Penolakan orang tua Galih

1500 Words
Sejak kemarin, Galih terus saja membujuk Viona agar mau di ajak bertemu orang tuanya. Meksipun Galih tahu, akan seperti apa reaksi orang tuanya nanti tapi Galih tidak akan menyerah. Semuanya butuh perjuangan, Galih yakin usahanya untuk mendapatkan restu akan berhasil. Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti. Yang pasti, mereka berdua akan terus mencoba. Galih selalu mengingatkan Viona agar gadis itu tidak mudah menyerah, apapun yang terjadi cinta Galih akan selalu untuk Viona. "Kita enggak boleh menyerah dengan keadaan Vi, percaya sama mas. Mungkin aja, mereka ingin tau seberapa kuat kita bertahan." Viona diam bukan karena ingin menyerah, sebagai perempuan Viona mempunyai perasaan yang sensitif. Apalagi orang tua Galih selalu menyinggung harta, mereka selalu menjatuhkan mental Viona dengan harta orang mereka punya. "Kalau gagal lagi?" tanya Viona, dulu Viona pernah bertemu orang tua Galih. Awalnya mereka bersikap sangat baik, sampai akhirnya mereka bertanya latar belakang kehidupan Viona. Semuanya berubah. Galih menghembuskan nafas berat. "Kalau gagal, kita coba lagi. Kamu tau, aku selalu berusaha buat mereka yakin sama pilihanku. Tapi semua itu enggak mudah, dan kamu juga harus percaya kalau suatu saat aku bakalan datang ke rumah kamu bersama orang tuaku untuk melamar." Viona mengangguk, meskipun sudah berkali kali mencoba dan hasilnya tetap sama. Tapi Galih selalu meyakinkannya agar tidak mudah menyerah, perjalanan mereka masih panjang. Sudah banyak perjuangan yang mereka lalui bersama, bagi Galih hanya Viona yang tulus mencintainya. Di luaran sana, banyak gadis yang siap menikah dengan Galih. Orang tuanya selalu mengatakan pada Galih untuk mencari calon istri yang sepadan dengan keluarganya, tapi mereka lupa untuk meminta Galih mencari calon istri yang mencintai Galih dengan tulus. "Tapi aku harus kerja mas, aku enggak enak kalau harus izin. Apalagi, aku masih baru. Apa kata temen-temenku yang udah lama kerja disana?" tanya Viona. Untuk menyambung hidup, gadis itu bekerja di restoran cepat saji. Gajinya lumayan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang ibu. "Kamu keluar dari pekerjaan kamu, mulai besok kamu kerja di kantor mas. Mas butuh sekretaris pribadi," Melihat Viona bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, membuat Galih merasa tidak berguna. Laki laki itu hidup bergelimang harta, tapi Viona tidak pernah mau bekerja di perusahaan Galih. Viona menggeleng, untuk mendapatkan restu dari orang tua Galih bukan seperti itu caranya. Bekerja sebagai sekertaris di perusahaan Galih, memang menjanjikan gaji yang lebih besar. Namun, Viona tetap memegang teguh prinsip hidupnya. Selama dirinya masih sehat, gadis itu tidak akan merepotkan siapapun. Apalagi Galih, bisa berada di dekat Galih saja sudah cukup. "Enggak semudah itu mas, aku enggak mau kalau ayah kamu semakin benci sama aku karena beliau melihat aku setiap hari. Kalau mas emang mau mendapatkan restu, kita berjuang pelan pelan." Ujar Viona, gadis itu sudah pernah bertemu ayah Galih. Dari pertemuan mereka yang pertama, Viona sudah sadar jika mereka tidak di restui. Galih mengangguk, jika Viona mau semua kebutuhannya akan Galih penuhi. Tapi kenyataannya, gadis itu tidak mau merepotkan Galih. "Pulang jam berapa? Kalau bisa nanti malam ikut aku ke rumah. Kita enggak akan tau, kapan mereka berubah pikiran. Tetep sama aku ya Vi, apapun yang terjadi kita berjuang sama sama." --- "Viona, lo sakit apa gimana? Gue liatin dari tadi lemes."  Viona menerima segelas air putih pemberian Aldo, rekan kerjanya di restoran ini. Aldo lebih dulu bekerja disini, Aldo juga yang membuat Viona bisa bekerja disini. Gadis itu meminum air putih pemberian Aldo. "Sehat kok, cuma lagi banyak pikiran. Emang aku kelihatan sakit?" tanya Viona, gadis itu sudah memikirkan reaksi keluarga Galih nanti malam. Rasanya belum siap, jika harus mendengarkan mereka kembali menghina keluarganya. Aldo mengangguk, sejak pagi Viona terlihat tidak bersemangat.  "Iya lo lemes banget, kalau lo sakit mendingan lo istirahat dulu. Bukannya gue ikut campur, tapi kalau lo lagi banyak masalah. Jangan di bawa di kerjaan, takutnya lo enggak fokus malah nambah masalah buat diri sendiri." Saran Aldo, di tempat ini Viona memang akrab dengan Aldo. Laki laki itu, sudah Viona anggap seperti kakaknya sendiri. "Namanya juga hidup Al, pasti ada aja masalahnya." Tidak mau terlalu larut memikirkan masalahnya, Viona kembali melanjutkan pekerjaannya.  Setiap hari, Viona akan bekerja dari pagi sampai malam. Namun, khusus hari ini Viona akan meminta izin pulang lebih awal. Tidak ingin membuat Galih kecewa, apa yang di katakan Galih memang benar. Mereka tidak akan pernah tahu, kapan orang tua Galih akan memberikannya restu. Hal, yang perlu mereka lakukan adalah selalu berusaha dan berdoa. Viona bekerja di bagian kasir, hal itu membuat Viona harus fokus bekerja. Dulu, Viona ingin kuliah agar bisa mengangkat derajat orang tuanya. Tapi karena keterbatasan biaya, gadis itu memilih untuk bekerja. "Pagi Viona." Viona tersenyum, saat bosnya menyapanya. Tidak hanya Viona, semua karyawan juga selalu di perlakukan sama. Setiap pagi, bosnya selalu datang untuk melihat kinerja pegawai restorannya. "Selamat pagi pak Alan," Alan Fahreza. Pemilik restoran cepat saji, awalnya Viona mengira jika bosnya sudah berumur atau sudah berkeluarga. Tapi ternyata, Alan seusia Galih. Dan tentu saja Alan juga belum menikah.  Saat pertama kali bertemu, Viona langsung di interview oleh Alan. Dari banyaknya pertanyaan yang Alan berikan, ada satu pertanyaan yang membuat gadis itu mengingat Galih. Sebenarnya pertanyaan itu terlalu mudah, tapi entahlah jika orang lain yang bertanya Viona merasa tidak suka. "Apa kamu, ada rencana menikah dalam waktu dekat?" itu memang pertanyaan biasa bagi orang lain, tapi tidak bagi Viona. Apapun yang menyangkut pernikahan, akan menjadi hal yang sensitif bagi Viona. Mengingat jika, Galih dan Viona belum mendapatkan restu dari orang tua Galih. "Belum tahu Pak, kalau jodohnya sudah dekat pasti saya juga akan menikah dalam waktu dekat." Jawab Viona sopan, saat berbicara dengan orang baru sebisa mungkin Viona harus bersikap baik. Terutama dengan atasannya. "Pak Alan, apa saya boleh izin pulang lebih awal?" tanya Viona setelah sadar dari lamunannya. Alan nampak berfikir, Viona sudah bekerja keras selama ini. Gadis itu juga belum pernah meminta izin seperti ini sebelumnya, jadi tidak ada alasan untuk tidak memberikan izin pada Viona. "Biasanya, kamu pulang jam berapa?" "Biasanya, jam 10 pak." Alan mengangguk, dengan senang hati laki laki itu memberikan Viona izin pulang. "Saya izinkan, kamu bisa pulang jam 5. Kalau begitu saya permisi, lanjutkan pekerjaan kamu." Alan meninggalkan Viona yang kembali bekerja.  --- Sesuai izin dari Alan, Viona benar benar pulang tepat waktu. Mana berani Viona pulang lebih awal tanpa izin dari atasannya. Saat ini, Viona sedang menunggu Galih. Laki laki itu akan menjemputnya setelah pulang dari kantor, mereka akan meminta izin terlebih dahulu pada ibu Viona. Sebagai orang yang sudah merawat perempuan yang di cintai, Galih sangat menghormati calon mertuanya.  Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Viona, tidak lama seorang laki laki keluar dari mobil menggunakan pakaian formal. Laki laki itu adalah Galih. "Maaf ya lama, ada sedikit masalah di kantor." Ucap Galih, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Viona. Viona mengangguk, hal seperti ini sudah biasa terjadi. Setelah Viona masuk ke dalam mobil, Galih menutup pintu mobilnya. Selama perjalanan mereka hanya diam, sampai Galih menyadari jika Viona terlihat gelisah. "Apa, ada masalah?" tangan Galih terulur mengusap lembut rambut Viona, baru beberapa jam tidak bertemu Galih sudah sangat merindukan gadisnya. Tidak mau membuat Galih khawatir, Viona memeluk lengan kekasihnya. Berusaha mencari kenyamanan, gadis itu terlalu takut untuk bertemu orang tua Galih. Namun, Viona tetap tidak akan menyerah. "Enggak kok mas, aku cuma kangen kamu." Viona tidak sepenuhnya berbohong, akhir akhir ini dirinya memang sering merindukan Galih. Galih mengecup kening Viona, merasa beruntung karena mendapatkan calon istri yang begitu perhatian padanya. Viona juga tidak pernah menuntut waktu untuk selalu bersama, justru Galih yang selalu meluangkan waktu untuk Viona. Mereka sampai di rumah Viona, keduanya turun bersama. Saat Viona sedang bersiap-siap, Galih berbincang dengan calon mertuanya. "Maaf ya mas, nunggu lama." Ucap Viona merasa tidak enak. Galih tidak masalah jika harus menunggu Viona lama, karena Galih merasa nyaman berada di rumah ini. "Udah selesai?" tanya Galih, kemudian Viona mengangguk. "Kami pamit dulu Bu, assalamualaikum." Melihat Galih yang bersikap baik dan sopan, membuat ibu Viona tersenyum. Viona bersama laki laki yang tepat. "Waalaikumsalam." Setelah berpamitan keduanya langsung berangkat, selama di perjalanan Viona semakin gugup. Bayangan penolakan dari orang tua Galih, terus saja membuat Viona merasa takut.  "Kamu enggak mau turun?" mereka sudah sampai di rumah Galih, tapi Viona malah melamun. "Eh, udah sampai ya mas?" kenapa perjalanannya begitu cepat? Padahal Viona berharap jika malam ini jalanan cukup ramai dan mereka bisa saja terjebak macet. "5 menit yang lalu, mas tau kamu takut datang kesini lagi. Tapi mas selalu ada si samping kamu, kita hadapi bersama." Galih mencoba menenangkan Viona, jangan sampai tiba tiba Viona minta di antarkan pulang. Berulang kali, Viona menyakinkan hatinya bahwa semua akan berjalan dengan baik. Akhirnya Galih dan Viona turun dari mobil, dan masuk kedalam rumah. Baru saja mereka masuk ke dalam rumah, kedua sudah di sambut oleh ayah Galih. Bukannya di sambut dengan baik, sang ayah malah langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja. Galih semakin mengeratkan genggaman pada tangan Viona, laki laki itu akan membuat Viona merasa aman karena mereka selalu bersama. "Ayo kita ketemu mama di dalam, jangan khawatir. Mas selalu di samping kamu, ingetkan kita selalu bersama. Jangan mudah menyerah Vi, kita harus harus yakin Allah selalu bersama kita." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD