Author’s Point of View
Kelelahan membuat mereka semua tidur nyenyak tadi malam. Tapi ada satu orang yang tidurnya sangat singkat, Sitma. Ia mengalami kegelisahan, bagaimana tidak, anak yang sedang diautopsi itu adalah adiknya, dan yang mereka lakukan di sini semua untuk membantu Sitma.
Hasil autopsi sudah keluar, Clara sementara hanya bisa memberi tahu Sitma yang sedang duduk di taman belakang karena yang lain masih terlelap. Sitma yang sedang duduk dan memegang gelas berisi air hangat menatap ke arah luar, banyak sekali yang ia pikirkan, selain tentang beban hidup yang harus ia pikul, hal lain adalah rasa bersyukur atas apa yang sudah ia dapatkan sampai saat ini.
“Sitma?” Clara menghampiri Sitma dari dalam.
Sitma menengok dan spontan berdiri,
“Tidak usah berdiri, kita bicara sambil duduk di sini saja.” Ucap Clara yang tahu bahwa Sitma terlihat cukup tertekan dan lelah dengan masalah yang dihadapinya.
Sitma menuruti permintaan Clara dan kembali duduk. Tubuhnya yang mulai lusuh setelah pencarian jasad kemarin membuat dirinya terlihat cocok denga napa yang Clara sebutkan tadi.
“Gadis kecil itu adikmu kan? Ia sangat cantik”
Sitma mebalas dengan senyum dengan kepara merunduk, seperti mengatakan ia tapi dengan sipu malu sekaligus sambil membayangkan wajah Amara yang cantik.
“Ini yang kalian butuhkan, memang banyak benturan dari benda tumpul di sekitar alat vitalnya, tapi kematiannya itu terjadi karena benda ini, senjata tajam yang disebut oleh Kare kemarin. Benda ini menembus kedalam jantungnya, dua faktor kematian yang dialami Amara adalah combo yang sangat mematikan. Kekuarangan darah dan kerusakan jantung. Benda itu masuk dan membuat luka besar sehingga darah banyak keluar, saat itu juga seharusnya jantung yang dapat menyelamatkannya dengan memompa darah lebih cepat untuk menarik darah dan oksigen. Ini sangat menyakitkan. Tapi karena benda itu mengenai jantungnya, Amara tidak merasakan sakit yang terlalu lama.”
Sitma tidak bisa melakukan apapun selain berterimakasih atas bantuan yang diberikan Clara. Ia cukup senang dengan hasil autopsi karena hal itu dapat membuktikan kejahatan dan menghentikan kejahatan Anaro.
Sekarang semua sudah bangun, mereka disuguhi sarapan ayam goreng tepung dan kentang goreng yang dibeli Clara tadi pagi.
“Bahkan ia memakan junk food untuk sarapan” Celetuk Zlo yang menyindir (candaan) Clara yang seperti bukan layaknya seorang dokter. Semua melihat kearah Zlo yang tetap memakan suguhan itu dengan lahap.
“Hahaha aku sebenarnya sudah bukan dokter lagi, aku tidak begitu tertarik menyembuhkan, aku hanya menggunakan keahlianku untuk sesuatu yang menarik misalnya seperti penelitian atau autopsi seperti ini.. Lagi pula bagaimana caranya aku membuat sarapan yang layak sedangkan aku sibuk melakukan autopsi sepanjang malam” Jawab Clara dengan tersenyum. Sebenarnya celoteh Zlo tidak perlu dijawab, tapi karena Clara orang yang baik jadi ia tetap menanggapinya dengan positif. Setelah mendengar jawaban dari Clara, Zlo langsung merasa tidak enak. Tidak seharusnya ia mengatakan itu dan itu bukan masalah besar yang harus ia katakan.
“Maaf apakah kau punya segelas s**u?” Tanya Sam memotong pembicaraan yang cukup panas tadi. Sam terbiasa meminum s**u sehabis sarapan, dimanapun ia berada.
“Ah itu baru saja datang tadi, ambil saja di kulkas bagian bawah” Clara dengan santai menunjukkan letak s**u di dapurnya.
Sam langsung mengambilnya dan meminum s**u itu sebagai penutup makan pagi.
“APA? s**u INI DARI KELUARGA ORLAN!” Sam yang meminum s**u itu terkejut. Ini benar-benar persis dengan yang ia minum bersama Sitma saat itu.
“haha benar, kau sudah pernah mencobanya? Pasti dapat saran dari warga local. Dulu saat baru tinggal di sini aku minum milik keluarga Bobe, karena itu yang paling terkenal. Tapi beberapa bulan setelahnya aku diberi saran oleh warga lokal untuk mencoba milik keluarga Orlan” Clara menanggapi.
“Persis! Aku juga awalnya minum milik keluarga Bobe tapi semenjak Sitma mengenalkanku keluarga Orlan, aku langsung mencintainya” Mereka seketika menjadi akrab.
“Kalau begitu ambil saja beberapa untuk di Disep”
“Baiklah aku akan mengambil semuanya.. hehe” Clara menjawab permintaan itu dengan senyum kecil yang ketulusannya dipertanyakan, ia sebenarnya tidak rela jika semuanya tapi mau bagaimana lagi.
Makan pagi selesai, mereka berpamitan pada Clara. Jasad Clara yang sudah diautopsi dititipkan pada Clara untuk dibawa kembali ke area pemakaman. Sebelum pulang, Sitma melihat sejenak jasad adiknya itu untuk berpamitan.
“Terima kasih atas bantuanmu, kita harus bertemu lagi suatu saat” Sitma sambil bejabat tangan dengan Clara. Setelah Sitma, gantian Zlo dan Sam yang berterima kasih pada Clara karena mereka berdua telah melakukan beberapa kesalahan, termasuk memandang Clara sebelah mata. Hingga terakhir Kare,
“Ini semua yang kau butuhkan ada di dalam boks ini, laporan, barang bukti ada di sini” Clara memberikan sebuah boks pada Kare. Sebelumnya Kare sudah diceritakan Sitma tentang hasil autopsi jasad Amara.
“Ya, kami juga akan segera memenjarakan pria tua itu, terima kasih atas bantuanmu”
Kata itu mengakhiri perjalanan mereka di Ifralert. Mereka kembali ke Disep dengan membawa satu boks barang bukti dan satu boks s**u milik keluarga Orlan. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, saat pulang mereka akan bergabung bersama ayam potong di dalam pesawat.
Hari ini mereka sudah mulai untuk kembali bekerja, setelah sampai mereka langsung membersihkan badan dari bau ayam dan berganti pakaian. Sebenarnya pekerjaan di camp sudah tidak terlalu berat, karena tinggal menunggu pesawat rampung, menemukan ke stabilan Lapsiona, dan menemukan waktu titik temu yang tepat pada portal di Iedhla.
Tapi tetap saja, Zlo dan Kare selalu terlihat sibuk setiap hari. Zlo yang harus tetap mengurus pekerjaan di XIX Company dan Kare sebagai tiang misi besar ini tidak bisa berhenti untuk mengawasi dan melakukan analisis. Setiap awal minggu Zlo harus pergi ke Auroert untuk mengurus pekerjaanya itu. Sedangkan Sam sibuk dengan simulasi penggunaan pesawat khususnya, pengenalan jalur dan medan yang harus ia hadapi. Berbeda dengan yang lain, Sitma tidak memiliki kegiatan pasti di camp. Karena kegiatannya yang senggang, ini adalah momentum yang bagus untuk Sitma membuat surat laporan kepada bagian keamanan bumi. Laporan akan dikirim Sitma secara online dan barang bukti akan dibawa oleh Zlo ke Auroert saat ia berangkat kerja.
Laporan itu sampai pada pihak keamanan pada hari itu juga dan keesokan harinya dilakukan pemanggilan pada pihak terlapor atau Apoka Anaro. Pemeriksaan dilakukan, Anaro selalu mengelak atas semua tuduhannya dan terus meminta agar dilakukannya negosiasi antara pihak pelapor dan terlapor. Ada suatu hal yang sangat ganjal, Anaro selalu meminta Mr. Ekuador sebagai perwakilan yang hadir dari pihak pelapor. Kelicikan Anaro membuat semua itu bisa terjadi.
Pihak keamanan dunia mengirimkan surat panggilan pada pihak pelapor ke alamat rumah Mr. Ekuador. Saat itu Sitma memang menggunakan alamat rumah Mr. Ekuador atas seizinnya, karena tidak mungkin ia menggunakan alamatnya, atau alamat Kare, Zlo, dan Sam yang menghabiskan waktunya secara penuh di camp ini. Apalagi memberikan alamat camp sebagai alamat pihak pelapor, itu akan sangat berbahaya bagi kelancaran misi ini.
Panggilan itu sampai di rumah Ekuador, ia membacanya dan benar-benar tidak tertarik atas pemanggilan itu. Hingga Anaro menelepon telepon kantor Ekuador di siang harinya.
“Ekuador, lama kita tidak berjumpa” Sambut Anaro.
“Anaro? Apa maumu?” Ekuador cukup kaget dengan keberanian Anaro untuk meneleponnya.
“haha kau masih mengenali teman lamamu ini ternyata. Aku tak menyangka orang sejahat kita bisa menjadi dua orang paling berpengaruh di dunia ini. Datanglah sebagai pihak pelapor” Celoteh Anaro.
“Kau pasti tahu kalau anak buahmu melaporkan ku? Kau pasti senang karena akhirnya ini terjadi, kau geram kan selama ini tidak bisa memenjarakanku karena misi ilegalmu itu?” lanjutnya.
“Tutup mulutmu Anaro! Aku bukan lagi orang jahat sepertimu dan misi ini selalu gagal karenamu” Bentak Ekuador, pria yang selalu memamerkan senyumnya mengeluarkan rasa marah yang cukup kuat.
“Haha santai saja Ekuador, tanpa melakukan apapun aku bisa menarikmu jatuh juga dengan satu jentikan tangan.”
“Hmm, mungkin cukup untuk omong kosongnya. Kau ingat Amara? Gadis kecil yang kita siksa itu? Mereka melaporkanku atas kasus ini. Aku yakin kakaknya (Sitma) ingatannya benar-benar hilang. Masa dia hanya mengingatku? Padahal kau ada juga kan di sampingku? Kau masih ingatkan?”
“haha apa yang sedang kau bicarakan Anaro? Apa kau seputus asa itu?” Ekuador mencoba untuk lebih rileks menanggapi ancaman dari Anaro.
“Ya, aku sangat putus asa. Tapi sebentar lagi kau yang akan merasakan ini.” Jawab Anaro dengan nada yang sangat serius. Tanpa mendengar jawaban apapun dari Ekudaor, Anaro mematikan teleponnya. Kali ini Ekuador merasa benar-benar terancam. Masa lalu buruknya, bisa saja terbongkar oleh Anaro. Apa yang harus dilakukan Ekuador sekarang? Haruskah ia menuruti kemanuan Anaro atau tidak memperdulikan ancaman itu sama sekali? Ekuador terlihat sangat bimbang.
“Halo, Sitma?” Ekuador menelpon Sitma.
“Ya Mr. Ekuador? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”
“Kemarin aku mendapat surat panggilan untuk pihak terlapor, bagaimana jika aku saja yang datang? Kebetulan besok aku masih di Auroert”
“Oh itu, tidak masalah Mr. Ekuador. Aku percaya kau akan membantuku sekuat tenaga. Terima kasih juga untuk itu Mr. Ekuador” Sitma tanpa menyimpan rasa curiga merasa Mr. Ekuador berada di pihaknya, ya untuk saat ini memang benar adanya.
Dengan mengantongi persetujuan dari Sitma, keesokan harinya Ekuador datang ke pengadilan untuk menemui Anaro sebelum siding pertama dilakukan. Mereka sudah memilih tempat terbaik tanpa celah untuk dimata-matai orang lain.
“Apa maksudmu menyeretku ke sini?” Ekuador membuka percakapan.
“Jika kita naik ke tahta tertinggi bersama, aku tidak mau jatuh sendirian. Walaupun kita sudah berbeda jalan” Sangat padat, jawaban dari Anaro.
“Kau tidak punya bukti Anaro, kau tidak pernah menyisakan bukti. Lalu bagaimana caramu menjatuhkanku?”
“Aku memang tidak punya itu, tapi aku punya sesuatu yang lebih menarik. Sebuah penawaran.”
“haha penawaran? Apa yang membuatmu percaya diri kalau aku akan tertarik pada itu?”
“Pasti. Ini adalah obsesimu, tentang penyatuan bumi. Bahkan aku sudah memberikan penawaran ini pada salah satu pekerja terbaikmu.”
Anaro menjelaskan detail mengenai penawaran informasi yang akan dia berikan, entah kenapa itu semua membuat Ekuador tercengang seperti tidak percaya tapi nyatanya percaya. Ia menerima penawaran yang diberikan oleh Anaro.
“Baiklah. Aku menerimanya. Tapi untuk saat ini kau tetap harus di penjara. Aku tidak bisa menghilangkan kepercayaanku pada siapapun untuk saat ini.”
“Setuju. Aku akan menunggu kau menjemputku, jika setelah itu kau tidak mau menjadi kenalanku lagi, tidak masalah.”
“Pegang pemerintahanku untuk sementara waktu, nanti akan ada seseorang yang menawarkan dirinya untuk menjadi penggantiku, kau mengenalnya dengan baik” Tambah Anaro.
Mereka mengakhiri semuanya tanpa berjabat tangan. Sidang pertama pun dimulai. Anaro sama sekali tidak seperti orang yang ingin membela diri dalam pengadilan itu. Ia percaya bahwa Ekudador akan segera menyelamatkannya. Berbanding terbalik dengan Anaro, Ekuador terlihat sedikit tegang, tidak santai seperti kebiasaannya.
Karena hasil sidang pertama terlapor tidak membela diri, sepertinya di sidang kedua Anaro akan langsung mendapat vonis hukuman.