Hari ini, restoran cukup ramai. Viona bersyukur karena hari ini bisa melupakan masalahnya untuk sejenak, tadi Galih mengabari jika hari ini tidak bisa menjemputnya pulang. Tidak masalah, karena Viona bisa pulang sendiri. Lagipula jarak rumah dan restoran tidak terlalu jauh, jadi Viona tidak perlu mempermasalahkannya.
"Kenapa lo diem aja Vi?" tanya Aldo, laki laki itu memang selalu memperhatikan Viona. Baik saat Viona terlihat senang, atau saat terlihat murung.
Mendengar pertanyaan Aldo, Viona hanya tersenyum tipis. Lagi lagi, Aldo bertanya seperti itu. Memang kenapa kalau Viona diam?
"Aku, nggak apa apa Al." Jawab Viona, dirinya memang tidak memikirkan apapun. Tubuhnya hanya sedikit kelelahan, mungkin karena sudah hampir satu minggu Viona selalu pulang malam.
Aldo berdecak lirih, jawaban Viona selalu sama. Tapi mungkin Viona memang tidak apa apa, bisa saja gadis itu kelelahan.
"Gue duduk sebelah lo nggak apa apa kan? Udah sepi juga." Tanpa menunggu persetujuan dari Viona, Aldo langsung duduk di sebelah gadis itu. Di bagian kasir, memang ada dua kursi. Dengan santai Aldo duduk di samping Viona, yang sedang berkutat dengan komputer yang ada di hadapannya.
"Ibu lo, apa kabar Vi? Lama gue enggak mampir." Mereka memang sudah lama berteman, dulu Aldo memang sering datang ke rumah Viona. Namun, semenjak Viona berpacaran dengan Galih berkunjung ke rumah Viona sudah sangat jarang.
Sebenarnya, Galih tidak pernah melarangnya untuk datang ke rumah Viona jika tujuannya memang sekedar silaturahmi dan tidak macam macam. Tapi Galih merasa mereka berdua harus ada batasan, Aldo harus menjaga perasaan Galih. Laki laki baik, yang sangat beruntung mendapatkan Viona menurut Aldo. Tapi Aldo tidak tahu, jika Viona dan Galih belum menikah sampai sekarang karena terhalang restu. Saat Aldo bertanya pada Galih, kenapa sampai saat ini mereka belum menikah. Jawaban tidak terduga Viona membuat Galih tidak pernah bertanya lagi. Waktu itu, Viona menjawab jika Galih sudah sering melamarnya tapi Viona belum siap untuk berjalan ke jenjang yang lebih serius. Jika nanti, Viona sudah siap pernikahan pasti akan terjadi.
"Ibu Alhamdulillah sehat, main ke rumah Al kalau sempet. Pasti ibu seneng kamu datang."
"Kapan kapan deh, gue juga udah lama enggak minta makan di rumah lo." Jawab Aldo, saat di rumah Viona Aldo selalu makan banyak.
Viona tersenyum, jika bersamanya Aldo tidak pernah merasa malu malu untuk mengambil makanan dengan porsi yang cukup banyak.
"Kalau mau main, datang aja ke rumah Al. Kalau mau makan, minta aja sama ibu. Tapi maklum ya, kalau lauknya seadanya." Tidak hanya Aldo yang sering makan di rumah Viona, Galih juga sering. Tapi bedanya, Galih selalu membawa bahan makanan daripada langsung makan tanpa membawa apapun.
Aldo mengangguk, dirinya juga bukan berasal dari keluarga berada. Makan makanan seadanya sudah biasa, yang penting sehat dan yang lebih penting dirinya tidak kelaparan. Sering kali, Aldo merasa kagum dengan Galih karena laki laki itu mau menerima Viona apa adanya. Padahal, Galih anak orang kaya. Mungkin memang benar, cinta tidak selalu tentang harta. Buktinya, cinta Galih pada Viona tulus.
"Santai, gue mah apa aja masuk."
Mereka berdua tertawa, sebelum akhirnya Viona melihat seorang perempuan paruh baya yang datang ke restoran bersama perempuan cantik. Rasa insecure tiba tiba muncul begitu saja, bayangan perempuan itu adalah perempuan yang akan di jodohkan dengan Galih. Ya, perempuan paruh baya yang di maksud Viona adalah ibu Galih.
Sikapnya terhadap perempuan itu sangat berbanding terbalik saat berhadapan dengan Viona, jika bersama Viona ibu Galih terkesan menunjukkan rasa ketidaksukaannya. Namun, jika di lihat mereka berdua sangat akrab. Seharusnya dari sini, Viona sudah sadar mereka berdua tidak akan mendapatkan restu selamanya.
"Al, meja nomor delapan belas." Ujar Viona, para pekerja lainnya sedang sibuk dan hanya Aldo yang sedang bersantai.
Laki laki bangun dari duduknya, menatap Viona sekilas.
"Gue kesana dulu, oh iya salam ya buat ibu lo."
"Iya, nanti aku bilang ke ibu. Udah sana kerja."
Aldo mengangkat jempolnya, lalu berjalan menghampiri ibu Galih dan perempuan cantik tadi. Tentunya laki laki itu tidak tahu jika itu adalah ibu Galih.
"Nanti malam, kamu harus dandan yang cantik ya Fel. Tante yakin, anak tante pasti suka sama kamu."
"Aku juga suka kok sama anak tante, tipe laki laki yang suka kerja. Idaman banget tan, pasti yang jadi istrinya beruntung banget." Gadis itu bernama Felly, malam ini akan ada pertemuan keluarga. Niatnya malam ini, Galih akan di jodohkan dengan gadis itu.
"Dan perempuan yang beruntung itu pasti kamu sayang, tante udah enggak sabar liat kamu pakai gaun pengantin." Kedua matanya berbinar saat membayangkan jika Galih dan Felly menikah, harapan yang di bangun sendiri tentunya akan menyakiti diri sendiri jika harapan itu tidak sesuai kenyataan.
Aldo menghampiri mereka mencoba mengembangkan senyum terbaiknya, padahal sebenarnya Aldo sangat malas tersenyum pada orang yang baru di temui.
"Selamat sore, ini buku menunya. Silahkan," ujar Aldo, mempersilahkan mereka memesan makanan yang akan di pesan.
Felly tersenyum ramah, pada dasarnya Felly orang yang ramah. Tapi gadis itu tidak suka jika ada yang mengambil haknya.
Felly membuka buku menu, sambil berbincang dengan calon mertuanya.
"Apa anak tante belum punya pacar, em maksud aku enggak mungkin kan orang seganteng anak tante belum punya pacar. Apalagi, udah punya pekerjaan tetap dan mapan. Pasti banyak yang antri jadi menantu tante."
Ibu Galih menghela nafas berat, tiba tiba teringat Viona. Gadis miskin yang sangat tidak tau diri, sudah berapa kali di ingatkan untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan Galih tapi tetap saja membantah. Semakin di larang, Viona akan semakin gencar mendekati Galih. Jadi untuk sementara waktu, mereka akan membiarkan Viona menikmati masa masa terakhirnya bersama Galih. Jika semua orang setuju dengan perjodohan ini, maka Viona tidak punya hak apapun atas diri Galih.
"Ada sih, tapi tante enggak setuju." Jawab perempuan paruh baya itu dengan nada bicara yang terkesan sombong, Aldo diam diam mendengar pembicaraan mereka.
Felly cukup terkejut mendengar jawaban itu, tapi gadis itu berusaha bersikap tenang. Jika Galih sudah punya pacar, kenapa akan di jodohkan dengannya? Pasti ada sesuatu hal yang perlu Felly ketahui.
"Kenapa tante enggak setuju?" tanya Felly penasaran, dirinya tidak mau bertindak gegabah. Felly harus mengetahui alasan apa yang membuat gadis pilihan Galih tidak mendapatkan restu dari ibunya.
"Dia miskin, enggak selevel sama Galih. Tante yakin, gadis itu cuma mau harta keluarga kami. Sampai kapanpun, kami enggak akan rela jika mereka bersama."