Kamu adalah rumah

1292 Words
Viona sedang merapikan kembali dapurnya, walaupun hanya membuat sedikit kue tapi ternyata cukup menyenangkan. Dan bagian yang paling melelahkan adalah merapikan kembali peralatan dapurnya, tidak masalah ini sudah hampir selesai. "Vi, ada yang nyariin kamu." Viona menoleh, siapa yang mencarinya? Apa itu Aldo? Beberapa hari yang lalu, Aldo sempat mengatakan jika akan berkunjung sebentar setelah pulang dari kerja. Tanpa bertanya, Viona langsung mengangguk. Kebetulan sekali Aldo datang saat Viona sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan laki laki itu akan mencicipi kue buatannya. "Jangan lama lama, dia buru buru katanya." Ucap Bu Sarah, lalu kembali ke kamar. Membiarkan sang anak menyelesaikan urusannya dengan Galih, mereka berhak memiliki waktu untuk sekedar berbincang. "Tumben banget Aldo kesini enggak bilang bilang dulu." Viona berjalan menuju ruang tamu dengan membawa kue kering dan teh untuk Aldo, tapi sayang laki laki itu bukan Aldo. Tetapi Galih. Tubuh Viona membeku di hadapan Galih, laki laki yang sangat di rindukannya sekarang ada di rumahnya? Tidak seperti biasanya, Viona malah terlihat takut tapi juga merindukan Galih. Takut jika tiba tiba Galih datang dan mengakhiri semuanya, Viona belum siap. Perubahan seseorang memang bisa datang kapan saja, dan itu bisa saja terjadi malam ini. Menyadari Viona sudah berada di sampingnya, Galih tersenyum. Sungguh, Galih sangat merindukan gadisnya. "Kamu enggak mau duduk?" hampir lima menit, Viona masih berdiri membawa minuman dan kue untuknya. "Eh, iya." Galih terkekeh kecil, "kenapa hm? Kaget?" tanya Galih setelah Viona duduk di sebelahnya, dan sepertinya gadis itu sedikit menjaga jarak dengannya. "Aku enggak apa apa." Tanpa perlu di tawari, Galih mengambil toples yang sudah di isi kue kering buatan Viona tadi siang. Dan langsung membukanya. "Kamu yang buat?" Galih mengambil satu kue, dan mencicipinya. Viona mengangguk, ternyata Galih masih sama atau belum menunjukkan perubahannya? Hufft, jantung Viona rasanya tidak karuan. Semoga laki laki itu tidak pernah berubah, masih Galih yang dulu. "Enak, mas suka." Bahkan tanpa sadar, Galih sudah menghabiskan beberapa kuenya. Sangat berbeda bukan jika Fika yang membuatnya? Pasti Galih akan berfikir seribu kali untuk memakan makanan itu. Tapi jika Viona yang memasak, Galih sudah tidak perlu ragu lagi. Di rasa cukup kenyang, Galih menyudahi makan kue buatan Viona. Niatnya hanya sekedar mencicipi tapi kenyataannya berbeda, tidak masalah mulai dari sekarang Galih harus terbiasa memakan apa yang Viona masak. "Kamu kenapa? Ada masalah?" Apa katanya? Kenapa? Ada masalah? Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah Viona? Kenapa Galih menghilang selama satu minggu? Apa Galih mendapatkan masalah di keluarganya sehingga ponselnya tidak aktif. "Harusnya, aku yang nanya sama kamu." Galih mengangguk, lalu menandaskan minuman yang di bawa oleh Viona. Pembicaraan mereka akan cukup berat, belum di mulai saja tenggorokan Galih rasanya sudah sangat kering. "Tanyakan apa yang ingin kamu tau, mas akan jawab apa adanya. Enggak akan mas buat buat," "Mas sengaja ngilang dari aku, atau mas sengaja menjauh dari aku?" Tuduh Viona, jika Galih akan marah biarkan saja. Berarti benar dugaannya, laki laki itu memang sengaja menjauhinya. Helaan nafas terdengar dari Galih, untuk apa menjauh? "Maaf, tapi mas enggak pernah ada niat menjauh dari kamu. Semua itu karena orang tua mas yang melakukan semuanya," jelas Galih. Seperti dugaan kedua Viona, jika bukan keinginan Galih sendiri untuk menghilang sudah pasti ini karena orang tuanya. Mereka tidak pernah menyukai Viona, rasanya sangat masuk akal jika mereka yang melakukan hal itu. "Sejak kapan kamu suka mabuk? Kamu tau? Aku ngerasa gagal jadi perempuan saat laki laki yang selalu sama aku mabuk mas." Viona masih ingat, saat orang tua Galih datang dan mengatakan kalau Galih pulang dalam keadaan mabuk dan sampai pagi tidak sadarkan diri. Lalu Viona harus bagaimana? Bahkan, Galih sendiri tidak pernah bercerita jika dirinya menjadi pemabuk sekarang. Dan untuk hal itu, Viona diam saja ketika disalahkan. "Belum lama." Jawab Galih singkat, bukan bermaksud menghindari pertanyaan sejak kapan? Dan apa alasan Galih menjadi pemabuk saat itu. Namun, Galih takut karena Viona sekarang pasti marah karena mengetahui perbuatannya dan yang lebih parah gadis itu mengetahuinya dari orang lain. "Alasannya? Bisa enggak, kalau ngomong liat aku. Kamu nunduk gitu ada apa di bawah? Ngomong sama lantai?" Sebenarnya Viona sudah tau kebiasaan Galih yang satu ini, jika sudah melakukan kesalahan yang fatal pasti laki laki itu akan merasa takut pada Viona. Galih bukan tipe laki laki penakut, tapi karena kesalahannya yang membuatnya menjadi seperti ini. Galih menoleh, memberanikan diri untuk menatap Viona. Dan benar saja, tidak ada tatapan teduh disana. Yang ada hanyalah kemarahan, Galih menghela nafas pelan. Dirinya harus bisa menyakinkan kembali Viona jika tidak ingin kehilangan gadis itu selamanya. "Mas enggak bisa nahan diri, mas enggak punya keberanian untuk marah ke mereka. Waktu itu, hal yang paling tepat menurut mas adalah alkohol. Walaupun cuma sesaat, tapi bisa buat mas lupain masalah di keluarga mas Vi. Oke, ini emang enggak benar. Dan mas juga disini enggak cari pembenaran, tapi mas cuma enggak tau gimana caranya ngilangin sesak yang selama ini mas tahan. Laki laki mana Vi, yang tega liat perempuan yang di cintai di hina sama orang tua mas sendiri. Kalau mas tau langsung, udah pasti mas akan bela kamu saat itu juga. Dan waktu itu, sebelum mas pulang. Ibu pernah minta mas buat jauhin kamu, ibu minta mas buat melepas kamu biar mas bisa tunangan sama Felly." Deg Tunangan? Jadi, Galih akan bertunangan dengan Felly. Dan ibunya sudah tau semuanya? "Kamu, tunangan?" Galih dengan cepat meraih tangan kekasihnya. "Enggak akan, mas enggak akan mengkhianati cinta kita Vi. Orang tua mas melakukan itu semua karena saham mereka pasti akan bertambah, itu artinya mas dan Felly sama sama di tukar dengan materi kan? Cinta enggak bisa di tukar dengan apapun, sebelum ibu minta mas buat jauhin kamu. Orang tua mas datang kesini, minta ibu buat jauhin kita karena mas mau tunangan sama Felly. Tapi kamu tenang aja Vi, semuanya enggak akan pernah terjadi." Tanpa sadar, Viona yang selama ini terlihat begitu kuat. Di hadapan Galih akhirnya menangis, kisah cintanya selalu mengalami ujian yang begitu berat. "Gimana, kalau akhirnya kamu tunangan sama Felly hiks..." Runtuh sudah pertahanan Viona selama ini, jika di hadapan Galih tidak akan ada lagi Viona yang kuat dan tegar seperti biasanya. Galih menghapus air mata Viona, mana mungkin dirinya mau melakukan itu semua. Selain menyakiti hati gadisnya, itu juga akan menyakiti hati Galih sendiri. "Enggak akan, buktinya sekarang mas ada disini." Ucap Galih menenangkan, dirinya datang bukan hanya sekedar melepas rindu tapi juga melarikan diri dari orang tuanya. Kekanak-kanakan memang jika selalu lari dari masalah, tapi mau bagaimana lagi mereka sudah keterlaluan. "Maksudnya?" "Malam ini, mereka mau ajak mas ketemu Felly dan keluarganya. Dan mas sekarang ada disini, mas lebih milih kamu daripada Felly. Maaf kalau selama ini, banyak hal yang sengaja mas tutupi dari kamu. Mas cuma enggak tau, harus dengan cara apa lagi menyelesaikan semuanya." Apapun alasannya, yang di lakukan Galih tetap salah. Mabuk bukan jalan keluar terbaik di saat kita kehilangan arah. Viona menghela nafas, hatinya masih terasa sesak jika teringat Galih yang sempat tidak ada kabar dan Galih yang akan di jodohkan dengan perempuan lain. "Terus, kemana handphone kamu?" "Semua fasilitas dari Mama di ambil Vi, mas enggak punya apa apa sekarang. Enggak berharap juga di kembalikan, biarin aja. Biar mereka puas." Jawab Galih, tidak masalah jika nantinya Galih benar benar akan di blacklist dari daftar pewaris tunggal keluarganya. Bukankah itu akan mempermudah jalannya untuk bersama Viona? Viona cukup terkejut mendengar jawaban Galih, tapi jika Galih tidak masalah dengan semua ini mungkin ini adalah jalan yang harus mereka lewati. "Kamu kesini jalan kaki mas?" Mendengar pertanyaan itu tentu saja Galih langsung tertawa, bisa sampai besok pagi jika Galih harus berjalan kaki dari rumahnya menuju rumah Viona. "Mas naik taksi, mas punya tabungan Vi. Itu uang mas sendiri, tanpa sepengetahuan mereka. Jadi, kamu jangan khawatir ya. Dan ada satu hal yang perlu kamu ingat, sejauh apapun mas pergi. Seberapa lama mas menghilang, kamu akan selalu menjadi rumah untuk mas pulang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD