Jika Viona dan Galih sedang melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu, berbeda dengan keadaan di rumah Galih. Orang tuanya sedang marah besar dengan para bodyguardnya, bagaimana bisa mereka semua kecolongan? Lima belas orang yang di tugaskan menjaga Galih, tidak ada yang becus.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN SEHARIAN INI HA? KENAPA GALIH BISA PERGI?" Bentak pak Haris, meninggalkan rumah dengan perasaan tenang sesampainya di rumah malah Galih sudah tidak ada di kamarnya.
Salah satu bodyguard yang berjaga di bawah jendela kamar Galih memberanikan diri untuk berbicara.
"Maaf pak, kami tadi sedang menjalankan shalat Maghrib berjamaah di mushola. Kami tidak tahu jika tuan Galih akan kabur,"
"Seharusnya kalian tetap berjaga dan ada sebagian yang sholat! Saya tidak menerima alasan apapun, sejak pagi sudah saya peringatkan malam ini ada acara penting!"
"Sudah Pa, tidak ada gunanya marah marah seperti ini. Selama ini mereka sudah bekerja dengan baik, dan baru malam ini mereka kecolongan." Bukannya membela para bodyguardnya, tetapi Bu Farah pasti tahu dimana keberadaan anaknya sekarang. Dimana lagi kalau bukan di rumah Viona.
Pak Haris menggeleng, lalu memberikan isyarat agar bodyguard itu pergi dari hadapannya sekarang juga.
"Udah kamu tenang dulu Pa,"
"Kamu bisa minta aku tenang sementara Galih udah kabur? Apa yang harus aku katakan sama keluarga Felly Ma? Anak itu benar benar keterlaluan. Sudah berapa kali, Galih mempermalukan kita. Membuat malu keluarganya sendiri,"
Bu Farah menarik pelan tangan suaminya, lalu memintanya untuk duduk agar sedikit lebih tenang. Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan amarah, justru ketika amarah itu datang masalah akan semakin bertambah.
"Fika, ambilkan bapak minum."
"Aku enggak haus, aku cuma mau cari dimana Galih sekarang. Apa anak itu mau jadi gelandangan?" Semua fasilitas sudah di tarik, malam ini Galih kabur tanpa membawa mobil, uang bahkan handphone.
Fika datang membawa dua gelas air putih, "ini Bu." Fika langsung pamit, mengerti jika majikannya sedang tidak ingin di ganggu.
Setelah Fika pergi, Bu Farah memberikan air putih itu kepada suaminya. "Minum dulu Pa,"
"Kemana kita harus cari Galih?" Tanya pak Haris setelah menandaskan minumnya, walaupun pikirannya sekarang begitu kacau tapi keberadaan Galih tetap harus di temukan.
"Rumah Viona."
"Mama yakin?"
"Kenapa enggak? Apalagi alasan Galih pergi kalau bukan karena Viona? Sudah pasti sekarang Galih ada di rumah Viona, heran Mama di pelet apa gimana anak kita sampai tergila gila sama gadis miskin seperti Viona."
Pak Haris menggeleng, jaman sudah canggih apa masih ada yang menggunakan hal seperti itu? "Galih pasti udah cinta banget sama Viona, tapi Viona cuma cinta sama uang Galih." Ucapan pak Haris terhenti, saat ponselnya berdering.
"Siapa Pa?"
"Felly." Jawab pak Haris mencoba untuk tetap tenang, jangan sampai mereka mengetahui jika Galih kembali kabur dan ingin membatalkan semaunya.
"Iya nak, kamu udah di sana?"
"Iya Om, kalian udah berangkat apa masih di rumah. Perasaan Felly enggak enak dari tadi, em mas Galih baik baik aja kan?"
Kedua orang tua itu saling memandang satu sama lain, lalu Bu Farah mengambil alih ponsel milik suaminya.
"Hallo sayang, kami masih di rumah. Maaf ya, kami sedikit terlambat karena Galih ternyata kurang enak badan tapi kami tetap berangkat kok. Bilang ke Daddy kamu ya kalau kita mungkin terlambat karena harus ke dokter dulu untuk memeriksa keadaan Galih."
Felly yang awalnya sudah mengira jika Galih akan kabur, ternyata laki laki itu sedang sakit.
"Mas Galih sakit apa Tante? Kita yang kesana aja ya kalau gitu, pasti Daddy aku ngerti kok Tan." Daripada mereka harus menunggu, bukankah lebih baik jika keluarga Felly yang datang kerumah Galih saja?
Bu Farah terdiam, jika mereka datang pasti akan ketahuan Galih pergi dari rumah.
"Jangan sayang, ini Tante udah mau berangkat kok. Udah dulu ya sayang, kami mau berangkat kalau enggak macet kami cepat sampai satu jam lagi." Jika tidak cepat di cegah, pasti gadis itu akan nekat mengajak orang tuanya datang ke rumah. Lagipula tidak ada persiapan apa apa di rumahnya, rasanya tidak pantas jika calon besan hanya di berikan makan malam biasanya.
Felly sedikit kecewa, tapi menentang keinginan calon mertuanya juga tidak baik.
"Hati hati di jalan ya Tante, enggak apa apa lama. Asal mas Galih dapat penanganan yang tepat," ujar Felly, jika saja mereka diizinkan kesana gadis itu sendiri yang akan memeriksa calon suaminya bukan orang lain.
"Iya sayang, sekali lagi kami minta maaf ya."
"Tante enggak perlu minta maaf, kita juga enggak pernah tau kalau mas Galih akan sakit malam ini."
Sambungan terputus, Felly tidak mempermasalahkan jika keluarga Galih terlambat asal mereka tetap datang.
"Ayo kita ke rumah Viona, baju Galih sudah ada di mobil."
Mereka berdua pergi ke rumah Viona, tidak ada waktu untuk menunda acara pertunangan anaknya. Secepat mungkin, harus di lakukan. Mereka memang tidak boleh sepenuhnya percaya dengan orang lain, apalagi para bodyguard itu percuma menyewa lima belas orang jika menjaga Galih saja tidak becus!
Pak Haris melajukan mobilnya dengan cepat, mereka hanya memiliki waktu satu jam untuk mencari Galih.
---
"Makasih sayang, mas udah kenyang." Ucap Galih setelah menghabiskan seporsi nasi goreng buatan Viona, padahal sebelum berangkat Galih sudah makan tapi laki laki itu meminta Viona untuk membuatkan nasi goreng. Tanpa menolak, Viona langsung memasak untuk Galih dalam waktu singkat nasi goreng ala Viona sudah tersaji dalam piring.
Viona tersenyum, "gimana enggak kenyang, itu sebenernya buat dua orang mas. Tapi kamu makan sendiri."
Galih terkejut, dirinya lapar atau doyan? "Enak soalnya, jadi kamu enggak kebagian."
"Habis ini kamu mau pulang?" Walaupun Viona senang bertemu dengan Galih, tapi gadis itu juga resah memikirkan nasib Galih kedepannya. Pasti orang tuanya sudah mengetahui jika sang anak tidak ada di kamarnya, dan mereka pasti juga sudah mengetahui jika Galih berada di rumahnya.
"Enggak tau, mau cari penginapan atau mungkin tidur di emperan toko enggak masalah."
"Mas, jangan ngawur kamu." Jika seperti ini, bukankah Galih sudah seperti orang yang tidak memiliki tempat tinggal?
Galih mengangkat bahu tidak mengerti, memang apa yang salah. Dirinya hanya sedang berlatih jika nanti atau besok akan di usir dari rumah tanpa membawa modal apapun untuk hidup. Tabungannya memang cukup, tapi ini untuk modal menikah dengan Viona.
"Jaga jaga aja, kalau tiba tiba mas di usir." Satu tangan Galih meraih tangan Viona, dan tangan yang satunya mengambil ATM di saku jaketnya. Jika nanti dirinya harus kembali kerumah itu, setidaknya uang simpanan Galih akan aman bersama Viona. Jika Viona akan menggunakannya juga tidak masalah, karena gadis itu kelak akan menjadi istrinya.
"Mas nitip ini ya, jangan bilang ke siapapun terutama ibu. Ini punya mas sendiri, sejak kenal kamu mas udah punya tekat untuk memulai hubungan yang serius. Setiap mas ada uang lebih dan Gaji mas tiap bulan, selalu mas sisihkan. Jadi ini benar benar hasil jerih payah mas sendiri untuk kita, kalau kamu mau pakai enggak apa apa." Galih memang begitu percaya pada Viona.
Ingin menolak tapi bukan saat tepat, akhirnya Viona mengangguk.
"Besok mas jemput, kita pergi ke tempat kerja kamu yang baru." Ucap Galih, kasihan sekali Viona sudah beberapa hari terpaksa menjadi pengangguran karena dirinya.
Mendengar ucapan Galih, langsung membuat Viona tersenyum. Meskipun baru beberapa hari tidak bekerja, tapi gadis itu sudah merasa jenuh di rumah.
"Mas enggak bohong kan?"
"Enggak Vi, besok pagi mas kesini lagi. Sekarang udah malam, mas pulang dulu."
"Pulang kemana? Emangnya mas Galih enggak takut, kalau orang tua mas marah karena kamu kabur?" Tanya Viona, Galih kabur juga karena dirinya sudah pasti yang akan di salahkan disini adalah Viona.
Galih tersenyum kecil, lalu menggeleng. Laki laki, jika sudah berani berbuat pasti akan berani bertanggung jawab.
"Kamu percaya sama Mas, semuanya akan baik-baik aja."
"Tapi, gimana kalau enggak baik baik aja?" Walaupun Galih berusaha menenangkan Viona, tetap saja gadis itu merasa khawatir.
Laki laki itu merentangkan tangannya, mengisyaratkan agar Viona masuk kedalam pelukannya. Tidak perlu waktu lama, gadis itu sudah berada di dalam pelukan Galih.
"Jangan takut, mereka orang tua mas. Mereka enggak akan melakukan hal yang membahayakan anaknya sendiri, percaya sama takdirkan? Semuanya sudah Allah atur Vi,"
Dalam pelukan Galih, Viona mengangguk meskipun masih ragu tetapi memang ada benarnya juga apa yang Galih katakan. Orang tua tidak akan pernah menyakiti anaknya sendiri.
"Mau pulang?" Pertanyaan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang Viona lakukan, gadis itu sedang memeluk erat tubuh kekasihnya.
Viona belum mau di tinggal, tapi Galih yakin orang tuanya pasti sedang berada di perjalanan menuju rumah Viona.
"Sudah malam, enggak enak sama tetangga sayang. Mas pulang dulu ya, kamu juga harus istirahat."
Perlahan gadis itu melepaskan pelukannya, "hati hati." Pesan Viona, masih berharap jika besok bisa kembali di pertemukan dengan Galih.
Mereka berdua kembali keruang tamu, sebelum dirinya benar benar pulang gadisnya harus tetap aman di dalam rumah. Galih khawatir jika orang tuanya meminta para bodyguardnya untuk mendobrak pintu rumah ini di saat ibu dan Viona tengah terlelap.
"Kunci pintunya Vi, matikan semua lampu. Matikan ponsel kamu, malam ini kamu tidur sama ibu ya soalnya tadi ibu bilang badannya capek semua karena seharian membuat kue." Ujar Galih, laki laki itu hanya ingin gadisnya tetap aman. Jika kondisi rumah sudah gelap, mungkin orang tuanya akan berfikir dua kali untuk mendobrak rumah ini demi mencari dirinya.
Seperti biasanya, apa yang di katakan Galih selalu di patuhi oleh Viona.
"Iya mas, hati hati ya. Besok jangan lupa pokoknya."
"Iya sayang, sekarang tutup pintunya."
Sesuai perintah Galih, Viona melakukan apa yang kekasihnya minta. Setelah pintu rumah Viona tertutup, dan lampu mati Galih memilih duduk di teras rumah gadis itu. Bukannya tidak mau pulang, tapi Galih sedang menunggu orang tuanya. Ada rencana yang harus Galih jalankan agar ibu dan Viona tetap aman walaupun baru saja bertemu dirinya. Dan benar saja, sepuluh menit berlalu sebuah mobil berhenti di depan rumah Viona.
Kedua orang tuanya muncul dan sedikit heran menatap sang anak yang hanya duduk di teras rumah Viona, apa sejak tadi Galih hanya duduk disini? Jika begitu, artinya Viona tidak tahu jika sang anak kabur dari rumah?
"Bagus, kamu kabur dan milih kerumah Viona." Pak Haris menarik kasar tangan Galih, sedikit malas tapi Galih tetap masuk kedalam mobil. Jika di pikir pikir dirinya masih seperti anak kecil.
Mereka bertiga masuk kedalam mobil, dan pak Haris langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Felly.
"Di usir kamu sama Viona gara gara enggak bawa mobil? Apa Mama bilang, gadis itu cuma mau harta kamu. Sekarang kamu sadarkan?"
"Galih baru sampai Ma, perjalanan dari rumah kita cukup jauh Galih enggak ada uang sama sekali. Ternyata mereka udah tidur, enggak enak bertamu malam malam." Jawab Galih dramatis, kali ini Viona tidak akan terlibat masalahnya lagi.
Pak Haris mendengus, sudah tau tidak ada uang kenapa masih nekat kabur?
"Enggak ketemu begal kamu di jalan? Dan lihat Pa, anakmu sudah seperti gembel yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek. Astaga Galih, ini celana mahal sejak kapan robek begini?" Tanya Bu Farah histeris, karena dengan sengaja sebelum berangkat ke rumah Viona Galih menggunting celananya agar terlihat lusuh sehingga tidak ada salah satu bodyguardnya yang menyadari jika yang kabur adalah dirinya.
"Galih gabut Ma, daripada Galih bunuh diri lebih baik Galih bermain." Bermain yang di maksud Galih adalah menggunting celana dan jaket yang saat ini ia gunakan. Padahal, harganya sangat mahal.
Pak Haris berdecak, sepertinya Galih sudah latihan menjadi gembel dari penampilannya.
"Sekarang kita ke rumah Felly, pakaian kamu sudah ada di mobil. Mama enggak mau nanggung malu karena kamu kabur lagi,"
"Suka banget ya Ma sama Felly, atau sama saham orang tuanya?" Sindir Galih.
"Jaga ucapan kamu Galih, kami ini orang tau kamu!" Bentak pak Haris, semakin hari bicara Galih selalu menyudutkan orang tuanya padahal ini semua demi kebaikannya sendiri.
"Aku pikir, kalian udah enggak mau ngakuin aku jadi anak kalian dan lebih milih Felly untuk jadi anak." Ucap Galih ngawur, lalu melepas kaos dan menggunakan pakaian yang di siapkan orang tuanya. Jujur, Galih sangat malas datang ke rumah itu. Rasanya tidak senyaman rumah Viona, mungkin karena disana tidak ada Viona. Apa perlu, besok Galih akan mengajak gadisnya berkunjung ke rumah Felly? Ide bagus!