XVII REVENGE

2251 Words
Author's Point of View “Sitma kau harus menenangkan dirimu dulu sebelum keluar dari ruangan ini” dr. Goew memberi saran. Setelah sesi hipnoterapi itu selesai, Sitma masih berusaha untuk menerima fakta yang sepanjang hidupnya ia tolak. Mata sembab, rambut teracak, dan baju yang mulai dirambasi keringat. Tatapan yang sama, kosong, belum terlepas bersama dengan tangis tiada henti. “dr. Goew dapatkah aku meminta resep penenang darimu?” Suaranya melemah, berusaha dengan kuat agar tetap tegar. “Tentu saja nanti akan ku berikan obat penenang” Jawaban dr. Goew lagi-lagi dibalas dengan anggukan dari wanita yang sudah tidak punya tenaga untuk bicara. Sitma memilih untuk meninggalkan ruangan itu dan kembali ke selnya. Kini ia semakin bingung harus bagaimana, kesedihan sudah cukup memakannya, ia tak ingin dimakan lagi oleh kekasalan dan rasa dendam. Pria itu, selama ini orang yang membuat Sitma seperti ini, akhirnya ia mengetahuinya, sang dalang. Lelah dari menangis Sitma berbuah tidur yang cukup panjang. Sangat wajar jika orang yang sedang sedih memilih untuk tidur lebih lama, kadang mereka hanya tidak ingin menghadapi dunia, bukan menyerah tapi istirahat untuk waktu yang singkat. Berakhirnya sesi itu berlanjut pada laporan dr. Goew pada Zlo sebagai orang yang meminta bantuannya. Ia dan Zlo sudah berjanji untuk bertemu di cafétaria camp keesokan harinya. “dr. Goew bagaimana hasil akhirnya? Apakah ia berbohong? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tembakan pertanyaan dari Zlo sore itu. “Bahkan kita belum memesan apapun, juga aku sudah mengirimkan hasilnya kemarin malam, kau tidak membacanya?” Serangan balik oleh dr. Goew. “Maafkan aku dr. Goew, baiklah ayo pesan minuman dulu” Mereka telah memesan minuman dan minuman itu sudah datang. Tepat saat pramusaji memberikan teh milik dr. Goew dan iced coffee milik Zlo, ia melanjutkan hujan pertanyaannya.             “Aku sudah membaca dan melihat video hipnoterapi itu, tapi sebenarnya apa yang kalian biacarakan aku tidak mengerti, sedikitpun. Aku juga tidak tahu apakah itu nyata atau hanya dibuat-buat” Zlo sambil mengaduk iced coffeenya yang sebenarnya tidak perlu diaduk karena komposisi dari minuman itu hanya air, espresso, dan es.             “Jika kau bertanya kesimpulanku, maka jawabanya adalah ia hanya korban Zlo”             “Sitma dan keluarganya, mereka semua menjadi b***k yang dihantui ancaman. Sitma kehilangan adiknya pada saat ia masih berusia 10 tahun. Adiknya, Amara yang empat tahun lebih muda dari Sitma dibunuh tepat di depan mata keluarganya, termasuk Sitma. Setelah kejadian itu Sitma tidak pernah mengakui jika ia memiliki adik. Itu adalah bagian dari reaksi trauma yang sangat berat. Ia menghapus ingatan pembunuhan adiknya, sekaligus semua memori tentang adiknya untuk menahan luka yang tidak bisa dihadapi anak usia 10 tahun. Sejak kejadian itu juga Sitma akhirnya menuruti semua perintah dari mereka hingga ia dewasa.” Penjelasan dr. Goew ini seketika membuat Zlo tertegun. Ia tak habis pikir, wanita yang selama ini ia curigai adalah orang yang memiliki penderitaan hebat. Rasa bersalah membuat Zlo tidak bisa bereaksi apapun.             “Apa kau melihat video itu sampai selesai?” dr. Goew kembali lagi bertanya pada Zlo. Lawan bicaranya itu menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk.             “Mr. Anaro adalah orang di balik ini” Saat mendengarnya, Zlo tidak begitu kaget. Yang membuatnya kaget adalah bahwa ternyata selama ini Sitma bahkan tidak tahu, pada siapa ia bekerja dan kenapa ia melakukannya.             “Sepertinya sudah cukup dr. Goew, terima kasih atas segala bantuanmu” Zlo yang tadinya sangat tertarik untuk membahas ini berubah menjadi orang yang ingin pembahasan ini segera selesai. Mereka akhirnya berpisah di cafétaria, lebih tepatnya Zlo meninggalkan dr. Goew yang masih menikmati tehnya. Zlo bergegas dengan cepat tak lain untuk menghampiri Sitma, untuk meminta maaf. Di depan sel Sitma, Zlo memandangi wanita itu masih tertidur, Sitma terlihat seperti orang sakit, wajahnya terlihat pucat. Karena tidak mau mengganggu istirahatnya, Zlo memutuskan untuk memberi tahu Sam tentang ini, kesalah pahaman yang telah ia buat. Ia menghampiri Sam yang sedang mengawasi pembuatan pesawatnya. Sam terlihat sangat focus dari belakang. Tapi Zlo merasa tetap harus memberi tahu kabar ini meski akan mengganggu konsentasi Sam yang jarang muncul itu.             “Sam dapatkah kita bicara sebentar?”             “Ya, silahkan aku akan mendengarkanmu” Sam tetap melakukan aktivitasnya, ia rasa ini sudah cukup untuk menanggapi Zlo dengan baik.             “Baiklah, Sitma telah mendapatkan ingatannya kembali….” Dalam sekejap Sam membeku, tapi hanya dalam beberapa sekon lalu ia kembali bersikap yang dianggapnya ‘normal’.             “Lalu apa hubungannya denganku?” Sam terlihat tidak begitu nyaman dengan percakapan ini.             “Mungkin selama ini kau berhenti untuk mendukungnya karena terpengaruh oleh opini buruk orang lain tentangnya, karena ia seorang mata-mata.”             “Tapi selama ini aku, kita, semua salah. Sitma hanyalah korban” Zlo menjelaskan semuanya secara lengkap. Bagaimana kesimpulannya itu terbentuk, apa alasan ia dapat menyimpulkan itu dan semua hal berkaitan Sitma yang ia ketahui. Sam mendengarkan semuanya dengan penuh perhatian, memproses semua informasi yang Zlo berikan. Sesekali Sam menghela nafasnya dengan kencang, walaupun secara fisik ia tidak mengalami kelelahan, pikirannya saat ini sedang bekerja keras.  Tanpa sadar penjelasan Zlo memakan waktu cukup lama hingga tempat tempat itu menyepi.             “Mr. Sam, Mr. Zlo semua orang sudah kembali ke kamar dan aku akan segera mengunci tempat ini” ucap salah satu teknisi termuda di tempat itu, Victor. Zlo dan Sam meminta maaf untuk itu dan segera meninggalkan termpat. Mereka melanjutkan pembicaraan yang sebenarnya sudah selesai di jalan menuju ruangan masing-masing mengingat ini sudah terlalu malam untuk melanjutkan obrolan.             “Lalu apa yang akan kau lakukan padanya setelah ini?” Sam bertanya pada pemapar materi kenyataan mengenai Sitma sambil membuka kamarnya yang bersebelahan dengan milik Zlo.             “Aku akan minta maaf padanya, tapi karena ia sudah mengetahui misi dan tempat ini, terpaksa aku belum bisa mengeluarkannya dari sini.” Dibebaskan atau tidaknya, bagi Sitma sama saja. Jika ia diusir dari tempat ini, Mr. Anaro sudah siap untuk menangkap dan membunuhnya.             “Baiklah Zlo, sepertinya aku sudah mengerti semuanya” Kalimat itu mengakhiri percakapan panjang mereka. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing yang letaknya bersebelahan. Di kamarnya, Sam tidak langsung tidur. Setelah berganti pakaian ia duduk di sofa sambil meratapi cryptex yang sudah ia sembunyikan sejak kejadian penculikan Hobit. Lagi, fokusnya terus terpecah. Sitma hanya hilang dari pikirannya tidak lebih dari 3 hari.             “Aku bahkan belum bisa menemukan jawaban dari benda ini, aku belum bisa menemukan di mana Hobit, aku belum menyelesaikan misi ini, kini Sitma, nama itu datang kembali. Aku tidak habis pikir kalau ia sangat menderita. Aku tidak bisa melepaskan diriku dari bayang-bayangnya. Bagaimana bisa ada orang sejahat Mr. Anaro? Kenapa ia melakukan hal itu? Ini benar-benar gila.”             Menghabiskan malamnya di sofa, tertidur di atasnya sambil memegang benda itu (cryptex), mungkin tadi malam Sam sudah memutuskan sesuatu, atau kelelahan dan memutuskan untuk mengambil keputusan esok hari. ***             Pagi ini Sam bangun lebih cepat, ini jarang terjadi tapi ia sudah membereskan kamarnya dengan sangat rapi sebelum matahari terbit. Ia tidak sadar kenapa ia melakukan ini, yang ia tahu tidurnya tadi malam nyenyak sehingga durasi singkat sudah cukup untuk mengumpulkan energi yang banyak. Selesai membersihkan semua sudut ruang kamarnya, Sam beranjak untuk membersihkan tubuhnya. Mencukur face’s hair, mandi, menggunakan parfum favorit. Layaknya pria yang akan melakukan kencan pertama. Tak lupa sentuhan terakhir, menyisir rambut agar terlihat lebih rapih. Setelah semua selesai, Sam menatap dalam dalam wajahnya di cermin.             “Sebenarnya apa yang sedang ku lakukan?” Ia bertanya pada dirinya sendiri melalui cermin. Baru saja tadi malam ia berpikir bahwa banyak hal yang belum ia selesaikan, kenapa hari ini mood nya berubah drastis? Sam mengacak rambutnya yang sudah disisir klinis, dan berpikir untuk mengganti bajunya. Baju itu adalah baju band favoritnya, terlalu spesial untuk menggunakan baju itu tanpa rencana apapun. Ketika ia hendak melepas bajunya, mengangkat bagian bawah bajunya melewati kedua kepalanya, tiba-tiba gerakan itu terhenti.             “Haruskah aku melepasnya?” Tanya pria yang dilihat Sam di cermin, baju pria itu hanya tersangkut di kedua lengan saja. Setelah tidak melakukan gerakan apapun saat bajunya hanya terpakai setengah badan, akhirnya Sam memutuskan untuk tetap menggunakan baju itu. Ia terus melihat ke arah otot lengannya yang sudah mengecil tapi tetap oke karena jenis bajunya adalah kaos fit in. Setidaknya ini membuat ilusi otot untuk Sam. Kamar sudah bersih, tubuh sudah bersih wangi dan tampan. Itu pikir Sam. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Sam duduk di ruang kerjanya membuka tab, isi tabnya adalah kerangka model pesawat miliknya, blue print kerangka mesin, laporan perhitungan gravitasi dan magnet lapsoina, jumlah gesekan ion di iedhla. Bagi Sam semua bukan hal yang menyenangkan untuk dikerjakan sepagi ini, dengan keadaan sekeren ini. Ia menutup tabnya dan berpindah ke sofa, membaca buku di atas meja. Sayangnya semua buku koleksi Sam yang ia bawa ke camp dan buku yang tersedia di sini hanya buku yang berhubungan dengan misi, dan Sam rasa itu juga masih kurang tepat untuk dilakukan sekarang. Terakhir, satu spot lagi dalam kamarnya yang belum ia kunjungi, kasur. Ia berbaring di kasur. “Tidak, tidak, ini paling parah. Buat apa aku melakukan ini semua hanya untuk kembali tidur.” Sam bangun dan duduk di pinggir kasurnya. Memikirkan kegiatan apa yang cocok ia lakukan sebelum jam sarapan. Menentukan kegiatan berdurasi satu jam saja seperti sangat sulit bagi Sam. Terlintas di pikirannya untuk mengunjungi Sitma dan meminta maaf karena ia tidak pernah menjenguk wanita itu, sebenarnya ini sudah terlintas tepat saat ia bangun tidur dan belum melakukan apapun. Bahkan mungkin Sam melakukan semua ini karena bersemangat untuk menemui Sitma.             “Baiklah, mungin sudah waktunya” Waktu satu jam yang kini hanya tersisa 40 menit ia gunakan untuk pergi ke ruang tahanan Sitma. Rencananya ia akan meminta maaf dan mengajak perempuan itu untuk sarapan bersama dan mungkin, jika sempat, ia akan membawa Sitma ke kamarnya. Hei, ia hanya ingin memamerkan kamarnya yang sudah bersih dan rapih. Sam berjalan saat tempat itu masih sangat sepi. Sepanjang jalan ia hanya menemui 3 orang dari bagian kebersihan yang mengurus laundry penghuni tempat ini. Hingga ia sampai. Matanya membesar saat melihat pintu sel yang terbuka. Sam mendekat dan masuk kedalam, mencari di mana Sitma berada.             “Kemana dia? apa ia kabur?” Pikir Sam tak henti-henti. Sam mencari Sitma sampai masuk ke dalam kamar mandi sel Sitma. Tapi wanita itu tetap tidak terlihat batang hidungnya. Sam membalikkan badannya dan..             “Hei!” Sam terkejut, wanita itu, menatapnya dengan senyuman.             “Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau terlihat begitu panik?” Sitma bertanya pada pria yang baru saja ketahuan memasuki selnya.             “Ba.. ba.. bagaimana kau?” Sam masih bingung, tapi bersyukur Sitma masih di sini.             “Ah itu, sekarang aku sudah tidak tidur di sel, aku bukan tahanan lagi di sini. Tapi aku belum dibolehkan untuk keluar entah sampai kapan.” Ia menjelaskan semua itu dengan senyum tanpa jeda. Sam mengangguk sebagai sinyal kalau ia sudah memahami keadaannya.             “Apa kau mencariku Sam?”             “Ah iya aku mau meminta maaf padamu” Sitma kali ini sangat memamerkan senyuman indahnya, kali ini dengan tawa kecil.             “Benarkah? Pasti tadi saat kau menyadari aku tidak di dalam sel, kau berpikir “Kemana dia? apa ia kabur?” hahahaha” Sitma mengejek Sam yang terlihat begitu kaku. Ini sangat berbeda dengan Sam saat mereka baru saling mengenal, pria dengan kepercayaan diri. “Iy.. tidak.. aku tidak berpikir seperti itu, aku hanya mencarimu” Kebohongan Sam terlihat begitu jelas di mata Sitma, Sitma hanya bisa tertawa melihat tingkah Sam yang terlihat gerogi. “Baiklah aku memaafkanmu Sam! Lalu apa yang akan kau lakukan dengan penampilan serapih ini dan tubuh sewangi ini?” Sitma menggodanya lagi. “Mengajakmu sarapan?” Jarang Sitma menemukan pria yang sangat rapih dan mengajaknya sarapan bersama, setidaknya pada umumnya pria mengajak wanita untuk makan malam. Sitma mengangguk untuk mengatakan setuju. Suasana hati keduanya sedang baik, Sitma yang senyum sepanjang jalannya dan Sam yang diam-diam tersenyum saat Sitma sedang tidak melihatnya. Mereka duduk bersebelahan untuk makan pagi, suasanya sangat tenang karena tidak ada hal untuk dibahas. Sampai Zlo dan Kare datang bersamaan dan duduk di depan mereka, dengan ekspresi datar persis saat orang baru bangun tidur.             “Kalian?” Sam menyapa, lebih tepatnya bertanya kenapa mereka bisa datang bersamaan. Apa yang mereka lakukan semalam? Zlo dan Kare masih diam dan memproses perkataan Sam. Apa yang ia maksud bersamaan. Kedua orang itu menggeserkan sedikit pandangannya. Mereka saling kaget, ternyata disebelah mereka ada orang yang sama-sama mereka tak sangka.             “Zlo?” Kata Kare             “Kare?” Kata Zlo             “Apa yang kau lakukan?” Kata Zlo dan Kare. Sitma dan Sam menghembuskan nafas berat mereka. Mereka akhirnya sadar kalau Zlo dan Kare bahkan tidak tahu kalau mereka datang bersamaan. Setelah peristiwa aneh itu, mereka melanjutkan sarapan.             “Sitma, apakah kau akan membalas dendammu pada Mr. Anaro?” Kare, wanita cetus itu mengatakannya tanpa introduksi apapun. Zlo dan Sam sampai tersendak saat mendengarnya.             “Haruskah aku melakukannya?” Sitma, wanita yang tidak jauh berbeda dari Kare menjawabnya dengan santai sambil menyuapkan sereal ke mulutnya, lalu mengunyahnya. Zlo dan Sam tersendak untuk kedua kalinya. Kali ini mereka membutuhkan tissue untuk mengelap s**u yang menetes dari dalam mulutnya.             “Tentu” Kare menjawabnya dengan singkat.             “Tapi bagaimana aku memulainya memulainya?”             “Aku bisa membantumu, nanti kita bicarakan di kamarku saja” Kare mengakhiri katanya. Kedua pria yang hanya mendengarkan sambil mengangguk sekali-kali mengisyaratkan kalau mereka setuju. Sam yang sudah merapihkan kamarnya tak kuat menahan keinginannya untuk mengajak semua orang melihatnya.             “Bagaimana kalau di ruanganku saja?......” Sam menawarkan itu saat semua sudah hening dan fokus untuk menghabiskan makannya. Cukup lama mereka tidak merespon tawaran Sam hingga akhirnya Kare mengatakan “Tidak masalah” dan yang lain hanya menyetujuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD