"Aunty, tadi aku pergi ke taman." ucap Violet yang sudah berada di gendongan Hana.
Hana tersenyum, "Apa yang Violet lihat di taman, hmm?" tanya Hana dengan suara semanja mungkin mengikuti gasture Violet.
Violet pun turut tersenyum menampilkan ekspresi bahagia. Sepanjang jalan menuju kamar, ia terus berceloteh mengenai pengalaman jalan-jalannya di taman bersama pengasuhnya.
Mulutnya yang terus berkomat-kamit sungguh sangat menggemaskan bagi Hana. Dia senang bisa mengenal Violet. Kebahagiaannya di dunia hanyalah Violet, hanya dia yang bisa membuat Hana tersenyum untuk sejenak menghilangkan lelahnya hati.
"Kamu makan ice cream?" tanya Hana yang langsung diangguki oleh Violet.
"Aunty tahu, aku tadi makan ice cream yang gede banget. Violet sampai nggak habis, Aunty. Terus es krimnya dihabisin sama Mbak," balasnya gemas sambil memperagakan sebuah lingkaran yang besar untuk menjabarkan begitu besarnya ice cream yang dia makan.
"Kok, Aunty nggak dibeliin?”
“Aunty mau? Besok kita ke sana lagi deh! Tadi aku kasih ke Mbak karena biar nggak terbuang, Aunty. Kan, kata Aunty kita nggak boleh buang makanan.” jelas Violet
Hana terkekeh lalu tersenyum senang, anaknya Ines ini sangat penurut. Bahkan ia juga cepat tanggap untuk memahami apa yang diajarkan oleh Hana. Ia sangat bersyukur mendapatkan sebuah tugas untuk menjaga anak ini selama hidupnya. Kan Hana lakukan pekerjaan ini dengan baik, dengan segenap hatinya
"Anak yang pintar," puji Hana sambil mengelus lembut kepala Violet, kemudian mengecup singkat pipi kanannya yang chubby dan merona kemerahan
Dari kejauhan terlihat seorang pria yang sedari tadi menatap Hana dan Violet hingga mereka masuk ke dalam sebuah kamar dan menghilang dari pandangannya. Pria itu adalah James saat dirinya pulang dari kantor dia melihat Hana menggendong putri kesayangannya itu.
Dia menyaksikan sedari awal bagaimana sikap Hana yang begitu menyayangi Violet. Dengan sabar, wanita itu selalu tersenyum saat mendengar celotehan anaknya. Hati James melembut ketika melihat pemandangan tadi, tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan.
James senang melihat putrinya yang bahagia walau tidak bersama dengan ibu kandungnya. Meski begitu, ia tetap menyalahkan Hana yang telah membuat isterinya mati dan putri kesayangannya kehilangan sosok ibu bahkan belum sempat melihat wajah wanita yang telah melahirkannya.
Kedua tangannya meremas kesal, menahan segala emosi yang kian meluap di kepala. Ingin sekali dia melampiaskan semuanya pada Hana. Tetapi, melihat gadis itu bersedih membuat hatinya terenyuh dan tidak ingin melukainya kembali.
Sungguh sangat menjengkelkan ketika tidak bisa melakukan apa pun. James segera bergegas pergi dari tempatnya sebelum ia semakin tenggelam lebih dalam dengan pikirannya sendiri.
Di dalam kamar, Hana menghabiskan waktu bersama dengan Violet hingga tiba waktu tidurrnya Violet. Gadis kecil itu menguap, lalu mengucek kedua mata. Hana juga sudah cukup mengantuk sekarang. Hana yang melihatnya tersenyum, dia segera mengajak Violet untuk tidur.
"Violet sayang, ayo kita tidur. Besok lagi bermainnya," ucap Hana yang diangguki oleh Violet.
"Iya, Aunty,” jawab Violet patuh.
Sebelum tidur, Hana mendongengkan sebuah cerita pada Violet sebagai pengantar ke alam mimpi indah. Cukup lama, tetapi akhirnya bisa membuat Violet tertidur lelap. Setelah itu, Hana segera turun dari ranjang dan melangkah keluar dengan perlahan.
Hana menuju ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan istirahat. Setelah selesai dia mulai naik ke ranjangnya untuk pergi tidur. Namun, Hana langsung berdecak kesal kala melihat dokumen-dokumen pekerjaannya masih berantakan memenuhi tempat tidur. Dengan malas dia membereskannya dan menaruh dokumen-dokumen itu di meja sofa dekat dengan ranjang miliknya. Kembali tangannya menyentuh diary usang miliknya yang berada di antara tumpukan dokumen.
Diambilnya buku itu lalu bersandar di sandaran ranjang. Hatinya tergerak untuk melihat kembali isi coretan lamanya itu. Dibukanya perlahan buku diary miliknya, terkadang kekehan geli keluar dari mulutnya saat membaca kekesalannya saat bertengkar memperebutkan mainan atau makanan dengan Ines.
Namun, saat membuka lembaran terakhir, ia terpaku. Tangannya mengusap halaman itu, tanpa sadar sudut matanya menitikkan bulir bening. Sebuah kalimat yang dia tuliskan membuatnya sangat bersedih.
Ines, aku tahu jika mungkin persahabatan kita tengah diuji. Aku tidak suka kau menyalahkan diriku atas harapanmu yang tidak terwujud, kau sendiri yang menolaknya. Bukan aku, aku hanya mengambil sisa dari kebahagiaanmu yang kau buang ....
***
"Ines! Ines! Di mana kamu?" Hana terus berteriak menyebut nama sahabatnya guna mencari-cari dirinya. Dia berharap bisa menemukan Ines sebelum dirinya pergi meninggalkan semuanya. Dia tak mau jika dia pergi dengan keadaan Ines membenci dirinya.
"Ines? Kau di mana?" teriaknya kembali. Namun, gadis yang dipanggil-panggil itu tak kunjung datang.
Terlintas sesuatu membuat Hana bergegas pergi ke belakang rumah panti. Di sana adalah tempat yang paling Ines sukai. Jadi mungkin saja Ines ada di sana. Dan benar saja, Ines tengah terduduk diam di sana sendirian. Dirinya menatap kosong udara di depannya seperti seseorang yang tengah melamun.
"Ines!" panggil Hana dan berhasil membuat Ines terkejut. Hana segera menghampiri Ines, setelah dekat dia duduk di sampingnya. Ines hanya menatap heran pada Kana.
"Apa yang kau lakukan di sini Ines?" tanya Hana penasaran dengan Ines yang tiba-tiba menjadi pendiam lagi.
"Aku, ingin merenung sendiri Hana. Harapanku hancur," balasnya sedih.
Hana terdiam, "Ines, aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting padamu," ucapnya mengalihkan perhatian.
Ines terdiam, dia menatap Hana yang tengah menatapnya juga dengan ekspresi serius. Dan juga, terlihat kehawatiran yang dirasakan oleh sahabatnya ini.
"Apa? Apa yang ingin kau katakan?" tanya Ines langsung to the point tidak mau berbasa-basi lagi dengan Hana.
Hana terdiam sesaat, dia menghela napas gusar. "Mengapa kau menolak untuk diadopsi, Ines?" tanyanya langsung dan berhasil membuat Ines terdiam membatu.
Ines tertunduk lesu, "Hana, kau juga tahu betul kan aku bagaimana?" tanyanya yang kemudian diangguki oleh Hana.
"Mereka bukan keluarga harapanku, aku ... Aku tidak ingin mereka mengadopsiku," tambah Ines membuat Hana terkejut mendengarnya.
Alasan yang Ines berikan pada ibu panti asuhan sangat berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh Ines tadi. Hana terdiam bingung, sebenarnya mana yang benar?
Sebelumnya Ines mengatakan jika dirinya tidak mau pergi kemana pun untuk saat ini. Dia sangat tidak ingin meninggalkan panti ini. Tetapi sekarang Ines berkata lain.
"Bukankah kau tadi bilang jika kau tidak ...." Belum habis Hana berbicara Ines segera memotong ucapannya itu.
"Tidak! Kau kan tahu aku bagaimana, Hana. Aku hanya ingin keluarga sempurna yang mengadopsiku, aku tidak mau keluarga ca-cat seperti itu," balasnya geram.
Hana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya bingung membalas perkataan Ines bagaimana. Bahkan, Hana sekarang terkejut bukan main mendengar penuturan Ines tadi.
"Ines, Bu Ayumi kan selalu bilang jika kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Lalu mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Hana.
Ines menggelengkan kepalanya menolak, "Sudah cukup aku pasrah mengikuti takdirku lagi Hana. Aku ingin berubah, aku ingin hidupku berubah sesuai dengan apa yang aku mau," ketusnya emosi.
"Aku tidak mau jika takdir yang mengambil alih kehidupanku, ini hidupku. Maka biarkan aku yang mengendalikannya, bukan takdir!" tambahnya lagi.
Ines sekarang sudah emosional, dirinya benar-benar marah sekaligus kecewa pada keadaannya sendiri. Hidupnya tak bisa dia atur sesuka hatinya, ingin sekali mengutuk takdirnya sendiri yang selalu naas. Baru saja pagi tadi dia tersenyum senang dan melompat kegirangan mendengar jika akan ada keluarga yang datang untuk mengadopsi salah satu anak di panti asuhan ini.
Tetapi, sekarang dirinya sungguh mengenaskan. Marah-marah tidak jelas karena ternyata keluarga yang datang itu bukanlah keluarga sempurna, dia hanya seorang ibu yang sudah menjanda ditambah seorang anak laki-laki yang usianya tidak begitu jauh dari Hana dan Ines
Itu benar-benar berbeda sekali dengan apa yang dia inginkan. Harapannnya hancur, makanya Ines menolak untuk menerima diadopsi oleh keluarga yang ia anggap tak sempurna itu. Hana terdiam, Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Ines. Kadang, Ines tak bisa dimengerti olehnya. Hana pikir, dia telah mengenal Ines dengan baik, tetapi ternyata tidak. Ada sifat Ines yang belum diketahui Hana, bahkan lima belas tahun saja tidak cukup untuk mengenal Ines lebih jauh.
"Ines, kau tidak boleh mengatakan seperti itu. Bu Ayumi selalu bilang pada kita, bahwa semua yang datang pada kita itu merupakan sebuah kebaikan, bukankah kau seharusnya senang karena keluarga itu memilihmu lebih dulu dari pada kami?" tanya Hana.
Ines memberengut, kemudian berdecak kesal. Mengapa Hana tidak pernah mengerti dirinya, "Kebaikan apa yang aku dapatkan saat ini, hmm? Lalu, apa hubungannya denganku jika dia lebih memilihku dari pada kalian semua?" tanyanya balik dengan berapi-api.
hana masih dengan sabar membalas setiap perkataan Ines, dia berusaha agar Ines tidak menaruh dendam pada siapa pun dan menyalahkan takdir lagi. "Ines memang sekarang kamu merasa semua tak baik, tetapi tidak ada yang tahu masa depan Ines," ucap Hana lagi.
Ines hanya mendelik tak suka karena sedari tadi hana berusaha meyakinkannya jika takdir yang datang padanya itu baik untuknya. "Tidak! Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin keluarga itu mengadopsiku Hana," balasnya kesal.
Hana menghela napas pasrah, "Ines, kau sungguh tidak ingin memilih mereka menjadi keluargamu?" tanyanya lagi dan dibalas dengan anggukan Ines sendiri.
Sebelum mengatakan hal selanjutnya, Hana menghela napas. "Maka biarkan aku yang diadopsi mereka," ucapnya kemudian membuat Ines terkejut dan menatapnya tak percaya.
"A-apa maksudmu, Hana?" tanyanya tidak mengerti dengan ucapan Hana.
Mengapa sekarang Hana terkesan menghiantinya