Ajakan Menikah

1503 Words
"Ayo kita menikah."  Viona tertegun mendengar ajakan menikah dari kekasihnya, hubungan mereka memang sudah berlangsung lama. Tapi bukan itu masalahnya, mereka belum mendapat restu dari orang tua Galih. Tangan Viona terulur, mengusap wajah kekasihnya itu. Setiap hubungan akan berakhir dengan dua hal. Pertama, jika berjodoh mereka berdua akan bertemu di pelaminan sebagai pengantin. Kedua, jika mereka tidak berjodoh kemungkinan yang terjadi mereka akan bertemu di pelaminan sebagai tamu undangan. Miris. "Aku, enggak bisa mas." Ucap Viona lembut, gadis itu tidak pernah berkata kasar pada siapapun. Tutur katanya selalu terjaga, semua itu adalah hasil dari didikan sang ibu yang selalu mengatakan bahwa tata krama itu sangat penting. Apalagi, kepada orang yang usianya lebih tua dari kita. Galih hanya mampu menghela nafas panjang, laki laki itu sangat tahu apa yang membuat gadisnya berulang kali menolak lamarannya. Bukan karena tidak cinta, tapi karena belum mendapatkan restu dari orang tua Galih. "Maaf, gara gara orang tuaku aku belum bisa memberimu kepastian." Ujar Galih, laki laki nampak begitu frustasi saat kedua orang tuanya belum bisa menerima kehadiran Viona di kehidupannya. Viona menggeleng, ini bukan salah orang tua Galih. Meskipun sudah mendapatkan peringatan dari mereka, Viona tetap bersikap baik. Cintanya untuk Galih, bukan karena laki laki itu kaya. Tapi karena, murni saling mencintai. Bukan hanya mendapat peringatan, segala ancaman sudah pernah Viona terima. Gadis itu tetap mempertahankan cintanya untuk Galih. "Jangan pernah menyalahkan orang tua kamu, ini ujian dalam hubungan kita. Kalau kita, bisa bersabar sedikit lagi pasti ada jalan keluarnya." Tutur kata Viona selalu membuat Galih merasa tenang, gadis yang usianya dua tahun lebih muda darinya mempunyai pemikiran yang matang. Viona tidak pernah menyalahkan keadaan, justru gadis itu selalu merasa bersyukur karena sudah di pertemukan dengan Galih. Meskipun Viona belum yakin apakah mereka akan berjodoh, gadis itu akan tetap berada di samping Galih sampai laki laki itu sendiri yang memintanya untuk pergi. Galih memeluk tubuh mungil Viona, dalam hati laki laki itu terus merapal doa semoga kedua orangtuanya cepat di berikan hidayah dan mau menerima Viona sebagai pendamping hidupnya. "Jangan pernah tinggalin aku ya Vi, aku sayang kamu. Hari ini, esok dan selamanya."  Galih mengecup kening Viona lama, selama berpacaran mereka sangat menjaga batasan. Tidak pernah terlintas dalam benak Galih, untuk melakukan hal yang di larang dalam agama mereka. Bagi Galih, mencintai Viona berarti harus menjaga gadis itu juga sama seperti Galih menjaga ibunya. ---- Sepulangnya Galih dari rumah Viona, laki laki langsung menemui kedua orang tuanya yang sedang berbincang di ruang tengah. Sebisa mungkin, Galih akan menuruti perkataan gadis itu. Apapun yang terjadi, jangan pernah bersikap kasar kepada orang tuanya. "Assalamualaikum."  Kedua orang tuanya langsung menoleh, dan tersenyum saat melihat Galih sudah pulang.  "Waalaikumsalam." Jawab kedua orang tuanya kompak. Galih duduk di sofa yang ada di ruangan itu, berulang kali Galih mengatakan keinginannya untuk melamar Viona. Namun, hasilnya selalu sama. Penolakan dari orang tuanya. "Malem banget kamu pulangnya, kamu masih muda jangan terlalu keras bekerja." Ucap ayah Galih, jika mengenai pekerjaan mereka selalu mengingatkan Galih untuk pulang tepat waktu tidak mengizinkan anaknya lembur. Bagi mereka, kesehatan sang anak lebih penting dari apapun. Galih tersenyum tipis, di saat lelah seperti ini perhatian dari keluarga memang sangat di butuhkan. Tapi sayang, mereka hanya peduli pada keadaan fisik anaknya seolah mereka lupa jika Galih juga memiliki hati dan perasaan. "Aku enggak lembur kok, tadi aku mampir dulu ke rumah Viona."  Suasana rumah yang awalnya sangat penuh kasih sayang, setelah mendengar nama gadis itu kini langsung berubah. "Di luar sana, masih ada perempuan yang jauh lebih baik dari Viona. Apa kata orang kalau kamu menikah dengan gadis biasa?" sebagai seorang Ayah, memilih calon pendamping anaknya sangatlah penting. "Anak temen mama dokter, cocok jadi calon istri kamu." Ini yang terjadi setiap Galih berbicara tentang Viona, orang tuanya sibuk membandingkan gadis itu dengan anak anak teman mereka. Tanpa mereka sadari, hal itu membuat Galih muak. Bukankah setiap anak memiliki pilihannya sendiri? Apalagi, ini menyangkut pernikahan.  "Aku tetep milih Viona, cinta enggak bisa di paksa." Galih benar benar lelah, kedua orang tuanya tidak ada yang mau mencoba mengerti dirinya. "Tau apa kamu soal cinta? Seandainya kamu bukan dari keluarga kaya gadis itu enggak mau sama kamu!"  "Viona bukan gadis seperti itu," elak Galih. Viona adalah gadis yang menerima Galih apa adanya, sebelum mereka berpacaran Galih sudah mencari tahu latar belakang kehidupan Viona. Gadis itu baik, penurut dan yang lebih penting Viona sangat menyayangi ibunya.  "Lalu gadis seperti apa? Apa kelebihan Viona sampai kamu berani membela gadis itu?" tanya sang ibu. Bukan hanya sekali Galih membela Viona, bagi keluarga mereka gadis itu sudah memberikan pengaruh buruk bagi sang anak. "Viona gadis baik," "Dia baik, karena mau ambil harta kamu. Kamu itu pewaris tunggal, sudah pasti dia akan selalu bersikap baik. Beda lagi kalau kamu orang miskin, dia pasti akan berfikir seribu kali untuk menerima kamu. Dia mau menerima kamu apa adanya, karena dasarnya kamu sudah kaya. Apa kamu pernah berfikir, jika dari lahir sudah menjadi orang miskin? Mungkin dia, enggak akan sudi kenal sama kamu. Sampai kapanpun, kami sebagai orang tua kamu tidak akan pernah merestui hubungan kalian!" sahut ayahnya. Merasa muak dengan perdebatan ini, ayah Galih memilih untuk pergi dari sana.  Melihat ayahnya pergi, Galih menghela nafas berat. Jika selalu seperti ini, kapan  dirinya dan Viona akan menikah? Sampai kapanpun Galih tidak akan pernah mau menikah dengan gadis pilihan orang tuanya selain Viona. "Mama heran sama kamu, kenapa selera kamu sangat rendah? Kalau kamu mau tinggalin Viona, kami bisa mencarikan perempuan yang lebih baik dari Viona. Kamu itu berpendidikan, masa depan bagus. Kenapa harus Viona?" "Mama udah tahu jawabannya, aku cinta sama Viona. Kalau kalian enggak suka terserah, sampai kapanpun aku enggak akan pernah berubah pikiran. Aku cinta Viona, Viona cinta aku. Bagi kami, itu sudah lebih dari cukup. Sebagai orang tua, sudah seharusnya mama mendukung pilihan anaknya. Kebahagiaan seseorang enggak selalu di ukur dari materi, kadang di berikan kesehatan itu sudah jadi rezeki buat kita. Terlalu sibuk memikirkan harta, jangan sampai membuat kalian lupa jika kebahagiaan Galih bukan tentang seberapa banyak harta kalian. Tapi Galih akan bahagia, kalau kalian mau mendengarkan keluh kesah Galih." Papar Galih, sesuai keinginan Viona Galih tidak boleh berkata kasar pada orang tuanya. Sebenarnya sangat sulit, apalagi orang tuanya tidak mau mengerti dirinya. Tidak mau terpancing emosi, Galih memilih pergi ke kamar. Di rumah orang tuanya, Galih merasa tidak pernah di dengar. Namun, saat bersama Viona apapun yang Galih inginkan gadis itu selalu mengerti dirinya. "Galih ke kamar dulu, capek. Galih mau istirahat." Pamit Galih, sebagai seorang anak bersikap sopan kepada orang tua adalah hal yang wajib bagi Galih.  ---- Di rumah sederhana, Viona hanya tinggal berdua dengan ibunya. Gadis itu sangat menyayangi sang ibu, meskipun hidupnya selalu kekurangan. Bagi Viona, melihat ibunya selalu sehat itu sudah lebih dari cukup.  "Kamu belum tidur?" Viona menoleh, sekarang sudah larut malam. Kedua wanita beda usia itu, belum bisa tidur. "Dari tadi udah coba tidur, tapi enggak bisa. Ibu kenapa kesini, ada yang sakit?" tanya Viona khawatir, biasanya jika malam malam sang ibu masuk ke kamarnya. Penyakit ibunya kambuh. "Ibu tadi haus, ibu liat lampu kamar kamu belum mati. Jadi ibu masuk," Viona memeluk ibunya sayang. "Ibu tidur bareng aku ya, udah lama enggak tidur bareng." Pinta Viona. Ibunya terkekeh, anak gadisnya sudah besar. "Ada masalah?" tanya ibunya to the point, paham jika Viona belum mendapatkan restu dari orang tua Galih sampai sekarang. Viona menggeleng, apapun masalahnya gadis itu tidak akan pernah mau bercerita pada sang ibu. Tidak mau membuat ibunya terlalu banyak pikiran. "Enggak ada, Viona baik baik aja kok. Kalau ada masalah, aku pasti bisa ngelewatin semua itu."  "Ibu percaya, satu pesan ibu sama kamu. Kalau sudah tidak ada jalan keluar, lebih baik mundur. Jangan menyakiti diri sendiri terlalu jauh, kamu pasti mengerti apa yang ibu maksud. Sejauh ini, ibu selalu mendukung apa yang kamu inginkan. Tapi kamu harus ingat, kita cuma orang kecil. Harus hati hati dalam bertindak, orang kaya lebih punya kekuasaan." Senyum Viona hampir memudar, kenyataan bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga kaya membuat gadis itu terkadang merasa kecil. "Aku bakalan inget pesan ibu, aku cuma mau berusaha lagi. Doain aku ya Bu, semoga aku kuat."  Ibu mana yang tega melihat anaknya seperti ini, keadaan mereka jauh dari keluarga Galih. Sebisa mungkin, mereka tidak akan menyusahkan Galih. Jika Galih membantu mereka dengan senang hati, berbeda dengan orang tuanya. Keluarga Galih, selalu menyalahkan Viona. Mereka selalu menganggap Viona beban. "Ibu selalu doain kamu. Tetap jadi anak baik, sopan sama orang lain." Nasehat itu selalu ibunya berikan, sopan santun seseorang adalah hal yang penting.  Viona kembali memeluk ibunya, gadis itu ingin memiliki hati seperti sang ibu. Yang selalu berprasangka baik kepada semua orang, tidak pernah memiliki dendam meskipun orang lain bersikap kasar kepada keluarga mereka.  "Viona selalu ingat pesan ibu, selama ini Viona berusaha bersikap baik sama orang lain. Bahkan, sama mereka yang udah pernah jahat sama Viona." Ucap Viona lembut. "Ibu bangga sama kamu, ibu juga yakin kalau Galih pasti juga bangga dan sayang sama kamu. Setiap hubungan, selalu ada rintangannya. Enggak selalu mulus, tugas kalian hanya berdoa dan berusaha. Selebihnya, Allah yang akan menentukan jalan kalian berdua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD