Bab 4

1026 Words
"Bagaimana bisa dia bertahan sejauh ini dengan satu paru-parunya," ucap Leo sambil terisak-isak. "Tidak," kata Adams "Apa maksud Kakek?." "Kau pasti belum mengecek ponsel Laura." "Ada pesan dari seorang dokter, dia menyuruh Laura untuk datang ke kemoterapi kanker," lanjut Adams. Mata Leo benar-benar merah seolah kemarahan pada dirinya tak sanggup ia tahan lagi. Leo berdiri dan memukul dinding berkali kali dengan tangannya. "Siall" "Sial!" Adams paham betul kekecewaan Leo terhadap dirinya sendiri, Tidak mudah menyembunyikan rasa sayang di balik sikap dinginnya. Sekarang dia baru tahu fakta yang sebenarnya. Laura juga sakit selama ini. Adams berkata, "berhentilah!. Apa tangan mu yang berdarah akan mengembalikan Laura?." Leo gusar tanpa memperdulikan Adams ia pergi begitu saja dengan rasa putus asa. Leo berjalan seperti raga yang kosong. Air mata seperti tidak terkontrol tapi kadang ia tersenyum mengingat sebelum Laura pergi Laura menggodanya. "Kau tau? aku menikmatinya Laura. Kau tidak perlu bubuk perangsang. Tubuh mu sangat seksi." Ketika bayang-bayang Laura muncul Leo terus memukul stir pengemudi. Kesadaran Leo saat ini tidak stabil, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju makan Laura. Entah apa yang ada pikiran Leo, Leo ingin memeluk jasat Laura. Ketika Mobil terparkir Leo segera mengeluarkan Skop dari bagasi. Tak perlu banyak berfikir Leo membuang jas dan sedikit mengendorkan dasinya. Ia mulai menggali makam Laura. Beberapa pelayat yang melihat mengecam aksi Leo. "Apa dia sudah tidak waras?" Beberapa pelayat yang khawatir mendatangi Leo. Salah seorang memberi peringatan, "hentikan atau aku panggil polisi?!." Leo tak terus menggali tanpa menanggapi satu orang pun di sekitarnya. Seorang Pria yang kesal dengan tingkah Leo mendorong Leo untuk menghentikan tapi tanpa di duga Pria itu malah mendapat pukulan keras di wajahnya. "Sial kau menggangu ku," pekik Leo. Leo tak punya waktu meladeni mereka, ia mengeluarkan pistol yang selalu dia bawa. "Cepat kalian pergi atau kepala kalian akan jadi sasaran pistol ini!." Semua orang tidak peduli lagi sekarang dengan aksi Leo, mereka lari ketakutan. Tenaga Leo yang besar hanya perlu 20 menit untuk mengeluarkan Laura dari dalam tanah. Kain putih yang lusuh dan tercium sedikit bau busuk Leo acuhkan. Ketika Jasat itu berada di pangkuan Leo kesadarannya mulai stabil. "Sekarang apa yang ku lakukan pada mu?." Leo sangat merindukan Laura tanpa rasa jijik ia segera membuka kain putih itu yang masih menutupi wajah. Dalam sekejap Leo terkejut. Seseorang telah mempermainkannya. Rahang kokohnya mulai mengeras. "Ini bukan Laura." Leo segera keluar dari lubang Jasat itu memastikan apa dia tidak salah makam?. Laura Bailey tertulis di papan nisan, nama yang benar dan tempat yang sesuai di arahkan Detektifnya. Kemarahan Leo memuncak, ia menelpon kaki tangannya untuk menangkap detektif sialan itu. *** Ruangan gelap yang biasa Leo gunakan untuk eksekusi mati. Setelan yang masih rapi tapi sayang Pria berjas itu harus duduk terikat tali. Emosionalnya telah di permainkan, Leo tak tahan untuk memukul wajah Pria itu. "Apa motiv mu?!" Dengan mulut berdarah Pria itu menjawab dengan terbata-bata, "ti-dak ada." Leo mengeluarkan pistol, ia bertanya sekali lagi, "siapa yang menyuruh mu?." Pria itu tak sanggup melihat mata iblis Leo, ia hanya tertunduk takut, "La-Laura." Deg Bukankah ini kabar gembira. Laura masih hidup. Tapi kenapa Laura memalsukan kematiannya?. Apa yang sebenarnya terjadi? "Laura kau mempermainkan kesedihan ku. Aku akan menghukum mu di ranjang." Leo tidak bisa menduga-duga ia segera menghubungi kaki tangannya untuk mencari keberadaan Laura. Pria yang duduk terikat perlahan mulai berani melihat ke arah Leo. Ia bisa melihat kemarahan yang sama tapi ia sudah tidak melihat mata iblis Leo. Tentu saja ini adalah kabar yang membuat hati Leo sedikit nyaman. Tapi tidak satu pun orang yang berani mempermainkan Leo selain Laura, istrinya sendiri. "Kau beruntung, aku tidak akan membunuh mu. Jangan beri tahu dia atau aku akan membunuh mu," kata Leo yang langsung pergi begitu saja. Beberapa hari setelah kejadian itu Leo belum bisa menemukan keberadaan Laura. Leo hanya mondar-mandir di ruang kantornya. Ketika Asisten datang Leo memberikan tatapan dingin. "Kau tidak benar-benar mencarinya!." "Presider aku pikir Nona Laura tidak ada di kota ini atau di negara ini. Kami sedang mengecek di pusat imigrasi." "Kau yakin?." "Kita akan mendapat jawabnya Presider," kata Irfaan asisten Leo. Selang beberapa menit ponsel Irfan berdering. Petugas imigrasi mengatakan Laura telah meninggalkan kota London seminggu yang lalu menuju kota Montreal, Canada. Leo menyunggingkan senyumannya. Leo tidak ingin Pria lain memandang Istrinya lebih banyak maka ia bertanya pada Irfaan, "kau memiliki mata mata seorang wanita?." "Tentu Presider" "Suruh dia temukan Laura dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Leo. Irfaan bingung dan ia bertanya dengan ragu-ragu, "bukankah sebaiknya membawa Nona Laura kemari Presider?." Leo berkata dengan dingin, "Aku punya alasan sendiri. Lakukan saja apa yang ku katakan." "Baik Presider" Montreal, Canada. Dua minggu telah berlalu Laura berusaha melupakan Leo tapi semakin ia berusaha wajah Leo akan ada di ingatannya. Laura mengacak rambutnya frustasi. Masalahnya tidak terselesaikan sekarang Ia kehabisan uang. "Leo membuat ku gila dan pajak di sini juga membuat ku gila. Aku bahkan tidak memiliki pekerjaan tapi kenapa mereka terus meminta pajak dari ku, sialan" Laura pergi dengan emosi, sekarang ia menyesalinya.Pergi tanpa persiapan, pergi tanpa membawa dokumen-dokumen dirinya. Ia berniat mencari pekerjaan baru tanpa ijazahnya. "Aku dengar mencuci piring bayarannya lumayan tinggi," guman Laura. Laura tidak pernah bekerja dia berharap penyakitnya tidak membawa masalah pada pekerjaannya nanti. Laura pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap tapi mendadak perutnya sangat mual. "Huek" Laura memuntahkan semua isi perutnya. "Apa aku masuk angin? tapi aku tidak merasa pusing." Ketika Laura melangkahkan kakinya, ia kembali memuntahkan isi perutnya. "Oh sial jangan hari ini, aku perlu mecari pekerjaan," keluh Laura. Laura memilih mengabaikannya, ia akan bersiap-siap dan pergi mencari pekerjaan. Laura memiliki wajah yang cantik juga kulit putih yang sedikit kemerah-merahan dan badan yang mungil membuat semua pakaian cocok pada tubuhnya. Ia menggunakan blezer putih dan rok selutut. Sekarang dIa memandangi dirinya di cermin. "Aku Cantik, bukan?. Dasar Leo bodoh!," guman Laura lalu tersenyum konyol. Negara dan orang-orang yang asing akan sulit Laura beradaptasi. Tapi itu tidak memudarkan tekadnya. Satu persatu toko di sebrang jalan Laura datangi dengan penuh harapan. Tak banyak toko yang menolak dan sedikit yang menerima dengan bayaran rendah. Sadar bayaran kecil yang telah di tawarkan tidak akan mampu membayar bahkan hanya sewa tempat tinggal. "Bagaimana ini?" Laura berdecak kesal dan sesekali mengacak rambutnya frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD