Sebuah fakta

1337 Words
Dua hari setelah pertemuan Viona dan orang tua Galih, mereka berdua masih baik baik saja. Meskipun begitu, Viona tidak pernah ada keinginan untuk menghindari Galih. Lagipula, untuk apa menghindar? Selama orang tua Galih tidak melakukan hal lebih, Viona masih bisa berusaha lebih keras lagi. Selama dua hari pula, Galih selalu menjemputnya saat pulang kerja. Padahal, jarak antara kantor dan tempat Viona bekerja lumayan jauh tapi Galih dengan senang hati melakukan itu semua. Bagi Galih, tidak ada kata merepotkan jika itu menyangkut gadisnya. "Buset, berseri seri banget tuh wajah. Lagi kasmaran ya lo Vi?" tanya Aldo, selalu seperti ini jika tau Viona sedang tersenyum. Padahal, Viona selalu tersenyum hanya untuk menutupi kesedihannya. Miris memang, harus sembunyi di balik senyuman palsu. Tapi tidak masalah, orang lain tidak perlu tahu apa yang Viona rasakan. Mereka hanya perlu tau jika Viona selalu tersenyum dan baik baik saja. Viona hanya tersenyum menanggapi ocehan temannya, Aldo dan orang lain tidak perlu tau apapun tentang Viona. "Kepo banget kamu Al." Keduanya menoleh, ternyata bos mereka sudah datang. Dengan canggung, Viona menyapa Alan. "Selamat pagi pak." Sapa Viona, sebagai karyawan mungkin akan lebih sopan jika selalu menyapa terlebih dahulu. "Pak, saya cuma nanya sama Viona. Bukan kepo," ucap Aldo, tidak mau jika di anggap kepo oleh atasannya. "Sama aja, kamu kalau suka sama Viona bilang aja Al. Nanti kalau dia di lamar laki laki lain, baru deh kamu nyesel." Aldo melirik Alan sebentar, hobi sekali bosnya itu mangatakan jika dirinya menyukai Viona. Padahal, Aldo tau jika Alan sendirilah yang memendam perasaannya pada Viona. Walaupun Alan punya semuanya, tapi Alan tidak pernah menggunakan hartanya untuk mendekati Viona karena semua orang tahu jika Viona sudah menjadi milik Galih. "Saya tipe laki laki sejati pak, enggak mau mendem perasaan terlalu lama apalagi sampai bertahun-tahun. Kalau saya suka, pasti saya bilang. Tenang aja, nanti kalau saya berhasil nikung Viona dari pacarnya saya kabarin." Ujar Aldo, niatnya hanya untuk menyindir Alan. Kini Aldo menghadap Viona, ini saatnya pembalasan yang tepat untuk Alan. "Vi, lo udah denger gosip terbaru belum?" tanya Aldo pada Viona, dan gadis itu hanya menggeleng. Selama bekerja disini, Viona tidak pernah mau ikut bergosip. Tidak ada waktu, menurutnya tidak ada gunanya bergosip. Alan menyimak Aldo dengan seksama, tahu betul kemana arah pembicaraan ini. "Aku enggak sempet gosip sama temen temen, aku tiap jam pulang kerja langsung pulang. Mas Galih udah nunggu soalnya," jawab Viona, Galih memang selalu datang tepat waktu. Jika laki laki itu tidak bisa menjemputnya, maka Galih akan menghubungi Viona lebih awal sebelum jam pulang kerja. Galih melakukan itu karena tidak mau membuat Viona menunggu dirinya. Sebagai seorang atasan, Alan tau betul bagaimana sikap dan sifat para karyawannya. Yang bekerja pada Alan, memang tidak semaunya seperti Viona. Namun, Alan bersyukur jika mereka tidak terlalu suka bergosip. Apalagi sampai membicarakan aib temannya sendiri. "Kabarnya, pak Alan lagi suka sama seseorang tapi ngga berani ngomong. Jangankan ngomong, tiap mau ngobrol aja malu malu." Alan melotot mendengar ucapan Aldo, sial. Kenapa harus dirinya? Aldo memang benar-benar meresahkan, laki laki itu memang tidak pernah sungkan untuk mencari masalah dengannya. Padahal, Alan adalah atasannya. Mendengar ucapan Aldo, tentu saja membuat Viona terkejut. Apa benar jika Alan pemalu jika bertemu perempuan yang di sukai ya? Sangat langka sekali, padahal saat di restoran laki laki itu terlihat begitu berwibawa dan tidak menunjukkan Alan pemalu. "Masa sih? Tapi kenapa?" Alan berdehem pelan, pembicaraan ini harus secepatnya di selesaikan. Jika tidak, Aldo akan terus membicarakannya. Dan itu tidak benar. "Jangan percaya sama Aldo, sesat." Sela Alan dengan cepat, sementara Aldo hanya pura pura tidak mendengar apa yang alan katakan. "Tiap hari mereka ketemu, tapi jarang banget ngobrol. Mungkin, karena si ceweknya udah punya calon." Sindir Aldo lagi, ingin sekali rasanya Aldo menertawakan bosnya itu di depan Viona. Perempuan yang di maksud Alan, tidak lain adalah Viona sendiri. Sebagai seorang laki laki, Aldo bisa melihat bahwa tatapan Alan selalu berbeda saat melihat Viona. Alan selalu memperhatikan Viona, dan itu selalu membuat Aldo gemas. Mungkin, alasan Alan tidak bisa mendekati Viona karena gadis itu sudah memiliki calon suami. Jika saja, Viona masih sendiri pasti dengan senang hati Alan akan mendekati Viona untuk di jadikan kekasihnya. "Pengunjung mulai ramai, Aldo cepat lanjutkan pekerjaan kamu. Dan untuk Viona, kamu enggak perlu percaya sama omongan Aldo karena itu semua bohong." Tegas Alan, jangan sampai gadis pujaan tau jika sudah lama Alan menyimpan perasaan untuknya. Viona mengangguk, apapun kebenarannya itu bukanlah hak Viona untuk ikut campur. "Masa saya bohong sih pak? Kalau saya bohong pak Alan enggak perlu panik gitu dong." Ejek Aldo, jika ucapannya hanya bualan kenapa Alan harus panik? Aldo memang bisa menyudutkan Alan, dan itu sangat menyenangkan. Walaupun mereka adalah bos dan karyawan tapi Alan tidak pernah berbuat semena-mena terhadap karyawannya. Diam diam, Viona juga memperhatikan raut wajah Alan. Dan benar, bosnya itu terlihat panik. Viona menggeleng pelan, jika memang Alan menyukai seseorang kenapa tidak di ungkapkan saja. Secara materi, Alan sangat mampu dan secara fisik Alan tergolong laki laki yang tampan. Jadi, tidak ada alasan perempuan itu untuk menolak laki laki seperti Alan. "Saya enggak panik, kamu jangan bicara macam macam. Saya enggak mau, kalau ada karyawan lain yang tau omong kosong kamu." Jika Alan tetap disini, laki laki itu yakin akan semakin di sudutkan oleh Aldo. Lebih baik, segera pergi melanjutkan pekerjaan lainnya. Aldo mengangguk sembari menahan diri untuk tidak tertawa, kasihan juga Alan jika harus terlihat panik di depan Viona. "Saya enggak macam macam pak, tapi saya cuma mengingatkan." "Mengingatkan apa?" tanya Alan geram. "Jangan pernah, mencintai seseorang yang sudah mencintai laki laki lain." Sialan. Ingin sekali Alan memukul wajah Aldo yang tidak merasa bersalah setelah mengatakan itu padanya. "Al, enggak baik ngomong gitu ke pak Alan. Pak Alan enggak mungkin suka sama pacar orang," Viona rasa ini sudah berlebihan, jika sedang bercanda Aldo terkadang suka kelewatan. Alan menahan diri untuk tidak tersenyum, pembelaan dari Viona membuat hatinya tenang. "Gue cuma nebak tadi, eh pak Alan panik. Maaf ya pak, saya emang sengaja." "Sudah sudah, Viona apapun yang keluar dari mulut Aldo. Jangan mudah percaya, dia pintar sekali memutar balikan fakta. Saya permisi dulu." Pamit Alan, melihat senyum Viona membuatnya begitu lemah. Senyuman gadis itu selalu terbayang di benak Alan, biarkan saja luka dan bahagia ini Alan yang tahu. Tidak perlu ada seseorang yang tahu jika dirinya menyukai Viona. -- "Nanti malam, kamu ada acara?" Galih yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya, sampai tidak sadar jika sang ayah sudah masuk ke dalam ruangannya. Jika kembali di ingat, hari ini Galih belum mempunyai janji dengan Viona. Hanya saja nanti, Galih akan menjemput gadisnya setelah pulang kerja. "Enggak ada." Jawab Galih singkat, mungkin sang ayah akan mengajaknya berkunjung ke keluarga neneknya. Mengingat mereka sudah lama sekali tidak berkunjung, apalagi besok weekend waktu yang tepat untuk bersama keluarga. Galih terdiam, jika saja mereka sudah mendapatkan restu pasti Viona mau di ajak berkunjung ke rumah neneknya. "Nanti malam kamu harus ikut makan malam bersama keluarga Pak Handoko, rekan bisnis kita yang baru." Ternyata dugaannya salah, selalu saja urusan bisnis. Apa mereka tidak mengerti, jika Galih butuh waktu bersama Viona? Ah, Galih lupa mungkin mereka melakukan itu karena ingin membuat Galih sibuk dan perlahan melupakan Viona. Tidak akan berhasil. "Nanti, aku datang sama Viona." Brak Galih terkejut saat ayahnya menggebrak meja, laki laki paruh baya itu terlihat sangat marah. Apa Galih salah? Tentu saja, ayahnya tidak suka jika dirinya mengajak Viona. Seperti biasanya, jika mereka mengajak Galih pasti ada maksud tertentu. "Siapa yang kasih kamu gak ajak gadis miskin itu? Jangan pernah kenalkan dia sama rekan bisnis kita, bisa hancur reputasi keluarga kita saat mereka tau kamu menjalin hubungan dengan perempuan miskin." Dengan santai, Galih menutup laptopnya. Beruntung, pekerjaannya sudah selesai, jadi Galih lebih leluasa untuk membela gadisnya. Keluarganya terlalu mementingkan nama baik keluarga daripada kebahagiaan anaknya. "Galih cinta sama Viona, jadi mereka harus tau siapa calon istri Galih. Dan Galih, enggak butuh penilaian mereka terhadap siapa calon istri Galih nantinya. Karena mereka cuma orang lain, bukan keluarga Galih. Semakin sering kami di tentang, bukan berarti kami akan langsung menyerah. Galih pastikan, hanya Viona yang akan menjadi menantu kalian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD