Tempat kerja Viona

1017 Words
Viona menatap kagum bangunan butik yang ada di hadapannya, bangunan berlantai dua itu sangat ramai pengunjung. Dirinya tidak menyangka jika Galih akan mencarikan pekerjaan di butik dengan posisi yang sama seperti saat dirinya bekerja restoran Alan, mengingat Alan Viona masih memiliki perasaan bersalah pada bosnya. Merasa bersalah karena tiba tiba meminta resign, padahal tidak ada masalah apapun. Viona tersadar dari lamunannya, saat jemarinya di genggam oleh Galih. Lalu Viona menoleh, laki laki itu tengah menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Ayo masuk, teman mas udah nunggu kamu." Ajak Galih, keduanya memasuki bangunan yang bertuliskan GAVI BUTIK. Butik ini di kelola oleh teman Galih sewaktu SMA, Viona akan bekerja dari pagi sampai sore dan semua pekerjanya adalah perempuan. Kecuali, satpam yang berjaga di depan butik tentu saja Laki laki. "Kamu akan kerja disini Vi, semoga kamu suka ya." "Aku suka mencoba hal baru mas, makasih ya." "Sama sama sayang, nah itu Fanika. Ayo kesana," ajak Galih. Keduanya menghampiri perempuan yang baru saja selesai mengukur baju anak laki laki. "Sorry Nik, kita telat." Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum lembut pada Viona. Ternyata kekasih Galih memang cantik, pantas saja temannya sampai mencarikan tempat kerja yang rata rata pekerjanya adalah perempuan. Lebih tepatnya, Galih menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. "Kebiasaan, dari mana lo. Pacaran dulu?" "Iyalah, biar awet muda. Kenalin Nik, ini Viona. Calon gue,"ujar Galih, di depan Fanika laki laki itu mengenalkan Viona sebagai calon istrinya. Viona mengulurkan tangannya, bosnya masih seumuran Galih dan ini sangat memudahkan Viona untuk cepat akrab. Kedua perempuan itu saling tersenyum dan berjabat tangan, mereka saling memperkenalkan diri. "Aku Viona mbak." "Gue Fanika, Galih biasanya panggil gue Nika. Lo, biasa ngomong aku kamu sama Galih?" Tanya Fanika heran. Viona mengangguk, "lebih sopan pakai aku kamu mbak, lagipula mas Galih umurnya lebih tua dari aku." Jawab Viona. "Sayang, kita cuma beda berapa tahun aja. Mas enggak terlalu tua." Fanika menatap Galih takjub, benarkah laki laki yang sedang berbicara lembut pada kekasihnya adalah Galih? Pasalnya, ini sangat berbeda dengan Galih yang biasanya. "Giliran sama Viona, ngomongnya alus kek tepung. Giliran sama gue, mana ada lembut lembutnya." Sindir Fanika yang baru saja mengetahui sisi lain diri seorang Galih. "Lo enggak pantes di lembutin," ucap Galih. Wajar jika Galih bersikap seperti itu karena Viona adalah kekasihnya, perempuan yang paling di sayangi setelah sang ibu. "Sialan emang, tau gini males gue kemarin bantuin lo." "Diem." "Emang Mas Galih minta bantuan apa Mbak?" Tanya Viona, baru kali ini dirinya mengetahui jika Galih memiliki teman perempuan. Galih memberi isyarat agar Fanika tidak berbicara lagi, "eh ini, kemarin dia minta rekomendasi gaun buat Mamanya. Enggak cuma gaun sih, beberapa baju juga." Bohong Fanika, bisa marah Galih padanya jika sampai salah berbicara. "Jadi lo nolong gue enggak ikhlas? Yaudah, sini balikin duit gue." Galih menyodorkan tangannya, agar kembali mendapatkan uang dari temannya itu. Fanika menggeleng, "uang yang udah gue terima, enggak akan bisa lo minta. Enak aja, enggak bisa." "Kok kalian malah berantem, Mas Galih juga kamu enggak biasanya loh kayak gini." Galih menghela nafas, lalu kembali melanjutkan tujuannya kesini. "Jadi kapan Viona bisa masuk kerja, asal jangan hari ini. Gue masih ada yang mau di urus." "Bisa mulai besok, nanti lo tulis alamat rumah ya." Pinta Fanika. Alamat rumah? Untuk apa? "Untuk apa ya Mbak? Apa mbak, enggak percaya sama aku?" Apa mungkin Fanika akan mengawasinya selama bekerja di Butik miliknya. Fanika melirik Galih, pasti gadis itu akan salah paham jika tidak di berikan alasan yang logis. "Duduk dulu, gue jelasin beberapa peraturan di sini." Mereka bertiga duduk di sofa ruangan kerja Fanika, cukup besar dan rapi banyak rancangan gaun pengantin yang terpanjang di dingin. "Setiap anak baru, wajib kasih alamat rumahnya. Bukan untuk macam macam kok, biar nanti kalau enggak ada kendaraan lo bisa kabarin supir Butik buat jemput. Enggak setiap hari, kalau hujan atau lo hampir telat misalnya. Supir di butik stand by buat para karyawan gue, jadi jangan sungkan buat minta anterin kalau ada lembur." Jelas Fanika, lalu kembali melirik Galih yang mengangguk. "Kok sampai segitunya ya Mbak, apa mbak enggak rugi?" Fanika tersenyum, jika di lihat dari sikapnya. Gadis itu sangat sederhana, pantas jika Galih cinta mati dengan gadis ini. "Terima aja, ini peraturan tempat kerja sayang. Kamu harus terima, tenang aja mas pasti tetep jemput kamu kok." Galih mengusap rambut gadisnya lembut, membuat Fanika merasa jengah. Dasar laki laki, sangat suka mencari kesempatan. "Kalau lo enggak keberatan lo harus ngikutin semua yang gue bilang tadi, ini juga demi kebaikan lo. Sekarang musim hujan, daripada lp kehujanan terus sakit? Enggak jadi kerja, malah ke dokter. Manfaatin apa yang ada di sekitar lo, kayak Galih misalnya. Kalau gue jadi lo mana mau gue kerja, tinggal minta jatah bulanan pasti langsung di kasih." Benarkan? Untuk apa Viona susah payah bekerja jika Galih sanggup memenuhi kebutuhannya. Viona menghela nafas, sangat tidak suka jika orang lain menyarankan agar meminta uang pada Galih. Jika Viona mau, tanpa mendapat. Saran dari Fanika, pasti Viona sudah melakukannya sejak dulu. Tapi Viona tidak mau, baginya selama masih sanggup untuk bekerja gadis itu akan menggunakan tenaganya untuk bekerja. "Aku enggak pernah minta mas Galih selalu kasih, tapi aku enggak mau. Karena mas Galih enggak punya kewajiban untuk kasih aku nafkah, aku belum jadi istrinya. Tugas menafkahi adalah tugas seorang suami, aku bukan istri mas Galih. Rasanya enggak pantas meminta minta tapi aku masih sanggup kerja," ucap Viona. Sejak dulu memang sudah memiliki prinsip hidup yang baik, sesulit apapun hidupnya tidak akan pernah menyusahkan orang lain. Mendengar jawaban Viona, mampu membuat Fanika takjub. Galih benar benar tidak salah pilih calon istri, secara fisik gadis itu luar biasa cantik sementara hatinya juga baik. Tidak ada hal yang perlu membuat orang tua Galih ragu sebenarnya ini hanya soal uang dan uang. "Salut gue sama lo, punya calon pekerja keras tapi lo tetep mau kerja. Selamat bergabung di GAVI BUTIK Viona, semoga lo betah. Maaf kalau, besok gue pas jam kerja jadi tegas dan galak karena gue berusaha untuk menempatkan diri dimana pas lagi kerja gue bakalan serius dan dimana kita harus bicara santai." Viona mengangguk, apa yang di katakan Fanika memang benar. "Makasih ya Mbak, semoga aku bisa bekerja dengan baik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD