Bab 5

1048 Words
Malam yang dingin, hujan salju mulai turun. Laura hanya duduk termenung, malam yang sama ketika salju turun Laura menghabiskan malam penuh gairahnya bersama Leo. Tiba-tiba ia kembali merasa mual. "Huek" "Tunggu, kenapa aku terus mual padahal aku tidak sakit?." Laura menyadari sesuatu, seperti sesuatu telah membuatnya benar-benar takut ia berlari mencari-cari kalender menstruasinya. Benar saja apa yang di khawatirkan nya mungkin terjadi pasalnya ia sudah telat lima hari. "Tidak mungkin" Laura berfikir ia butuh jawaban pasti maka ia segera pergi ke dokter kandungan. "Nyonya selamat anda sedang mengandung," kata salah seorang Dokter perempuan. "Bagaimana bisa?. Aku memiliki kanker dokter," kata Laura yang masi bingung juga terkejut. Dokter tersenyum dan menjelaskan dengan perhatian, "hanya 5% wanita yang beruntung dengan kondisi kanker. Dan Saat ini Nyonya lah wanita beruntung itu." "Semua bisa terjadi. Saya akan meresepkan vitamin dan tolong jaga kandungan anda baik-baik," tambahnya. Laura merasa gembira juga cemas, ia bertanya, "apa ada konsekuensinya saya mengandung?." Doker berkata, "Saya telah mengambil darah Nyonya untuk memastikan. Ny. tidak boleh stres dengan kanker Nyonya hanya perlu jaga kesehatan." "Baiklah" Laura mulai tersenyum mengelus perutnya yang masih ramping. Siapa sangka karena bubuk perangsang itu dia benar-benar hamil sekarang. Wajah Cantik Laura kembali suram mengingat ia tidak cukup memiliki uang saat ini. "Apa anda tidak bahagia?." tanya dokter itu. "Ah bukan. Aku hanya sedikit memiliki masalah perekonomian," kata Laura jujur. Dokter itu tiba-tiba menuliskan sesuatu di kertas kosong dan memberikannya pada Laura. Dokter berkata, "aku pikir kau tidak memiliki alergi pada kucing." "Tidak, memangnya kenapa?," tanya Laura. Dokter berkata, "Lihatlah itu nomor Kaka Ipar ku yang bisa Nyonya hubungi. Dia membutuhkan pengasuh kucingnya." "Kucing itu seperti anaknya jadi dia pasti akan memberi bayaran tinggi untuk mu," tambahnya. Laura fikir hidup di negara Asing tidak semenakutkan apa yang ada di fikirannya. Ia bertemu dengan orang yang peduli padanya setelah dokter Robbie. Laura refleks memeluk dokter itu. "Terimakasih. Aku fikir semua dokter adalah orang baik." "Sama-sama" Laura pulang dengan tersenyum bahagia. "Aku masih tidak percaya. Aku tidak sendirian lagi sekarang," kata laura yang sambil mengelus perutnya. Dengan penuh semangat ia membuka lemari pendingin. Terlihat hanya tersisa satu potong dating di sana. Laura bisa sedikit bernafas lega, mungkin besok ia akan mendapatkan pekerjaan. "Mulai sekarang ibu hanya akan memakan-makanan sehat," kata Laura yang terus tersenyum. Laura berjalan menuju dapur seperti boneka porselan, ia berjalan sangat berhati-hati. Ia bertingkah seperti wanita hamil dan tak berhenti tersenyum. Dengan telaten ia meletakan semua bahan dan memulai memotong semua bahan makanan. Di London Leo terus mengamati foto-foto di layar Komputernya. Raut wajah Leo berubah menjadi kesal. "Apa dia tidak pernah makan. Dia seperti ibu kangguru." "Tok tok" "Masuk!." Terlihat sekertaris Leo masuk dengan membawa sepiring buah masam. Sekertaris yang bingung hanya meletakan buah-buahan itu di atas meja tanpa berani bertanya. Leo melirik buah-buah segar itu yang di potong dadu. "Tidak ada satu paket dengan Asinan?," tanya Leo. "Presider juga ingin Asinan?," tanya sekertaris itu ragu. Leo menaikan sudut alisnya. "Ada yang salah?" Sekertaris itu menyadari kesalahannya. Ia segera kembali bersikap patuh. "Tidak Presider. Saya akan segera kembali dengan Asinan anda." Ketika kenop pintu tertutup Leo dengan sumringah menyantap buah-buahan masam itu. Dia tidak peduli selera makanannya mendadak berubah dia hanya ingin segera makan apa yang dia inginkan sekarang. Ntah kenapa Buah-buah masam ini terasa manis di lidah Leo. "Presider, anda memakan buah di pagi hari." Terdengar suara dari balik pintu. Leo tidak bisa berhenti makan saat ini, ia berkata, "kau tidak mengetuk lebih dulu." "Maaf Presider, saya telah mengetuk beberapa kali" Irfaan yang melihat buah-buah masam itu di lahap begitu saja merasa gigi-giginya ngilu sendiri. Ia merasa khawatir dengan kondisi perut Leo tapi ia juga tidak berani menegur. Leo mulai berhenti mengunyah dan kembali pada Irfaan. Ia berkata, "katakan apa yang perlu kau laporkan." "Presider Ibu anda telah mengundang Ann Group untuk jamuan makan malam hari ini. Putri bungsu dari Pendiri Group juga akan hadir," kata Irfaa. Leo memijat pelipisnya. Drama kematian Laura masih tersimpan rapat. Leo sudah tahu maksud ibunnya. Bagaimana bisa Ibunya mulai mengatur perjodohan, ini bahkan baru dua minggu kabar kematian Laura. "Kenapa keluarga Bailey tidak ada yang waras!" "Katakan Aku menolak datang. Jika gadis itu bertanya aku sedang mabuk," kata Leo malas. "Presider tapi 20% saham ada di Group Ann. Akan ada masalah jika anda tidak hadir." Leo menatap Irfaan dingin, ia berkata, "kau tidak percaya pada ku?. Aku memulai semua bisnis bahkan sebelum ada saham." "Ma-maaf Presider." Bisnis adalah keahlian Leo. Jarang Leo mengalami masa surut selama membangun bisnisnya. Sekarang ia hanya ingin mendengar kabar Laura. Leo menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya sambil memainkan pena di tangannya. Ia berkata, " alihkan meeting Resort minggu ini di Kanada." "Presider ta-" "Jika tidak ada jadwal buat menjadi ada," potong Leo. "Kembalilah, cari tahu Apakah Laura membutuhkan sesuatu." "Baik Presider" Menunggu membuat Leo merasa frustasi. Ia tak tahan lagi harus menunggu sampai minggu depan. Ia tahu Asistennya kompeten tapi juga cerewet maka ia hanya menuliskan beberapa note saja. Leo bergegas ke rooftop gedung kantor. Hanya butuh beberapa menit helikopter mendarat untuk menjemput Leo. Leo benar-benar merindukan Laura saat ini. Ia pantas menerima kemarahan Laura. Di Kanada Laura sedang asik dengan Kucing kribo bewarna abu-abu. "Kribo kau harus jadi kucing yang patuh, oke?," kata Laura yang sambil memberi makan Bob Tampak Pria bersetalan jas hitam sedang menikmati tehnya. "Berhenti memanggilnya Kribo, Namanya adalah Bob," kata Pria itu sinis. 'Memangnya kenapa, Bob memang Kribo'. Laura tidak bisa bersikap semaunya, ia kembali bersikap. "Baik tuan." "Jangan lupakan vitamin dan ganti menu makanannya setiap tiga hari," kata Pria berjas itu lagi. "Baik Tuan Bil" Ketika Bil harus pergi dengan urusan pekerjaan dia akan mencium Bob hewan kesayangannya. "Sampai jumpa Bon, Ayah akan kembali," kata Bil sambil melambaikan tangan. Ketika Bil hilang di balik pintu Laura mulai mengomel pada Bob. "Aku berharap Tuan mu adalah majikan yang hangat tapi setelah beberapa hari dia hanya menghargai mu saja di sini, Bob." Seolah ini Laura tidak terima, manusia lebih memanusiakan binatang dari pada manusianya itu sendiri. "Aku tidak ingin memanggil mu Bob, kau adalah Kribo. Semua bulu mu memang kribo," omel Laura. Laura menatap Kucing itu Lucu, ia merasa bersalah mengomel pada mahluk lucu itu. Bob mengeong seolah mengatakan its okay. Laura beralih pada perutnya yang belum membuncit. "Sayang kapan kamu lahir dan temani mama. Perempuan atau Laki-laki mama akan mencintai mu sepenuh hati jadi sehat-sehatlah di dalam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD