Bab 28 : Permainan Berbahaya

1025 Words

Tanganku melambai pada mobil Satria yang semakin menjauh. Terus tersenyum, sampai mobil hilang dari pandangan. Pundakku luruh seketika. Setiap pijakanku memasuki rumah terasa lesu. Beruntung, Papa muncul dengan membawa dua cangkir teh hangat. Setelah beliau meletakkan cangkir di atas meja, aku langsung memeluknya dengan posisi berdiri. "Mas Satya tadi kecewa banget liatnya, Pa." Aku langsung bercerita, dan menumpahkan segala keluh kesah pada pria kuat yang mendekapku ini. "Aih, seriusan, nggak tega tadi liatnya." Papa mengusap kepalaku dengan lembut. Membiarkan waktu berlalu dengan segala kegelisahanku menguap, dengan kami berpelukan begini. Setelah napasku berembus panjang sekali, barulah Papa mengajakku untuk duduk di sofa. Teh buatan Papa aku sesap beberapa kali. "Kamu mau lanjut,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD