Bab 8 - Ciuman tengah malam

1139 Words
Seminggu sudah aku bekerja untuk Galaksi, tapi kesanku padanya tidak begitu baik. Galaksi cukup menjengkelkan dan menawan dalam waktu bersamaan. Kadang dia marah-marah tidak jelas saat aku telat pulang dari toko. Bahkan Galaksi pernah mengacau saat Andra mengantarku pulang, dan memberikan ciuman selamat malam. “Jangan m***m di rumah gue!” katanya kala itu. Kontan Andra menjauhkan wajah dan memandangku dengan ekspresi keheranan. Oh iya, Andra sudah tahu kalau sekarang rumahku dijual ke Galaksi. Dia juga tahu kalau aku dan Galaksi tinggal serumah, tapi dia tak menaruh rasa cemburu sedikit pun. Malahan dia bilang, “Ya baguslah kalau kamu punya kerjaan baru lagi.” Memang dasar matre. Alih-alih khawatir, dia justru mendukung pekerjaan baruku. Kuterka, dia pasti mengira bahwa aku banyak duit. Kembali ke Galaksi. Beberapa kali dia datang ke toko hanya untuk pamer warna rambut. Padahal aku sama sekali tak mau tahu, tapi dia tetap percaya diri dengan menganggap bahwa dirinya ganteng dengan rambut warna hijau bola tenis. Bahkan, dengan pedenya dia mengatakan bahwa wajahnya mirip V BTS. Aku iyain aja, biar dia senang. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Seharian penuh aku tak melihat wajah Galaksi. Padahal seharusnya dia libur, tapi waktu liburnya justru digunakan untuk berkencan dengan Raya—pacarnya. Itu yang dia katakan tadi pagi sebelum aku berangkat kerja. Omong-omong, Galaksi merupakan pewaris tunggal perusahaan Prakasa Grup. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Seraya menonton drama Korea dari Netflix, aku makan Pop Mie dan meminum soda lalu tertawa sedirian di tengah rumah. Hingga suara bel berbunyi, membuatku mencebik kesal. Kenapa nggak langsung masuk aja, sih? Manja banget pengen dibukain segala. “MASUK AJA, GALAKSI!” teriakku malas. Drama korea yang kutonton lagi seru-serunya, jadi aku nggak mau diganggu. Dan bel kembali berbunyi. Aku sedikit was-was, takutnya dia bukan Galaksi. Segera aku bangkit menuju pintu, menyibak gorden untuk mengintip. Syukurlah, ternyata dia Galaksi. Tapi ... kenapa Galaksi terlihat sempoyongan? “Lo kenapa?” tanyaku setelah membuka pintu. Galaksi tak menjawab. Dia main nyelonong masuk, menabrak bahuku dan pergi menuju pantry. Langkahnya tak beraturan, bahkan kakinya menabrak meja. “Anjing, sakit!” gerutunya. Aku hanya mengangkat sudut bibir, masih mematung di ambang pintu untuk memperhatikannya. “Damara, buatin gue air madu,” perintahnya. Dia mabuk? “Denger gue, nggak?” “Iya,” jawabku. Lantas bergegas menuju pantry untuk membuatkannya air madu. Galaksi duduk di stool, di depan meja bar sambil memijat pelan pelipisnya. Sepertinya dia sedang tak baik-baik saja. Aku penasaran, tapi enggan untuk bertanya. “Nih, air madunya.” Aku menaruh secangkir air madu di meja bar, lalu duduk di sampingnya. Galaksi melirikku sekilas, tapi tak mengucapkan apa pun. Yang dia lakukan hanya menyeruput pelan isi cangkir lalu terdiam. “Terimakasih,” katanya. “Sama-sama,” jawabku. Dan selanjutnya keheningan merebak di antara kami. Aku bangkit, hendak berlalu menuju kamar. Kukira Galaksi butuh waktu untuk menyendiri. Namun, Galaksi malah mencekal pergelangan tanganku. “Mau ke mana?” “Mau lanjut ngedrakor,” jawabku santai. Galaksi berdiri, menarikku ke dalam dekapannya. Aku mengernyitkan dahi saking bingung. Anak ini kenapa? Apa kepalanya terbentur? Atau ada masalah apa? “Gue lagi sedih,” katanya. Aku masih diam tanpa pergerakan. Menunggu apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. “Cewek gue selingkuh.” Cowok seganteng ini bisa diselingkuhin juga. Aku kasihan, tapi hidupku jauh lebih mengenaskan dari dia. Jadi nggak ada yang perlu dikasihani. *** Galaksi mengatakan bahwa dirinya masuk angin. Setelah kuperiksa, ternyata suhu badannya cukup tinggi. Lantas ku ambil kotak P3K dan memberinya paracetamol. Galaksi menurut bagai anak kecil. Entah kenapa, justru aku menyukai dia yang seperti ini ketimbang dia yang kerap marah-marah tidak jelas dan mengomel. “Kok gue agak mual, ya?” katanya. “Mau periksa aja ke dokter?” Galaksi menggeleng lalu menaikan selimutnya sebatas leher. Aku duduk di bibir ranjang sambil memandang wajahnya. Bingung harus melakukan apa. “Mau kerokan?” tanyaku. Kontan dia membuka matanya, kemudian menaikan sebelah alis. “Kerokan? Gue nggak pernah kayak begituan.” Orang sekaya Galaksi sepertinya asing dengan kebiasaan begitu. Biasanya, kalau Damar masuk angin, dia selalu minta dikerokin dan keesokan harinya sembuh. Apa salahnya kalau aku melakukan hal yang sama ke Galaksi? “Cobain aja. Besok pasti sembuh,” ucapku, menarik tangan Galaksi agar bangkit dari posisi tidurnya. Dia bangkit ogah-ogahan, melihatku yang kini mengambil koin dan minyak angin. Galaksi menutup hidungnya risih. “Gue benci bau minyak angin!” “Tapi pengen sembuh, kan?” tanyaku sambil kembali duduk di ranjang. “Paham dari mana kerokan bisa nyembuhin?” “Coba aja,” kataku sambil memegang pinggangnya agak ragu, hendak melepas kaus yang dikenakannya. Namun, Galaksi malah mencengkram pergelangan tanganku. “Lo mau merkosa gue?” Idih. Kucubit pinggangnya agar berhenti mengomel. Galaksi berteriak kesakitan. Saat itu juga kutarik kausnya ke atas hingga dia bertelanjang d**a. Lagi-lagi otot perutnya membuat fokusku teralih. Segera kubuang pandangan ke sembarang arah, kemudian menyuruh Galaksi untuk balik badan. “Ngadep sana!” titahku. Dia berbalik sambil memberenggut kesal. Perlahan kutuang minyak angin ke punggungnya, meratakannya dengan telapak tangan. Entah kenapa, jantungku berdebar tak karuan saat melakukannya. Bahkan punggungnya terlihat begitu seksi. Pelan-pelan kugosok koin ke permukaan kulit punggungnya hingga memerah. Galaksi meringis beberapa kali menahan perih. Ringisan suaranya membuat otak kotorku mengambil alih fungsi. Suaranya juga terdengar menawan di telingaku. “Perih, Damara!” “Bentar lagi,” jawabku. Padahal aku betah berlama-lama di posisi ini. “Jaga otak lo. Jangan sampai ngiler liat body gue.” “Geer amat, lo!” cibirku, berbohong. Masih menggosok pelan koin ke permukaan kulit punggungnya. “Cewek sama cowok dalam satu kamar, tengah malam, berdua, terlebih gue telanjang d**a. Biasanya ngapain, ya?” tanya Galaksi. Mendengarnya membuat jantungku berdebar tak karuan. “Kerokan!” jawabku ngasal. Galaksi langsung terbahak. Dia berbalik setelah aku selesai dengan pekerjaanku, lalu menggenggam jemariku. Wajahnya mendekat, bau alkohol terhirup samar dari mulutnya. Di detik selanjutnya, Galaksi mencium bibirku sekilas. Mataku membola saking kagetnya. Galaksi? Pria ganteng ini mencium bibirku? Aku menundukan wajah karena tak berani memandangnya. Galaksi meraih daguku, bertanya dengan matanya, tapi aku hanya diam. Seolah diberi persetujuan, Galaksi mencium bibirku kembali. Kali ini lembut dan dalam. Aku memejamkan mata dengan pikiran kalut. Hendak mendorong tubuhnya dengan tanganku, tapi justru tanganku malah mengalung di lehernya. Dia menggigit kecil bibirku hingga terbuka, dan lidahnya merangsek masuk, menari-nari dalam rongga mulutku. Dan bodohnya, aku justru menikmati permainannya, bahkan membalas ciumannya. Sekelebat bayangan Andra membuat kesadaranku kembali berkumpul. Kudorong pundaknya hingga menjauh, dan semua selesai sampai di sini. Tanpa mengucapkan apa-apa, aku bangkit dari ranjang dan berlalu begitu saja dari kamarnya. “Damara!” panggilnya, tapi aku tak menoleh. Alih-alih menoleh, justru aku berjalan cepat menuju kamar tamu saat Galaksi mengejarku. “Tunggu!” katanya sambil menarik tanganku agar berhenti. Bersambung. Ada yang suka cerita ini? Please komen di bawah. Kalian suka karakter Galaksi yang pecicilan atau yang serius? jangan lupa baca ceritaku yang lain, ya; 1.Perfect Scandal 2.Sesha
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD