Fortis Hospital.
“Dokter, apa aku masi bisa sembuh?. Akhir-akhir ini fisik ku cepet melemah" keluh Laura.
“Laura, kau pasien ku terlama, aku sering mengingatkan mu agar tidak stres. Sekarang paru-paru mu bertambah buruk,” ucap dokter Robie.
Menjadi pasien dokter Robie sejak umur 6 tahun, Laura sudah tidak canggung dengan mengejek, “Sepertinya saat ini kau lebih stres dari ku dokter?.”
“Ya. Ini karna ulah mu,” ucap dokter Robie.
“Kanker paru-paru mu sudah stadium akhir. Ini adalah sebuah keajaiban, kau masi hidup dengan satu paru-paru yang kronis,” tambahnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca Laura berkata, ”terimakasih. Di dunia ini masi ada yang mencemaskan ku.”
“Laura, banyak yang mencintai mu. Kau harus optimis agar cepat sembuh. Aku akan segera pensiun. Akan menjadi beban ku jika kau belum sembuh, mengerti?,” ucap dokter Robie penuh kasih.
“Hem.”
***
Laura berada di kediamannya bersama Leo. Laura menatap jam dinding yang menunjukan pukul empat sore. Laura tampak cemas setelah pertengkaran mereka malam itu Leo tidak kembali hingga sore ini.
Tak selang beberapa lama terdengar Mercedez Benz terparkir di halaman rumah.
Baru memasuki pintu masuk, Leo tampak geram. Dengan sikap dinginnya, ia berkata, ”Kau masi berani tetap tinggal?.”
“Aku istrimu, memang kemana lagi aku akan tinggal?,” guman Laura.
Leo tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop dari tas kerjanya, ia melemparkan dengan kasar ke atas meja.
“Tandatangani surat perceraian kita,” ucap Leo.
Jantung Laura serasa berhenti berdetak, namun ia juga menyadari perceraian lambat waktu akan terjadi juga.
Laura tersenyum pahit, ia berkata, ”tidak bisakah kau menunggu ku mati dulu?.”
Seorang yang memiliki IQ tinggi Leo segera menyadari ucapan ganjal Luara, Hatinya yang keras mendadak berdesir sakit mendengarnya.
Leo menghindari tatapan Laura, ia segera menuju kamar berusaha mengabaikan Laura.
Leo merasa sedikit lelah dan gerah, ia segera mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
Pancuran air seharusnya memberikan kesegaran tapi Leo tampak frustasi. Kata-kata terakhir Laura terus berputar di kepalanya.
Leo kesal mengumpat, “shtt. Ada apa dengannya?, bukankah dia orang bodoh yang gigih?."
Cukup 15 menit untuk Leo membersihkan diri. Leo meraih teko berisi air. Ini adalah ritual Leo setelah mandi untuk minum air putih.
Masi dalam keadaan telanjang d**a dengan handuk yang melilit di pinggulnya, ia meneguk satu gelas besar air putih.
Leo menuju lemari pakaian mencari-cari piyama yang akan di gunakan. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas, aliran darah meningkat dan ia tidak bisa mengontrol degup jantungnya.
“Crek.”
Tiba-tiba Laura memasuki kamar Leo dengan Lingerie tipis, dengan anggun ia berkata, “selamat malam Leo, kau belum juga tidur?.”
Nada bicara Laura mirip dengan seorang Penggoda.
Leo segera menyadari ada yang tidak beres, ia menatap gelas air minumnya yang kosong.
“Kau murahan Laura!.”
Laura berjalan mendekati Leo, dengan nada bersalah ia berkata, “maaf Leo, aku ingin sedikit egois. Setidaknya biarkan akan merasa bahagia di detik terakhir ku.”
“Ini tidak salah, kita suami istri, kan?” tambahnya.
Sesuatu di bawah sana milik Leo sudah basah, hanya melihat Lingerie Laura. Leo sudah tidak tahan, ia mengabaikan harga dirinya selama ini ia merobek Lingerie sialan itu denga nafas yang bergejolak . Leo menarik Laura dalam pelukannya.
Seolah jiwa iblisnya terkurung, saat ini hanya ada gairah dalam tubuh Leo. Mereka saling berbagi kenikmatan dan kehangatan di tengah turunnya hujan salju.
***
Mata hari bersinar terang di balik gorden putih, Leo mengercapkan matanya. Seketika ingatan Pertempuran penuh gairah semalam bersama Laura berputar di kepalanya.
Suasana paginya mendadak berubah dengan kesal ia segera menoleh kesamping mencari keberadaan Laura.
“Shtt, kemana dia?. Heh, Apa dia telah melarikan diri?.”
Leo segera bangkit untuk membersihkan tubuh dari Aroma percintaannya semalam.
Dua puluh menit Leo sudah berpakain rapih dengan stelan jasnya, ketika ia beranjak dari kamar ia melirik gelas sialan itu seolah-olah air itu musuhnya.
Dari gelas itu Leo menjadi manusia yang lupa akal sehatnya.
Leo meraih gelas itu ketika menyadari ada selembar kertas terselip di bawahnya.
“Leo maafkan aku. Jika kau ingin bercerai dengan ku, sampai kapan pun aku tidak bisa melakukannya.
Tapi aku akan mengabulkan keinginan mu yang lain, aku akan menghilang dari hidup mu seperti buih.
Aku tidak akan melupakan malam panas kita, itu adalah hadiah terbesar ku. Bagi ku kau tetap Leo kecil yang manis. Aku mencintai mu.”
Laura.
Note itu membuat Tubuh kokoh Leo mendadak kaku, matanya mulai memerah seperti ada gumpalan duri di jantungnya.
Bukankah selama ini itukah yang di inginkan Leo?. Sekarang Laura telah pergi, tapi rasa kecewa tergambar di wajahnya.
Laura telah menjadi yatim piatu semenjak ibunya meninggal di umurnya sepuluh tahun. Sekarang Laura tidak memiliki tempat tujuan.
Jalanan yang sepi Laura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Laura menyetir Sambil menangis, mengingat ia tidak akan melihat Leo lagi di tambah ia tidak tahu tujuannya akan kemana.
“Hik hiks. Aku tidak pernah menyesal telah memberikan hidup ku untuk mu, Leo. Tuhan, jika engkau memberi ku kehidupan lagi aku tidak ingin memiliki cinta.
Air mata yang mengalir deras membuat kabur pandangannya. Samar-samar ia melihat Truk yang sudah akan menghantam mobilnya, dengan panik Laura cepat membanting stir.
***
Sudah dua hari berlalu Leo tampak kesal belum menemukan Laura.
“Kau sudah menemukan keberadaanya?,” tanya Leo.
“Maaf tuan, aku belum menemukan nona Laura,” seru pria itu.
Dengan aura dinginnya Leo berkata, “Beraninya dia melarikan diri, temukan secepatnya!.”
“Baik, tuan.”
Tiba-tiba ponsel Leo berdering.
“Halo paman Jasper.”
“Kau menyakiti Laura lagi,hah?,” tanya jasper.
“Jika ini yang ingin kau bicarakan, bantu aku menemukannya, paman.”
“Kau suaminya, kau yang harus mencari sendiri,” ucap jasper.
“Dia selalu membuat ku kesal, Berhentilah membelanya,” ucap Leo.
“Kau mengeluh?, bahkan beban yang di tanggung Luara tidak sebanding dengan keluhan mu. Aku tidak memaafkan mu jika kau tidak menemukannya, ” ucap Jasper.
“Kenapa kau sangat peduli padanya?, padahal ibu ku sama sekali tidak peduli,” ucap Leo.
“Aku akan mengirim kan alamat tempat Laura tinggal dulu. Cobalah cari ke sana.”
Setelah itu Sambungan di putuskan sepihak oleh Jasper.
Setelah membuka pesan dari paman Jasper, Leo agak terkejut. “Sejak kapan Laura pernah tinggal di sini?, kenapa paman memiliki alamat yang tidak ku ketahui?.”
Leo segera memacu Mercedes Benz nya hingga sampai di sebuah Rumah megah. Tiba-tiba Sesuatu menggangu pikirannya, dengan penasaran Leo segera menekan Bell di tembok pagar.
‘Bailey’. Tertuliskan di pagar tembok.