Bab 3

1281 Words
Leo segera ingat. Bukankah ini rumah ayahnya dulu?. Bailey adalah marga keluarganya. Ia semakin yakin tidak salah lagi dengan ingatannya. Gerbang tidak di kunci, Leo dengan mudah memasuki Rumah itu. Rumah bergaya Eropa klasik ini, Leo pernah di ajak ayahnya kemari saat usianya enam tahun. Rumah bergaya Eropa klasik yang tua, namun masi terlihat nyaman. “Laura!. Laura!.” Tidak ada sahutan. Leo segera menyelusuri setiap kamar. Semua nihil ia yakin tidak ada Laura di sini. Hingga sebuah kamar paling sudut bewarna merah muda mencuri perhatiannya. “Krek” Mendadak hatinya terenyuh,Tampak foto-foto kecilnya bersama Laura menghiasi sudut kamar berwarna merah muda itu. Pandangan Leo menyelusuri setiap sudut kamar, tatapan nya berubah tajam pada sebuah foto Laura bersama ibunya. Leo segera membalik foto itu ia beralih ke sebuah rak buku milik Laura. Novel-novel terpajang rapih meski sudah berdebu hingga buku berjudul, 'The Suitcase kids.’ “Leo, apa buku itu sangat menarik dari pada rasa es krim?," celoteh anak perempuan itu sambil menjilati es krimnya “Hem. Ini The Suitcase Kids” “Kalau begitu aku pinjam!.” “Tidak, ini harta karun ku Laura.” “Hiks hiks, aku akan mengutuk mu, Leo!.” “Kau sangat cengeng, ini ambil lah. Simpan harta ku dengan baik Laura.” Leo tersenyum tipis dengan sebuah memori kecilnya. Leo mulai membaca buku itu lagi yang di anggapnya harta karun. Padahal itu hanya taktiknya agar Laura tidak malas membaca, hingga ia menemukan sebuah kunci di dalam buku. “Kau menyimpan sesuatu di dalam buku, itu berati sangat penting bagi mu" Leo mencari-cari hingga ia berhasil menemukan sebuah loker yang berada di dalam lemari. Setelah terbuka, terlihat hanya ada amplop coklat besar. Leo segera membuka amplop coklat itu. “Pendonoran paru-paru?" Dengan gusar Leo segera membaca setiap kalimat yang tertuliskan di sana. Deg. Jantungnya terasa berhenti ketika membaca nama Leo Bailey sebagai penerima donor. Hatinya yang keras mendadak hancur berkeping-keping, dadanya amat sesak mengetahui Laura telah mendonorkan paru-parunya di umur enam tahun untuknya selama ini. Tubuh Leo yang kokoh mendadak lemas tak bertulang. “Kenapa kau sangat bodoh, Laura?. Kau memberikan hidup mu pada orang yang selalu melukai mu" Terbayang-bayang perlakuan kasarnya pada Laura. Leo menyentuh jantungnya yang terasa sakit, ia berguman, ”apa ini yang kau rasakan selama ini, Laura?.” “Aku tidak pantas mendapat maaf dari mu, Laura. Kebencian ku terhadap ibu mu ternyata membawa penderitaan bagi mu selama ini.” “Seumur hidup aku pantas tinggal di gunung, sebagai pendosa.” Bagi Leo, Laura adalah jiwanya. Selama ini Leo mengubur fakta itu dengan mengisi kebencian-kebencian di dalam otaknya. Kini Hatinya bagai di hujani ribuan jarum. *** “Ibu kau bisa jelaskan ini??, ”tanya Leo dengan tatapan tajam. “Sayang kau baru datang, kenapa kau marah-marah?,” tanya Lone. Dengan kesal Lone mengambil amplop coklat di atas meja yang lemparkan Leo. Dengan gugup Lone bertanya, “kau dapat ini dari mana?.” Leo sangat geram pada ibunya sendiri, dengan tatapan intimidasi ia berusaha mencari sebuah kebenaran. “Ibu menyembunyikan hal besar ini pada ku!. Kau tau paru-paru yang ada dalam tubuh ku ini adalah milik Laura. Tapi kenapa kau selalu membencinya??.” “Kau sudah tau jawabannya. Kau dan Ibu sangat membenci ibunya, bukan?. Rose jalang itu telah mengambil ayah mu dari ibu. Bagaimana ibu bisa menyukai anaknya?” ucap Lone dengan mata yang berkaca-kaca. Leo mengenal ibunya. Dari ucapan Lone yang memang jujur, namun dari sikap Lone seperti masi ada sesuatu yang di tutupi. Leo segera pergi untuk menemui kakeknya. Di dalam perjalanan menuju rumah sang kakek, Leo mendapat telfon. “Bagaimana, kau sudah menemukan Laura?.” “Tuan. Aku harap anda bersabar dengan kabar yang akan ku berikan.” Deg. Seperti akan ada kabar buruk tentang Laura. Keringat dingin membasahi pelipis Leo, ia segera menepikan Marcedes Banz nya. “Ada apa dengan Laura??.” “Dua hari yang lalu, truk telah menabrak mobil nona Laura. Tuan_ . Nona sudah meninggal.” Ponsel Leo terjatuh begitu saja, tatapannya menjadi kosong. Bagai di hantam bumi, jiwanya telah hancur berkeping-keping. Rohnya seakan terpisah dari raganya. Air mata mulai berlinang di matanya, Leo sangat menyesalkan ucapannya. “Aku tidak sungguh-sungguh menginginkan mu lenyap dari hidup ku. Sekarang kau benar-benar menghilang seperti buih?" *** Di pegunungan Lotus terlihat sebuah pemakaman muslim, dengan ragu Leo bertanya pada detektif yang menyelidiki kematian Laura. ”Kau yakin Laura telah tiada?.” “Tuan, maaf. Semua identitas nona ada pada mayat itu, dan mobil yang di kendarai adalah milik nona Laura,” ucap detektif itu. “Tapi aku belum memastikan nya lewat otopsi,” tambahnya. “Aku tidak ingin menambah penderitaan nya. Jangan pernah lakukan itu,” bantah Leo. “Baik. Mari tuan aku antar keperistirahatan nona.” “Tidak. Aku tidak pantas menginjakkan kaki ku kesana. Kau pergilah, aku akan tinggal disini sebentar,” ucap Leo. Detektif itu meninggalkan makam. Saat ini hanya ada Leo. Leo menghadap makam itu, bola matanya berubah merah padam, air mata terus mengalir di pelupuk matanya. Sebelumnya ia tidak pernah selemah ini. “Laura, aku ingin menggendong mu sepanjang hari lagi. Kenapa kau pergi begitu cepat?.” “Aku tidak akan pernah menangis lagi, saat kau memukul ku.” “Aku tidak akan pernah mengejek kaki pendek mu Lagi.” “Bahkan kau belum membalas ku. Kenapa kau pergi lebih dulu?.” “Aku harap di kehidupan selanjutnya kau tidak bertemu dengan orang jahat seperti ku. Meski aku memberikan seluruh hidup ku pada mu. Aku tetap manusia jahat.” “Laura, aku mencintai mu.” *** Di kediaman keluarga Bailey, setelah mendengar kabar kematian Laura. Adams mengundang Leo untuk datang. “Kakek, ada yang ingin kau sampaikan?,” tanya Leo. “Aku turut berduka atas istri mu,” ucap Adams. “Hem.” Adams terenyuh, ia berkata, “ini sesuatu yang tidak adil bagi Laura, jika aku terus menyimpan rahasia ini.” Dengan keseriusan yang ada di mata Leo, ia berkata, ”Katakan kakek, tidak usah berbelit-belit.” “Aku tau dari ibu mu, kau sudah mengetahui soal pendonoran paru-parunya.Saat umur mu lima tahun, kau di diagnosa kangker paru-paru.” “Fisik mu hanya bertahan satu tahun. Di umur mu masi enam tahun, kau harus berbaring di rumah sakit berhari-hari tanpa kesadaran. Saat Laura mengetahui kondisi mu dia kabur dari rumah, dia diam-diam menyelinap masuk ruangan mu.” “Karena takut ketahuan, Laura bersembunyi di kolong ranjang mu, secara tidak sengaja dia mengetahui percakapan kita tentang penyakit mu." “Tangisannya mulai pecah, dan saat itu kami menemukan Laura di kolong ranjang mu.” “Mulai saat itu Laura tidak berhenti menangis, dia takut kau meninggalkannya.” “Ucapan bodoh ibu mu tentang Laura harus mendonorkan paru-parunya jika menyayangi mu.” “Mulai saat itu Laura terus merengek pada Rose untuk mendonorkan paru-parunya. "Rose memahami anaknya sangat menyayangi mu. Rose paham hidup Laura hanya ada tentang mu.” Air mata Leo sudah tak tertahan lagi, dengan suara lantangnya ia berkata, "kenapa kau tidak mencegahnya?!." “Maafkan kakek, Rose menemui kakek, ia setuju mendonorkan paru-paru putrinya asalkan saat dewasa kau menikahinya. " Itu adalah perjanjian kenapa kakek memaksa mu menikahi Laura.” “Untuk Rose, dia tidak salahnya sepenuhnya. Rose dan ayah mu, Luis. Mereka saling mencintai sebelum ibu mu menikah dengan ayah mu.” “Ini adalah salah kakek. Aku memisahkan mereka dan menjodohkan ayah mu dengan ibu mu, hingga mereka di pertemukan kembali saat Rose sudah memiliki Laura.” “Saat Laura telah mendonorkan paru-parunya, diam-diam Luis dan Rose bermain di belakang ibu mu.” “Rose mulai menjauhi ayah mu, sadar putrinya sangat menginginkan mu. Rose mulai sakit-sakitan hingga meninggalkan Laura di usia sepuluh tahun.” “Luis mulai depresi setelah kematian Rose, hingga ayah mu menyusul setelah sebulan kematian Rose.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD