menelan ludah, harga gaun ini sama dengan gaji yang akan Viona terima jika sudah bekerja selama satu tahun.
"Mbak bercanda ya, enggak ah. Nanti kalau gaunnya rusak gimana." Tolak Viona, takut di saat mencobanya gaun itu menjadi rusak. Harus dengan apa Viona menggantinya?
Fanika terdiam sesaat, sepertinya Galih belum mengatakan apapun pada gadis ini.
"Ini punya kamu Vi, Galih semalam nelvon minta gaun terbaik untuk calon istrinya."
"Tapi ini mahal banget mbak, aku enggak yakin."
"Enggak yakin kenapa? Ini cocok buat kamu, sekarang kamu coba dulu. Ada beberapa gaun yang harus kamu pilih, nanti aku foto ya aku kirim ke Galih. Ayo cepat ganti bajunya."
Dengan terpaksa, Viona masuk kedalam ruang ganti. Meskipun ragu, akhirnya Viona berhasil mencoba gaun pilihan Galih. Di depan cermin, Viona menatap kagum dirinya. Pilihan Galih begitu pas untuknya, Viona tidak sabar untuk bertemu laki laki itu.
"Udah belum Vi?" Tanya Fanika, kenapa Viona lama sekali?
"Em, iya mbak. Aku udah selesai kok."
Viona keluar dengan hati hati, takut jika gaunnya rusak. Ini gaun pertama yang Viona punya, dan ini juga pilihan Galih. Apa mungkin nanti malam acaranya akan berjalan dengan lancar? Apa Viona pantas bersanding dengan Galih? Banyak pikiran negatif berkeliaran di pikirannya, apapun nanti tanggapan rekan bisnis Galih Viona belum siap. Mungkin lebih baik jika Viona tidak ikut, dan tetap di rumah bersama ibunya.
"Sini hadap kamera, aku foto ya. Galih berisik banget dari tadi minta foto kamu." Karena terlalu sering mendengar Viona berbicara menggunakan aku kamu, sekarang Fanika juga ikut seperti itu saat bersama Viona.
Viona berpose sesuai arahan Fanika, gaun yang melekat indah di tubuh Viona begitu pas. Gadis cantik itu terlihat begitu anggun, hanya kurang sedikit make up Viona benar benar memukau.
"Good, kamu cantik banget."
Viona berjalan pelan, mendekati Fanika.
"Sejak kapan mbak Fanika ngomong aku kamu?" Viona dan Fanika sama sama tertawa, ini terjadi tanpa di duga.
"Enggak tau, kalau nanti ngomong pakai gue lo maklum aja ya."
Viona mengangguk, tidak masalah.
"Eh yang ini cantik banget, gue kirim ke Galih ya."
Viona menatap layar ponselnya iba, kenapa Galih malah mengirim pesan pada Fanika? Kenapa bukan dirinya langsung?
"Aku ganti dulu ya mbak," menelan pahitnya rasa kecewa kenapa Galih tidak bertanya apapun padanya, cemburu? Tidak. Hanya kecewa.
Fanika mengangguk, sibuk membalas pesan pelanggan butik yang nanti sore akan datang dan mengambil pesanannya. Tidak hanya pelanggan, tapi juga pesan Galih. Laki laki itu sejak semalam terus menerornya agar memilih gaun terbaik untuk Viona, ada rasa iri saat melihat Viona di jadikan ratu oleh Galih. Karena calon suami Fanika sedang berada di luar negeri dan sudah dua hari tidak memberikan kabar, andai saja dirinya berada di posisi Viona pasti akan merasa senang dan bahagia. Sejujurnya, wanita hanya ingin di perhatikan. Sesibuk apapun, jika tetap di beri kabar akan merasa di hargai kehadirannya.
Setelah berganti pakaian, Viona kembali bekerja. Baru saja ingin menghampiri Fanika, seorang perempuan masuk ke dalam butik.
"Pesanan saya udah ada?"
Riska mendongak, gadis kecil itu menatap perempuan cantik itu kagum. Riska yang sejak tadi sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, kini menutup beberapa buku lalu kembali menatap pelanggannya.
"Kak Felly ya? Bentar ya kak, saya ambilkan gaun yang kakak pesan." Ucap Riska sopan, dua hari yang lalu Felly memang menghubungi Fanika untuk memesan gaun. Karena sudah menjadi pelanggan tetap di Gavi Butik, Fanika sudah memiliki ukuran gaun untuk Felly.
Viona mengurungkan niatnya untuk menghampiri Riksa dan Fanika, ternyata Felly juga memesan gaun? Orang kaya bisa membeli apapun yang mereka inginkan, uang bagi mereka sangat mudah di dapatkan. Tapi bagi Viona, untuk mendapatkan uang dirinya harus bekerja keras terlebih dahulu.
"Ini kak gaunnya, cantik banget pasti kalau di pakai kak Felly jadi tambah cantik." Puji Riska sambil menyerahkan gaun milik Felly, melihat gaunnya sesuai yang di inginkan Felly tersenyum senang. Gavi Butik memang selalu membuatnya puas, tidak pernah mengecewakan.
"Thank you, nama kamu siapa?" Tanya Felly, melihat Riska yang tadi sedang mengerjakan tugas membuatnya terenyuh. Jarang jarang ada anak yang memilih bekerja, padahal sedang kuliah.
"Riska kak." Jawab Riska sambil tersenyum, gadis itu masih terpukau melihat kecantikan Felly.
Felly mengangguk, lalu memperhatikan Fanika yang sibuk menggambarkan desain gaun yang sangat indah. Mungkin, jika dirinya dan Galih menikah bisa menggunakan jasa Fanika dan meminta di buatkan desain baju pengantin yang Felly impikan.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Felly, ternyata ibu Galih yang menelvonnya.
"Assalamualaikum Tante, Felly lagi di Butik."
Viona dari kejauhan memperhatikan Felly, pasti itu Tante Farah. Sepertinya mereka begitu dekat, helaan nafas terdengar Viona semakin penasaran sedekat apa dokter muda itu dengan ibu Galih?
"......"
"Aku habis ini langsung ke salon kok Tan, enggak perlu di jemput. Nanti malam aja, aku tunggu ya Tan."
"...."
"Iya Tante, waalaikumsalam." Felly memasukkan kembali ponselnya, lalu mengeluarkan kartu ATM untuk membayar gaunnya.
Setelah pembayaran selesai, Felly keluar dari Butik menuju mobilnya. Gadis itu langsung pergi kes salon, Tante Farah mengatakan jika nanti Galih akan menjemput jam tujuh malam. Membayangkan berada satu mobil bersama Galih, sangat menyenangkan. Malam ini, Galih akan bersama Felly bukan Viona.
Viona kembali menghampiri Riska, "tugasnya banyak ya Ris?" Viona perhatikan, Riska sejak tadi sibuk dengan laptop dan modulnya. Tapi, Riska tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Riska mengangguk, sebenarnya rasa lapar sudah menganggunya sejak tadi. Namun, nafsu makannya hilang saat melihat tugas yang begitu banyak.
"Banyak banget Mbak, biasalah akuntansi. Kalau enggak balance rasanya mau nangis, tapi kalau balance juga belum tentu bener itu jawabannya." Keluh Riska, membuat Viona tersenyum. Dulu, sewaktu lulus SMA Viona pernah ingin melanjutkan pendidikannya tetapi dirinya sadar kebutuhan hidupnya lebih penting dari kuliah.
Ibunya sempat mendukungnya untuk lanjut kuliah, masalah biaya Bu Sarah akan tetap bekerja. Namun, melihat sang ibu yang sering sakit sakitan membuat Viona tidak tega. Mengurungkan niatnya, Viona memilih menggunakan ijazah SMA untuk mencari pekerjaan. Sebelum bekerja di restoran milik Alan, Viona pernah berjualan kue. Viona juga pernah beberapa bulan bekerja di salon, gajinya lumayan. Kenapa Viona memilih keluar dari pekerjaan itu, karena dirinya di haruskan tinggal disana sementara ibunya sendirian di rumah. Sampai akhirnya, Aldo menawarkan pekerjaan, gajinya juga lumayan. Walaupun pulang malam, tapi Viona masih bisa mengurus ibunya.
"Makan dulu Ris, kasian tugasnya kalau enggak selesai." Saran Viona, sebaiknya istirahat sejenak untuk makan siang.
"Aku tadi niatnya mau ngerjain tugas, lah ini malah aku yang di kerjain."
Bukannya membantu, Viona dan Fanika malah kompak tertawa. Kasihan sekali Riska, walaupun mengeluh tugas dan pekerjaan harus tetap di selesaikan tepat waktu. Bersyukur, karena Fanika pengertian dengan gadis itu. Riska tetap boleh mengerjakan tugas kuliahnya, dan Fanika tetep memperkerjakan anak itu. Bisa saja Fanika mencari pegawai lain, hanya sama Fanika sudah merasa nyaman bekerja sama dengan Riska.
"Udah kamu makan dulu Ris, nanti lagi tugasnya." Akhirnya Riska mengangguk, perutnya sejak tadi sudah keroncongan minta di isi.
"Aku makan dulu mbak," pamit Riska. Gadis itu berjalan ke lokernya untuk mengambil bekalnya. Selama Riska sedang makan siang, Viona yang menggantikan gadis itu.
"Vi." Panggil Fanika.
Viona menoleh, " iya mbak?"
Fanika menghela nafas sebentar, "Galih nanti sore enggak bisa jemput kamu, ini gaunnya jangan lupa di bawa pulang ya. Nanti malam jam delapan, Galih ke rumah kamu. Dandan yang cantik, pasti kalian keliatan cocok banget."
Mendengar itu, hati Viona bukannya merasa senang. Tapi lagi lagi, Viona merasa Galih keterlaluan. Kenapa harus menyampaikan pesan lewat Fanika, padahal ponsel Viona selalu aktif. Tidak bisakah Galih meluangkan waktu satu menit untuk mengirimkan pesan padanya? Dengan sangat terpaksa, Viona mengangguk. Moodnya sudah hilang sejak Galih lebih memilih menghubungi Fanika ketimbang dirinya. Dan sejak kapan kekasihnya menjadi mudah akrab dengan perempuan lain? Bukannya Viona cemburu, karena Viona juga tahu bahwa Fanika sudah memiliki calon suami. Hanya saja, kenapa begitu tiba tiba? Padahal, dulu Galih sangat dingin pada perempuan. Walaupun tidak semua, buktinya saat bersama Felly saat itu Galih juga masih menunjukkan sikap dinginnya.
Mengingat Felly, apa gadis itu juga akan pergi bersama orang tua Galih? Apa mereka akan bertemu di acara yang sama? Mungkin, sebaiknya Viona harus mempersiapkan diri mulai sekarang. Nanti malam, Viona yakin dirinya akan di hina habis habisan oleh orang tua Galih. Di tambah, sekarang ada Felly yang selalu mereka banggakan. Mereka pasti akan membanggakan Felly di depan rekan bisnisnya, sebenarnya itu hak mereka asal Galih tetap bersamanya.
"Nanti aku izin pulang lebih awal ya mbak,"
Fanika tentu saja akan memberikannya izin, nanti malam Viona akan pergi bersama Galih. Butuh waktu lama untuk bersiap siap, semoga saja gaun itu akan cocok dengan konsep acaranya nanti malam.
"Iya, pesanku cuma satu Vi. Di saat kamu bertemu banyak orang, terutama orang orang baru. Kamu harus bersikap ramah, mereka bisa saja menilai dari apa yang kamu gunakan. Tapi attitude tetap nomor satu," dimana kita berada, etika dan kesopanan adalah hal yang penting.
Ya Viona paham, sejauh ini dirinya juga menerapkan hal itu dalam hidupnya. Hanya saja, tidak semua orang menunjukan sikap yang sama. Ada juga yang menganggap kita terlalu mencari perhatian, padahal hanya ingin terlihat ramah.
"Iya mbak, makasih sarannya."
--
PLAK
"Berhenti melawan Galih, kamu itu harus nurut sama orang tua. Kami orang tua kamu, kenapa kamu sekarang jadi anak pembangkang!" Geram pak Haris, laki laki paruh baya itu sudah bosan menggunakan cara halus saat melarang Galih menemui Viona. Tapi malam ini, pak Haris harus menggunakan cara kasar agar Galih menuruti keinginannya.
Sudut bibir Galih mengeluarkan darah, Bu Farah yang melihat itu tidak merasa iba sama sekali. Entahlah, pikirannya sudah terlalu terpenuhi oleh harta. Bukankah anak adalah harta yang paling berharga? Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku di keluarganya. Mereka terlalu mendewakan uang, perasan anak tidak perlu di perhatikan.
"Kalau kamu mau nurut, kamu enggak akan merasa sakit." Ucap Bu Farah, sebagai seorang ibu seharusnya membela sang anak jika suaminya sudah keterlaluan. Lagi lagi, Galih tidak mendapatkan pembelaan dari siapapun.
Awalnya, pak Haris meminta Galih untuk menjemput Felly nanti malam. Tapi, jawaban Galih membuat pak Haris naik pitam.
"Aku pergi bareng Viona."
Nama Viona membuat pak Haris dan Bu Farah tersulut emosi, mereka berdua sudah meminta Felly untuk menemani Galih malam ini. Tapi apa yang dilakukan Galih, sangat membuat mereka kesal.
"Jadi anak penurut apa susahnya? Papa enggak sudi liat kamu datang di acara nanti malam sama Viona, Felly sudah mau menemani kamu nanti malam. Tinggalkan gadis miskin itu,"
"Kalau aku enggak mau?" Tantang Galih, dirinya tidak bermaksud untuk menentang keputusan orang tuanya. Galih hanya ingin memperjuangkan cintanya sendiri, gadisnya pasti sudah menunggu di rumah. Bahkan, dirinya belum sempat menghubungi Viona seharian ini. Ponselnya di sita oleh ayahnya, jika seperti ini bagaimana caranya Galih menghubungi Viona? Galih hanya takut, Viona terlalu lama menunggu sementara dirinya belum pasti bisa menjemput gadis itu.
Otak pintar Galih terus berfikir, tapi sialnya di saat genting seperti ini Galih sama sekali tidak bisa berfikir dengan baik.
"Dasar keras kepala, malam ini kamu akan pergi bersama Felly. Sekarang masuk kamar, dan jangan pernah mencoba untuk kabur. Nanti malam, Papa akan umumkan tanggal pertunangan kalian setelah acara Frans selesai, jadilah laki laki yang bertanggung jawab."
Laki laki bertanggung jawab? Memang apa yang sudah Galih perbuat? Semakin hari, keluarganya semakin menekan kehidupannya. Hidupnya terlalu di penuhi dengan aturan-aturan yang tidak jelas, perjodohan yang selalu di banggakan.
Jaman sudah maju, tapi pikiran mereka masih seputar harta dan saham.
"Papa enggak pengen liat aku bahagia? Sekali aja." Ucap Galih, bisa saja sekarang Galih berbicara keras di depan sang Ayah tapi Galih masih menjaga kesopanannya.
"Kamu akan bahagia bersama Felly, percaya sama Mama. Pilihan orang tua enggak pernah salah."
Galih menggeleng, banyak kesalahan yang sudah terjadi karena paksaan. Tapi mereka selalu menjadikan Viona sebagai alasan dari masalah yang mereka perbuat sendiri, mereka selalu mengatakan jika gadis itu pembawa sial. Gadis yang sudah menjadikan Galih sebagai anak yang pembangkang, padahal ini terjadi karena keadaan yang terus menerus memaksanya.
"Jadi, menurut Mama pilihan Galih selalu salah? Iya?"
"Apapun pilihan kamu awalnya selalu Mama dukung, tapi sekarang enggak. Karena kamu selalu memilih Viona, Mama enggak suka. Mama benci sama perempuan yang udah buat kamu jadi berubah, Mama benci Viona."
Galih tidak menyangka jika orang tuanya begitu membenci Viona, padahal selama ini tidak pernah ada kesalahan yang Viona lakukan. Mereka membenci Viona tanpa alasan, tanpa sebab.
"Ini enggak adil Ma, Mama egois."
Harus dengan cara apa Galih menyakinkan orang tuanya, jika bertemu dengan Viona saja mereka tidak mau. Seharusnya, mereka berusaha untuk mengenal Viona terlebih dahulu baru bisa menilai gadis seperti apa Viona.
"Mama enggak egois, ini cara Mama buat kamu sadar. Pilihan orang tua enggak pernah salah, ingat Galih kamu dan Viona tidak akan pernah bisa menyatu karena kalian berbeda." Berulang kali, Bu Farah sudah mengingatkan anaknya tapi tidak ada hasilnya. Galih malah semakin keras kepala.
Pak Haris meninggalkan Galih dan istrinya tanpa mengatakan apapun, ada rencana yang harus di jalankan. Lebih penting dari pertengkarannya dengan Galih, ini tentang Viona.
Melihat sang Ayah pergi, Galih memilih duduk. Sudut bibirnya yang tadi berdarah, perlahan mulai kering. Lebam di wajahnya juga terlihat, tidak ada rasa sakit yang melebihi rasa sakit di dalam hatinya. Bertahun tahun terlewati, dan ini selalu terjadi jika Galih meminta orang tuanya untuk merestui hubungan.
"Mama pernah enggak tanya sama Galih, apa selama ini aku bahagia? Enggak kan? Karena Mama terlalu mendewakan uang Ma, coba aja Mama perhatiin aku sedikit aja. Pasti Mama bakal ngerti, gimana rasanya memperjuangkan hubungan selama bertahun-tahun tapi enggak di restui."
"Selama ini kamu terlihat bahagia Galih, uang dan semua fasilitas yang Mama kasih itu udah cukup buat kamu bahagia. Dan sekarang, Mama sama Papa cuma mau kamu nikah sama Felly. Itu aja, gampang kan? Tinggalin Viona. Gadis itu benar benar enggak pantas sama kamu." Sebisa mungkin, Bu Farah akan membuat Galih sadar. Pilihan orang tua selalu benar, dan Galih akan menyesal jika tetap memilih Viona. Hidup bersama Viona hanya akan menambah beban keluarganya, tapi jika Galih menikah dengan Felly hidupnya akan semakin mapan. Galih dan Felly sama sama anak tunggal kaya raya, tidak bisa di bayangkan sebanyak apa warisannya nanti jika mereka menikah.
Galih menggeleng, pikiran sang ibu hanya melulu soal uang dan uang. Sebenarnya mereka akan tetap menjadi kaya tanpa menikahkan Galih dan Felly tapi mau bagaimana lagi, orang tuanya tidak pernah mau kalah dengan rekan bisnis lainnya.
"Aku enggak bahagia Ma, aku capek. Aku capek selalu di paksa, aku butuh Mama. Aku butuh dukungan dari Mama, tapi rasanya enggak mungkin. Mama sendiri yang buat aku kayak gini, tapi selalu Viona yang di salahkan. Padahal dia enggak tau apa apa," keluh Galih. Sudah cukup Viona di salahkan padahal, gadis itu tidak pernah ikut campur dan tidak pernah membuat Galih berubah. Justru karena Viona, Galih berusaha untuk menjadi anak yang lebih baik walaupun masih terlihat salah.
"Nurut sama Mama, kamu pasti bahagia." Terlalu lama berbicara dengan Galih masalah Viona, ternyata cukup melelahkan. Bu Farah pergi meninggalkan Galih yang sedang merenung sendiri.
Tidak ada ponsel, tidak ada mobil dan juga dompet. Galih menghela nafas berat, selalu seperti ini. Sedang apa Viona? Apa gadis itu akan marah, jika Galih tidak menjemputnya padahal tadi pagi dirinya yang meminta Fanika untuk menyiapkan gaun untuk nanti malam. Semakin lama, luka di bibir Galih terasa perih. Jika Viona ada disini, pasti Viona yang akan mengobatinya.
"Maaf, untuk kesekian kalinya Mas gagal meyakinkan mereka kalau kamu memang perempuan yang tepat. Tapi mas janji, secepatnya kita akan menikah." Ucap Galih pada dirinya sendiri, seolah Galih lupa jika tanggal pertunangannya dengan Felly sudah di tentukan dan nanti malam akan di umumkan.