“Lari ke lo gimana, Gal? Kapan gue move on-nya kalau sikap lo terus kayak gini?” tanya Damara seraya memainkan kuku tangan. Galaksi hanya tersenyum miring sambil bersandar ke dinding bangunan. Kebetulan, meja Damara memang mepet ke tembok. “Kalau nggak bisa move on, ngapain ngajak putus?” tanya Galaksi tanpa menoleh. Damara memandang pemuda itu sekilas kemudian kembali memainkan kuku tangannya. “Gue sadar diri, kelas kita beda, keluarga lo gak ada yang setuju dengan hubungan kita. Lo tahu itu, kan?” “Nyokap gue ngancem lo, kan? Iya, kan?” tanya Galaksi seraya tersenyum asimetris. Tanpa Damara bicara pun, Galaksi sudah tahu akar masalahnya berasal dari mana. “Inisiatif gue aja. Gak ada yang ngancam gue. Gue cuma mau lepas dari lo.” Damara berbohong. Galaksi tahu bahwa apa yang dikatakan

