Fely sudah mau keluar, “aah teruskan ed tante mau keluar” ucap fely. Akhirnya fely pelepasan juga dia terkulai lemas.
“Makasih ed, maafkan tante yang telah mengajarkan mu yang tidak tidak” sesal fely.
“Tidak apa apa tante seharusnya ed yang minta maaf telah lancing sama tante” ucap ed menyesal akan kelakuannya.
“Tidak apa apa ed ini salah tante juga” ucap fely dia pun beranjank dari ranjang.
“Ed kamu pakai baju ini dulu ya, karena baju mu baru tante pesan nanti siang baru datang” ucap fely memberikan baju yang dia pilih untuk ed.
“makasih tante” ucap edwin.
“Tante mau ke dapur dulu mau bikin sarapan” ucap fely mengusap rambut edwin lalu keluar dari kamar.
“Iya tan” jawab edwin yang hanya dia yang mendengarnya.
“aaarrgggg” teriak edwin mengacak rambutnya dia menyesal telah berbuat seperti tadi kepada fely.
“Maafkan aku tan” sesal edwin mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, memasang baju yang telah disiapkan fely tadi. Baju kaos putih polos berlogokan tulisan FG di tengahnya dan celana pendek berwarna hitam yang di kasih fely tadi sangat cocok untuknya. Edwin suka dengan baju berwarna hitam dan putih, simple dan nyaman itu lah yang dia rasakan. Kulitnya yang putih bersih terlihat sama dengan warna bajunya jika orang-orang melihatnya akan membuat iri.
Di dapur
Wanita cantik itu sibuk dengan peralatan dapurnya begitu cekatan dia menyiapkan bumbu dan memotong bahan sayurnya dan ayam. Fely sedang membuat sarapan nasi goreng untuk mereka berdua, menggunakan sisa nasi mereka tadi malam. Dia menumis bumbu sampai harum lalu memasukkan potongan ayam dan telur sampai rata, setelah itu dia memasukkan nasi ke wajan menganduknya sampai rata. Tidak lupa juga dia memasukkan sayuran di nasi gorengnya. Bau harum nasi goreng fely tercium oleh edwin yang berjalan kea rah dapur.
Terlihat 2 piring nasi goreng tersaji di meja makan dan dua gelas s**u, begitu menggiur saat mata memandang.
Langkah kaki edwin terhenti dia memandang wanita cantik di depan matanya, sungguh ciptaan tuhan yang satu ini tanpa celah. Lama edwin memandang fely tiba-tiba dia menerawang jauh ke masa depan.
Edwin masuk ke dapur terlihat seorang wanita cantik dengan rambut di cepol nampak leher jenjang yang putih mulus menggoda, edwin berjalan mendekati wanita cantik yang sedang memasak di dapur itu lalu memeluk dari belakang melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu.
Grep tangan kekar itu melingkar pinggang ramping fely, wajahnya bersandar di bahu fely sambil mengeceup leher jenjang itu.
“Lagi masak apa sayang “ tanya edwin mengecup pipi fely.
“Lagi masak nasi goreng” ucap fely sambil mengaduk aduk masakannya.
Tangan kekar itu mematikan kompor, lalu membalikkan badan fely menghadapnya fely mendongak menatap pria di depannya yang lebih tinggi darinya. Tangannya edwin masih melingkar di pinggang ramping fely. Edwin menunduk mendekatkan wajah mereka, hidung macung mereka berdua bersentuhan, edwin memegang tengkuk fely lalu mengecup seklias bibir itu.
Cup cup cup
Fely melotot badanya menegang karena serangan tiba-tiba edwin, karena gemes melihat ekpresi fely dia pun kembali mencium bibir seksi itu kali ini dia mendiamkan bibir mereka berdua menyatu cukup lama tanpa bergerak. Karena tidak ada pergerakan dari fely, edwin melepaskan ciumannya, menatap fely yang menegang.
“Kamu kenapa sayang, kan kita sudah sering seperti ini” ucap edwin mencubit gemas hidung fely yang mancung.
“Iss kamu yang main nyosor terus kan aku belum siap” ucap fely tersipu malu.
“Hmm” edwin langsung menarik tubuh fely semakin dekat lalu melumat bibir itu pelan dan lembut mereka berdua menikmati ciuman hangat itu.
Karena napas mereka berdua hampir habis, edwin melepaskan pangutannya. Lalu dia menyusah bibir seksi itu dan cup mengecupnya sekilas.
“Bibir mu candu sayang, rasanya aku tidak rela kamu keluar aku ingin kamu disini ku saja agar tidak ada orang yang melihat mu” ucap edwin posesif.
“iss kamu ini terus kalau aku di rumah terus kamu bisa bebas gitu bersama wanita lain” fely cemberut pura-pura ngambek.
“hei hei tidak seperti itu sayang, aku hanya tidak rela orang lain memandang mu kamu hanya milik ku” ucap edwin.
“Iya iya aku tau, sudah sana duduk di meja makan sana saja kamu mengganggu aku masak saja nanti belum selesai-selesai juga aku sudah lapar” rengek fely lalu mendorong pelan tubuh edwin.
“Iya iya” cup satu kecupan lagi mendarat di pipi fely dasar edwin mengambil kesempatan dalam kesempitan edwin menarik kursi lalu duduk.
Fely melanjutkan masakannya, edwin terus memandang wanita cantik itu seksama senyuman bahagia terpancar di sudut bibirnya. Fely membawa dua porsi nasi goreng ke meja makan.
“Ayo makan dulu,” ucap fely.
Edwin menarik fely duduk di pangkuannya, tanganya melingkar di pinggang ramping itu lalu mengambil satu piring nasi goreng.
“Sayang kita makan sepiring berdua” ucap edwin menyendok nasi goreng buatan fely menyuapi istrinya. Mereka berdua makan bergantian dengan satu sendok dan dua piring nasi goreng. Hal yang sederhana menciptakan sebuah kebahagiaan.
Edwin terseyum bahagia memandang fely, lamunannya buyar tak kala mendengar suara fely memanggilnya.
“Hei ed kamu kenapa?” tanya fely dahinya berkerut memandang edwin yang tersenyum lebar.
“Ah sial hayalankan ku terlalu jauh” batin edwin mengetok dahinya, bisa bisanya dia berpikir seperti itu menikah dengan fely.
“eh ga pa pa ko tan” ucap edwin nyengir.
“ayo sini makan” ucap fely.
Edwin pun berjalan menuju meja makan, menarik kursi yang berhadapan dengan fely. Mereka berdua dalam keheningan hanya terdengar dentingan sendok. Dua piring nasi goreng dan dua gelas s**u sudah kosong, mereka bedua sudah selesai makan. Edwin membawa gelas dan piringnya ke wastafel ingin mencuci piringnya, “Sini ed nanti tante saja yang mencucinya” ucap fely dari belakang.
“Tak apa tan nanti aku saja” ucap edwin mengambil alih piring fely dan mencucinya.
Fely pun pasrah membiarkan edwin yang mencucinya. “Ed tante keluar dulu” ucap fely
“iya tan” sekrang tinggang edwin di dapur, “aduh bagaimana caranya mencucinya, aku tidak pernah melakukannya” guman edwin. Dasar edwin tadik sok sokan ingin mencuci piring malah dia yang bingung.
“Mungkin begini ya caranya” edwin menggosok piringnya.
“Eh entah lah, bodo amat yang penting bersih”. Ucap edwin dia hanya menggosok sekitaran piringnya lalu membilas dengan air. Piringnya masih berminyak, maklum lah dia tidak pernah mencuci piring semuanya di kerjakan oleh maid.
Di halaman depan
Fely duduk di bawah kursi pohon kayu besar, menghirup udara segar di sekelilingnya. Bunga-bunga bermekaran kupu-kupu terbang mengitari bunga-bunga indah itu warnanya yang bermacam-macam nampak indah.