9. Mengemis cinta

1661 Words
"Maka biarkan aku yang diadopsi mereka," ucap Hana dan berhasil membuat Ines terkejut lalu menatapnya tak percaya. "A-apa maksudmu Hana?" tanyanya tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu "Iya Ines, aku akan pergi bersama mereka. Saat kau pergi, ibu itu memintaku untuk ikut dengannya. Tentu aku tidak akan menolak, karena nanti aku akan mendapatkan kasih sayang darinya walau tidak lengkap seperti yang kamu harapkan" balas Hana serius. "Aku mencarimu berniat untuk mengajakmu pergi bersamaku Ines, aku ingin kita bersama-sama," tambahnya lagi. Ines menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Hana, gadis yang sudah menjadi sahabat dan seperti saudara kandungnya sendiri. "Ka-Kau ingin meninggalkanku?" tanya Ines dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis. Hana menggelengkan kepalanya menolak, "Tidak Ines? Aku tidak akan meninggalkanmu, makanya ayo pergi bersamaku," balas Hana dan berusaha memegang tangan Ines. Namun, Ines malah menepis tangan sahabatnya. Karna merasa terhianati "Kau jahat Hana, hanya demi keluarga cacat seperti itu, kau rela meninggalkan aku yang sudah menemani dan hidup bersamamu selama lima belas tahun ini!" runtuknya kesal. Ines tak dapat membendung sesak di hati lagi, tangisannya pecah. Dia tak ingin bertemu dengan Hana lagi. Menurutnya, Hana telah mengkhianati persahabatan mereka. Hana sudah tega meninggalkan semua kenangan indah bersamanya hanya demi sebuah keluarga cacat yang mengadopsinya. Hana menggelengkan kepalanya menolak, "Bukan seperti itu maksudku, Ines. Aku tidak berniat melakukan hal ini. Aku tidak ingin berpisah darimu, tetapi kau juga tahu kan jika aku juga sama sepertimu memiliki harapan," ujar Hana berusaha meyakinkan Ines jika dirinya tidaklah berkhianat sedikit pun. "Kenapa, kenapa harus kamu yang berlaku keji seperti ini? Apakah takdir belum cukup menyakitiku dengan hancurnya harapanku? Mengapa!?" protes Ines penuh emosi. Tangisan Ines semakin pecah, dia benar-benar sakit hati dengan Hana dan juga takdir yang seakan tidak pernah berlaku adil padanya. "Ines bukan seperti itu, dengarkan aku Ines, dengarkan aku," pinta Hana mencoba membuat Ines tenang. Tetapi bukannya tenang Ines malah makin menjadi, dia menatap tajam pada sahabat yang ia anggap egois, lalu terdiam penuh emosi. Hana mencoba meraih tangan Ines, tetapi lagi-lagi mendapat penolakan dari gadis yang tengah disulut amarah itu. "Jangan sentuh aku! Aku kecewa padamu Hana, aku kecewa padamu!" Setelah mengatakan hal itu Ines segera berdiri lalu pergi berlari meninggalkan Hana yang terus-terusan memanggil dirinya. Ines tak mempedulikan teriakan Hana yang terus memanggil dirinya agar berhenti. Hatinya sangat kacau dan hancur. Kedua kebahagiaannya telah direnggut oleh satu perkataan Hana. Hana ingin mengejar, tetapi seseorang memanggilnya. Dia adalah Bu Ayumi. Sedari tadi, dirinya mendengarkan apa yang Hana dan Ines ributkan Sungguh Ayumi juga merasa sakit hati saat Ines dengan mudahnya mengejek seseorang dengan sebutan keluarga cacat. Memang benar, keluarga yang satu ini tidak memiliki sosok seorang ayah, tetapi Bu Tiara adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang. Ia mengadopsi anak karena ingin membagi kasih sayangnya, selain itu agar Alvian tak sendirian lagi. Bu Ayumi merasa sedih karena melihat Ines yang benar-benar kecewa atas keputusan Hana. Wanita pemilik panti asuhan itu semakin sedih karena Ines merasa harapannya hancur gara-gara ia yang menyarankan agar Hana menerima keluarga Tiara sebagai keluarga pengadopsinya. Hana terdiam menatap Bu Ayumi yang tengah berjalan menghampirinya. Setelah dekat, wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala Hana. "Hana, persiapkan dirimu ya, biarkan Bu Ayumi yang berbicara dengan Ines. Kau harus segera pulang ke rumah barumu, keluargamu tengah menunggumu saat ini," perintah Bu Ayumi. hana hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti semua perintah wanita yang selama ini menjadi ibu pengganti baginya. Dia berpikir mungkin hanya Bu Ayumi yang bisa membuat Ines mengerti keadaanya saat ini. "Terima kasih, Bu Ayumi," ucapnya yang kemudian diangguki oleh wanita itu. Dia mengajak hana untuk ikut bersamanya ke ruang tengah, menemui Bu Tiara yang sudah menunggu. *** James tengah berjalan santai melewati koridor rumahnya. Rasa letih merayapi tubuhnya karena seharian penuh mengurus proyek yang sempat tertunda. Ketika sedang berjalan, dia tak sengaja mendengar isak tangis seseorang dan itu berhasil membuatnya menghentikan langkah. James terdiam sebentar, mengamati dan menajamkan pendengarannya. Dan ternyata benar, memang ada seseorang yang tengah menangis saat ini. Suara itu berasal dari kamar milik Hana. James berpikir jika Hana pasti tengah menangis sekarang. Tetapi dia bingung, apa yang membuatnya menangis selarut ini? Bahkan dirinya sejak tadi sore sampai sekarang tidak menganggu wanita itu. Tetapi mengapa ia tetap menangis? Rasa penasaran semakin besar dirasakan oleh James. Perlahan dia mendekati kamar milik Hana dan mengintipnya dari balik pintu yang tak tertutup sempurna. Matanya membulat sempurna ketika melihat Hana yang sesenggukan menangis di atas ranjangnya. Kedua kakinya dia peluk dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. "Apa yang terjadi padanya?" tanya James penuh tanya. Entah sejak kapan ia mulai penasaran dengan sikap Hana. Dulu dia berpikir jika Hana akan menangis hanya karena dirinya, tetapi ketika melihat pemandangan ini semua pemikiran itu berhasil dipatahkan. Ketika James tengah sibuk dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk, dia mendengar Hana menyebut-nyebut nama yang selalu menghantui pikiran dan hatinya James, yaitu nama Ines. Hana terus saja mengucapkan hal aneh dengan tidak jelas. James ingin sekali mendekatinya dan mendekapnya untuk menenangkan emosi Hana. Jujur, ia begitu khawatir dan cemas dengan apa yang terjadi pada wanita yang pernah mengisi hari indahnya. Apa yang sebenarnya terjadi sampai wanita itu menangis pilu. Ia belum pernah melihat Hana menangis sampai serapuh itu "Apakah aku harus masuk ke dalam?" tanya James pada dirinya sendiri. Tetapi egonya melarangnya untuk masuk. Dia tak mau Hana berpikir jika James telah memaafkan kesalahannya di masa lalu. Tapi di satu sisi dia juga tidak tega melihat Hana yang menangis sesenggukan sendirian di kamarnya tanpa ada seorang pun yang menemani. Ingin sekali ia menjadi tempat berbagi keluh kesah. James mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. pria itu benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dia harus masuk atau tidak? Lelah dengan pertengkaran hati dan pikirannya sendiri, James memutuskan masuk dengan gaya angkuhnya James berjalan dengan langkah pelan. Ia terus saja menebak-nebak dan berpikir apa yang menjadi penyebab Hana menangis. Sore tadi dia masih melihat senyuman di wajah wanita yang namanya masih tersimpan erat di hatinya, tetapi sekarang wanita itu menangis? Sikap tersebut membuatnya tidak mengerti. Apakah Hana sekarang lebih emosional ketimbang dulu saat dia masih remaja? James terus saja berpikir di tempat ia berdiri tanpa bergeser secenti pun dari hadapan Hana. Meski Hana tidak menyadari keberadaannya karna menangis. Sampai suara tangisan itu menghilang, tidak ada suara sesenggukan lagi. James menjadi curiga dan penasaran, dia semakin mendekati Hana, tangannya sedikit mengguncangkan tubuh Hana Matanya tertuju pada wajah gadis itu. nyatanya ia sudah tertidur dengan keadaan duduk. Terbis senyum di wajah James. Kecemasannya segera memudar sepertinya gadis ini kelelahan akibat menangis sedari tadi sampai membuatnya kelelahan dan tertidur. James perlahan membelai pipi Hana yang basah air mata "Apa yang kau tangisi Hana? Mengapa kau tidak pernah membaginya denganku? Apakah aku sejahat itu sampai kau tak mau berbagi keluh kesahmu padaku?" lirihnya. Dia menarik napas berat, Hana memang susah ditebak. Kadang-kadang dia tersenyum ceria karena hal sepele, tetapi seketika senyuman itu akan hilang dengan cepat dan tergantikan oleh tangisan pilu yang membuat iba. Dia menatap Hana yang tertidur, James berusaha memperbaiki posisi tidur Hana. Dia tak mau melihat besok pagi Hana beralasan sakit seluruh tubuh hanya karena tidak tidur dengan nyaman. James mencoba membaringkan Hana lalu menyelimutinya dengan selimut hangat. Setelah itu, James terduduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah wanita di depannya. Hana terlihat sangat cantik bahkan setelah dirinya menangis. Tangannya tergerak untuk mengusap air mata yang membasahi pipi. James tersenyum, jika dipikir-pikir Hana lebih emosional sekarang ketimbang dulu. Entah mengapa itu lucu baginya. "Hana, aku tidak ingin kau pergi dariku, tetapi aku juga tidak ingin kau tetap mempertahankan cintamu padaku," ucap James gamang. James menarik napasnya kembali, entah sudah ke berapa kali dia melakukan hal tersebut hari ini. Dia kembali teringat akan pertanyaan yang dilontarkan Hana terhadapnya sore tadi. "... Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta?" James terdiam, "Kau pantas untuk dicintai Hana, tetapi mungkin bukan saat ini. Karena kau harus membayar semua yang telah kau lakukan padaku di masa lalu," sarkasnya ketika mengingat almarhumah isterinya. Tatapan lembut itu berubah menjadi tatapan tajam, James menggeram kesal dan berusaha untuk mengontrol emosinya yang tiba-tiba berapi-api. Dari pada berdiam diri di sini lebih baik dirinya pergi menjauh dari Hana untuk tidak menyakiti wanita itu lagi. keputusan hatinya, tetapi saat melihat Hana lagi, ia merasa tidak cukup hanya menyelimuti Hana tanpa memberikan kecupan ringan di bibirnya Yah, James sangat tergila-gila dengan bibir Hana. Apalagi sebagai laki-laki yang telah lama di tinggalkan sang istri Hana adalah objek pemuas has-ratnya yang sempurna Hana memiliki aura wanita yang kuat, bisa terlihat rapuh juga kuat secara bersamaan Setiap kali bibir James membelai bibir Hana, ia merasa gila dan hilang arah. Mungkin bukan hanya cecepan di bibir. Tetapi ia menginginkan yang lainnya, mengulang kembali percintaan mereka sesaat mereka berkencan dahulu James menurunkan wajahnya, bibir Hana sedikit begkak karna terlalu banyak menangis, tetapi James tidak peduli. Bagaimanapun keadaan birai berwarna pink polos itu, ini akan selalu jadi bagian favoritnya Ketika ia mendekat, ada suara hatinya yang menolak 'James kau jahat... Sebinal itukah dirimu sampai memanfaatkan Hana yang tengah rapuh, kemana hati nuranimu James' nasihat nuraninya James jadi memundurkan wajahnya. ia menggeleng. Mencoba menyakini apa betul ia melakukan ini hanya sebatas nafsu belaka, atau karna ada hal lainnya. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi otaknya akhirnya James memutuskan berdiri James segera beranjak pergi, tak lupa dia menutup pintu kamar Hana dan meninggalkannya sendirian. Ketika semua telah senyap, kedua mata Hana terbuka. Sebetulnya dia baru saja tertidur tadi, tetapi saat merasakan seseorang menyentuhnya membuat ia terbangun kembali. Saat menyadari orang tersebut adalah James segera Hana menutup rapat kembali matanya. Dia tak mau James menyadari jika dirinya masih terjaga. Dia mendengar semua perkataan James. Hana termenung, kata-kata James kini terngiang-ngiang di telinga. "Kenapa kau lagi-lagi mengatakan hal itu James. Kau membuatku bingung," ucapnya frustasi pada dirinya sendiri. Hana menaiki kepalanya ke senderan ranjang Hana hanya bisa termenung, ada sedikit bahagia menyusup ke relung batin karena James ternyata masih memikirkannya meskipun terkadang kejam dan dingin. Tetapi ia juga sedih, ia terlihat seperti pengemis, yang mengharapkan sedikit saja kasih sayang James untuknya Yah Hana adalah pengemis cinta James
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD