Fely menyisir rambutnya yang panjang dengan pelan, rambutnya begitu halus dan lembut sehingga mudah di tata. Dia mengikat rambutnya cepol nampaklah leher jenjang mulus dengan anak rambutnya yang halus, bagian depan terdapat helaian rambut pendeknya yang sengaja di biarkan terurai.
Dia yang sudah cantik semakin bertambah kecantikannya, wajahnya yang putih dan mulus itu tidak perlu make up terlalu tebal dia memang sudah cantik cukup diberi polesan makeup tipis sudah cukup kecantikan yang alami. Pelahan-lahan jari-jari indah itu bergerak ringat memberikan poles sedikit make up yang tipis di wajahnya, sehingga nampak natural di tambah lip balm di bibir merah itu membuat lebih segar dan manis saat di pandang. Fely jika di dalam sebuah film bisa di bilang seperti peri sebab dia menolak tua, sunggup ciptaan tuhan yang begitu indah tanpa celah.
“Perfect, wah aku semakin cantik dan terlihat lebih muda” ucap fely berlenggok lenggok di depan cermin. Sungguh Kepedan yang hakiki tapi memang tidak bisa di pungkiri dia memang sangat cantik, memuji diri sendiri dan mencintai diri kita sendiri tidak ada yang salah. Itu cara kita mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan dan membangkit kepercayaan diri. Cantik itu relative semua perempuan cantik tidak ada yang tidak cantik asalkan dia percaya diri.
Ceklek pintu kamar mandi terbuka ternyata edwin sudah selesai mandi. Dia perlahan berjalan keluar dengan handuk di pinggangnya, rambutnya yang masih basah menetes melewati wajah dan tubuhnya.
Mendengar pintu terbuka fely menoleh ke belakang matanya melotot melihat penampilan edwin keluar dari kamar mandi. “Kenapa bocah ini tubuhnya begitu bagus, semakin tampan saja” batin fely
Edwin mengerutkan keningnya alisnya terangkat sebelah, dia bingun melihat ekspersi fely. “Kenapa tan” tanya edwin.
“Eh ga pa pa ko” jawab fely gelagaban karena kepergok edwin dia yang sedang menatap bocah itu.
“Kenapa rambutnya ga di keringin dulu ed” tanya fely.
“Hehe handuknya jatuh tadi tan jadinya basah” edwin nyengir. Padahal memang dia tidak pernah ngeringin rambutnya biasanya di bantu oleh paman sam.
“Sini tante bantu keringin” ucap fely , edwin pun berjalan ke meja rias lalu duduk, fely pun mulai mengeringkan rambut edwin menggunakan hair dryernya. Dia pokus mengeringkan rambut edwin, sehinga dia tidak sadar bahwa bocah itu menatapnya lekat dari pantulan cermin di meja rias.
“Saat dia fokus seperti ini semakin cantik” batin edwin matanya tidak berkedip memandang wajah wanta dewasa di depannya.
“Mulai dari wajah mata hidung sampai ke bibir semuanya terlihat simetris dia terlihat alami ini bukan operasi plastik” batin edwin lama dia memandang menyusuri wajah cantik di depannya tiba-tiba dia berhenti menatap bibir merah cerah yang terlihat menggoda itu apa lagi saat fely membuka mulutnya kecil sambil menggigit bibirnya.
“ah bibir nakal ini tadi yang mencium ku” batin edwin wajahnya memerah jantungnya berdetag kencang lagi.
Ketika fely menunduk menyimpan hair dryer di atas meja, tiba-tiba edwin memangilnya dia pun menoleh.
“Tan “ ucap edwin menatap fely
“Hmm” tepat saat fely menoleh tangan mungil itu langsung menarik tengkuk fely dan cup bibir mereka berdua menyatu, mata fely melotot bocah itu menciumnya. Ini gila bagaimana bisa bocah itu menciumnya.
Mereka berdua lama terdiam edwin tidak melepaskan ciuamnnya, melihat tidak ada pergerakan dari fely edwin pun mulai berani menggerakan bibirnya melumat bibir peli dengan lembut. Bau napas aroma mint begitu terasa di indra penciuman fely.
Fely tidak juga menjauh atau pun memberontak malahan dia menikmati permainan bocah kecil itu dia pun sampai terlena, bocah kecil itu sungguh terlihat lihat fely bertanya-tanya apakah bocah ini pernah melakukannya dengan orang lain atau dia pernah melihatnya. Walaupun fely tau ini salah tapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dia mulai mengikuti permainan edwin membalas melumat bibir seksi itu. Dia yang merasa kurang puas akan ciuman mereka beruda tadi tiba-tiba diberi kesempatan melumat bibir seksi itu ini tidak ada perlawanan mereka berdua sama-sama menikmati.
“Yes tante fely membalasnya” edwin girang semakin memperdalam ciuamnnya.
“Ah gila bocah ini begitu mahir, tapi nikmat kapan lagi merasakan bibi seksi ini” batin fely
“Tunggu tunggu apakah bocah ini merasakan saat aku menciumnya tadi,” tanya fely dalam hatinya wajahnya memerah.
“Biarlah bodo amat” batin fely.
Sekarang mereka berdua beranjak dari kursi ke ranjang ciuman semakin dalam fely membuka mulutnya agar edwin leluasa menjelajahnya.
Fely berbaring di ranjang edwin berada di atasnya ciuman mereka berdua semakin panas, edwin mencium leher fely memberikan kismark di leher jenjang itu sentuhan bibir lembut itu membuat fely mendesah “ aah “ ucap fely.
“Oh astaga bocah ini semakin liar” batin fely.
“Ed” lirih fely dia tidak bisa menolak perlakuan bocah kecil ini, dulu dengan suaminya dia harus pemanasan dulu tapi dengan bocah ini dia yang kewalahan.
Tubuh mereka berdua yang bersentuhan handuk edwin sudah terlepas hanya tertinggal celan pendek fely merasakan sesuatu menyentuh bagian bawahnya.
“Oh s**t” batin fely
Edwin kembali melumat bibir fely cukup lama dia melumatnya sampai berhenti karena fely hampir kehilangan napas. Napas mereka berdua terengah-engah, edwin mendongak mata mereka berdua beradu pandang tangannya bertumbu di samping ranjang.
“Maaf tan aku tidak bermaksud seperti ini” ucap edwin. Edwin bergerak ingin bangkit tapi lebih cepat fely, fely menarik tubuh edwin memeluknya sehingga dadanya bersentuhan dengan tubuh edwin yang tanpa sehelai benang.
“Ed dari mana kamu belajar itu semua” tanya fely penasaran, edwin pun menjawab jujur dengan polosnya bahwa dia sering menonton adegan dewasa dari computer ayahnya.
“Astaga itu berbahaya ed, bisa merusak pikiran mu lihat lah kamu sekarang sudah seperti olah yang berpengalaman” ucap fely.
“Tapi tan aku hanya tergoda saat bersama tante saja, dengan yang lain tidak” ucap edwin
“Walau pun begitu kamu masih kecil dan belum cukup umur” ucap fely.
“Tapi tan” ucap edwin terpotong.
“Jangan lagi ya, tapi kamu hanya boleh seperti itu hanya bersama tante” fely seolah olah mengklaim bahwa edwin miliknya.
“Iya tan” jawab edwin polos.
“Ed bolehn tante minta tolong, bantu tante mencapai klimak ” ucap fely santai. Fely menuntun tangan mungil itu menyetuh dua bukit kembar itu lalu meremasnya pelan. Dengan senang hati edwin melakukannya, dia mulai meremas dua bukit kembar itu dengan perlahan yang masih padat dan kenyal.
Sambil bibir mereka berdua berpangutan, edwin sungguh luar biasa tangannya tidak bisa diam dia membuka baju fely menjelajah perut fely dengan perlahan, memberikan gerakan halus dan lembut yang mampu membuat fely menggelinjang keenakkan.
“Kemapuan bocah ini sungguh luar biasa seberapa jauh dia meniru dan menontonnya,” batin fely.
Edwin kembali meremas gunung kembar itu dengan gerakan eksotis, tidak lupa dia membuat kismark di d**a fely.