Undangan

1915 Words
Dua minggu berlalu, kini Viona sudah terbiasa bekerja dengan Fanika. Awalnya, teman Galih sangat cerewet jika Viona nekat pulang sendirian dan akhirnya akan mendiamkannya beberapa jam. Bukannya Viona tidak mau diantar saat pulang, tapi jika terlalu sering pasti akan menimbulkan rasa iri dengan karyawan lain karena hanya Viona yang di perlakukan seperti itu. Padahal, teman temannya tidak ada yang mempermasalahkan. Mereka tinggal tidak jauh dari butik, jadi mereka membawa motor sendiri. Selama dua minggu ini, Galih selalu menyempatkan waktu untuk menjemputnya. Viona senang karena di perhatikan oleh Galih, tapi juga merasa kasihan dengan laki laki itu karena jarak antara kantor dan butik cukup jauh. "Mbak Viona." Panggil rekan kerja Viona, gadis cantik berumur 19 tahun itu sudah lebih dulu bekerja di butik ini. Butik baru saja sepi, semua karyawan sedang beristirahat. Hanya ada Viona dan Riska yang berada di Butik, mereka memang sudah akrab itu karena Riska yang selalu mengajaknya berbicara. "Kenapa?" Mengenal Riska selama dua minggu, cukup membuat Viona mengetahui kebiasaan gadis kecil itu. Jika sudah memanggil Viona seperti itu, pasti ada sesuatu hal yang ingin di tanyakan. Riska duduk di sebelah Viona, " yang tiap hari nganterin mbak itu, masih pacar atau suami?" Pertama kali bertemu Galih, gadis kecil itu cukup terpesona dengan karisma seorang Galih. Tidak hanya tampan, tapi Galih juga bersikap dingin dengan orang lain. Sangat berbeda jika berbicara dengan Viona, sorot matanya yang tajam akan berubah menjadi begitu teduh. Viona mengernyit heran, kenapa Riska bertanya seperti itu? "Kamu kepo juga ya." Ujar Viona, mungkin gadis itu suka melihat laki laki tampan seperti Galih salah satunya. "Enggak kepo kok, cuma aku heran aja." "Heran kenapa?" Riska mengetuk jemarinya di atas meja, takut salah berbicara dengan Viona. "Orangnya emang pendiem, atau jadi diem pas ketemu orang baru? Soalnya, pas tanya sama aku dimana mbak Fanika nada bicaranya datar banget. Ngobrol sama mbak Fanika juga seperlunya, kayaknya pacar mbak Viona orang yang dingin. Tapi pas aku ngobrol sama mbak, pasti langsung lembut banget cara bicaranya." Viona tidak terkejut mendengar pertanyaan itu, sikap Galih jika bersama orang lain akan menjadi pendiam dan cuek. Tapi saat bersama Viona, laki laki itu akan menunjukkan sikapnya yang begitu hangat. Membuat Viona merasa nyaman saat bersama Galih, bagi orang lain Galih adalah laki laki yang membosankan karena selalu bekerja. Namun, kenyataan yang sebenarnya sesibuk apapun pasti akan selalu memberikan kabar pada Viona. "Mas Galih emang orang yang dingin, cuek dan bodo amat sama orang sekitar. Tapi kalau sama aku, dia enggak kayak gitu. Sikapnya beda, selalu ngalah dan banyak bicara." "Kulkas, kalau udah bucin damage nya bukan maen." Riska menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Viona, takjub dengan perubahan sifat Galih. Riska juga tahu bahwa selain dingin, laki laki itu juga bersifat posesif. Viona terkekeh mendengar ucapan Riska, tapi sejak dulu dirinya tidak pernah mendapati sikap dinginnya Galih sama sekali. Sejak awal, laki laki itu yang mengajaknya memulai dari awal dan meyakinkan Viona. Hingga saat Viona sudah yakin padanya, orang tuanya masih belum bisa memberikan restu. Kadang terbersit dalam pikiran Viona, apa jika tiba tiba dirinya menjadi kaya akan langsung di berikan restu? Tapi hal itu sangat tidak mungkin, Viona hanya gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Menjadi kaya dalam waktu semalam, mungkin hanya akan terjadi dalam mimpinya. "Sikap mas Galih, yang enggak mbak Viona suka apa?" Sebagai kekasih Galih, hampir tidak ada yang tidak di sukai dari laki laki itu. Semuanya candu, kecuali kebohongan. Apapun alasannya, kebohongan bukan hal yang benar. "Aku enggak suka di bohong, apapun alasannya tetep aja aku enggak suka." "Mas Galih pernah bohong?" "Dia juga manusia biasa Ris, pasti pernah melakukan kesalahan. Asal enggak di ulang, aku bakal maafin." Banyak kesalahan yang mereka perbuat, baik Viona maupun Galih sama sama saling mengingatkan. Pola pikir Viona memang terbuka, mereka berdua tidak pernah terlalu lama memendam masalah. Mereka sama sama mencari jalan keluar di setiap masalah, kecuali jika menyangkut orang tuanya. Viona tidak ingin berharap lebih, gadis itu takut jika realita tidak semanis ekspetasi. "Membesar besarkan masalah, enggak baik Ris. Pahami pasangan kita, kadang mereka emang punya alasan tersendiri. Dan satu hal yang pasti, setiap orang selalu punya privasi. Bukan karena tertutup sama kita, tapi enggak semua hal orang lain harus tau." Viona mengingat perjalanannya selama ini bersama Galih, banyak kesalahpahaman tapi mereka selalu bisa menghadapi bersama sama. Mendengar penuturan Viona, gadis 19 tahun itu mengangguk. Ini bisa menjadi pelajaran bagi dirinya dan pasangannya nanti, di usianya sekarang Riska masih fokus kuliah. Saat ini memang bekerja di Butik, tapi untungnya Fanika tidak mempermasalahkan jika dirinya terkadang bekerja tapi juga membawa tugas tugasnya ke butik. Justru Fanika merasa senang, karena Riska bisa melakukan hal hal positif. "Mbak Viona dewasa banget pemikirannya, pantesan hubungan kalian langgeng. Aku pengen deh kayak mbak Viona," ujar Riska. Gadis itu tidak tahu seperti apa rasanya menjadi Viona. Hidupnya memang cukup, tapi tidak bagi orang lain. Orang lain selalu menganggap dirinya hanya menjadi beban untuk Galih, orang lain selalu mengatakan dirinya dan Galih seperti langit dan bumi. Haruskah Viona mengatakan pada Riska, jika menjadi dirinya sangatlah sulit. Ingin bersama Galih saja rasanya sangat tidak mungkin, "jangan pernah punya pikiran ingin jadi orang lain Ris, karena sebaik-baiknya kehidupan orang lain. Akan lebih baik, jika kamu menikmati apa yang kamu miliki saat ini. Dewasanya seseorang enggak selalu tentang umur, tapi gimana kamu bersikap." Pengalaman Viona tentang pahit manisnya sebuah hubungan, belum tentu ada yang sekuat gadis itu menghadapi orang tua Galih. Banyak hinaan dan cacian yang selalu Viona terima, tapi gadis itu hanya diam. "Aku suka cara berfikir mbak Viona, dewasa." Riska tipe anak yang selalu mengutarakan apa yang ia rasakan secara langsung, jika mengagumi seseorang pasti tidak pernah memberikan pujian secara berlebihan. Apa adanya. Fanika datang bersama seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan Galih. Ini jam makan siang, sudah saatnya mereka beristirahat. "Vi, bodyguard lo nih. Lo boleh makan di luar, tapi inget ya enggak lama." Viona mengangguk, "mas Galih kesini enggak bilang dulu." Ucap Viona, keduanya berjalan beriringan keluar dari butik. Galih hanya tersenyum, menurutnya tidak perlu mengatakan ingin datang setiap kali ke butik temannya. Galih sudah lama mengenal Fanika, tidak akan menjadi masalah jika dirinya sering berkunjung ke butik. "Masa mau ketemu calon istri harus bilang? Enggak surprise dong nanti." Galih membuka pintu mobilnya, Viona masuk ke dalam mobil membiarkan Galih membawanya kemanapun. "Sebenernya kita enggak kemana mana sih Vi, ambil aja makanannya di belakang sayang." Viona menurut, menghadap ke belakang. Ternyata ada dua kotak makan yang sudah Galih siapkan, gadis itu mengambilkan semua kotaknya. "Kenapa enggak makan di dalam aja?" Galih meletakkannya ponselnya, menyandarkan tubuhnya di kursi lalu menghadap Viona. "Kalau di dalam, mas enggak bisa bebas Vi. Udah, di mobil aja enggak apa apa. Atau, kamu enggak nyaman? Kita cari tempat lain ya." Viona menggeleng, "enggak usah, aku juga udah laper mas. Ayo makan," ajak Viona, jam istirahatnya hanya sebentar lebih baik makan di dalam mobil daripada harus mencari tempat makan. "Mau mas suapin?" "Makan sendiri aja, kamu juga pasti laper. Jangan sering manjain aku mas, aku enggak enak." Tolak Viona, gadis itu hanya takut akan semakin bergantung pada Galih. Ketakutan Viona sampai pada, jika suatu saat nanti dirinya dan Galih memang tidak bisa bersama dan Viona sudah terlalu banyak bergantung dengan Galih. "Enggak enak kenapa? Mas cuma latihan sebelum pernikahan sayang, mas enggak mau kamu kekurangan perhatian." Entah mengapa, setiap Galih bicara soal pernikahan rasanya semakin tidak mungkin. Bukannya Viona tidak mau menikah dengan Galih, tapi restu yang tak kunjung mereka dapatkan membuat Viona sadar betapa berharganya Galih untuk keluarganya dan Viona tidak akan pernah bisa merebut sesuatu yang berharga itu secara paksa. Viona menghela nafas pelan, "makan mas, aku bisa makan sendiri. Atau kamu mau aku suapi?" Tawar viona, dan seperti biasa Galih tidak pernah menolak. Tanpa ragu, laki laki itu langsung mengangguk. "Mau." Jawaban Galih membiat Viona tersenyum, laki laki yang tadi Riska bilang pendiam dan irit bicara kini tengah menunggu suapan makan darinya. Sangat manis. Akhirnya Viona dengan telaten menyuapi Galih makan, tapi sepertinya ada yang aneh. Ini kotak makanannya memang punya Galij sendiri, tapi makanannya seperti... "Mas, tadi kamu ke restoran pak Alan?" Viona masih ingat dengan menu yang ada di restoran itu, pasti tebakan Viona tidak salah. Galih mengangguk, satu tangannya mengambil botol minuman. "Mas tau kamu kangen sama masakan disana, jadi mas beli." Jawab Galih dengan mudah, tidak masalah karena makanan ini yang memasak bukan Alan jadi aman. Gadis itu sedikit cemberut, kenapa tidak mengajaknya kesana. Setidaknya walaupun hanya di depan restoran, sudah bisa mengobati rasa rindu pada tempat kerjanya yang lama. Viona melanjutkan makannya, "kenapa enggak ngajak aku, kan aku mau ikut." Ucap Viona sambil makan, tanpa sadar gadis itu sudah membuat Galih diam. Untuk apa Viona ikut? Bertemu Alan? "Kamu mau ketemu Alan?" tanya Galih to the point, jika menyangkut Alan dirinya harus menjadi tegas. Tidak ada toleransi sama sekali, Viona tidak boleh lagi bertemu mantan bosnya. Nada bicara Galih yang berubah, tidak membuat Viona takut. Laki laki itu mudah sekali cemburu, padahal dirinya tidak mengatakan ingin bertemu Galih. "Enggak mas, emang gan ada disana cuma pak Alan aja, jangan cemburu gitu . Aku disini sama kamu, aku juga udah pernah bilang kan. Enggak akan pernah berpaling." Galih masih cemberut, disana memang tidak hanya ada Alan. Namun, laki laki itu pasti sangat senang jika bertemu Viona. Baiklah, suatu saat mereka akan bertemu tapi sebagai tamu undangan. "Ayo, lanjutin suapin mas lagi." "Aku sayang loh sama mas Galih." Ucap Viona tiba tiba, jika kemarin kemarin Galih yang sering mengatakan itu padanya mulai sekarang Viona juga akan mengikuti kebiasaan Galih. Galih mengernyit heran, tidak biasanya Viona berkata seperti itu. "Mas lebih sayang kamu." Balas Galih, rasa sayangnya untuk Viona tidak bisa di gambarkan. Ya, Viona tahu itu. Galih selalu menyayangi dirinya semoga secepatnya ada jalan keluar untuk hubungan keduanya. Mereka melanjutkan makannya, walaupun hanya di dalam mobil tapi ini sudah cukup. Jika di lihat dari usaha Galih yang selalu ada untuk Viona, laki laki itu berusaha untuk menyempatkan waktu bertemu kekasihnya walaupun hanya sebentar. "Dua hari lagi, teman kantor ada yang nikah. Mas di undang," ucap Galih. Tujuannya datang ingin menyampaikan keinginannya, dan berharap Viona bisa mengikuti kemauannya. Viona menutup kotak makanannya, keduanya sudah selesai makan. "Ya datenglah mas, kan di undang." Galih kembali meraih botol minum dan membukanya, lalu memberikan minuman itu untuk Viona. "Rencananya, mas mau ngajak kamu. Enggak enak dong dateng sendirian, gimana? Kamu mau ikut kan?" Tanya Galih penuh harap, berharap jika Viona mengatakan iya. Tapi, Viona menggeleng. Untuk apa dirinya ikut pasti acaranya sangat membosankan. Viona tidak terbiasa berada dalam satu acara besar, apalagi ini acara milik teman kantor Galih. Pasti semua tamu rata rata orang berada, lebih baik Viona tidak perlu ikut. "Aku enggak bisa mas," "Kenapa?" Galih sedikit kecewa mendapat penolakan dari Viona, tapi gadis itu pasti memiliki alasan tersendiri dan Galih harus mendengar apapun alasannya. "Aku belum terbiasa, pasti acaranya besar. Orang kantor semua yang di undang? Lagian aku enggak kenal mereka mas, malu aku kalau nanti ketemu teman teman mas." Jawab Viona, pasti acaranya juga berbeda. Dan itu jelas tidak cocok dengan Viona, bukan kelasnya. Daripada membuat Galih malu, lebih baik dirinya tidak ikut. "Mulai sekarang, kamu harus terbiasa Vi. Kita enggak tahu gimana kedepannya, lebih baik membiasakan diri mulai sekarang. Mas besok jemput kamu ya, kita berangkat jam tujuh. Nanti aku ke rumah, minta izin sama ibu. Pasti ibu kasih izin kok, kan aku calon menantunya. Ibu pasti udah percaya sepenuhnya sama aku." Ucap Galih penuh percaya diri, tapi apa yang di katakan Galih memang benar. Bu Sarah sudah mempercayakan anak gadisnya pada Galih. Mau tidak mau, akhirnya Viona mengangguk. "Yaudah, aku ikut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD