Rahasia Terowongan Sunyi

2322 Words
"Jangan bodoh, Nevan! Belum ketahuan bukan berarti tidak akan ketahuan. Kita harus selalu berhati-hati, karena bahkan setiap tembok-tembok di sini memiliki telinga!" Evans memperingatkan adiknya. Nevan mengangguk-angguk tanda mengerti. "Untungnya kita yang memegang kendali. CCTV di seluruh kampus ini ada dalam kendali kita. Itulah kenapa tidak ada yang pernah memergoki kita," kata Nevan bangga. "Hahaha!" Evans menyahut dengan tawanya yang pecah. "Sudah bertahun-tahun kita mengkorupsi dana kampus, meloloskan calon mahasiswa pada test OST dengan imbalan jutaan dollar bahkan euro. Kita berdua menikmatinya, kita yang berkuasa di sini! Hahahaha!" katanya sembari memutar tubuhnya sombong. Ia tertawa terbahak-bahak. Brak! Tanpa sengaja Teressa mendorong rak dokumen hingga membuat beberapa dokumen terjatuh. Evans dan Nevan terkejut dibuatnya. Mereka berdua melihat seorang gadis tengah asyik merekam aksinya sedari tadi. "Hei!" kata-kata dengan nada tinggi yang keluar dari mulut Evans membuat jantung Teressa berdegup dengan kencang. Gadis itu buru-buru menyimpan videonya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kemudian ia berniat untuk kabur sebelum mereka menangkapnya. "Hei! Berhenti!" Nevan dengan cepat berlari mengejarnya. Hampir saja Teressa sampai di pintu namun sialnya kakinya itu tersandung dan membuatnya terjatuh. Nevan dengan cepat menangkapnya. "Siapa kau? Beraninya kau ke sini dan memergoki kami?!" Nevan melintir tangan Teressa dengan erat, membuat gadis itu kesakitan. Sedangkan Evans dengan cepat bergerak ke arah pintu dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam. "Sekarang kau tidak bisa kabur!" ujarnya beringas. Pria paruh baya itu mendekati Teressa yang dicengkeram oleh adiknya. "Siapa kau gadis lugu?" tanyanya setelah sampai di hadapan Teressa. "Aku adalah peringatan untukmu!" jawab Teressa dengan percaya diri. "Peringatan?" Nevan semakin melintir tangan Teressa. "Apa maksudnya dengan peringatan?!" tanyanya geram. "Kalian sudah terlalu lama berbuat dosa. Mencurangi semua orang di sini, mahasiswa dan juga rektor bahkan seluruh dunia. Berhenti dan bertobatlah, atau aku akan membocorkan kejahatan kalian!" ancam Teressa dengan suara menantang. "Kejahatan? Kejahatan apa maksudmu, gadis lugu?" tanya Evans dengan sok polos. Ia tersenyum, menyudutkan bibirnya. "Bertindak korupsi adalah sebuah kejahatan. Memakan uang yang seharusnya bukan hak kalian. Apa kalian tidak malu?!" bantah Teressa. Masih dengan suara percaya diri. Evans geram dan mencomot janggut mungil gadis itu. "Apa kau bilang? Coba bilang sekali lagi?!" "L-epas!" pinta Teressa dengan bersusah payah lantaran mulutnya seperti dikunci. "Masalahnya Sayang … kami tidak ingin berhenti melakukan kejahatan ini. Korupsi adalah pekerjaan kami, menguntungkan kami, dan membuat kami bahagia, lalu kenapa harus kami hentikan?" kata Evans dengan manis, tetapi terdengar pahit di telinga Teressa. "A-aku ...akan mengatakan semua ini pada rektor kampus!" ancam Teressa. "Apa kau bilang?! Hah?!" Evans semakin menekan janggut gadis itu. "Kau ingin melaporkanku pada rektor? Coba ulangi lagi? Beraninya kau!" Evans melepas cengekeraman tangannya dari janggut Teressa dengan kasar. "Kau dengar itu Nevan, gadis lugu ini mau melaporkan kita? Kau dengar itu? Hahaha!" Evans tertawa pecah, sedangkan Nevan tersenyum licik. "Lepaskan saja dia, Nevan. Lepaskan … mari kita lihat, bisakah dia melakukan semua itu?" perintahnya pada adiknya itu. Nevan melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Teressa dengan kasar. Mendorongnya sampai menatap meja. "Kau sudah lepas, sekarang ayo pergi… ayo... pergilah!" ujar Evans dengan tertawa. "Pergilah jika kau bisa!" lanjutnya mengejek. Teressa memicingkan mata ke arah mereka berdua. Lalu ia berniat enyah dari hadapan mereka. Namun, tangannya itu langsung ditarik oleh Evans. Plakk!!! Evans menggampar wajah Teressa dengan cukup keras bahkan sampai membuat Teressa terpental dan jatuh tersimpuh di bawah. Teressa memegangi pipinya yang panas memerah. Matanya menukik tajam, mengambil napas cepat. Amarahnya memuncak. Evans berjalan mendekatinya. "Gadis kecil mau main-main denganku? Ayo cepat lari dari sini. Ayo! Bangun!" Evans menarik rambut panjang Teressa dan membuat gadis itu terbangun dari lantai. Teressa hendak menampar wajah Evans namun dengan cepat pria itu menangkap tangannya. "Jangan berani melawan orang tua, gadis lugu!" kata Evans dengan nada manis. Ia memutar tangan Teressa ke belakang dan menghadapkan tubuhnya ke depan. Ia melintir tangan gadis itu membuat Teressa memejamkan mata kesakitan."Katakan Nevan, harus kita apakah gadis ini?" tanyanya pada adiknya. "Kau ingat, Kak, dengan prinsip kita. Kita harus menyingkirkan siapa pun yang menjadi penghalang kita untuk meraih tujuan," ujar Nevan. Lalu pria berjas putih itu berjalan mendekati mereka berdua. "Hanya ada satu hukuman bagi orang yang berani menghalangi kita!" Nevan menyabet sebilah cutter di dalam kotak. Lalu ia memamerkan cutter runcing itu di dekat wajah Teressa. "Membunuhnya!" ucapnya kemudian dengan mantap. Teressa ketakutan dibuatnya. Evans tersenyum puas, dan Nevan menatap sadis. "Bagaimana kalau kita buat wajahnya yang cantik ini menjadi buruk rupa? Misalnya, kita rusak wajahnya. Kita kuliti wajahnya dan mencongkel matanya." Nevan tersenyum layaknya seorang sikopat. "Kalau perlu kita jual bola matanya ini. Kau tahu, Kak, bola mata itu harganya sangat mahal. Kita bisa kaya raya kalau bisa menjual yang asli, apalagi mata gadis ini sangat indah!" ujarnya licik. Evans terkekeh. "Terserah kau saja, Nevan." Teressa meneguk ludah. Matanya melotot. Ia tak menyangka kalau mereka ternyata lebih kejam. Mereka tak lebih dari seorang psikopat. "Jangan lakukan itu, kumohon!" pinta Teressa memelas. Tak memedulikan permohonan gadis itu, Nevan mulai mengarahkan cutter-nya pada wajah Teressa. Sementara kedua tangan Teressa dipelintir di belakang oleh Evans. Dug! Teressa spontan menendang kaki pria di depannya. Nevan kesakitan, dan melangkah sedikit mundur. Teressa memanfaatkan hal itu untuk menendangnya lagi. Kemudian gadis itu menginjak kaki Evans dengan keras. Begitupun tangannya terlepas, Teressa menampar Evans dengan cukup keras. "Kau pikir seorang wanita itu lemah? Hah? Berpikirlah terlebih dahulu sebelum menyakiti seorang wanita!" Teressa menendang perut Evans hingga pria itu terjungkal ke bawah. Nevan hendak mengayunkan cutter-nya pada Teressa, namun dengan cepat gadis itu mampu menangkisnya dengan tas. Cutter itu terlepas jatuh dari tangan Nevan. Evans yang masih terjatuh di lantai hendak mengambil cutter itu, namun dengan cepat Teressa menginjak tangannya. "Ahhhhh!" Pria itu menjerit kesakitan. Giliran Nevan yang ingin mengambilnya, tetapi lagi-lagi kaki Teressa yang satunya bergerak lebih cepat dari mereka. Gadis itu menendang cutter itu menjauh. "Sial!" Nevan mendorong Teressa, membuat pijakan kakinya menjauh dari tangan Evans. Lalu, Nevan membantu kakaknya itu berdiri. "b******k! Berani sekali gadis itu menginjak tanganku!" sungut Evans emosi. "Kita habisi saja dia, Kak. Sebelum orang lain melihatnya … gadis ini harus mati!" ujar Nevan ganas. Teressa melangkahkan kakinya mundur. Ia bahkan sampai menabrak benda-benda di belakangnya. Sementara dua orang dengan wajah beringas itu terus melangkah maju. Keduanya dipenuhi amarah yang memuncak. Teringin sekali untuk segera menyakiti gadis itu. Teressa mengambil benda-benda yang ia temui. Ia melempar dokumen-dokumen ke arah mereka berdua. Kotak arsip, dan yang lainnya yang ia sambar. Namun, dua kakak beradik itu tetap tak mau gentar. Kini langkah mereka semakin dekat. Sementara Teressa sudah sampai di ujung ruangan. Hanya ada dinding kaca di belakangnya itu. Ia menempelkan punggungnya di sana dengan ketakutan. "Sekarang, kau sudah tamat! Kau tidak bisa lari lagi, gadis bodoh!" ujar Nevan sinis. "Bersiaplah untuk bertemu malaikat maut!" teriak Evans. Teressa tersenyum, terkekeh-kekeh membuat mereka berdua berhenti dengan heran. "Kalian pikir aku lemah? Selalu ada jalan untuk sebuah kebenaran, Tuan-tuan!" Teressa bergerak mengambil sebuah kursi besi. Lalu ia mulai melempar kursi itu ke arah dinding kaca dengan keras. Pyar!!! Kaca dinding itu berhasil pecah dan ambyar. Sedikit percikan kaca-kaca kecilnya mengenai kulit wajah juga lengannya. Namun, ia tak peduli rasa sakit itu dan memilih keluar melalui lubang kaca tersebut. "Kurang ajar! Bahkan dia lebih pintar dari yang kita duga, Kak!" ujar Nevan emosi. "Cepat ayo kejar dia sebelum semuanya berantakan!" kata Evans memerintah. Mereka berdua keluar dari lubang pecahan dinding kaca itu dan mulai mengejar Teressa. Sementara Teressa terus berlari, menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Sesampainya di bawah tangga, terkejut melihat Jackie yang sepertinya akan berjalan ke tempatnya. Teressa dilanda kebingungan. Di atas sana ada Evans dan Nevan, sementara di depan sana ada Jackie. Gadis ity itu tampak berpikir keras. Di sela-sela berpikirnya itu, Teressa melihat sebuah lubang yang cukup gelap. Tak punya pilihan lain, ia bergerak ke arah lubang tersebut. Teressa menerawang, melihat terowongan yang cukup besar nan gelap dan sepertinya itu menjulang ke bawah. "Sialan. Ke mana larinya gadis itu?" Suara Evans mulai terdengar beserta langkah kakinya menuruni tangga. Teressa juga melihat Jackie yang semakin dekat. Kemudian, tanpa sengaja ia terpeleset dan masuk ke terowongan itu. Teressa terjatuh ke dalam. Brak!! Tubuh gadis itu tersungkur ke dasar dasar. Ia tersimpuh di lantai berdebu nan kotor. "Tempat apa ini?" Teressa mengamati sekitarnya. Mengedarkan pandangannya ke langit-langit yang hanya ada kegelapan di sana. Sunyi, dan tak terdengar suara apapun. Sedangkan indra penciumannya itu tersambar aroma benda-benda usang nan kotor. Sepertinya, nasibnya hari ini benar-benar sial. Teressa mengambil ponsel di tasnya dan mulai menciptakan penerangan. Ia gunakan cahaya senter di ponselnya itu untuk menerangi setiap keadaan. Benda-benda usang nan berkarat tampak memenuhi tempat itu. Mungkin tempat itu semacam gudang yang tak terpakai lagi dan berada di lantai paling bawah tepatnya di bagian belakang kampus. Teressa mulai mencari jalan keluar. Hingga ditemukannya sebuah terowongan. Teressa segera bergerak, berniat menyusuri terowongan itu. Ia mengarahkan cahaya senter ponselnya untuk menerangi sepanjang terowongan. Ternyata itu bukanlah terowongan, lebih tepatnya lorong yang kanan kirinya terdapat tiang penyangga. Tiang-tiang kokoh itu yang digunakan menyangga bangunan megah Oxstandvard university itu. "Kira-kira sampai mana ya ujungnya? Apakah ada jalan keluarnya langsung?" gumam Teressa bertanya. "Ah, tak peduli. Yang terpenting … lebih baik aku terus berjalan. Siapa tahu, ada celah menuju pintu keluar nanti. Oxstandvard university memang kampus yang luas. Semua bangunan itu berdiri menjadi satu. Dari ujung utara hingga selatan kira-kira mencapai 50 hektar. Bangunannya juga kokoh dan menjulang tinggi. Memiliki banyak gedung dan tentunya dengan banyak ruangan. Sehingga tak heran, kalau ada banyak ruangan rahasia yang memang jarang atau bahkan tidak diketahui siapa pun kecuali beberapa orang. Namun, kini gadis bernama Teressa itu hampir mengetahui segalanya. Rahasia juga skandal besar termasuk tempat persembunyian mereka-mereka yang bertindak kriminal. Semua itu diketahui Teressa dalam waktu sehari. Hari di mana dia kali pertama masuk kuliah. Berjalan menyusuri lorong yang gelap itu telah menyita waktu dan tenaga Teressa. Gadis itu bahkan bermandikan keringat dan juga napasnya yang ngos-ngosan. Seharian ini dia tidak makan apa-apa dan hanya berlari bersembunyi dari orang-orang yang ingin menangkapnya. Semua itu telah menguras tenaganya. Gadis itu sekarang lemah dan gemetar tubuhnya. "Aku harus kuat. Aku harus sampai di ujung lorong sana!" ujarnya menyemangati diri sendiri. Teressa melihat jam di ponselnya yang menunjuk pukul setengah enam sore. Ia juga melihat kalau signal tidak bisa menyangkut di ponselnya di tempat gelap itu. Sedangkan WiFi, dia sendiri bahkan baru memulai belajarnya di kampus ini. Jadi tidak tahu banyak soal password WiFi kampus. Setelah hampir dua puluh menit lamanya gadis itu menyusuri lorong yang gelap, tiba-tiba seberkas cahaya merah berhasil tertangkap retina matanya. Teressa terdiam, memperhatikan cahaya itu. Kemudian, ia mendengar suara dengungan yang menggema. Teressa berlari mencari sumber suara itu. Suara itu semakin lama semakin terdengar keras. Disertai percikan api yang lumayan terang. Gadis itu menemukan sebuah pintu yang terbuka. Ia mengintip, melihat dari sela-sela daun pintu. Ternyata, ada banyak kobaran api di sana namun tidak terlalu dahsyat. Juga, ada orang yang hanya terlihat punggungnya saja. Teressa masih terdiam. Ia kemudian mempunyai ide untuk merekam apa yang ia lihat itu. Segeralah ia menekan tombol kamera dan mulai merekamnya. Aktivitas yang dilakukan oleh itu membuat Teressa mengernyitkan dahi. Bahkan ia seperti tak pernah menyangka akan melihat itu di depan matanya. Karena penampakannya terhalang pintu, Teressa pun berniat untuk membuka pintunya lebar sedikit. Namun, seharusnya itu tidak ia lakukan, karena sekarang orang itu melihatnya akibat decitan pintu yang lumayan nyaring. Teressa melotot kaget. Ia menyudahi merekamnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi. Lalu, gadis itu buru-buru lari dari sana. Ia berlari tak mempedulikan apapun lagi, yang terpenting jangan sampai orang itu mengejarnya. "Bagaimana ini bisa? Kampus telah membohongi semua orang. Universitas ini benar-benar menyimpan skandal besar!" ujarnya sembari terus mengembangkan langkahnya. Teressa berlari mengikuti arah lorong itu membawanya. Sesekali ia menengok ke belakangnya, memastikan apakah orang tadi mengejarnya atau tidak. Lantaran gelapnya keadaan di sana, Teresaa tak bisa melihat apapun. Namun, dari suara derap langkah kaki, sepertinya ia sedang tidak lari sendirian. "Aku harus segera mencapai luar sana!" Teressa sedikit gembira saat melihat cahaya luar. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mulai mengencangkan larinya dua kali lipat lebih cepat. Sedikit lagi ia mencapai keluar. Dari sana ia bisa melihat kalau di luar sana sudah benar-benar menjelang malam. Sinar matahari tak menyentuh bumi lagi, hanya cahaya pantulan langit juga cahaya-cahaya lampu menerangi luar sana. "Syukurlah!" Teressa senang karena sekarang ini dia sudah benar-benar keluar dari lorong panjang itu. Sedangkan dia tengah berdiri di lapangan kecil dengan rerumputan yang subur. Ia mencoba menenangkan diri dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Tubuhnya benar-benar bermandikan keringat, namun sekarang sedikit sejuk saat angin senja menerpanya. Teressa menikmati semua itu yang hampir tidak bisa ia nikmati lagi. Kakinya terasa sakit dan panas. Entah sudah berapa banyak ia berlari tadi. Brak! Tubuh Teressa tersungkur di antara rerumputan hijau. Rasanya, ia benar-benar terbebas sekarang. Tiduran di atas rumput hias yang sama sekali tidak gatal. Ia mengambil napas banyak-banyak. Bibirnya itu pucat dan kering. Seharian ia tak membasuh tenggorokannya, kecuali dengan salivanya. Sekarang, tenggorokannya itu seperti sungai yang kering kerontang. "A-aku… harap … me-re … ka … tidak mengeluar-ku la-gi!" ujarnya lirih. "Hei!" Telinga Teressa terasa terbakar saat mendengar suara teriakan itu. Suara yang tak asing baginya. Gadis itu dengan pusing melihat ke atas gedung. Ia terkejut saat menyadari Michael dan teman-temannya berada di beranda sana. Bagai kulit yang tersengat api, mata gadis itu langsung melotot melihat mereka. Ia buru-buru membangunkan tubuhnya dan mencoba kembali lari. "Hey! Jangan lari!!!" Michael dan Valen mulai meloncat dari gedung satu ke gedung bawahnya. Sedangkan Reyna dan Rachel berlari mencari tangga. Mereka sama hendak menangkap Teressa lagi. Sementara itu, Teressa harus menguras tenaganya lagi. Ia berlari tunggang-langgang, tak mempedulikan kakinya yang menerobos tanaman-tanaman hias. Keringatnya yang awalnya tersapu angin kini muncul kembali. "Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dari mereka orang-orang jahat," doanya sembari terus berlari. Hingga di sebuah sisi-sisi bangunan, ia mendapat kejutan tak terkira. Jlep! *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD