Teresa terus mengencangkan larinya. Matanya menelisik, menyadari di luar sana hari sudah menjelang sore. Beberapa mahasiswa dan staf-staf lainnya sudah bepergian meninggalkan kampus, menciptakan suasana yang mulai sepi. Teresa menyisir tangga hendak menuju ke lantai bawah. Namun, gadis itu terkejut saat menyadari akan kedatangan Michael beserta tiga temannya; Vallen, Rachel, Reyna.
"Rupanya kau di sini gadis bodoh!" kata Michael begitu melihat Teresa berdiri tertentu di tengah tangga. Pria itu bergegas mendekatinya. Begitupun dengan ketiga kawannya.
Teressa segera berbalik arah, berlari kembali menaiki tangga. Begitu ia melihat sebuah lift, gadis itu langsung melesat ke sana. Ia memasuki lift dengan tergesa-gesa, kemudian memencet tombolnya–gugup.
"Ayo! Ayo!" ujarnya sembari menatap pintu lift yang terasa lama untuk menutup.
"Sial!" Michael dan tiga temannya itu mengumpat kesal saat mendapati pintu lift sudah menutup.
"Syukurlah!" Teresa menghela napas lega. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan memegang kepalanya. "Bagaimana semua ini bisa terjadi? Begitu banyak rahasia dan skandal besar di universitas ini, tapi kenapa tidak ada yang mencoba mencari tahu. Sementara aku … aku yang baru saja masuk sebagai mahasiswa baru, aku langsung mengetahui segalanya."
Teresa mengusap wajahnya dan menarik napas panjang. "Aku yakin masih ada rahasia besar lagi. Mungkin, tidak hanya mahasiswanya, tapi pejabat penting kampus ini juga pasti tahu skandal besar ini." Gadis itu berjalan mondar-mandir di dalam lift. Mengaduk asumsinya. Sejenak, ia berhenti dan berpikir, "Aku jadi curiga, mereka pejabat-pejabat penting pasti juga terlibat dalam skandal ini. Secara… bertahun-tahun tidak ada yang menghentikan ataupun menggerebek perbuatan keji para mahasiswanya."
Teresa berhenti mengoceh saat lift tiba-tiba berhenti dan kemudian pintunya membuka. Namun, pemandangan di luar sana membuatnya meneguk ludah. Teressa terkejut dan terus meneguk ludah berkali-kali saat di depan lift itu berdiri seorang petugas kebersihan. Yah, tak lain si Jackie!
"Sial!"
Gadis itu berniat memencet tombol lift lagi agar pintunya tertutup kembali, tetapi … pria berseragam biru itu lebih sigap darinya. Jackie masuk ke dalam membuat pintu lift tertahan. Dia melangkah dan berdiri di samping Teresa dengan senyuman beringas. Beruntung saat itu ada dua orang staf kampus lagi yang masuk ke dalam. Dua-duanya seorang wanita. Dua wanita itu melempar senyum pada mereka dan berdiri bersebelahan di depan Teressa dan Jackie.
Lalu … pintu lift mulai tertutup setelah mereka memencet tombol lantai yang akan mereka tuju.
"Kau masih mencoba lari kembali dariku, perempuan jalang?" Jackie berbisik tepat di telinga Teressa, membuatnya melotot.
Gadis itu menggeser langkahnya, berpindah tempat di samping dua wanita tadi. Jackie tersenyum licik, ia hendak ikut berpindah, namun saat dua wanita itu memperhatikannya, pria itu kembali diam.
Jantung Teressa berdegub begitu kencang. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya hanya berdua dengan Jackie di dalam lift. Pasti, pria b******n itu akan bertingkah m***m terhadapnya. Mengingat tadi dosen hidung belang juga melakukan hal itu padanya.
Aku harus keluar bersamaan dua wanita ini nanti begitu pintu lift-nya terbuka. gumam Teressa dalam hati.
"Aku tidak akan membiarkanmu kabur begitu saja, gadis jalang!" batin Jackie. "Kau sudah menendang kemaluanku tadi, kau juga sudah membuatku dimarahi habis-habisan oleh Michael dan teman-temannya. Kali ini, kau harus membayar segalanya!" lanjutnya membatin.
Pintu lift terbuka. Jackie masih diam, menunggu Teressa bereaksi. Dua wanita tadi itu melangkah keluar. Sedangkan Teressa langsung buru-buru mengikutinya.
"Sial!" Jackie mencerca sembari melangkah kakinya keluar. Ia kembali mengejar Teressa yang juga sudah lari jauh di depan dua wanita tadi yang keheranan melihatnya.
Dreet … ponsel Jackie bergetar dari saku seragamnya. Pria paruh baya itu berhenti sejenak dan merogoh gawainya. Ia mengangkat panggilan itu segera setelah tahu kalau Michael yang menelponnya.
"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menangkapnya?" tanya Michael dengan suara menuntut.
"Tadinya sudah. Tapi …"
"-Jangan bilang dia berhasil kabur lagi!" selak Michael marah.
"A…"
"-Dasar g****k! Menangkap seorang gadis saja tidak becus!" Itu suara Valen. Sepertinya Valen telah mengambil alih ponsel Michael dan menuangkan amarahnya pada Jackie.
"Pria tua itu memang tidak bisa diandalkan!" Bahkan suara Reyna yang ketus juga terdengar menyakitkan di telinga Jackie.
"Jackie kalau-"
"-sudah diam!" Jackie memotong perkataan Valen yang belum usai. "Jika kau terus mengoceh lalu bagaimana aku bisa menangkap gadis itu. Sekarang gadis itu lari di depanku, cepat matikan panggilannya dan biarkan aku bekerja!" sungutnya. Lalu ia mematikan panggilannya dengan kesal dan menaruh ponselnya di dalam saku.
Lantas, pria itupun mulai mengejar Teressa kembali.
Teressa berlari secepat kilat sehingga membuat Jackie kehilangan jejaknya. Gadis itu bersembunyi di balik dinding-dinding, mengendap-endap bagai seekor cicak, memastikan bahwa tidak ada orang-orang yang mengejarnya. Setelah dirasa aman, ia kembali melanjutkan langkah cepat.
"Cukup sampai di sini, Sayang!"
Teressa terkejut saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Ia lebih terkesiap saat menyadari kalau orang itu adalah Carolyn.
"Bit*h! Kau tidak bisa seenaknya lari begitu saja setelah menamparku!" ketus Carolyn sembari mencengkram lengan Teressa.
"Kau yang b*tch! Kau wanita rendahan!"
"Diam!" Carolyn mendorong lengan Teressa hingga gadis itu terjatuh. "Beraninya kau melawanku!" ketusnya.
Teressa mencoba membangunkan tubuhnya. Ia mengayunkan tas merah mudanya itu ke wajah gadis itu. Lalu, ia berlari dari sana.
"Hei! Tunggu!"
Teressa tak memperdulikan teriakan gadis itu. Ia terus berlari. Kemudian bersembunyi saat mata binarnya menangkap sosok Alina yang sedang berjalan mencarinya. Teresa memilih menaiki tangga menuju ruang akademik. Di sana dia mengendap-endap, berjalan pelan dan mengurangi kebisingan. Teressa kembali terkejut saat dekan fakultas itu terlihat sedang menaiki tangga.
"Oh my God!" Teressa panik saat tak lagi menemukan tempat sembunyi. Ada sekitar lima ruangan di sana. Teressa sudah mencoba membuka keempatnya namun semuanya tidak bisa terbuka. Hingga akhirnya ia berhasil membuka yang kelima.
Gadis itu menyadari kalau itu ternyata adalah ruang pejabat kampus. Untungnya di sana sepi, jadi tidak ada yang memergokinya.
"Untuk sementara aku harus bersembunyi di sini!" ujarnya pelan. Ia mengintip dari jendela kaca besar dan memperhatikan gerak-gerik Alina. Dari sana, Teresa bisa melihat Alina yang berhenti di pangkal tangga. Sepertinya wanita itu sedang menelpon seseorang. Wajahnya menjadi serius dan dia kembali menuruni tangga.
Teressa menghela napas lega. "Aku harus segera keluar dari sini!" gumamnya. Gadis itu bergerak menuju pintu, dan hendak membukanya. Namun, niatnya itu urung saat telinganya tiba-tiba menangkap suara tawa yang pecah.
"HAHAHA!"
Teressa tertegun, matanya linglung. Telinganya mencoba mendengarkan dengan saksama suara yang seperti seorang pria itu.
"Jangan keras-keras bodoh. Tembok ini bisa mendengarnya!"
"Kau tenang saja, sudah bertahun-tahun tapi tidak ada yang tahu rahasia kita."
"Rahasia?" Teressa mengernyitkan dahi. "Rahasia apa lagi yang ada di kampus besar ini?"
Entah kenapa, hati gadis itu seperti ingin mengetahui semua misteri tentang kampus ini. Bergeraklah Teresa mencari sumber suara itu. Ia berjalan pelan, dan memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan suara yang sepertinya berjumlah dua orang dan keduanya sama-sama suara lelaki.
Teressa berhenti saat matanya menangkap dua orang pria paruh baya dengan jas berwarna putih rapi. Pria itu tengah berbincang serius. Yang satu duduk di kursi dan yang satu menduduki meja. Teresa mengintip dari celah-celah rak-rak yang berisi arsip-arsip dan dokumen-dokumen. Ia diam di tempat seraya mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Kau tahu saudaraku, orang tua kita pasti orang hebat sehingga kita bisa duduk di sini dengan bangga. Kita tak perlu memikirkan soal kerjaan, kita tinggal memerintah dan semuanya bisa beres." Pria berusia sekitar empat puluh lima tahun itu tertawa lebar.
"Kau benar, Kak Evans. Terlebih, kita yang memegang kendali di kampus ini. Rekening kampus juga kami yang berkuasa, jadi begitu ada pemasukan, kita dulu yang menikmatinya. Hahaha!" sahut pria paruh baya satunya, yang terlihat berumur lebih muda setahun darinya.
Mereka adalah para pejabat kampus. Namanya Evans dan Nevan, kakak beradik yang memegang kendali perekonomian kampus. Meskipun di kampus itu ada staf bagian akuntan, tetapi jika ada pemasukan harus melewati kedua orang itu terlebih dahulu. Memang aneh, tapi itulah aturannya.
"Tapi Nevan, meskipun begitu … kita tetap harus berhati-hati," ujar Evans memperingatkan adiknya.
"Tapi Kak… bukannya kita sudah melakukan korupsi ini bertahun-tahun dan tidak ada yang mengetahuinya? Bahkan rektor sendiri tak pernah memergoki kita, lalu apa yang kita takutkan?" ucap Nevan tampak meremehkan.
Teressa terkejut bukan main mengetahui semua rahasia mereka. Ia pun memiliki ide untuk merekam semuanya. Segeralah gadis itu mengambil ponsel di tasnya dan mulai merekam.
"Jangan bodoh, Nevan! Belum ketahuan bukan berarti tidak akan ketahuan. Kita harus selalu berhati-hati, karena bahkan tembok-tembok ini memiliki telinga!" ujar Evans menekankan.
***
TO BE CONTINUED