Seorang perempuan paruh baya memperhatikan penampilan gadis yang duduk di hadapannya, tidak ada tatapan ramah disana. Yang ada hanyalah, tatapan sinis karena sudah muak dengan wajah polos gadis itu.
Gadis yang di maksud tentu saja Viona, merasa kehadirannya tidak di anggap Viona semakin gelisah.
"Apa, yang udah kamu berikan pada anak saya? Kenapa Galih, tidak mau melepaskan kamu?" jika di ingat, gadis itu tidak pernah memberikan apapun pada Galih. Rasanya sangat aneh, jika sang anak terlalu mencintai gadis miskin di hadapannya itu.
Viona menghela nafas berat, gadis itu tidak pernah memberikan apapun pada Galih selain cinta yang tulus. Murni, dari dalam hati Viona. Meksipun orang lain, selalu beranggapan bahwa harta adalah alasan utama. Namun, Viona bukanlah gadis seperti itu. Bagi Viona, cinta Galih lebih berharga daripada harta laki laki itu.
"Saya, tidak pernah memberikan apapun untuk mas Galih selain cinta." Jawab Viona apa adanya, keadaannya memang seperti itu tidak ada yang perlu di sembunyikan.
"Karena kamu miskin, kalau kamu belum pernah memberikan apapun untuk anak saya. Seharusnya kamu sadar, kalau kamu tidak pantas bersanding dengan Galih. Harus dengan apa saya buat kamu sadar, kalian itu seperti langit dan bumi. Tidak akan pernah bersatu!"
Viona tersenyum pedih saat ibu Galih membandingkan keadaannya seperti itu, meskipun benar tapi Viona hanyalah gadis pada umumnya. Yang ada merasakan sakit hati jika terlalu sering di hina.
"Galih akan saya jodohkan, mana mau saya punya menantu miskin. Dan tidak berpendidikan, semua orang tahu Galih berasal dari keluarga kaya. Rasanya akan sangat memalukan kalau Galih menikah dengan kamu."
Membayangkan laki laki yang di cintai bersanding dengan perempuan lain, membuat hati Viona terasa sesak. Apa Galih akan meninggalkannya begitu saja?
"Kamu itu miskin Viona, sadar. Di keluarga kami, tidak ada yang pernah menikah dengan gadis miskin." Ucapan itu begitu ringan tanpa beban, tapi Viona berusaha kuat menghadapi sikap orang tua Galih. Viona tidak boleh menyerah, karena mereka sudah berjanji untuk selalu bersama.
Setelah puas menghina Viona, wanita paruh baya itu memilih pergi dari hadapan gadis pilihan Galih. Setelah kepergian ibu Galih, air mata Viona luruh begitu saja. Ternyata memang benar, Viona dan Galih harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan restu. Tapi sampai kapan? Gadis itu juga tidak tahu. Dan berakhir seperti apa nantinya, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan.
"Kamu nangis?"
Viona langsung menyeka air matanya saat mendengar suara yang begitu familiar baginya, laki laki itu tidak boleh melihatnya lemah.
"Enggak kok mas," elak Viona.
Galih duduk di sebelah Viona, meksipun gadis itu tidak mau mengaku tapi mata sembabnya tidak bisa menyembunyikan apa yang sudah terjadi. Ya, Galih pasti tahu apa yang terjadi. Semua itu karena orang tuanya yang masih belum bisa menerima hubungan mereka.
"Maaf ya, mas udah paksa kamu dateng ke rumah. Padahal kita sama sama tau akhirnya akan seperti ini."
"Kita enggak akan pernah tau akhirnya seperti apa, kalau kita enggak pernah mencoba." Sahut Viona, membuat Galih tersenyum tipis.
Viona memang gadis yang sederhana, tapi itulah yang membuat Galih tidak bisa berpaling ke lain hati. Baginya, Viona adalah segalanya.
"Mau ikut mas enggak?" tanya Galih, berusaha untuk menghibur kekasihnya atau lebih tepatnya menghiburnya Viona dan dirinya sendiri.
Tanpa berfikir panjang, gadis itu langsung mengangguk. Lalu mereka keluar dari rumah Galih, jika ditanya kenapa tidak berpamitan pada orang tua Galih. Mereka berdua tahu ini bukan waktu yang tepat, memang terkesan tidak sopan. Namun, Galih sangat tahu apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya saat Viona memaksakan untuk berpamitan pulang. Mereka akan kembali menyakiti hati kekasihnya, dengan kata k********r. Lebih baik mencegah daripada mengobati, itulah yang dipikirkan Galih saat ini.
"Kita, mau kemana mas?" tanya Viona saat Galih mulai menjalankan mobilnya, entah kemana tujuannya.
Galih menoleh, lalu tersenyum. Senyuman yang selalu membuat hati Viona terasa damai. Meskipun terlihat begitu lelah, laki laki itu tidak pernah memudarkan senyumnya saat bersama Viona.
"Kamu, lagi pengen kemana?"
Viona mendengus mendengar jawaban itu, jawaban yang selalu Galih berikan. Padahal tadi laki laki itu yang mengajaknya pergi, tapi lihat. Sekarang Viona lah yang harus menentukan kemana tujuan mereka sekarang.
"Pulang aja ya."
"Masa pulang sih, mas masih kangen loh. Ini juga masih jam delapan, kita pacaran dulu gimana?"
"Inget umur mas."
"Kenapa harus bawa bawa umur, umur boleh tua tapi jiwa kita harus selalu muda dong."
Viona tertawa mendengar jawaban Galih, laki laki itu selalu memiliki cara agar dirinya kembali tersenyum.
"Vi." Panggil Galih.
"Kenapa?"
Galih menghela nafas kasar, sebelum memulai pembicaraan. Jalanan cukup padat, mungkin mereka akan sampai di rumah Viona sedikit terlambat.
"Apapun yang kamu dengar di rumah mas, anggap saja angin lalu. Jangan di ambil hati, mamah belum mengenal kamu. Jangan menyerah ya," pinta Galih.
Viona terdiam saat Galih mengatakan bahwa ibunya belum mengenal Viona, faktanya perempuan paruh baya itu sudah hampir mengenalnya dua tahun lamanya. Begitu sulit untuk mendapatkan restu, sampai mereka belum sempat mengenal satu sama lain. Gadis mana yang tidak ingin menyerah jika berada di posisi Viona, rasa lelah karena tidak pernah di anggap memang begitu menyakitkan. Namun, mereka tidak boleh menyerah. Viona percaya akan selalu ada pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah luka yang pernah tersematkan.
"Aku enggak janji bisa bertahan, tapi aku berusaha untuk bertahan semampuku mas. Aku cuma gadis biasa, kalau nanti aku menyerah. Aku harap, kamu ikhlasin semua tentang kita ya." Jawab Viona, mengingat perbandingan antara mereka bagaikan langit dan bumi membuat Viona merasa sangat jauh berbeda dengan Galih.
Galih terdiam, tentu saja apa yang di katakan Viona sangat tidak mungkin. Mereka tidak akan pernah berpisah, walaupun mereka tidak akan pernah mendapatkan restu. Jika suatu saat Galih akan di beratkan oleh dua pilihan, antara Viona dan orang tua tentu saja Galih tidak bisa memilih. Harapan mendapatkan restu selalu menjadi penyemangat Galih dan Viona.
"Mas." Panggil Viona, sadar jika Galih pasti sangat terganggu karena ucapannya.
Galih tidak mengatakan apapun, laki laki itu kembali melajukan mobilnya. Perasaannya sangat tidak menentu, apa yang di katakan Viona tidak boleh menjadi kenyataan.
Mereka berdua tiba di depan rumah Viona, masih dengan keadaan yang sama Galih memilih bungkam. Secara tidak langsung, gadis yang selama ini di perjuangkan sudah menyerah sebelum mendapatkan restu.
"Mas Galih."
"Hm."
Sabar, itulah yang harus Viona lakukan saat laki laki yang ada di sampingnya sedang merajuk.
"Marah sama aku?" tanya Viona, walaupun gadis itu tau Galih tidak akan pernah marah padanya dalam waktu yang lama tapi tetap saja hatinya tidak akan tenang jika Galih terus menerus mendiamkannya.
Terdengar helaan nafas berat dari Galih, lalu Viona merasa tangannya di genggam oleh Galih. Begitu erat.
"Mas marah, tapi bukan sama kamu Vi." Jawab Galih.
"Terus, sama siapa? Jangan bilang kalau kamu marah sama orang tua kamu, awas ya. Aku bakalan marah beneran sama kamu, inget mas mereka berdua yang selalu ada buat kamu sejak kamu masih kecil." Mendengar ocehan Viona, Galih tidak tahu harus berbuat apa? Di sisi lain rasanya sangat bersyukur karena Viona bukan gadis pendendam. Namun, Galih juga bingung apakah Viona benar benar bisa menerima semua perlakuan kedua orang tuanya yang sudah sangat keterlaluan?
"Jawab mas."
Bukannya menjawab pertanyaan Viona, laki laki itu malah terdiam. Membuat Viona semakin kesal.
"Mas."
"Iya sayang, kenapa sih? Kamu cantik kalau marah marah, tapi mas enggak suka." Jawab Galih tidak nyambung.
"Tau ah, mas nyebelin banget. Mau cari pacar baru aja."
Galih terkejut mendengar ucapan Viona, ini pertama kali gadis itu mengatakan hal seperti ini. Apa Viona benar benar sudah menyerah? Jika benar, laki laki pilihan Viona akan menderita seumur hidupnya karena sudah merebut sumber kebahagiaannya.
"Cari aja, mas pastiin dia yang berhasil rebut kamu bakalan menderita seumur hidupnya." Ucap Galih datar.
Viona tersenyum tipis mendengar ucapan Galih, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Galih sampai kapanpun.
"Silahkan." Tantang Viona, tidak ada yang perlu di takutkan.
"Kamu jahat Vi," ucap Galih, bagaimana bisa gadis itu berniat mencari penggantinya di saat seperti ini.
Viona menahan diri untuk tidak memeluk laki laki itu. Hanya Galih yang mau menerima kekurangannya, tapi sayang semua itu tidak ada artinya bagi calon mertuanya. Calon mertua? Jika mereka tau Viona menanggap mereka sebagai calon mertua mereka tidak akan mau.
"Aku becanda kok, aku masih mau bertahan bareng kamu. Aku, masih mau berjuang untuk restu orang tua kamu." Ucapan Viona bukan hanya sebatas kalimat penenang, tapi memang benar adanya. Sudah sekian lama, mereka berjuang untuk mendapatkan restu tapi belum berhasil. Dan menyerah di saat seperti ini, bukanlah hal yang tepat. Jika sekedar dihina karena bukan orang kaya, Viona sudah sering. Di larang untuk mendekati Galih, sudah terlalu sering. Yang Viona harapkan, jika suatu saat mereka memang di takdirkan untuk berjodoh Tuhan akan mempermudah semuanya. Namun, jika dirinya dan Galih tidak berjodoh mungkin itu adalah yang terbaik. Sebaik baiknya berharap, adalah berharap pada yang maha kuasa.
Galih menghembuskan nafas lega, dirinya sudah takut jika Viona benar benar ingin menyerah. Perjuangannya selama ini sudah banyak yang di korbankan, demi sebuah restu mereka sudah melakukan apapun. Tapi tetap saja, orang tuanya tidak pernah mau melihat kehadiran Viona. Yang ada, mereka malah ingin menjodohkan Galih dengan perempuan lain. Tentu saja Galih akan menolak, laki laki itu hanya menginginkan Viona. Bukan perempuan lain.
"Jangan pernah punya pikiran untuk nyerah, mas enggak suka Vi."
"Aku enggak akan nyerah, kecuali kamu sendiri yang minta aku pergi. Karena titik lelah sebuah perjuangan dalam hubungan, adalah di saat kita berjuang tapi enggak pernah di anggap dan di hargai sama pasangan kita. Tapi, sejauh ini aku sama kamu saling melengkapi. Aku enggak akan nyerah, aku tau perjuangan kita enggak mudah. Dan menyerah bukan jalan yang tepat," jelas Viona, gadis itu akan benar-benar mengakhiri semua perjuangannya di saat Galih yang memintanya untuk pergi.
Galih menggeleng, tidak akan pernah meminta Viona pergi.
"Dan mas pastikan, hal itu enggak akan pernah terjadi. Kita harus sabar, dan harus selalu berdoa. Sekeras apapun hati manusia, pasti akan luluh karena perjuangan dan doa kita Vi."