Author’s Point of View
Hasil sidang kedua sudah keluar, benar saja vonis untuk Anaro sudah dijatuhkan. Penjara seumur hidup. Posisinya sebagai presiden Auroert digantikan oleh Zlo, seorang elit Auroert yang terkenal dengan prestasinya segudang. Tidak ada yang mengetahui jika Zlo akan menjadi presiden sementara, sampai mereka semua membaca berita dan tak sengaja bertemu saat makan siang.
“Ini gila, aku tidak tahu kalau ia satu minggu di sana (Auroert) untuk menyiapkan ini” Sam berbicara pada dua wanita di depannya.
“Maksudmu Zlo? Aku juga baru liat beritanya tadi, ini menjadi perbincangan publik” Sitma menanggapi setelah meminum air mineral untuk mendorong makanannya masuk.
“Menurutku ini sedikit janggal”
Statement yang diberikan oleh Kare sedikit membuat kedua lawan bicaranya kaget. Apa maksud dari kejanggalan yang dikatakan Kare?
“Hmm sepertinya tidak, dari dulu ia memang ingin terjun ke politik, impian anak itu memang sangat besar” Sam membela sahabat dekatnya itu.
“Aku tidak mempermasalahkan impiannya yang besar. Tapi bagaimana cara ia mendapatkannya, janggal”
Sam dan Sitma tidak melanjutkan perdebatan itu karena tidak etis rasanya membicarakan teman sendiri, apalagi ini bukan hal yang positif. Sesudah makan siang, Kare dan Sam mempunyai jadwal yang sama yaitu rapat dengan Mr. Ekuador. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi di Auroert dan bagaimana Zlo bisa menjabat menjadi presiden secara mendadak? Setelah selasai membahas mengenai misi, mereka akhirnya mendekati Mr. Ekuador, untuk menembak beberapa perntanyaan yang menggantung di pikiran
“Pasti kalian ingin mengetahui tentang kabar Zlo?”
“Zlo baik-baik saja, ia sudah memimpikan ini sejak lama. Karirnya bagus, integritasnya tinggi, pintar. Ia memang cocok”
“Lagi pula jika ia yang menjadi presiden, misi ini bisa segera kita laksanakan tanpa khawatir ada gangguan”
Sebelum mereka bertanya, Mr. Ekuador sudah menjawabnya. Semua jawabannya memang sangat masuk pada nalar, yang mereka bisa lakukan hanya mengangguk.
“Oh iya, jika Zlo tidak ada, lalu siapa yang akan menggantikannya dalam misi ini?” Sam bertanya hal lain.
“Hmm kita masih punya Kare, dan… Sitma jika kalian membutuhkan tenaga tambahan.” Jawab Mr. Ekuador spontan. Ia tidak menyangka pertanyaan ini akan dilontarkan.
“Baiklah kalau begitu, aku masih ada urusan lain. Sampai bertemu besok, jaga kesehatan kalian ya!” Perbincangan yang dibuka oleh Mr. Ekuador itu ditutup oleh dirinya sendiri.
Entah apa yang membuat Kare tidak bertanya apapun, padahal saat di kantin tadi ia yang memiliki pertanyaan paling banyak. Setelah Mr. Ekuador pergi, Kare langsung menyusul untuk pergi juga. Ia pergi ke ruangannya atau kamarnya sendiri.
Kare terduduk di atas kasur, memikirkan semua jawaban dari pertanyaan kosong.
“Kenapa ia bahkan menjawab apa yang tidak ditanyakan?”
“Kenapa jawabannya tidak ada yang teknis? Semua yang keluar dari mulutnya adalah opini yang mudah untuk disetujui”
Pertanyaan-pertanyaan selalu muncul di kepala Kare. Ia merasa setelah penangkapan Anaro semua berubah menjadi tidak jelas dan tidak terbaca olehnya. Ia bahkan tidak dapat memahami situasi apa yang sedang ia hadapi sekarang.
“Tidak, aku tidak boleh memikirkannya terlalu dalam. Jika aku larut dalam masalah yang tidak ada hubungannya denganku, semua bisa berantakan” Kare mengucapkan pada dirinya sendiri. Ia tidak mau misi yang telah ia kerjakan selama ini berantakan hanya karna kejanggalan ini. Lagi pula Mr. Ekuador ada benarnya juga, saat ia mengatakan jika Zlo yang memimpin Auroert, misi ini akan semakin mudah.
Di tempat lain, Mr. Ekuador terus melangkah dengan ragu. Semakin jauh ia melangkah, semakin sulit, rasanya seperti berjalan di atas lapisan es tipis. Sedikit saja kessalahan yang ia lakukan, ia akan mati membeku. Mr. Ekuador juga sudah merasakan kecurigaan dari Kare, keraguan yang ia miliki mendatangkan ketidakpercayaan. Kare adalah orang yang cukup detail, pasti ia sedikit demi sedikit akan mengetahui semuanya lebih dulu.
Zlo dengan kegiatan yang sangat padat terpaksa tidak bisa melakukan transfer informasi dan hasil penelitiannya dalam misi itu selama ini dan pada akhirnya itu mempengaruhi berjalannya misi.
Pesawat Sam sudah jadi sepenuhnya. Sebelum ia mengendarai pesawat itu, Sam harus melakukan latihan menggunakan prototype E-7. Sebuah kerangka besi dalam suatu laboratorium yang didesain semirip dengan keadaan di dalam portal nanti. Sam sudah siap untuk melakukan demo, ia menggunakan helm dan baju khusus untuk menjaga suhu dan tekanan udara agar ia dapat bernafas dengan lega. Pakaian ini berbeda dengan milik astrounot yang cukup besar, milik Sam terlihat lebih ketat dan nyaman untuk digunakan.
Sam duduk di atas kerangka itu. Kru lain memilih tekanan, magnetik, gravitasi, semua disesuaikan. Simulasi dimulai.
Kerangka besi itu mulai berputar, untuk menahan gravitasi dan menjaga keseimbangan. Pelan-pelan Sam mencoba untuk menaikkan pesawat pada ketinggian tertentu, sesuai denga napa yang disepakati sebelumnya. Ia melakukannya dengan baik, selanjutnya untuk aktivasi Lapsoina, Sam memencet beberapa tombol untuk mengeluarkan Lapsoina. Tombol itu bekerja dengan baik, Lapsiona teraktivasi, namun, tarikannya terlalu kuat. Pesawat Sam seketika terbanting kesana kemari. Sam tidak bisa melakukan apapun, ia tersungkur terlepas dari seatbelt yang ia gunakan. Kru lain langsung mematikan aliran listrik dalam laboratorium itu.
Gelap. Sementara semua gelap. Sam menghela napasnya di keadaan minim cahaya itu, akhirnya ia tidak mati sia-sia dalam sebuah simulasi. Setelah menghela napas, anehnya lampu itu tidak menyala lagi. Kemana semua kru?
“Sam! Hei Sam! Sadarlah!”
Suara wanita itu lagi, ini kali ketiga Sam mendengar suara wanita itu. Pertama saat ia di Yugyert, kedua saat ia tertidur di mobil menuju s**u segar keluarga orlan, dan sekarang yang ketiga.
“Apa kau baik saja?” Sitma menatap wajah Sam.
Ternyata setelah kejadian itu Sam pingsan, pantas ia tidak dapat melihat apapun dan terus kegelapan.
Sam bangun pelan-pelan dari pingsannya.
“Aku baik-baik saja, tenang saja, benar aku masih sangat sehat hanya kepala dan kakiku sedikit sakit.. argh..” Sam sambil terus menenangkan dengan ekspresi kesakitan.
“Baiklah jika memang begitu.. Terakhir Sitma memarahi beberapa kru, ternyata ada sedikit kesalahan teknis dalam aktivasi Lapsoina, mungkin karena transfer informasi dari Zlo yang belum dilaksanakan, jadi ada miss komunikasi antar kru.”
Sam hanya terdiam, mendengar nama Zlo membuat pikirannya datang lagi. Walaupun Sam kemarin sempat percaya, tapi semua ini memang kian semakin ganjil. Sam secara tidak sadar memikirkan itu dan pandangannya menjadi kosong.
“Sam? Sam?”
“Ah iya maaf ada apa?”
“Kau seperti melamun, apa yang sedang kau pikirkan?”
“Ah itu, aku sedang memikirkan lukaku hehe” Jawaban yang tidak jujur kelua dari mulut Sam.
“Kau benar, misi ini akan sangat beresiko dan bisa merenggut nyawamu. Apa kau yakin akan melanjutkannya?” Sitma ternyata percaya dengan alasan bohong Sam, ia menanggapinya dengan serius.
“hahaha tenang saja, aku ini memang dilahirkan sebagai pahlawan. Aku hanya rela mati jika itu untuk menyelamatkan banyak orang” Sombong Sam pada Sitma. Mereka semua tertawa lepas hingga tangan Sitma yang tidak sengaja menyentuh salah satu bagian tubuh Sam yang lukanya cukup parah.
“Aaaa..aa..aa” Spontan Sam berteriak. Sentuhan Sitma bukanlah sentuhan biasa, melainkan pukulan canda yang cukup sakit (Sitma punya keahlian bela diri).
“Maaf.. maaf .. aku tidak sengaja… Lagi pula katanya kau super human, kenapa kesakitan seperti itu?” Permintaan maaf yang diakhiri dengan ejekan oleh Sitma.
“Aku mengatakan super hero bukan super human…..” Sam memberikan pembelaan
“Sama saja” Sitma masih dalam posisi mengejek.
“Mereka berbeda Sitma, super human itu memiliki kekuatan super seperti teleportasi, terbang, melihat masa depan, atau makan tanpa dikunyah. Sedangkan super hero adalah manusia biasa yang diplomatis dan berjiwa sosial tinggi..” Sam menjelaskan kepada Sitma dengan tempo yang lambat, seperti memberikan pelajaran pada siswa sekolah dasar.
---
Keesokan harinya, Zlo terlihat berada di dalam camp saat masih pagi buta. Beberapa orang yang sudah terbangun dan menyadari kedatangannya mengucapkan selamat atas posisinya saat ini. Salah satunya Kare. Kebetulan pada pagi itu Kare sudah keluar kamar untuk melakukan gym, dan ia melihat Zlo sedang berdiri di depan laboratorium penelitian Lapsoina yang bersampingan dengan tempat gym.
“Selamat” Kare mengatakannya saat Zlo tidak sadar atas kehadirannya, pria itu terus menatap Lapsoina sambil meminum kopi dalam gelas kertas di tangannya.
“Ah, Kare. Terima kasih.” Zlo terkejut dengan wanita yang tiba-tiba ada di sampingnya.
“Kau benar-benar akan meninggalkan misi ini?” Tanya Kare sambil ikut memandangi Lapsoina.
“Sepertinya, aku tidak punya pilihan selain itu.”
“Oh iya mengenai transfer informasi, aku akan memberikan semua data dan hasil penelitian yang ku buat siang ini. Aku akan mengantarnya ke ruanganmu, Sampai bertemu siang nanti.”
Zlo langsung pergi meninggalkan Kare setelah itu. Kare hanya mematung dan menunggu hingga siang itu datang, ia melanjutkan tujuan awalnya untuk pergi ke tempat gym.
Semua kerumitan ini memang cukup menguras energi. Siapa yang sangka jika jatuhnya Anaro akan membuat misi ini semakin sulit? Walaupun kesulitan yang dialami memang berbeda.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, jam makan siang juga sudah selesai. Seperti janji yang dibuat sepihak oleh Zlo, Kare menunggu pria itu di kamarnya. Tak meninggu lama, Zlo benar-benar datang.
“Ini semua data yang ku bilang, aku buru-buru jadi harus segera pergi” Zlo menarus sebuah harddisk di atas meja Kare.
“Tunggu,” Kare dengan gugup menghentikan langkah Zlo yang sudah hampir sampai di depan pintu. Zlo memang masuk hanya sampai di depan meja kerja Kare. Wanita itu mendekati Zlo, perlahan. Semakin dekat hingga hampir tidak ada jarak antar keduanya. Zlo yang lebih tinggi 10 cm diraih kepalanya dengan sedikit mengangkat tumit. Kare memberikan sebuah ciuman. Entah apa arti dari ciuman itu, mereka melakukannya dengan sangat emosional. Keduanya menitihkan air mata sambil terus menggigit bibir satu sama lain hingga Zlo tersadar dan melepaskan ciuman itu.
“Aku pergi dulu” Perasaan yang sangat aneh tapi semuanya terasa sangat berat. Seakan tarikan gravitasi semakin kuat.
Mereka akhirnya berpisah.
Kare tidak mau terpaku oleh itu lagi, ia menyemangati dirinya sendiri. Sangat bukan dirinya jika ia tidak terlihat profesional di depan semua orang. Hari ini memang hari yang cukup padat bagi Kare, setelah berolahraga dan bekerja di pagi hari, bertemu dengan Zlo di siang hari, sore Kare harus mengikuti rapat mingguan mengenai misi penyatuan bumi.
Topik bahasan rapat sore ini adalah mengenai kecelakaan pada saat simulasi, momentum portal di Iedhla, keluarnya Zlo dari misi ini dan masuknya anggota baru pada tim inti misi.