Galih menatap malas berbagai macam hidangan yang ada di hadapannya, perutnya sudah tidak bisa menampung makanan lagi mengingat di rumah Viona tadi Galih sudah menghabiskan dua porsi nasi goreng buatan Viona sendiri.
Jika bukan karena paksaan Bu Farah, pasti Galih sudah menolak ajakan makan malam ini.
"Mas Galih enggak makan? Ini semua aku yang masak loh,"
"Saya sudah makan." Jawab Galih pelan, hanya Felly yang bisa mendengar suaranya.
Felly tersenyum masam, sulit sekali menaklukkan hati calon suaminya. Tapi gadis itu akan tetap berusaha mendapatkan hati Galih apapun caranya, menyerah tidak ada di kamus kehidupan Felly.
"Dikit aja Mas, aku ambilkan ya."
"Enggak, makasih!" Tegas Galih, sangat risih dengan sikap Felly yang selalu ingin berdekatan dengannya setiap bertemu. Apa mungkin Felly mengira jika Galih senang? Kenyataannya laki laki itu malah merasa risih.
Para orang tua ikut memperhatikan Galih, mereka sepertinya mendengar keributan kecil anak anaknya.
"Kenapa nak Felly? Ada masalah?" tanya Pak Haris, firasatnya mengatakan bahwa anaknya lah yang menjadi penyebab masalah di antara mereka. Penolakan Galih begitu terlihat, padahal Felly adalah Gadis yang sempurna. Hampir tidak terlihat memiliki kekurangan sama sekali.
Galih menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan sang Ayah.
"Galih enggak enak badan yah, makan rasanya hambar. Jadi mau pamit ke belakang boleh?"
Selama di perjalanan, sang ibu memberitahu jika alasan datang terlambat malam ini adalah karena harus mengantarkannya ke rumah sakit terlebih dahulu. Karena sudah terlanjur bermain, biar Galih yang melanjutkan.
"Biar Felly temani nak, sekalian nanti bawakan obat untuk kamu."
Pak Haris dan Bu Sarah saling pandang, pasti Galih tidak suka dengan ucapan Pak Rayhan ayah Felly.
Dengan sopan, Galih mengangguk. Cukup dengan Felly dirinya bersikap dingin tetapi jika menanggapi ucapan pak Rayhan laki laki itu akan menjaga sopan santunnya.
"Permisi."
--
"Sampai kapan, kamu bersikap dingin sama aku?" Tanya Felly, gadis itu duduk di samping Galih lalu meletakkan gelas yang berisi teh dan tidak lupa obat untuk calon suaminya.
Galih mendengus, jadi dirinya harus bersikap bagaimana? Hangat? Dan berpura pura untuk menerima perjodohan itu? Tidak akan, Galih tidak punya waktu untuk membohongi dirinya sendiri dan orang lain. Kebohongan yang akan membawanya pada kehancuran, atau lebih tepatnya kebohongan akan menyakiti banyak pihak.
"Kamu mau saya berpura-pura menerima semuanya?"
"Kamu enggak perlu sampai berpura-pura, kamu bisa menerima semuanya. Terima perjodohan ini, dan tinggalkan Viona. Gampang kan? Setelah itu, kamu nikah sama aku."
Apa Felly tidak malu mengatakan itu semua? "Jangan terlalu berharap banyak, yang kamu katakan tidak akan pernah saya lakukan." Tegas Galih, bersama Viona semuanya terasa begitu tenang.
Felly menghela nafas berat, harus sabar menghadapi sifat keras kepala Galih. Mungkin memang tidak mudah untuk menerima semua itu, tapi Galih juga tidak akan bisa menolak.
"Percuma kamu pacaran sama Viona bertahun tahun, tapi akhirnya nikah sama aku. Kalian enggak akan pernah mendapatkan restu, tapi kalau kamu nikah sama aku orang tua kamu udah pasti setuju." Ucap Felly dengan sombong, gadis itu terlalu percaya diri.
"Percuma kamu memaksa saya menikah, karena pada akhirnya saya hanya mau menikah dengan Viona. Ingat Felly, saya dan Viona sudah bersama sejak lama. Jika nantinya kami tidak di takdirkan untuk bersama, setidaknya kami sudah mau berjuang untuk mendapatkan restu. Jika kami harus berpisah, itu bukan karena orang tua yang tidak memberikan restu tapi karena kami sudah benar benar ikhlas. Mungkin saya rela melihat orang yang saya cintai menikah dengan laki-laki lain, tapi saya tidak akan pernah menikah dengan siapapun."
Gadis yang duduk di samping Galih hanya tertawa sinis, lihat saja nanti Galih pasti akan menyesali ucapannya dan menikah dengannya. Ternyata calon suaminya itu terlalu sombong, Felly menyukai Galih. Apapun yang Felly inginkan, harus gadis itu dapatkan.
"Semakin kamu menolak, aku semakin semangat nunggu hari pertunangan kita."
Dalam hati Galih mengeram kesal, terbuat dari apa hati Felly? "Saya rasa kamu memang sudah Gila,"
Felly mengangguk, "aku gila juga karena mas Galih." Jawab Felly.
Galih menoleh, sangat tidak suka jika da yang memanggilnya Mas selain Viona.
"Jangan pernah panggil saya mas, karena saya enggak suka. Ingat Felly, jangan terlalu berharap dengan acara konyol ini karena sampai kapanpun kita akan tetap menjadi orang lain."
"Em oke, jadi aku panggil kamu apa? Sayang?"
"Kita enggak ada hubungan apapun, hentikan sikap kamu yang gila itu seolah kita saling mencintai." Sahut Galih, nada bicaranya masih saja dingin.
Tanpa mereka sadari, ibu Felly sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Tidak menyangka jika Galih bersikap seperti itu pada anaknya, bahkan menurutnya ini bukan Galih yang bertemu dengannya di meja makan. Apa Galih benar benar tidak menyukai anak gadisnya?
Tapi kenapa? Sangat mustahil jika ada laki laki yang menolak sang anak.
Jika perjodohan ini tetap di lakukan, yang akan terluka adalah Felly. Sikap dinginnya seseorang memang bisa di cairkan jika pasangannya mau sedikit bersabar, tapi mengingat Felly yang tidak sabaran apa rumah tangga mereka akan bertahan?
Hal ini harus di bicarakan dengan dua keluarga, jika Galih memang tidak mau menikah dengan anaknya lebih baik di batalkan saja. Pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa dilakukan karena paksaan orang lain, harus ada rasa cinta dan kasih sayang dari keduanya agar nantinya jika mereka mengalami masalah besar jalan keluarnya bukanlah perpisahan.
Tidak mau kehadirannya di sadari oleh keduanya, Ibu Felly segera pergi dari sana. Untuk malam ini dirinya akan tetap berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Di dalam rumah, suami dan calon besannya masih membicarakan rencana pertunangan Galih dan Felly beberapa hari lagi. Bagaimana bisa mereka dengan begitu santai menyusun rencana tanpa bertanya pada Galih terlebih dahulu?
"Apa tidak terlalu terburu buru untuk melakukan petunangan? Mereka berdua masih butuh waktu untuk saling mengenal." Ucap Bu Arum setelah duduk di samping suaminya, perempuan itu masih teringat Galih yang mengatakan tidak akan pernah mau menikah dengan anaknya walaupun di paksa oleh orang tuanya. Jadi apa itu artinya, kedua orang tuanya sudah tahu jika sang anak menolak? Lalu kenapa mereka tetap kekeh ingin melanjutkan perjodohan ini? Apa mereka tidak sadar apa yang akan terjadi jika pernikahan terjadi karena paksaan.
Perceraian.
"Mereka sudah cukup mengenal, dan sepertinya Galih juga sudah mau menerima Felly. Pertemuan awal memang Galih sempat menolak, tapi kalau di lihat malam ini mereka sudah mulai akrab." Sahut pak Rayhan, tidak tau saja jika Galih hanya bersikap baik jika ada orang tua dari gadis itu.
Bu Arum menggeleng, suaminya hanya tau apa yang terjadi di hadapannya.
"Lebih baik, kita tanya mereka berdua terutama Galih. Mereka berdua yang akan menjalani kehidupan bersama, enggak baik orang tua terlalu ikut campur. Kalau mereka memang sama sama mau, pertunangan akan tetap berlanjut tapi kalau salah satu dari mereka ada yang menolak lebih baik di batalkan saja. Ini pernikahan, bukan hal untuk coba coba." Ujar bu Arum, perempuan itu tidak ingin anaknya mengalami kegagalan dalam pernikahan dan berakhir menjadi janda. Semoga saja Galih bisa berkata jujur di depan semua orang, agar pertunangan mereka tidak perlu di lakukan.